
Hari segera berlalu, pagi itu Anya mulai terbangun dari tidurnya seperti biasanya, namun pagi itu dirinya merasa ada sesuatu yang aneh.
Pasalnya, ketika dirinya mulai membuka matanya dirinya merasakan ada seseorang yang memeluknya.
Anya segera berbalik untuk melihat, dan ternyata benar saja memang hanya ada satu orang lagi yang tinggal di kamar itu dan siapa lagi yang akan merangkak ke tempat tidurnya kecuali Tuan Muda itu?
Henry saat ini masih tertidur dengan cukup lelap, Henry memiliki kebiasaan tidur tanpa bajunya, jadi saat ini Anya bisa merasakan sentuhan kehangatan dari tubuh Henry secara langsung.
Sejujurnya ini pertama kalinya dirinya terbangun dalam dekapan dan pelukan orang lain seperti ini.
Henry biasanya menyuruhnya tidur di lantai, jadi tentu saja tidak perlu untuk mengharapkan sebuah pelukan dari orang itu di pagi hari, Tuan Muda ini selalu bilang dan menegaskan bahwa dia itu tidak bisa tidur bersama orang lain di tempat tidur yang sama.
Namun sekarang yang jadi pertanyaan kenapa tuan muda ini berada di lantai bersamanya dan tidur bersamanya seperti ini?
Bahkan memeluknya?
Bukankah dia seharusnya tidur di tempat tidur di atas yang sangat nyaman itu?
Kenapa pula dia musti tidur di lantai bersamanya?
Apakah dia tiba-tiba berubah pikiran atau sesuatu?
Merasa ingin tidur dengan seseorang?
Namun kalau begitu, bukankah lebih baik menyuruh dirinya ini untuk naik ke tempat tidur agar mereka berdua setidaknya bisa tidur dengan nyaman di kasur yang empuk.
Anya sebenarnya lelah tidur di lantai seperti ini, yah memang dirinya tidak benar-benar tidur di lantai secara langsung, tempo hari dirinya sudah membeli kasur lipat tipis yang praktis untuk tidur.
Namun tetap saja rasanya masih sangat berbeda dari tempat tidur empuk milik Sang Tuan Muda itu.
Ada ketika Tuan Muda itu tidak ada di rumah, dan dirinya bersantai dan tidur di tempat tidur itu.
Toh suaminya ini tidak pernah melarangnya untuk naik ke tempat tidur itu atau tidur di sana setidaknya selama Tuan Muda itu tidak ada disana.
Karena toh, sudah sering melakukan hal semacam itu di atas tempat tidur empuk itu.
Dan sekarang Anya benar-benar merasa heran ketika melihat Tuan Muda itu tidur di lantai bersamanya.
Anya diam-diam, menatap wajah pria yang saat ini masih tertidur lelap sambil memeluk dirinya, membiarkan Anya berada di dada bidang itu.
Rasa pelukan ini jelas terasa sangat hangat dan nyaman, apalagi ketika menatap Pria yang memeluknya itu, memang adalah seseorang yang memiliki wajah rupawan dan sangat tampan.
Terlebih melihatnya dalam posisi tidur seperti ini yang terlihat sangat tenang benar-benar terlihat jinak seperti kucing kecil yang sedang tidur terlihat sangat penurut, benar-benar tidak menunjukkan bahaya sedikitpun.
Ekpresi tenang dari pria itu benar-benar hampir membuat Anya terkesima.
Ya, siapa yang tidak ingin berada dalam pelukan seorang pria tampan seperti ini?
Owh, lihatlah wajag tampan yang menyejukan hati ini.
Benar-benar wajah ini harus di salahkan karena terlalu memukau.
Anya diam-diam sedikit menyentuh rambut Henry yang beranakan itu.
Rambut pria itu benar-benar sangat halus dan sangat enak untuk di sentuh.
Anya menjadi teringat, di sesi malam mereka, ada saat dimana dirinya menjambak rambut ini karena terbawa emosi permainan malam mereka.
Itu karena salah Pria di hadapannya ini juga yang kadang melakukannya dengan terlalu cepat dan sesikit kasar, namun memang ada saatnya Henry ini melakukannya dengan lembut, sampai-sampai membuat dirinya seolah melayang dengan kenikmatan.
Anya segera merasa sangat malu sendiri ketika dirinya mulai memikirkan hal-hal semacam itu.
