
Anya mengambil gelas di namban terlihat ingin segera meminumnya, namun Sherly yang ada di sana segera mengajak Anya berbicara dulu.
"Kak, Anya... Aku sungguh minta maaf,"
Anya yang hendak minum itu, segera berhenti, belum jadi minum.
"Sherly, Aku minta padamu, untuk tidak membicarakan ini lagi, Aku sedang pusing sekarang,"
Sherly yang melihat wajah Kakaknya terlihat pucat itu, segera bertanya dengan khawatir,
"Kakak tidak apa-apa?"
"Hah, hanya sedikit lelah. Kamu juga mungkin lelah, Sherly, sebaiknya kamu minum dulu,"
Anya yang melihat adiknya itu seperti berkeringat, juga jelas khawatir, adiknya telah mengalami hal-hal sulit juga, menyimpan semua beban dan rasa bersalah itu sendirian.
Anya segera menawarkan gelas yang ada di tangannya, yang belum di minum.
Sang Pelayan yang melihat bagaimana Anya hendak memberikan gelas pada adiknya itu segera cemas, takut rencananya akan gagal.
Sherly melihat kearah gelas itu, lalu berkata,
"Aku tidak suka Jus Jambu, Kakak saja, nanti Aku akan mengambil minuman lainnya,"
Anya kembali menarik gelas itu lagi, dan berkata,
"Yah, terserah kamu. Sherly, mari kita berbicara soal ini besok lagi, Aku toh masih harus menyapa beberapa tamu,"
"Kakak jangan memaksakan diri,"
Anya lalu segera meminum minuman itu.
"Tenang saja, ini tidak apa-apa,"
Saat mereka berdua bercakap-cakap, Ayah Anya dan Ibu Tiri Anya datang dan menyapa Anya.
Tentu saja, Ibu Tiri Anya, Ros sangat senang dengan Anya yang hamil, bahkan Ros belum membujuk Anya agar mau hamil, namun Anya sudah hamil!
Bukankah itu artinya dirinya akan mendapatkan bonus sesuai yang di janjikan Tuan Muda itu?
Hal-hal ini jelas adalah hal bagus.
"Selamat Anya atas kehamilanmu, kami turut senang soal itu, benar bukan sayang?"
Ayah Anya terlihat menujukan ekpersi cemberut, namun segera mencoba tersenyum, jujur dia tidak tau harus bersikap seperti apa soal kehamilan Putri nya itu, apakah itu hal baik atau buruk.
Karena Suami Putrinya jelas bukan orang yang baik.
"Anya, Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu, kamu jaga dirimu baik-baik, Ayah percaya selalu ada hal positif dari semua hal,"
Anya yang mendengar kata-kata Ayahnya itu, segera tersenyum senang, Anya juga tahu, Ayahnya pasti akan sangat khawatir.
Apalagi kehamilannya ini, bukan hal-hal yang di rencanakan...
__ADS_1
Anya mencoba untuk tetap tersenyum.
"Terimakasih, Mama, Papa, atas doanya,"
Mereka mulai mengobrol-ngobrol sejenak.
"Mana Suamimu Anya? Kenapa Aku tidak melihatnya?"
Ketika Anya di tanya itu, Henry yang memperhatikan Anya dari jauh segera menunju kesana dan merangkul mesra Anya seolah tidak terjadi apapun.
"Aku disini, Ibu. Biasa, tadi banyak tamu yang harus Aku sapa,"
Anya melihat kearah Pria yang ada disampingnya itu tersenyum penuh kepalsuan.
Memang, Anya tidak bisa menebak jalan pikiran orang itu.
Namun Anya juga tahu, dirinya harus menjaga beberapa reputasi dengan tidak bertengkar di depan publik.
"Ya, aku mencarimu kemana-mana sayang," kata Anya mencoba membalas rangkulan Henry.
Henry tentu saja senang, melihat Anya sepertinya sudah kembali pulih?
