
Pagi itu, Anya yang mendengar kabar bahwa ayahnya itu sudah bangun dari rumahnya jelas segera ingin untuk menjenguk ayahnya itu.
"Tuan Muda, aku akan berangkat ke Rumah Sakit lebih dahulu, apakah tidak apa-apa?"
Jelas Anya harus meminta izin dari suaminya itu, dirinya berharap setidaknya tuan muda itu tidak akan melarangnya pergi ke rumah sakit.
"Jangan,"
Anya benar-benar tidak siap dengan jawaban itu menunjukkan ekspresi terkejutnya.
Henry jelas mengerti bahwa wanita yang ada di depannya itu terlihat salah paham.
"Bukan begitu, Aku akan pergi bersamamu ke rumah sakit, bukankah setidaknya aku harus bertemu dengan Ayah Mertuaku?"
Ketika mendengar itu, Anya merasa cukup lega, mungkin memang dirinya saja yang dari tadi berpikir terlalu negatif ke arah tuan muda yang ada di depannya itu.
Tuan Muda ini, sebenarnya memiliki hati yang cukup baik dan lembut.
Kalau dipikir-pikir lagi selain menyuruhnya tidur di lantai, atau menyuruh-nyuruhnya dengan hal-hal aneh, Tuan Muda itu benar-benar cukup menghargai privasinya juga, tidak melarangnya untuk melakukan apapun yang dirinya suka, termasuk soal pergi bekerja.
Sisi lembut ini, jika tidak diperhatikan dengan baik mungkin tidak akan cukup terlihat, karena tertutupi dengan sikap arogan dan sombong yang dimilikinya, dan sepertinya Anya sedikit tahu hal pasti, jika Tuan Muda ini jelas bisa keras kepala dalam beberapa keadaan, dan seringkali merasa malu dengan tindakannya sendiri.
Sikap malu-malunya itu sebenarnya cukup lucu dan menggemaskan.
"Baiklah, Aku akan segera mandi dan bersiap," kata Anya mulai bangun dari tempat tidurnya, lalu segera berniat ke kamar mandi setelah mengambi handuk, namun hal itu segera disusul oleh Henry, yang juga malah ikut masuk ke dalam kamar mandi.
Anya segera menatapnya dengan heran.
Henry lalu segera menunjukkan sebuah senyum licik dan berkata,
"Bukankah lebih mudah dan cepat jika kita mandi bersama? Daripada harus bergantian?"
"Bukankah ada kamar mandi juga di dekat dapur?"
Henry segera menunjukkan ekspresi cemberut ketika Anya mengatakan hal itu seolah-olah baru saja kehilangan sebuah alasan untuk mandi bersama Anya.
Anya jelas melihat perubahan ekspresi itu hanya bisa menghela nafas dan berkata,
"Baiklah toh ini juga agar cepat bisa ke rumah sakit, tapi tolong jangan berbuat yang macam-macam ketika di kamar mandi,"
Henry segera tersenyum dan berkata,
"Tentu saja aku tidak akan macam-macam,"
Keduanyapun segera masuk kekamar mandi dengan tenang, namun pada akhirnya Henry jelas melakukan hal nakal ketika di kamar mandi, membuat Anya laki-laki merasa kewalahan dengan sikap Henry yang terlalu menempel itu.
Membuat Anya hanya bisa menjadi heran dengan semua tindakannya belakangan itu, yang terlihat sangat aneh.
Setelahnya, mereka berdua segera bersiap-siap berangkat.
Dan lagi-lagi ada hal mengejutkan lain, yaitu bagaimana Henry memakai baju hadiah yang Anya berikan semalam.
Dan benar saja, baju itu benar-benar terlihat sangat pas di tubuh tuan muda itu, membuat penampilan Henry menjadi lebih bersinar.
Henry sendiri menata puas ke arah cermin, dan berkata,
"Desain Buatanmu cukup lumayan,"
"Terimakasih atas pujiannya,"
__ADS_1
"Hmm, lain kali kamu harus membuatkan desain baju khusus untukku,"
"Tentu saja, tidak masalah sama sekali,"
####
Tidak lama, sampai mereka berdua tiba di Rumah Sakit, dan tiba di ruang VVIP tempat Ayah Anya di rawat, jelas semua fasilitas megah ini berkat dukungan dari Henry, sesuai dengan salah satu isi perjanjian yang mereka buat, jika Henry akan membiayai semua pengobatan Ayahnya sampai sembuh dan pulih.
Ketika tiba di depan ruangan, Sherly yang awalnya ingin menyambut kakaknya itu jelas merasa kaget ketika melihat ada Henry disana.
Tatapan Henry dan Sherly bertemu, ini adalah pertemuan mereka yang pertama sejak Pernikahan Anya dan Henry.
Mereka berdua, memang sempat bertemu sebelumnya, dan terjadi beberapa hal.
Sherly segera mengalihkan tatapannya, karena merasa takut dengan Henry, jujur dirinya tidak ingin melihat wajah Tuan Muda itu, terlalu membencinya bahkan dengan menatap wajahnya.
Sherly memilih langsung menyapa Kakaknya.
"Kakak Akhirnya datang, Ayah sudah siuman, sejak semalam, Aku memang sengaja tidak menghubungi langsung semalam Karena aku pikir kakak pasti lelah jadi aku mengabari kakak baru pagi ini,"
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Ayah sekarang keadaannya bagaimana?"
"Ayah dia saat ini dalam kondisi baik hanya saja...."
Sherly lalu menatap ke arah Henry yang ada di samping Anya.