Sungguh, kenapa dirinya malah ingat itu?
Hah, padahal dirinya masih marah gara-gara ucapan pria itu yang soalnya bermain denga Pria lain itu.
Hah, memamg yang harus di salahkan adalah wajah tampan ini.
Anya mengelus pipi Henry ketika memikirkan itu.
Ketika Anya melakukannya, Anya kemudian menatap kearah leher Pria yang memeluknya itu, ada tanda merah kecil disana.
Apakah itu tanda memalukan yang dirinya buat?
Atau mungkin itu hal-hal yang di buat oleh wanita lain saat bersama Henry?
Lagi pula, Henry datang bersama seorang wanita tadi malam.
__ADS_1
Ini membuat Anya merasa penasaran, sudah berapa wanita yang Henry ajak ke Apartemen ini, dan dibawa ke tempat tidurnya?
Melihat bagaimana Henry sangat profesional dalam melakukan hal-hal itu, jelas dia memiliki begitu banyak pengalaman.
Sampai-sampai membuat dirinya merasa tengelam dalam kesenangan.
Anya sekali lagi merasa malu karena pikiran kotornya itu, hah gara-gara Tuan Muda ini, sekarang pikirannya sudah menjadi tercemar.
Henry yang awalnya tertidur lelap itu juga mulai membuka matanya dan ketika dirinya membuka matanya, hal yang di lihatnya adalah wajah Anya, wajah Anya yang saat ini begitu dekat juga memiliki epresi sdikt memerah.
Ada sebuah keinginan untuk mengodanya,
"Apa yang kamu pikirkan kenapa kamu pagi-pagi sudah memiliki ekspresi tidak senonoh seperti itu?"
Anya jelas menjadi begitu kaget ketika pria yang ada di depannya itu membuka matanya, dirinya segera mundur dan melepaskan diri dari pelukan itu.
Namun malam Henry memeluknya lebih erat, membawa anya dalam pelukannya, lalu berbisik,
"Aku bertanya padamu apa yang sedang kamu pikirkan ketika kamu menatap wajahku seperti itu dan memiliki ekspresi seperti itu?"
Anya jelas saja tidak mau mengakui ketika dirinya memikirkan hal-hal tidak senonoh, dirinya mencoba untuk menemukan cara untuk menghindari menjawab, dan hanya berkata asal,
"Aku hanya penasaran, berapa banyak wanita yang sudah kamu ajak ke kamar ini?"
Henry jelas merasa kaget ketika mendapatkan pertanyaan yang tiba-tiba itu, dia terdiam sebentar, lalu segera menjawab,
"Jika Aku memikirkannya, Aku tidak pernah mengajak wanita manapun untuk memasuki kamarku,"
Anya menatap Henry dengan heran dan bertanya lagi,
"Pasti itu bohong? Kamu sudah sangat berpengalaman, Aku cukup yakin itu,"
"Aku biasanya tidak akan pernah mengajak siapapun ke Apartemenku apalagi Kamarku, ada hotel mengerti? Aku juga sudah pernah bilang sebelumnya bukan? Jika Aku tidak suka orang-orang menyentuh barang-barang pribadiku, termasuk memasuki kamarku. Hmm, mungkin kamu adalah yang pertama, setelah semua ada berbagai kondisi khusus untuk ini, karena kamu adalah Istriku,"
Henry sendiri juga merasa heran dengan sikapnya sendiri.
Itu benar, harusnya walaupun mereka menikah, dirinya tidak perlu menyuruh Anya memasuki kamar ini dan menyuruh Anya tidur disana.
Apartemen ini memiliki banyak kamar, jelas tidak kekurangan kamar tidur untuk menampung wanita itu.
Hanya saja...
Namun kenapa dirinya menempatkan Anya di kamar pribadinya setelah semua?
Hanya...
Henry juga berpikir, jika tindakannya ini jelas di luar hal-hal yang biasa dirinya lakukan.
Semakin memikirkannya, Henry merasa aneh.
Jadi Henry memutuskan untuk tidak memikirkan hal-hal ini lagi dan segera berkata,
"Hpmh, hanya kebetulan saja Aku mengijinkanmu ke kamar ini? Apa kamu mengerti?"
Anya sebenarnya cukup kaget mendengar fakta bahwa dirinya adalah satu-satunya wanita atau yang pertama Henry ajak ke kamar pribadinya.
