
Dua orang itu, yang saat ini telah berdebat dan bertengkar soal masalah obat, segera menjadi sangat kaget ketika melihat hasil dari tes yang barusan Anya lakukan.
Henry segera mengambil alat tes itu ke tangannya, dan mulai memperhatikan lagi hasil yang ada disana.
Sebuah hasil yang sangat mengejutkan, yang hampir membuat Henry tidak percaya.
Dua garis, bukankah itu artinya saat ini Anya hamil calon anak mereka?
Hal-hal yang dinantikan benar-benar datang begitu cepat dan tidak terduga.
Ada beberapa rasa kebahagiaan yang muncul di dalam hati Henry ketika mengetahui fakta ini.
Bahwa tidak lama lagi, dirinya akan menjadi seorang Ayah.
Ternyata setelah mengetahui hal ini dirinya benar-benar merasa sangat bahagia, perasaan yang begitu menyenangkan, yang hampir membuat Henry terlupa dengan kemarahan yang dirinya miliki tadi.
Dirinya tentu saja, ingin berbagi kebahagiaannya dengan wanita yang ada di hadapannya, yang juga calon Ibu dari anaknya kelak.
"Anya, kamu ternyata sedang hamil, hasilnya positif,"
Ada nada keceriaan dan kebahagiaan yang jelas saat Henry mengatakannya.
Namun respon yang Henry lihat dari wanita yang ada di hadapannya itu jauh daripada ekspektasi yang dirinya miliki.
Dirinya kira, Anya akan bahagia juga seperti hal yang dirinya rasakan.
Namun dari ekspresi terkejut dan pucat dari wajah wanita itu, Henry tahu kabar soal kehamilan Anya ini bukan kabar baik untuk wanita yang ada di depannya, namun adalah sebuah kabar buruk.
Lihat ekpresi kecewa dan kesedihan yang jelas seolah-olah dia baru saja mendengar berita soal seseorang yang meninggal.
Dan Henry selalu segera ingat masalah yang mereka perdebatkan sebelumnya, soal obat-obatan itu.
Sepertinya Anya mungkin cukup ceroboh dalam meminum obatnya, sampai kebobolan seperti itu, dan dia hamil.
Hal-hal diluar rencana wanita itu.
Henry yang memikirkan semua kemungkinan ini, tiba-tiba merasa hatinya sangat sakit dan dipenuhi kemarahan dua kali lipat dari sebelumnya.
"Kamu... Kamu benar-benar sangat tidak mengiginkan kehamilanmu bukan? Kamu benar-benarmerasa sangat buruk sekarang? Semuanya benar-benar tertulis di wajahmu,"
Anya yang mendengar kata-kata itu jelas tidak bisa menjawab apapun, karena kurang lebih apa yang dikatakan oleh tuan muda yang ada di depannya itu benar.
Dirinya sangat terkejut dan tidak mempercayai dengan fakta yang barusan dirinya lihat.
Dirinya hamil?
Anak Tuan Muda itu?
__ADS_1
Artinya, semua rencana yang termasuk untuk mempercepat perceraian akan sia-sia dan gagal.
Seolah-olah semua hal yang dirinya usahakan selama ini gagal.
Anya merasa pikirannya kosong, bahkan tidak tahu harus berkata seperti apa dengan kabar mengejutkan yang tiba-tiba ini.
Saat ini dirinya merasa perasaannya begitu rumit.
"Kenapa kamu diam saja? Apakah yang aku katakan ini benar?"
Anya yang tiba-tiba ditanya itu segera merasa cukup tertekan, pikirannya menjadi begitu pusing karena memikirkan begitu banyak hal dalam sekejab.
Dengan itu, Anya segera kehilangan kesadarannya.
Henry jelas merasa kaget bagaimana wanita yang ada di depanya itu tiba-tiba kehilangan kesadaran, Henry segera menangkap Anya dengan sigap ke dalam pelukannya.
Melihat wanita itu tiba-tiba kehilangan kesadaran, Henry jelas merasa panik dan mulai menyebut dan memanggil namanya.
"Anya? Tolong jangan seperti ini? Bangunlah? Jangan membuatku khawatir seperti ini,"
Namun tidak ada jawaban dari wanita yang ada di pelukannya.
Henry yang panik, segera membawa Anya ke kasur, dan menidurkannya.
Seolah-olah pikirannya menjadi kosong dan tidak tahu harus seperti apa.
