INDIGO SYSTEM

INDIGO SYSTEM
Indigo <>28 Aura Hitam VII


__ADS_3

Sambil menguap, Bharada Jefry membuka pintu dan membuat Al terkejut dengan ritme detak jantung tak beraturan.


Pasalnya, Al sedang fokus-fokusnya mendeteksi makhluk halus malah dikejutkan suara pintu yang terbuka oleh Bharada Jefry.


"Eh, Al. Ada apa malam-malam begini? Mari masuk, kamu tidur saja disini!"


Mendengar pernyatan Bharada Jefry, seperti gayung bersambut, Al tanpa sungkan langsung membuka pintu gerbang dengan senyum yang selebar-lebarnya.


"Ah, bapak. Tahu saja niatanku ini, hehehe ...." Al terkekeh sambi mendorong motornya masuk melewati pintu gerbang dan Bharada Jefry membuka garasi agar motor Al aman ketika pemuda gendut tersebut menginap di rumahnya.


"Parkirkan saja di dalam, daerah ini bukan hanya rawan hantu, tapi juga rawan curanmor dan begal!" seru Bharada Jefry.


"Kok, bisa pak? Padahal di perumahan ini kan ada bapak Jefry," celetuk Al dengan opini yang cukup masuk akal.


"Masalahnya, para pencurinya bukan pencuri biasa, mereka para Sramana. Sudah ayo masuk! Sudah malam nanti masuk angin!" ajak Bharada Jefry.


"Pak, aku ini masuk angin dan tidak masuk angin tetap saja. Lihatlah perutku ini, besar bukan?" celetuk Al membuat Bharada Jefry terkekeh dengan menggeleng pelan.


"Ya, seperti habis dipompa pakai kompresor, hehehe ...," timpal Bharada Jefry membuat Al juga ikut terkekeh.


Mereka berdua pun masuk ke daalam rumah dan Al mau menceritakan informasi yang ia dapat sebelumnya, namun dicegah oleh Bharada Jefry, "Nanti saja ceritanya. Kamu beristirahhatlah dahulu, jika lapar makanlah dahulu. Informassi tersebut memanng lebih penting tapi jauh lebih penting adalah kesehatanmu."


Al mengangguk pelan, ia merasa seperti diperhatikan oleh figur seorang ayah, "Terima kasih pak."


Al pun bergegas masuk ke kamar tamu dan masih merasakan beberapa makhluk halus yang sedang mengintai rumah Bharada Jefry.


"Apa pak Jefry tidak tahu jika rumahnya ada yang mengawasi? Atau mereka mengawasiku?" gumam Al sambil menopang dagu lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur dan melanjutkan, "Ah, sudahlah. Aku tak peduli juga, toh kalau mereka mendekat aku lempar saja pakai trisua sambhu, beres bukan?"


Di kamar Bharada Jefry, ia sedang melamun memikirkan Al, "Aku tak menyangka Al bisa naik tahapan secepat ini. Perasaan ia baru saja di tahap kebangkitan mata batin. Sekarang sudah tahap paranormal."


"Ditambah lagi ia sekarang berbeda sebelumnya, seperti baru merasakan kebangkitan aksa dan itu bukan hanya satu, tapi tiga kebangkitan aksa. Jika salah langkah, ia bisa menjadi budak siluman seperti Birawa, Jayadipa, Setyarini dan Prisarasari."


"Mereka para Sramana dengan tahap lemah, tapi akan menjadi kuat jika bersatu dengan khodam mereka. Khodam sekelas Ifrit. Tapi mereka Sramana jenis apa, Prida dan para tetua pun belum mampu mengklasifikasikan mereka. Setahuku umur mereka sangat panjang."


Bharada Jefry langsung duduk bersila dan memejamkan mata, "Ajian Meraga Sukma!"


Ruh atau sukma Bharada Jefry keluar dari dalam jasadnya dan menemui khodam miliknya yang berada di depan gerbang berbentuk kera putih setinggi 200 cm dengan baju loreng putih.


"Bos, bagaiman anak itu?" tanya Hanubara dan melanjutkan, "Aku harap bos bisa terus mengawasinya, sebab ini juga diluar kendaliku."


"Ya, aku akan awasi. Makanya aku menempatkkan dia disisiku. Aku tak ingin Prida mengambilnya untuk masuk akademi Wong Alus. Banyak teman yang aku kenal lupa akan diriku setelah keluar dari sana dan mereka merasa asing denganku," jawab Bharada Jefry dengan nada datar.


