
"Kamu... Kamu menamparku?
Henry yang tiba-tiba mendapatkan tamparan di pipinya itu jelas merasa cukup syok, ini adalah pertama kalinya dirinya mendapatkan sebuah tamparan selain dari Kakeknya, tidak ada orang lain yang berani melayangkan tamparan pada dirinya selama ini apalagi seorang wanita, tidak akan ada yang berani padanya, semua wanita selalu berketuk lutut padanya.
Namun dengan tamparan itu juga, seolah kesadaran Henry baru saja kembali, dan dirinya juga mulai mengingat tentang apa yang barusan dirinya katakan.
Anya yang menampar Herny merasa juga, apakah mungkin dirinya keterlaluan?
Namun jelas itu bukan diri nya yang salah, itu adalah salah dari pria yang ada di depannya ini juga yang mengatakan kata-kata Yang keterlaluan dan merendahkan harga dirinya sampai sejauh itu.
Tapi jelas Pria ini nanti pasti akan menjadi marah setelah menerima tamparan itu.
Anya sebenarnya tidak ingin membuat emosi pria di depannya itu namun sekarang setelah apa yang terjadi...
Tapi tetap saja kemarahan yang ada di hatinya ini masih tetap ada.
Dirinya masih seorang wanita yang terhormat, yang selalu menjaga dirinya dengan benar, dan juga selalu menjaga kesuciannya dengan baik, yang awalnya hanya akan dirinya berikan pada calon Suaminya dimasa depan, Pria yang dirinya cintai.
Namun karena lelucon konyol Pria yang ada di depannya itu dirinya terpaksa melepaskan dan merelakan kesuciannya ini, pada Suami yang tidak pernah dirinya harapkan, ataupun pernikahan kontrak bodoh ini.
Namun untuk menuduhnya, bermain-main dengan Pria lain, itu jelas keterlaluan.
Anya memilih tidak mengatakan apa-apa setelah tamparan itu dan segera masuk meninggalkan Henry disana.
Anya segera memasuki kamar tidur dan menguncinya, tanpa sepatah katapun.
Henry masih cukup linglung setelah menerima tamparan yang mengagetkan itu, dan yang dirinya lihat adalah Anya yang sekarang sudah pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.
Namun dengan kepergian itu, Henry tahu jika Anya saat ini sedang marah.
Dirinya mungkin baru mengenal wanita itu belum lama ini, namun dirinya tahu Anya memang bukan tipe yang suka banyak bicara, dia memiliki kepribadian yang cukup tenang, dan biasanya akan cukup menurut.
Diam dan pergi begitu saja seperti itu jelas adalah cara marah yang paling buruk.
Padahal dirinya selama ini ingin melihat Anya marah atau menentangnya, dirinya pikir itu akan memberi diri berapa rasa senang, karena dirinya masih marah pada Anya itu yang menghancurkan rencananya itu.
Namun sekarang ketika melihat wanita itu menjadi marah seperti itu kenapa perasaannya menjadi tidak nyaman seperti ini?
Sial, apakah dirinya benar-benar mengatakan sesuatu yang keterlaluan?
Tapi jelas ini bukan salahnya juga, kejadian tadi siang dan tentang bagaimana Anya berbohong padanya itu adalah fakta yang nyata.
Henry lalu segera masuk kedalam, kepalanya masih sedikit pusing rasanya tidak nyaman mungkin karena terlalu banyak minum.
Dan sekarang dirinya juga merasa tengorokannya kering, terlalu pusing memikirkan soal Anya yang marah, jadi Henry segera menuju kearah dapur, lalu segera mengamil minum, begitu mrtasa lega, dirinya melihat ke meja makan yang ada di sana di mana sepertinya ada makanan dibalik penutup.
Henry yang penasaran itu, segera membuka penutup itu dan di dalamnyaada sebuah piring yang berisi dua potongan Ayam Goreng.
Ayam goreng itu, terlihat tidak terlalu menarik.
Hah, apakah Anya memesan ini utuk makan malam?
Ini benar-benar bukanlah sesuatu yang terlihat enak.
Namun Henry juga merasa lapar karena dirinya tadi hanya makan beberapa kue dan tidak makan nasi.
__ADS_1
Karena rasa penasarannya, Henry lalu mencoba Ayam goreng di meja.
Ketika memakannya, Henry jelas merasa rasa Ayam goreng terlalu asin dan rasanya sedikit hambar di mulut berbeda dari biasanya yang dirinya beli di restoran.
Lalu segera, Henry melihat kearah dapur lagi, yang saat ini jika diperhatikan lagi ada beberapa kekacauan di sana, misalnya tepung yang ada di mana-mana.
Henry selalu menatap lagi ayam goreng yang ada di meja.