Namun ada dua nyawa, Istrinya Anya dan calon anak mereka.
Henry lalu segera menelepon Dokter Pribadi Keluarga, yang kebetulan tinggal di Set Apartemen ini.
Henry juga menyuruh dokter itu untuk membawa peralatan lengkap, untuk mengecek Istrinya, yang sedang hamil.
Dan tidak lama sampai dokter itu tiba disana membawa beberapa peralatan seperti portabel USG, dan alat-alat kedokteran lainnya.
"Dokter, tolong periksa kondisi istri saya dengan cepat,"
"Anda tenang dulu tuan muda, jangan panik dan tunggulah di sini sebentar saya pasti akan melakukan yang terbaik untuk merawat Istri anda,"
Dokter itu, lalu segera melakukan beberapa pemeriksaan, termasuk USG ringan.
Dan segera memberikan hasil pemeriksaannya pada Tuan Muda itu.
"Istri Tuan Muda saat ini memang sedang hamil muda, ini baru 1 Minggu, jadi cukup wajar jika kondisinya kurang stabil, apalagi emosinya, ini adalah fase-fase penting, apakah sebelumnya dia sempat mengalami guncangan atau tekanan psikologis?"
Henry yang mendengar itu, segera ingat bagaimana dirinya memarahi Anya sebelumnya.
Dan Anya sendiri pasti cukup terguncang dengan semua berita mendadak ini.
__ADS_1
Ditambah dirinya yang marah-marah, pasti hal-hal itu membuat Anya tertekan.
Perasaan bersalah tiba-tiba muncul.
Dokter itu segera sadar dari ekspresi Tuan Muda itu, dan mengingat tempramen tuan muda itu yang gampang marah dan tersulut emosi.
"Lain kali, Tuan Muda jangan dulu untuk menyulut emosi dari Istri anda, kondisi kehamilannya masih belum stabil begitu pula dengan Istri anda, ada baiknya anda lebih bersabar dulu, dan jangan mengatakan berbagai hal yang mungkin menyakiti hatinya,"
Henry yang mendengar nasehat itu hanya segera mengangguk.
"Ya, Dokter. Aku... aku pasti akan menjaganya dengan baik di masa depan dan tidak akan pernah membiarkan hal ini terjadi,"
"Itu bagus, nanti saya akan merasepkan beberapa vitamin untuk Nyonya Anya,"
"Baik Dokter, Lalu kenapa dia saat ini belum sadar?"
"Biarkan Nyonya Anya Istirahat dulu, ini tidak akan lama sampai dia kembali sadar, kondisinya cukup baik-baik saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk saat ini,"
Henry yang mendengar itu akhirnya merasa cukup lega.
"Baik, Aku mengerti."
Sebelum Dokter itu pergi, Dokter itu selalu mengatakan hal lagi kepada tuan muda itu.
"Tuan Muda, Saya hanya ingin memberikan nasehat, ingat saat masa-masa awal ini, tolong di kurangi melakukan hubungan suami istri dulu, terutama dalam fase awal ini, sampai kehamilan Nyonya cukup stabil,"
Henry yang tiba-tiba mendapatkan nasehat itu wajahnya menjadi sedikit merah dan merasa malu.
Apalagi mengigat hal-hal yang selama ini dirinya lakukan pada Anya, lebih agresif.
Apakah itu juga yang menyebabkan Anya merasa tertekan?
Semakin memikirkannya, Henry merasa bersalah.
"Aku mengerti, aku pasti akan sabar dan menahan diri,"
Dan sekarang setelah dokter itu, pergi, hanya ada dua orang itu di sana.
Henry segera memegang tangan Anya, sejujurnya dirinya tidak tahu apakah harus marah atau tidak pada Anya.
Hatinya masih sedikit terluka menerima fakta bahwa Anya mungkin sangat tidak menyukai kehamilanya itu.
Sungguh...
Sekarang apa yang harus dirinya lakukan?
"Anya, setidaknya kamu jangan seperti ini, kamu bisa marah padaku, tapi... Jangan tiba-tiba pingsan dan sakit seperti ini, kamu benar-benar membuat Aku panik, takut dan sangat cemas, Aku tidak pernah merasa secemas ini sebelumnya... Sungguh kamu membuat Aku menjadi seperti bukan diriku yang biasanya...."
__ADS_1