
Anya yang terlalu banyak berpikir itu, sekarang mulai merasakan sakit di perutnya.
"Ukhh... Kenapa ini tiba-tiba,"
Anya lalu menyambut sebuah minyak angin di tasnya untuk dioleskan ke perutnya, dan rasanya sedikit baikan.
Hal ini membuat dirinya menjadi teringat tentang kata-kata Tuan Muda itu, bahwa saat ini kondisi kehamilannya yang tidak stabil.
Agar lebih banyak istirahat dan tidak terlalu membebani pikiran.
Huh, Anya yang menyadari tentang kondisinya yang cukup buruk mencoba menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
Mungkin dirinya masih terlalu tertekan dengan semua ini sehingga dirinya menjadi sangat mudah terpengaruh seperti ini.
Dirinya tidak boleh memikirkan terlalu banyak hal seperti ini yang membuatnya tertekan.
Anya lalu mulai menemani perutnya, mencoba merasakan kehadiran sesuatu yang ada disana, Anya tiba-tiba menyadari tindakannya bahwa ternyata diam-diam sudah menantikan anak ini, dan tidak ingin sesuatu terjadi padanya.
Baiklah, lupakan dulu soal memikirkan Ayah dari calon anaknya ini.
Tidak perlu terlalu dipikirkan entah apa nanti yang ada di masa depan, pikirkan saja nanti.
Anya lalu segera membalas pesan adiknya itu, agar adiknya itu tidak perlu terlalu cemas.
Namun Sherly segera menelepon Kakaknya itu.
'Kenapa sekarang kakak malah lebih membela Tuan Muda itu?'
"Bukan seperti itu hanya saja dia sekarang adalah Suamiku, kamu tahu sendiri posisiku cukup sulit,"
'Aku tahu itu Kak, maka dari itu aku sebenarnya sudah memiliki rencana tentang bagaimana agar Kakak bisa bercerai dari Tuan Muda itu,'
Anya yang mendengar kata-kata adiknya itu jelas segera menemukan ekspresi cemberut dan berkata,
"Sherly, sudah kamu jangan macam-macam,"
'Tapi, aku hanya ingin cepat membuat Kakak bebas dari Tuan Muda itu, sebenarnya aku sudah mulai menjalankan rencanaku ini kak ada seseorang yang mau membantuku,'
Ekpresi Anya segera menjadi buruk ketika adiknya mengatakan itu,
"Sherly, apa sebenarnya yang coba kamu lakukan?"
'Kakak tahu, jika Tuan Muda itu tidak lagi memiliki kekuasaan bukannya ini untuk menjatuhkannya nanti agar Kakak bisa bercerai? Aku dengar Kakek Tuan Muda itu cukup sensitif, jika kita bisa merusak reputasi dari Tuan Muda itu di depan Kakeknya, dan membuat Tuan Muda itu di usir, bukankah Kakak bisa bebas? Dia nanti tidak akan ada alasan atau cara untuk mengancam kita lagi sesuatu seperti membuat perusahaan keluarga kita bangkrut lagi, dia tidak akan bisa mengikat kakak lagi bukankah itu dari awal rencana kakak? Ingin segera terbebas darinya? Namun Kakak tidak berani melakukan dengan cara paksa karena takut keluarga dan perusahaan kita kena imbasnya?'
Apa yang dikatakan oleh adiknya itu sebagian besar memang benar awalnya dirinya ingin terlepas dari Tuan Muda itu, namun tidak dengan cara paksaan, agar Tuan Muda itu sendiri yang melepaskan dirinya karena bosan dengan dirinya.
Awal nya dia pikir itu hanya akan membutuhkan beberapa waktu sampai membuat Tuan Muda itu bosan, dan meninggalkan dirinya, namun rencana miliknya menjadi berantakan karena sikap tuan muda itu menjadi semakin aneh dari hari ke hari.
Terutama soal dia yang tiba-tiba menginginkan seorang anak, dan sekarang dirinya hamil.
Walaupun sekarang rencana miliknya menjadi berantakan, tentu saja dirinya tidak bisa segera mengikuti rencana adiknya itu.
