
Anya yang mendengar itu jelas merasa cukup kaget, dirinya tidak tahu harus menjawab bagaimana tentang permintaan itu.
Bagaimanapun juga hubungan antara dirinya dan Henry bukan sebuah pernikahan yang sesungguhnya jadi jika dipikirkan lagi tidak mungkin akan ada anak diantara mereka berdua.
Namun jelas, Anya tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada pria tua yang ada di depannya itu.
"Seorang anak ya?" guma Anya tiba-tiba.
"Itu benar, bukankah itu cukup bagus? Dan aku rasa umur kalian berdua sudah cocok untuk itu,"
Anya lalu terdiam sebentar, yah kalau dipikirkan saat ini dirinya sudah 32 tahun, bukan termasuk umur yang muda lagi, sudah kepala tiga, begitu pula denga Henry yang sudah 30 tahun, di umur-umur ini, mungkin orang-orang lain yang seumuran dengan mereka berdua, sudah lama menikah dan memiliki anak, bahkan mungkin sudah anak kedua mereka.
Yah, bukan berati dirinya tidak mengiginkan seorang anak, hanya....
Tidak mungkin dengan Henry pula.
Dan ini membuat Anya tiba-tiba teringat sesuatu, semalam Henry tidak minum obat apapun ataupun memkai pengaman apapun, dirinya juga terlalu terbawa suasana setelah acara memasak.
Dirinya pikir tidak apa-apa untuk meminim obatnya pagi ini, namun karena kabar menjegutkan tadi pagi, dirinya lupa dan segera pergi ke rumah sakit.
Banyak hal yang harus diurus ketika diterima berada di rumah sakit jadi tentu saja lupa untuk minum obatnya.
Ekpresi Anya sedikit berubah pucat.
Ini...
Harusnya tidak apa-apa kan meminumnya habis dari Rumah Kakek?
Dirinya bukan Henry yang membawa barang semacam itu di dompetnya pula.
Anya lalu segera menormalkan ekspresinya dan berkata dengan tenang,
"Ya, tentu saja Kakek, aku dan Henry sudah memikirkan soal anak juga, yah masih proses,"
Kakek Henry itu, lalu sedikit tertawa melihat sikap malu-malu dari cucu menatunya itu.
"Kalian memang masih pengantin baru jadi nikmatilah saja dulu dan kakek akan menunggu kabar baik dari kalian berdua,"
Anya tentu hanya bisa menjawab dengan berpura-pura sebagai pasangan sungguhan dengan Henry.
"Tentu saja, Kakek. Suamiku Henry sudah bekerja keras pasti akan membuahkan hasil,"
Anya hanya mengatakan omong kosong, namun mana tahu tiba-tiba ada seseorang yang memasuki ruangan itu.
Ya, Henry yang kesal karena rencananya bersenang-senang itu gagal, dan miliknya tidak berereaksi.
Butuh beberapa waktu sampai Henry menengakan dirinya, dan terus berguma pada dirinya jika mungkin dirinya hanya kelelahan saja, tidak mungkin kenapa-napa.
Dan baru saja ketika Henry tenang dia mendengar kabar dari pelayan di rumah Keluarga Achilles jika Anya di suruh Kakek ke Rumah.
Jelas mendegar hal itu, Henry hanya bisa buru-buru langsung menyusul takut-takut, Anya mungkin saja malah berbicara yang tidak tidak pada Kakeknya.
Misalnya, soal rencana entah apa yang akan di buatnya, agar mereka berdua bercerai.
Namun, ketika dirinya datang percakapan yang ada di rumah itu kemudian menjadi cukup mengejutkan.
Apa yang mereka bahas tadi?
Masalah anak katanya?
Henry hampir kehilangan kata-kata ketika mendengar hal itu terutama setelah, Anya terlihat setuju-setuju saja.
Walaupun Henry tahu, Anya mungkin hanya berakting untuk semua itu.