Dan cara Pria di hadapannya ini mencoba mengelak dan mencari alasan terlihat cukup lucu.
Anya jadi ingin mengelus pipi Pria yang ada di hadapannya ini, namun tidak berani, dan menahan dirinya.
"Baiklah Aku mengerti. Lalu, bolehkah aku bertanya kenapa kamu tidur di lantai bersamaku?"
Baru sekarang Herny sadar dengan posisi tempat dirinya berada.
Benar!!
Dirinya ada di lantai tempat Anya tidur!
Kenapa dirinya ada disini?
Jelas tidak nyaman tidur di tempat ini!
Lebih nyaman di tempat tidurnya...
Hanya saja...
Semalam dirinya merasa panas, mulai melepaskan bajunya, dan ketika melihat Anya tidur sangat lelap di bawah, dirinya sepertinya tanpa sengaja turun kebawah, dan memeluk wanita itu terasa sangat nyaman...
__ADS_1
Dan...
Tunggu...
Semakin Henry memikirkan alasannya, dirinya menjadi semakin terasa aneh.
Jelas, ini sangat bukan seperti dirinya!
Bagaimana bisa dirinya mau tidur di lantai?
Lihat, sekarang punggungnya pegal-pegal!!
"Hmph, itu jelas terserah aku mau tidur di manapun toh ini adalah tempatku,"
Anya merasa itu jawaban yang wajar, hanya saja Anya tetap tidak bisa untuk tidak merasa aneh.
Padahal tempat tidur itu sangat empuk dan nyaman, kenapa repot-repot di lantai?
Sudahlah, walaupun dirinya penasaran dan ingin bertanya, toh pria di depannya itu tidak akan memberikan jawaban.
Anya segera ingin bangun, namun kemudian tangannya di cegah oleh Henry.
"Ada apa lagi?"
Henry sebenanya ingin bertanya soal Pria kemarin, namun dirinya merasa segan untuk bertanya.
Nanti malah wanita di depannya ini merasa jika dirinya cemburu atau sesuatu bukan?
Bukankan ini akan memalukan?
Dirinya jelas tidak ingin wanita didepannya ini menjadi besar kepala!
Tidak!
Dirinya jelas tidak cemburu!
Hanya...
"Aku memiliki sesuatu yang penting yang ingin Aku bicarakan denganmu,"
Anya menjadi penasaran dan bertanya,
"Apa itu?"
"Aku akan menegaskan ini sekali lagi. Kamu adalah properti pribadiku, ingat, Aku tidak menyukai barang-barang milikku di sentuh oleh orang lain, dan kamu ketika kamu menjadi Istriku, jangan pernah berpikir untuk memiliki hubungan dengan Pria manapun! Terutama, kamu hanya boleh melakukannya denganku, hanya boleh denganku, apakah kamu mengerti?"
Anya awalnya ingin tahu hal apa yang di inginkan Pria di depannya ini, namun ternyata itu hanya hal-hal semacam itu.
"Ya, Aku mengerti. Aku jelas tidak akan berhubungan dengan Pria manapun. Ini adalah hal-hal dasar yang Aku pahami, namun bagaimana denganmu?"
Henry terdiam dan segera berkata,
"Hpmh, itu terserah Aku akan bersama siapa saja, kamu keberatan?"
Ya, Henry tiba-tiba ingin bertanya hal ini.
Anya segera menjawab dengan ekspresi santai.
"Itu terserah kamu mau berhubungan dengan siapa, itu urusan Pribadi Tuan Muda,"
Henry yang mendengar jawaban itu entah kenapa merasa sedikit kecewa.
Padahal jika wanita didepannya ini bilang dirinya tidak bisa berhubungan dengan wanita lain, dirinya akan mencoba untuk mempertimbangkanya.
Tapi Anya ini bahkan terlihat tidak peduli dan ini entah kenapa sedikit membuatnya kesal.
"Ya, itu benar. Terserah aku soal urusan pribadi ku namun ingat satu hal, kamu jelas hanya boleh denganku,"
"Tentu saja, Tuan Muda, hanya denganmu,"
Henry cukup puas dengan jawaban itu, yah lupakan yang kemarin.
Namun awas saja di masa depan!
Setidaknya, dirinya sudah memengang janji Anya ini!
Jadi, dirinya memiliki alasan untuk marah nantinya!
__ADS_1
Ya, ini jelas bukan karena cemburu!