Lalu segera mengatakannya,
"Aku pikir, Ayah belum bisa menerima kabar Pernikahan Kakak segera,"
Anya yang mendengar kabar itu jelas mengangguk setuju.
Dan lagi, Ayahnya sepertinya pernah bertemu Henry sebelumnya saat mendapatkan tawaran untuk menikahi Putrinya.
Dan sekarang ketika dia sadar dan mendengar kabar bahwa dirinya sudah menikah pasti itu akan sangat mengejutkan.
"Baik, untuk sementara aku akan menyembunyikan hal ini dulu,"
Anya sekarang menatap kearah Henry, yang saat ini menunjukkan ekspresi tidak senang.
"Tuan Muda, Aku harap Tuan Muda mengerti,"
Henry mau tidak mau hanya setuju dan segera duduk di depan ruangan itu karena memang tidak bisa masuk.
Padahal niat awalnya dirinya ingin memperkenalkan diri sebagai Suami Anya pada Ayah Mertuanya itu.
Hah, mungkin lain kali saja?
"Baiklah, Aku mengerti,"
Itu awalnya adalah rencana Sherly dan Anya, namun mana tahu Ibu Sheryl ternyata baru saja membicarakan soal pernikahan Anya pada Ayahnya itu.
Ketika Anya membuka pintu ruangan, terlihat sebuah pertengkaran di sana.
"Bagaimana kamu bisa mengijikan Putriku Anya menikahi Tuan Muda gila itu? Apakah kamu masih memiliki otak yang waras?" Bentak Ayah Anya pada Ibu Tiri Anya itu.
"Sayang, Kamu harusnya mengerti soal posisiku keluarga kita saat itu sedang mengalami hal yang sulit,"
"Tapi itu sama saja dengan kita menjual Putri kita sendiri!"
__ADS_1
"Tapi aku tidak memiliki pilihan lain!Atau apakah kamu lebih ingin jika putri kita Sherly yang melakukannya? Dia jelas masih terlalu muda, dan Anya? Dia adalah wanita yang sudah dewasa dan matang, dia sudah 32 tahun, Sudah saatnya dia menikah, namun dia selalu membuat alasan, bukankah ini memang kesempatan yang baik untuk melihat dia menikah? Bukankah kamu selalu ingin melihat Anya menikah?"
"Namun tidak dengan Tuan Muda itu... Dia yang membuat Perusahaan bermasalah pada awalnya, dia pikir Aku tidak tahu?"
Anya dan Sherly segera masuk ke dalam ruangan itu, dan menutup ruangan itu.
"Ayah... Ayah tolong tenang dulu jangan seperti ini!" Kata Anya mencoba menenangkannya.
"Anya? Kamu datang?"
Ayah Anya yang melihat putrinya datang itu segera menangis.
Anya yang melihat ayahnya menjadi begitu emosional itu jelas menjadi bingung harus bersikap seperti apa, hanya mencoba memeluk Ayahnya.
"Ayah, sungguh Aku tidak apa-apa, dan soal Pernikahanku, sungguh ini tidak masalah sama sekali aku bisa mengurusnya jadi Ayah tidak perlu khawatir,"
"Tapi, gara-gara Keluarga kami, kamu harus menikah dengan Tuan Muda itu,"
Anya sekali lagi mencoba menenangkan Ayahnya itu.
"Sungguh, ini tidak apa-apa. Aku nantinya juga akan bercerai, Ayah tenang saja, Aku sudah mengurus segalanya, tidak lama sampai Tuan Muda itu akan menceraikanku, jadi Ayah tidak perlu terlalu khawatir, Aku sungguh memiliki rencanaku sendiri,"
"Tapi.... Tetap saja..."
"Ayah, sungguh sekarang fokuslah pada kesehatan Ayah dulu, dan Mari bicarakan hal-hal ini lain waktu,"
Henry yang ada di luar, jelas pertengkaran dari dalam Sebelumnya, dan bahkan mengintip untuk mendengar pembicaraan mereka.
Ya, Henry juga mendegar soal bagaimana Anya mulai mengatakan soal perceraian dengan dirinya dengan mudah.
Sangat mudah, seolah-olah itu bukan apa-apa.
Henry tidak mengerti kenapa hatinya terasa sakit ketika mendengar hal itu?
Apakah karena dirinya memiliki pengalaman buruk soal kata perceraian?
Di masalalu, ketika dirinya masih kecil, Ayah dan Ibunya selalu saja bertengkar dan setiap kali mereka bertengkar salah satu dari mereka akan mengatakan 'Perceraian'.
Kata-kata yang awalnya tidak dirinya mengerti, namun dirinya saat itu jelas tahu bahwa itu bukanlah hal yang baik.
Perceraian adalah salah satu alasan kenapa dirinya tidak ingin menikah dari awal.
Orang-orang yang sudah menikah itu sebuah kesepakatan, jika akan bersama selamanya...
Namun kenapa ada perceraian...
Sesuatu yang akan memisahkan dan menghancurkan sebuah keluarga.
Walaupun kedua orang tuanya tidak benar-benar sudah bercerai, namun dengan kata-kata itu saja keduanya selalu memiliki hubungan yang buruk.
Perasaan Henry sekarang menjadi begitu sulit.
Dirinya tidak benar-benar memikirkannya sebelumnya...
Akhir dari kontak ini...
Hal-hal soal perceraian...
Sebetulnya tidak di jelaskan pada kontrak Pernikahan mereka.
__ADS_1
Hanya kenapa Anya begitu yakin jika mereka akan bercerai dalam waktu dekat?