"Sherly, aku mohon kamu jangan melakukan apapun,"
'Tapi Kak, aku sebelumnya bahkan sudah mendiskusikan hal ini dengan Ayah juga, bagaimana jika kita bekerja sama dengan Tante dan Paman Tuan Muda itu? Aku sebelumnya sudah bertemu dengan sepupu Tuan muda itu juga, dia bilang dia akan membantu kita,'
Anya yang mendengar soal hal ini jelas merasa cukup panik.
__ADS_1
Dirinya juga sangat tahu bagaimana hubungan Tuan Muda itu yang sangat buruk dengan Paman dan Bibinya, juga dengan sepupunya bagaimana mereka selalu mengambil kesempatan dan mencoba mencari keuntungan dari Tuan Muda itu.
Kakek Henry sendiri yang pernah bilang pada dirinya tentang kekhawatiran yang dia miliki.
Lalu, jika kabar soal pernikahan pura-pura ini sudah sampai pada sepupu Henry...
Kakek Henry bisa saja segera tahu...
Sungguh, jika hal semacam itu juga sampai terjadi, Henry pasti akan marah besar, Tuan Muda itu tentu saja cukup pintar tidak akan membiarkan orang-orang yang berani melawannya lepas dengan mudah.
Dirinya saat ini tidak tahu seberapa besar, Sherly memiliki hubungan dengan sepupu atau paman dan bibi Tuan Muda itu, namun rencana dan hal berbahaya semacam itu jelas tidak bisa dibiarkan.
Dirinya juga merasa tidak ada hal baik jika berurusan dengan mereka, kelicikan Paman dan Bibi Henry, jika tidak kenapa Kakek Henry sampai khawatir pada cucunya itu?
"Sherly! Kamu jelas tidak tahu orang seperti apa mereka itu pokoknya kamu jangan lakukan apapun jangan lagi berhubungan dengan mereka!"
'Tapi Kak...'
"Sherly, apakah aku perlu mengingatkanmu lagi hal yang paling penting? Aku terlibat dan terjebak dengan pernikahan dengan Tuan Muda itu karena kamu, karena kamu yang awalnya menyingung dan membuat gara-gara dengannya, sehingga Keluarga kita kena imbasnya, dan sekarang Aku terpaksa harus menikah dengannya. Itu semua karena tindakanmu yang tidak pikir panjang dan ceroboh, jadi hal yang paling mudah jika kamu ingin membantuku adalah jangan lakukan apapun, kamu setidaknya mengerti apa yang aku katakan bukan? Dan jangan pengaruhi ayah dengan semua cerita yang kamu buat kamu sendiri tahu tentang kondisinya yang cukup buruk bukan?"
Anya benar-benar menjadi terlalu emosi kepada adiknya itu.
Ini memang saatnya untuk dirinya memberikan adiknya itu beberapa nasehat, agar adiknya itu tidak berbuat hal-hal sembarangan yang mungkin nanti bisa berimbas padanya.
'Tapi Aku...'
"Sherly, apa yang sudah kamu lakukan sebenarnya?"
Sherly yang ada di ujung lain telepon jelas tiba-tiba menjadi takut soal mengaku hal-hal yang dirinya lakukan jadi Sherly mencoba menghindar, dan berkata,
'Aku hanya sangat mengkhawatirkan kakak,'
Sherly yang ada di ujung telepon jelas saja merasa sedikit takut ketika mendengar kakaknya yang biasanya tenang itu langsung marah seperti ini.
Hal ini jelas membuat Sherly makin bersalah, apakah sekarang tindakan yang dirinya buat salah lagi?
Bagaimana ini?
"Sherly? Apakah kamu mengerti semua ucapanku? Jangan lakukan apapun,"
Sherly yang ada di ujung telepon itu sekarang menjadi semakin merasa bersalah dan segera berkata,
'Ya, Aku.... Aku tidak akan melakukan apapun lagi,'
Segera telepon itu ditutup, dan Anya merasa sedikit lega.
####
Di tempat lainnya, saat ini Stevan baru saja datang ke Rumah Keluarga Achilles, jelas ingin segera memberitahukan kepada Kakeknya, tentang Henry yang pura-pura menikah itu demi menyenangkan Kakeknya saja.
Namun ketika Stevan baru memasuki rumah itu dirinya melihat ke arah ruang tamu bagaimana kakeknya itu sedang berbicara dengan kepala pelayan, terlihat memiliki ekspresi bahagia.