"Aku mengerti bos." Hanubara menepuk pundak Bharada Jefry sebab ia merasakan kesedihan Jefry yang amat dalam terkait Birawa, Setyarini, Jayadipa, dan Prisarasari dan melanjutkan, "Aku harap bos tidak lagi bertarung, itu akan terus mengurangi umurmu."


"Tapi apa boleh buat, kita setiap malam harus berjibaku dan berkonfrontasi dengan mereka bukan? Masalah mati cepat atau lambat aku juga akan menghampiriku. Entah berapa dekade aku hidup dengan tubuh yang seperti ini. Ini juga semua salahku yang mempelajari ajian batara kala."

__ADS_1


Setelah mengatakan hal tersebut, Bharada Jefry hilang dari tempatnya berdiri, disusul oleh Hanubara.


Tiba-tiba Maung Bodas dan Muang Lodaya muncul di depan mereka berdua. Bharada Jefry dan Hanubara menghentikan langkah cepatnya.


"Hai, sahabat Angling Wirasena! Kita bertemu lagi!" panggil Maung Bodas sambil mengendarai Maung Lodaya dan melanjutkan, "Apa kau perlu bantuanku melawan ribuan makhluk putih-putih itu?"


"Macan ompong kau selalu saja mengganggu kami!" ketus Hanubara, sudah kesekian kalinya Maung Bodas dan Maung Lodaya selalu saja datang disaat yang tidak tepat.


"Tenang, aku tidak akan mengganggu kalian. Kami hanya lewat dan memastikan tuan kami selamat," jawab Maung Bodas dengan nada santai dan tersenyum tipis.


"Sejak kapan macan ompong sepertimu punya tuan, brengsek!" bentak Hanubara yang selalu saja naik pitam jika bertemu Maung Bodas dan Maung Lodaya.


"Hanubara fokus, jika kita salah sedikit saja bukan hanya aku yang mati. Tapi itu ---"


"Ya, bos maaf," potong Hanubara dengan tatapan sendu, mengingat kembali masa lalu.


Mereka menghadapi pasukan Grisena yaitu pasukan kera putih yang ingin membawa Hanubara untuk pulang ke kerajaan Mogharwala. Namun, mereka harus mengambil mustika Gandariwa yang sudah disatukan dengan pecahan jagat saksana milik Angling Wirasena alias Bharada Jefry.


Grisena yang memimpin penyerangan ini, "Hai, Grisena. Kita bertemu lagi, tenang aku tidak akan membantu mereka," kata Maung Bodas sambil mengangkat kedua tangannya.


"Keparat! Kau lagi! Kau lagi macan sialan!" rutuk keras Grisena dengan mata merah menyala dan mengeluarkan pusakanya yang bernama tombak Empu Grandini.


"Ih, serem." Maung Bodas berpura-pura ketakutan dan melanjutkan berkata pada Angling Wirasena, "Sahabat, lebih baik kita membuat aliansi, agar masalah ini cepat selesai. Aku tak mau perkelahian kalian mengganggu tidur tuanku itu."


"Baiklah, kali ini aku menerima bantuanmu, namun tidak ada balas budi!" sambungnya dengan berteriak pada Maung Bodas.


"Tapi bos ---"


"Sudah tidak apa-apa. Kapan lagi kita dapat bantuan gratis, bukan?" Angling Wirasena menaik-turunkan alisnya dengan tersenyum lebar.


'Aiiiih .... Kenapa bosku malah kumat lagi sarafnya,' batin Hanubara menepuk jidatnya sendiri.


Maung Bodas melesat cepat seperti berlari memijak angin dan tanpa segan langsung menebas satu persatu leher pasukan Kera Putih ketika sampai di barisan kerumunan Kera Putih tersebut.


ZRASH! ZRASH!


Tubuh-tbuh tersebut langsung tumbang, padahal tingkat makhluk halusnya sama saja setingkat dengan Maung Bodas dan Maung Lodaya ditahap Ifrit.


Tubuh Maung Lodaya berubah menjadi pusaka Kujang Maung kembar dan melesat ke arah Maung Bodas dan ditangkap oleh kedua tangannya.


"Sayang saja si aden belum bisa menggunakan ini, Tapi tanpa ini pun ia sudah sangat kuat, wakumya kita beraksi Maung Lodaya!"