Pantas saja ayam goreng ini terasa hambar dan tidak begitu enak, dan bentuknya agak aneh, jadi ini masakan Anya?
Wanita itu benar-benar mulai belajar memasak seperti yang dijanjikan itu demi dirinya?
Ketika memikirkan semua hal ini tiba-tiba perasaannya menjadi cukup rumit.
Hah, sialan Ada apa dengan perasaan rasa bersalah ini?
Sial.
Bukankah harusnya Anya itu yang harus merasa bersalah?
Namun memang sudah sejak lama, sejak ada seseorang yang memasakaanya sesuatu yang khusus seperti ini.
Masakah Pelayan jelas berbeda, sama seperti masakan yang dibeli di Restoran, bukan sesuatu yang benar-benar dibuatkan secara khusus untuknya.
Pada akhirnya, Henry yang cukup lapar itu memakan hal-hal yang ada di piring sampai habis.
Rasanya tidak begitu enak, namun itu bukan sesuatu yang buruk.
Lalu, setelah Henry merasa cukup kenyang, dirinya segera berniat kembali ke kamar untuk istirahat, karena kepalanya terasa sangat pusing.
Namun Henry baru saja ingat, jika Anya ternyata mengunci pintu kamar itu.
Henry masih merasa cukup bingung tentang apa yang sebaiknya dirinya katakan pada wanita marah di dalam sana.
"Hey? Ini adalah kamarku dan sejak kapan Aku tidak di ijinkan masuk?"
Anya yang ada di kamar, mencoba untuk berbaring tidur di karpet, namun tetap tidak bisa tidur, the mungkin karena dirinya sudah ketiduran tadi, jadi cukup sulit untuk tidur.
Kemudian, Anya segera mendengar suara ketukan pintu itu.
Ya, sekarang Anya baru ingat ika kamar ini bukan kamarnya.
Hah, inilah susahnya tidak memiliki kamar pribadi.
Anya lalu segera berdiri, dan membuka kunci kamar itu, dan pintu terbuka.
Sekarang tatapan mereka berdua bertemu, Anya jelas tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan.
Henry sendiri merasa cukup canggung untuk mengatakan apa.
Anya segera berbalik dan menuju ke arah tempat tidurnya.
Melihat Anya diam, Henry akhirnya memutuskan untuk giant juga dan segera menuju ke ranjang satu-satunya di tempat itu.
Henry segera berbaring di sana karena tubuhnya merasa lelah namun dirinya jelas tidak bisa langsung tidur.
__ADS_1
Ada keheningan di tempat itu.
Tidak ada salah satu dari mereka yang berniat berbicara.
Henry yang lama-lama menjadi muak dengan kediaman itu.
Namun dirinya juga bingung tentang apa yang harus dirinya katakan.
Marah kah?
Menghukum Anya kah?
Dia sedang terlalu malas untuk melakukan hal-hal itu.
Minta maaf?
Tentu saja dirinya tidak akan pernah minta maaf.
"Hey, aku tahu kamu belum tidur," kata Henry lalu menatap kearah lantai di kamar itu, dimana Anya sedang berbaring.
Tidak ada jawaban di sana, namun Henry yakin jika wanita itu masih belum tidur.
"Masakan yang kamu buat itu rasanya masih hampar namun tidak seburuk itu. Aku sudah menghabiskannya, mungkin lain kali jika kamu memasak lagi kamu bisa menambahkan lebih banyak bumbu, carilah resep yang bagus, kurasa itu tidak sedikit sulit,"
Kata-kata itu benar-benar sesuatu yang dikatakan cara tiba-tiba yang entah muncul dari mana.
Anya sendiri yang memang masih bangun, cukup terkecil dengan kata-kata yang dirinya dengar barusan.
Itu bukan soal kemarahan hal-hal sebelumnya.
Bukan juga soal minta maaf atau sesuatu.
Hanya suatu kata-kata yang benar-benar muncul ntar dari mana.
Jadi Tuan Muda itu benar-benar sudah memakannya?
Ukh, kenapa dirinya tiba-tiba senang?
Anya juga tidak mengerti.
"Jadi begitu, lain kali Aku akan mencoba menambahkan bumbunya lagi,"
"Ya, itu bagus. Kamu harus belajar masak yang rajin, Aku akan menilai perkembangan memasakmu itu,"
"Tentu saja, kamu akan menjadi orang pertama yang akan mencobanya,"
Henry menjadi cukup terkejut juga dengan kata-kata terakhir Anya.
Namun entah kenapa dirinya puas.
"Ya, itu harus."
Setelahnya, tidak ada kata-kata lagi dan keduanya mulai mencoba tidur.
Masing-masing memiliki perasaannya sendiri-sendiri.
__ADS_1
Malam yang hening dan damai.
Seolah-olah kejadian sebelumnya, tidak pernah terjadi.