"Kamu dengar itu? Aku akan segera memiliki cicit, Henry cucuku itu akan segera memiliki seorang anak istrinya saat ini sedang hamil, Aku sungguh bahagia,"
Pelayan itu yang sudah mendengarkan kesepian kali kabar bahagia dari pria tua yang ada di hadapannya itu hanya segera tersenyum,
"Tuan sudah mengatakan itu berkali-kali kepadaku saya sungguh ikut senang,"
__ADS_1
"Apakah kamu mulai mengeluh bahwa aku ini cerewet? Aku hanya sangat senang dengan berita ini,"
Dua orang itu terlihat berbicara dengan sangat akrab, terutama Kakek Henry, yang memang sudah sangat senang sekali sejak dia tahu bahwa Anya hamil, dia sudah mulai membicarakannya bahkan sejak menerima telepon itu, karena terlalu tidak sabar.
Stevan yang mendengar berita itu secara tidak sengaja jelas menjadi cukup panik dan syok.
Jika Istri Kak Henry itu hamil, bukankah rencananya untuk membuat reputasi tuan muda itu jelek di depan kakek akan menjadi sia-sia?
Kakek jelas saja tidak akan percaya omongannya sekarang.
Padahal dirinya sudah merencanakan untuk mengatakan hal ini kepada kakeknya, agar Kakeknya kecewa pada Henry, juga soal sebentar lagi projek besar yang dibuat sepupunya itu gagal itu pasti juga akan membuat kakeknya kecewa dengan kekecewaan yang semakin menumpuk jelas sepupunya itu mungkin saja bisa di turunkan dari posisinya.
Namun sekarang, Istri Kak Henry hamil?
Stevan jelas merasa tidak bisa mengerjakan jika sepupunya itu segera memiliki anak, Kakeknya pasti akan segera membuat sepupunya itu menjadi Pewaris Syah.
Dirinya ingat, tentang bagaimana Kakek pernah mengancam sepupunya itu, jika sepupunya tidak segera menikah dia akan dicoret dari hak warisan.
Sialan padahal ini kesempatan bagus untuk menjatuhkan sepupunya itu.
Mari tenang dulu, sekarang pasti nanti ada cara, dan menemukan solusinya.
####
Malam itu Henry sampai di Apartemen, dia masuk ke dalam Apartemen sesuai jam biasa dirinya pulang. Namun begitu sampai di Apartemen, suasana di sana cukup hening.
Lampu memang menyala karena sepertinya ada orang di sana, namun meja makan kosong.
Henry ingat, tadi pagi Anya bilang ingin memasak makan malam?
Namun tidak ada apapun?
Atau jangan-jangan Anya sakit?
Henry awalnya masih tidak tahu harus bersikap seperti apa dirinya tidak bisa marah, karena khawatir pada kondisi Anya.
Namun dirinya sadar, lari dari masalah bukanlah pilihan yang terbaik adalah untuk bertemu dengan Anya langsung.
Meminta penjelasan langsung, namun begitu dirinya masuk ke dalam apartemen rasanya semua pikirannya menjadi kosong.
Terutama dirinya ingat jika malam ini Anya akan memasak, namun ternyata tidak ada apa-apa, yang malah membuat Henry kecewa.
Henry lalu segera menuju kamar dan melihat Anya sedang bermain dengan tablet miliknya, sepertinya adik sendiri dengan kegiatannya bahkan tidak menoleh ketika dirinya masuk ke dalam kamar.
Melihat itu Henry tidak tahu harus merespon seperti apa.
"Katanya kamu hari ini akan memasak makan malam?"
Anya hanya menatap kedatangan Henry sebentar, lalu segera kembali menatap tabletnya.
"Kenapa tidak pesan makanan saja?"
Henry yang mendapatkan respon dingin itu, entah kenapa menjadi tidak nyaman.
Sungguh, dirinya bahkan belum marah atau berkata apapun pada wanita itu namun kenapa wanita itu sudah memperlakukan dirinya dengan dingin seperti ini?
Dirinya tahu, tentang bagaimana Anya biasanya marah, seperti terakhir kali Anya marah dan menjadi diam padanya.
__ADS_1
Tempo hari alasan marahnya cukup masuk akal namun sekarang untuk alasan apa Anya marah padanya?