Ya, itu artinya rencananya semalam berjalan dengan baik.
Mereka segera kembali berbicara akrab dengan orang tua Anya itu.
Ibu Tiri Anya bahkan sempat membahas soal Investasi Proyek yang akan Henry berikan.
Anya yang baru tahu soal Henry yang akan menginvestasikan uang lagi pada Perusahaan Ayahnya jelas kaget.
Dirinya tidak meminta sesuatu seperti itu...
Lalu Anya melihat wajah senang Ibu Tirinya.
Ekpersi Anya segera berubah.
Tunggu...
Apakah Ibu Tirinya yang meminta pada Henry?
Sungguh?
Meminta uang lagi?
Jelas Investasi itu pasti bukan yang yang kecil.
Bagaimana nanti Tuan Muda itu menilai dirinya dan Keluarganya?
Keluarga mata duitan yang ingin memerasnya?
Anya benar-benar merasa pusing hanya dengan memikirkannya saja.
####
__ADS_1
Di tempat lainnya, Pelayan yang tadi memberikan minuman pada Anya segera merasa lega karena rencananya berhasil.
Stevan yang melihat itu, segera berbisik pelan,
"Bagus sekali, sekarang kamu pergi dan singkirkan barang bukti bungkus obat itu, buang jauh-jauh,"
"Baik Tuan Muda, namun obat itu..."
"Kamu tenang saja, itu bukan obat berbahaya yang bisa membahayan nyawa orang, ini hanya obat ringan,"
Pelayan itu hanya bisa mengangguk dan pergi dari sana.
Pelayan itu tentu tidak memperhatikan jika dirinya sedang di tatap oleh seseorang.
Ketika sudah ada di ujung taman yang sepi, Pelayan itu segera membuang bungkus obat ke tempat sampah dekat sana, lalu segera pergi dari pintu belakang.
Gadis yang mengikuti pelayan tadi, segera menuju ke tempat sampah, karena penasaran segera mengambil sesuatu di tong sampah.
"Huh? Obat ini? Bukankah ini merk yang sama yang dulu pernah salah satu temanku di Luar Negeri pakai untuk mengugurkan kandungannya? Obat ini punya tingkat keamanan tinggi, dan keakuratan tinggi, sangat efektif untuk calon bayi yang belum genap satu bulan, dan tidak membahayakan Ibu, tidak menimbulkan begitu banyak rasa sakit, apalagi efeknya cukup lama terasanya, tidak langsung,"
Ya, gadis itu adalah Tiara, yang merasa jangan ketika melihat Stevan berbicara bisik-bisik pada seorang Pelayan.
Namun Tiara yang melihat itu segera tersenyum.
"Heh, Stevan itu benar-benar gila, ternyata dia selicik ini, namun ini bagus juga, biar tahu rasa itu, Anya,"
Tiara mengabil bungkusan obat itu, dan mulai memiliki rencananya sendiri untuk Anya.
Ah...
Henry pasti akan marah lagi, kalau mengira Istrinya yang meminum obat semacam ini sendiri?
Terlihat senyuman licik milik gadis itu.
####
Acara itu berlangsung cukup lama, hampir jam 10 malam baru berakhir.
Dan sekarang, Henry dan Anya sedang perjalanan menuju ke Apartemen mereka.
Anya tentu memilih diam, tidak ingin berbicara dengan Henry.
"Anya, kamu harus mendegar soal penjelasan yang Aku buat,"
"Cukup, mari bicarakan itu di Apartemen nanti, Aku merasa tidak nyaman sekarang,"
Ya, Anya baru sekarang merasa perutnya sedikit tidak nyaman, yah ini tidak begitu sakit hanya saja...
Rasanya tidak nyaman.
Henry jelas menjadi cemas dan bertanya,
"Anya apa yang sakit? Kamu baik-baik saja?"
__ADS_1