Tubuh Maung Bodas diselimuti aura emas dan urat ototnya disekujur tubuh menonjol kuat.


Hanubara dan Angling WIrasena hanya bisa terpana melihat kegagahan Maung Bodas.

__ADS_1


Seketika itu juga Maung Bodas dengan ajian kidang kuning memenggal leher pasukan kera putih satu persatu dan berhasil menumbang 500 kera putih hanya dalam waktu kurang dari lima menit.


"Apa?!" Grisena, Hanubara, dan Angling Wirasena menjatuhkan rahang dengan mata melebar.


Belum pernah ia melihat siluman sekuat Maung Bodas. Tubuh Grisena gemetar dan bergidik ngeri, nyalinya seketika itu juga langsung menciut, "Sial, macan ompong itu selalu saja merepotkanku. Lain kali aku pasti akan mencuri pusaka itu agar aku bisa membunuhnya."


Grisena dan sisa pasukannya lari tunggang langgang dengan sangat ketakutan, sedangkan Maung Bodas langsung menyerap energi negatif berupa asap hitam yang terbentuk dari tubuh Kera Putih yang telah mati sebelumnya.


"Baik, aliansi kita selesai. Izninkan kau pergi, selamat tinggal!"


Dengan memunggungi Angling Wirasena dan Hanubara, Maung Bodas hilang melambaikan tangan kanan ke atas, lalu tubuhnya hilang dari pandangan mata mereka berdua.


"Phew .... Untung saja ada bantuan macam ompong sialan itu. Jika tidak kita akan bertarung dengan mereka sampai pagi." Hanubara menyeka keringat di dahinya dengan menghela nafas panjang.


Sukma milik Bharada Jefry pun kembbali ke dalam jasadnya dan langsung direbahkan tubuhnya. Sedangkan Hanubara tetap berjaga di depan pintu gerbang rumah Bharada Jefry, takut Grisena akan kembali lagi.


Mustika Gandariwa tiba-tiba muncul dan melayang di depan Bharada Jefry. Mustika tersebut awalnya berwarna putih susu dan sebesar bola bekel atau bola karet.


Namun setelah mengalami penyatuan dengan pecahan mustika jagat saksana, warnanya berubah menjadi merah muda.


"Apakah aku akan mencapai batasnya?" Bharada Jefry memegang mustika tersebut dan menaruhnya di dada sambil memejamkan mata untuk tidur.


......................


Keesokan paginya.


Al banguun pagi-pagi dan mulai berolahraga, walaupun dengan olahraga tersebut hanya membuat dadanya kembang kempis tak karuan.


"Sial, jika bertarung saja dadaku ini kuat bkan main. Tapi kalau diajak olahraga malah sesak seperti ini." Al tak kuat dan merebahkan tubuhnya di depan halaman rumah Bharada Jefry.


"Al, sudah dahulu olahraganya. Kita makan saraan dahulu, aku sudah membeli nasi lengko dan gorengan nih!" panggil Bharada Jefry.


Mendengar kata nasi lengko dan gorengan, Al langsung beranjak bangkit dan melesat cepat untuk segera menyantap makanan yang paling ia sukai.


Bagaimanapun juga Al yang bertubuh gemuk tersebut, n**** makannya lebih besar ketimbang manusia pada umunya. Jadi wajar jjika mendengar kata makanan yang ia sukai, langsung nyosor gak karu-karuan.


Sambil makan dengan cukup lahap, Al mulai menceritakan informasi yang ia dapat kemarin mengenaii perjudian gelap.


Bharada Jefry sangat kagum denngan keberanian Al menghadapi yang ia duga sebagai Birawa, "Sepertinya aku tahu dia itu siapa dari ciri-ciri yang kamu sebutkan."


"Lalu, langkah apa yang akan kita tempuh? Aku sudah dua kali mmenghadapi Sramana yang berbeda levelnya dari Sramana biasa. Energinya sangat pekat," jelas Al dan membuat Bharada Jefry sangat terkejut bukan main.


Pasalnya, satu Sramana dengan ajian jayadipa sukma saja sudah cukup merepotkan, apalagi ini dua Sramana seperti itu.


"Apa?! Kamu serius?!" Bharada Jefry belum mengetahui kejadian yang menimpa Lyodra yang diakibatkan makhluk halus yang dikontrak oleh Bayi Bajang atau Jayadipa Mangkhudara.

__ADS_1


__ADS_2