Istri Mainan Sang Tuan Muda

Istri Mainan Sang Tuan Muda
Episode 58: Jika itu yang kamu inginkan


__ADS_3

Henry masih tenggelam dalam pikirannya, masih tidak tahu harus bersikap seperti apa kepada wanita yang saat ini terbaring di ranjang rumah sakit.


Hanry baru saja mendapatkan laporan dari laboratorium soal bungkus obat yang ada di Tas Anya.


Itu adalah obat yang memang di khusus untuk mengugurkan kandungan yang kurang dari satu bulan.


Hanya memikirkan ini saja membuat kemarahan muncul di hati Henry.


Ini membuat Henry ingat, soal obat kontrasepsi yang Anya miliki sebelumnya, dimana Anya sepertinya berniat meminum obat sebelumnya karena tidak ingin memiliki anak dengannya.


Hal-hal ini benar-benar membuat Hanry hancur.


Dan sekarang, