
Wisnu dan Gita yang biasa bangun pagi langsung menyiapkan sarapan bareng dibantu sama Niki, sedangkan Zulkarnain melati dan Rika melewati ritual paginya mendapatkan vitamin C dulu dari Rika dan melati bergantian, Rika yang sudah cukup hamil dan merasa empat anak cukup memilih KB dan kini Rika bisa gulat dengan lebih puas lagi membuatnya bahagia sekali, ritual setelah solat subuh sampai jam setengah tujuh pagi membuat ketiga nya baru turun ke dapur sudah ada Wisnu yang menyiapkan makan buat Niki membuat Zulkarnain merasa iri melihatnya bahkan dirumahnya sendiri tidak ada waktu khusus memanjakan anaknya sendiri apa lagi sekarang ada Gita tentunya menjadi saingan perhatian untuk Niki dari kedua ibu nya. Gita yang sudah masak dan ngobrol soal pelajaran di kampus diselang sarapannya Niki yang sudah biasa sarapan sambil belajar
" jadi kuliah di semester awal enak Niki pulang jam sebelas siang dan pelajaran buat SLTP akan dimulai jam dua siang sampai jam delapan malam jadi kamu ada waktu istirahat kurang lebih dua jam lebih santai dari pada waktu SMU dulu" ucap Gita membahas jadwalnya Niki
" Alhamdulillah umi ada waktu santai dua jam tidak kejar belajar yah lebih enak ternyata" ucap Niki terkekeh
" tapi semester tiga dan seterusnya sampai delapan menyita waktu belajar kamu mungkin waktu belajarnya diputer disesuaikan sama waktu belajar kuliah" lanjut Gita menikmati jeruk
" bener apa lagi kalo sudah magang lebih padat lagi, tapi saran ayah kamu tidak usah magang sayang fokus sama pendidikan saja, lagian kamu punya bisnis sendiri jadi tidak terlalu membutuhkan magang karena ayah yakin suatu saat kakek akan menyerahkan perusahaan untuk kamu sayang" ucap Zulkarnain optimis
" kok ayah bisa yakin begitu kakek saja segitunya benci sama Niki dan bunda mustahil lah ayah" lanjut Niki yang tidak terlalu berharap
__ADS_1
" kakek tidak punya anak lagi selain ayah otomatis setelah kakek dan nenek meninggal dunia entah kapan tapi pasti otomatis perusahaan itu jadi milik kamu penerus tunggal keluarga" lanjut Zulkarnain membuat Niki ngangguk fahaam
" kalo perusahaan kakek dari orang tua mami masih banyak yang bisa melanjutkan tapi kalo dari ayah bisa kamu yang jalanin buat sekarang menikmati kehidupan kita dulu sambil kamu baca dunia bisnis sesuai perusahaan kakek" ucap melati melihat Niki
" Niki sih tidak terlalu berharap yah tapi Niki akan kuliah di jurusan bisnis biar pas lulus kakek bisa yakin kalo Niki layak menjadi penerus nya setelah lulus kuliah" lanjut Niki
" baiklah kalo kamu mau jurusan bisnis dan manajemen Niki kita akan bantu mendaftar kannya" lanjut Gita bangga sama jurusan yang diambil Niki
" Gita kamu mau jadi translator Niki sampai kapan? kamu kan mau nikah sama Wisnu" ucap Rika penasaran
" ya sudah kalo masih mau lanjut tidak masalah" lanjut Zulkarnain melanjutkan sarapannya
__ADS_1
setelah sarapan Zulkarnain, Rika,dan melati ke ke ruko mereka mulai kembali jualan sedangkan Wisnu Gita dan Niki pergi ke rumah sakit jiwa melihat kondisi Wulan secara langsung. Wisnu dan Niki yang melihat kondisi Wulan saat ini sungguh merasa prihatin melihat nya perhiasan yang menghiasi badannya kini tidak lagi dipakainya dan baju yang bermerek pun sudah di ganti baju lusuh dari rumah sakit Niki yang melihatnya langsung nangis merasa tidak tega melihatnya walaupun Wulan jahat menghilangkan masa kecil bahagia tapi Wulan selalu memberikan buku,baju,dan makanan buat Niki dan menemani Niki belajar saat Wisnu cuci baju mereka
" dokter apa pasien bisa sembuh" ucap Niki sedih
" bisa asal diberikan pengobatan yang sesuai dan rutin" ucap dokter saat memeriksa Wulan
" apa dia selalu ngelantur" ucap Wisnu menatap mantan bosnya dengan rasa iba
" iyah kadang memanggil nama Niki anak ku jangan pergi tinggalkan emak Niki, setelah itu pasien bisa nangis begitu saja" lanjut dokter memberi tahu ucapan Wulan
" Niki anaknya yang meninggal dunia, dia pasti sangat rindu sama anaknya" lanjut Wisnu melihat Niki yang nangis
__ADS_1
" kasihan juga Wulan dia jadi perempuan jahat karena hidup sebatang kara harus bisa keras menjalankan kehidupannya" ucap Gita melihat wajah tua Wulan yang tidak terawat
" bener sayang, yuk kita ke kantor polisi bahas pemakaian rumah yang disegel itu" lanjut Wisnu merangkul bahunya Gita yang ikutan nangis