Henry tidak pernah memikirkan soal memiliki anak sebelumnya, karena dirinya tidak tertarik untuk menikah dari awal.
Namun ketika memikirannya sekarang, sepertinya memiliki seorang anak tidak terlalu buruk?
__ADS_1
Hah, apalagi jika ini menyangkut permintaan, Kakeknya itu, jika mereka berdua tidak segera punya anak, pasti Kakeknya akan curiga.
Tidak, tidak, dirinya masih bisa membuat beberapa alasan, mungkin karena Anya sedikit terlalu tua?
Yah walaupun ini tidak terlalu tua juga, 32 setelah semua.
Jadi ini cukup sulit, jadi dirinya bisa membuat berbagai alasan untuk menolak permintaan anak ini.
Dan bahkan mencari alasan yang romantis seperti, asal bisa hidup berdua dengan Istrinya, tidak masalah akan memiliki anak atau tidak.
Namun jika dipikir-pikir lagi, dirinya saat ini sudah menikah.
Dan harusnya tidak apa-apa untuk mempertimbangkan soal anak?
Mungkin, Anya tidak akan memikirkan lagi soal perceraian jika mereka memiliki anak?
Henry tidak mengerti juga, mengapa pikirannya bisa sampai pada kesimpulan seperti itu.
Hanya...
Hanry pikir, tidak masalah jika itu Anya yang melahirkan anaknya kelak, walaupun dia memiliki ekpersi yang selalu datar dan dingin, bahkan masakannya tidak enak, Anya juga sangat sibuk dengan Karirnya sendiri.
Apakah dia nanti akan bisa mengurus anak?
Belum lagi, dirinya juga akan sibuk.
Namun tiba-tiba, ada sebuah bayangan dalam benak, Henry.
Dimana, Anya menyambutnya di rumah, dengan mengendong seorang bayi perempuan yang lucu.
Ah, benar jika memiliki seorang anak dirinya ingin anak perempuan yang mengemaskan.
Sebelumnya, dirinya pernah berkunjung ke salah satu temannya yang sudah menikah dan memiliki anak, dia memiliki sepasang anak perempuan dan laki-laki, yang anak laki-laki sangat nakal, namun yang anak perempuan begitu penurut dan manis.
Mereka terlihat menjadi Keluarga bahagia yang lengkap.
Henry sendiri, tidak mengerti bagaimana rasanya memiliki sebuah Keluarga yang harmonis.
"Apa yang kalian bicarakan? Aku juga ingin, tahu. Aku bekerja keras untuk apa sayangku?" Kata Henry segera merangkul mesra Anya itu.
Anya jujur merasa sangat malu ketika kata-katanya barusan didengar oleh Henry!
Dan lagi saat dirinya bilang, Henry yang bekerja keras pasti membuahkan hasil.
Dirinya memiliki pemikiran ini karena Tuan Muda itu, melakukannya hampir tiap malam.
Dan Tuan Muda itu, lebih jarang pakai pengaman dari pada pakai.
Jika tidak karena dirinya yang minum obat teratur, ini pasti sudah kebobolan.
Dan itu pasti akan merepotkan.
Dan setelah Anya memikirkannya lagi, dirinya jelas tidak bisa memiliki anak dengan Henry.
Lagipula, mereka akan bercerai pada akhirnya, lalu nanti bagaimana nasip anak itu?
Ini akan jauh lebih merepotkan.
Ketika Anya tenggelam dalam pikirannya itu, Kakek Herny, segera berkata sambil tertawa,
"Ya, Istrimu bilang, kamu sudah bekerja keras, agar kalian segera memiliki seorang anak, Astaga Henry, kamu itu jangan menjadi begitu keras seperti itu pada Istrimu, Kakek paham kalian masih pengantin baru Namun kalian jika tidak boleh berlebihan,"
Henry diam-diam menatap wajah istrinya yang saat ini memiliki ekspresi sedikit memerah di telinganya namun itu hanya berlangsung sesaat karena Anya segera mengembalikan ekspresinya yang datar itu.
Hal ini membuat Henry ingin untuk menggodanya.
"Yah, mau bagaimana lagi, Kakek? Istriku ini sangat manis dan lucu, kami juga ingin segera memiliki seorang anak, tentu saja aku harus bekerja lebih keras agar cepat mendapatkan kabar baik,"
__ADS_1
Anya yang mendengar itu, sangat kaget, tidak pernah mengira jika pria di sampingnya itu hanya akan mengiyakan kata-kata Kakeknya yang ingin punya cucu.
Ah, ini pasti bagian dari pura-pura mereka?
Setelahnya, tidak banyak yang terjadi, mereka menikmati makan malam bersama dengan Kakek Henry di Rumah Keluarga Achilles.
Kakek Henry itu juga menyarankan agar mereka berdua menginap saja.
Anya yang tidak memiliki pilihan hanya bisa menurut, kemudian mereka berdua ada ke kamar Henry yang cukup familiar.
Sebelumnya, sudah ada baju-baju yang di siapkan disana oleh Para Pelayan.
Sepertinya, hal-hal ini memang sudah direncanakan oleh Kakek Henry agar mereka berdua bisa menginap.
Sekarang, Anya mengambil salah satu baju tidur disana, emm...
Bajunya...
Kenapa terlalu terbuka?
Pelayan mana ini yang memilihnya?
Anya merasa malu hanya menatap baju tidur itu, namun tidak ada baju lain di sana jadi mau tidak mau dirinya memakainya.
Henry sendiri, masih bersama Kakeknya di Luar, sedang berbicara tentang bisnis dan perusahaan atau sesuatu.
Baiklah, Anya segera bersiap ganti baju.
Tidak lama yang dibutuhkan sampai Anya menganti baju tidurnya dengan pakaian tidur seksi itu.
Ketika Anya keluar dari kamar mandi dirinya melihat bahwa, Hanry sudah ada di kamar lalu menatapnya dengan ekspresi terkejut.
Ya, Henry menjadi kaget tentang bagaimana Anya memakai baju tidur yang sangat terbuka seperti itu.
Ada apa dengan rok transparan itu?
Dan lagi, karena baju itu menjadi terlalu terbuka, terlihat di leher dan dada Anya yang masih ada beberapa tanda merah dari sebelumnya mereka melakukannya.
Henry yang melihat pemandangan indah itu, tiba-tiba merasa panas.
Anya juga menyadari soal tatapan tidak senonoh dari Henry itu padanya, tatapannya terlihat sangat panas, hingga ingin menembus baju yang di pakainya.
Tapi tunggu dulu, ada beberapa hal yang harus dirinya urus.
"Tuan Muda, apakah anda memiliki obatnya? Aku lupa meminumnya sejak kemarin,"
Henry yang mendengar kata-kata itu, segera berkata lagi dengan nada nakal,
"Ah, Kamu memakai pakaian semacam itu jelas ingin menggodaku bukan?"
"Hanya ada baju ini di sini,"
"Sini, kamu duduk di pangkuanku,"
Anya tahu, Itu adalah sebuah perintah mutlak di mana dirinya tidak bisa menolak.
Anya segera melakukan dan duduk dipangkuan Henry.
Saat Anya duduk, dirinya jelas sudah merasakan sesuatu yang sedikit keras dan panas yang dirinya duduki.
Henry juga merasakan bagaimana miliknya benar-benar terbangun secara tiba-tiba!
Sudah dirinya duga, ini masih berfungsi dengan baik!
Namun kenapa tadi tidak mau bereaksi?
"Tuan Muda? Apakah ada obatnya?"
__ADS_1
Henry segera tersadar dari lamunannya, lalu segera berkata,
"Kita tidak memerlukan obat mulai dari sekarang, apakah kamu tidak dengar apa yang dikatakan Kakek sebelumnya? Kita harus segera memiliki seorang anak,"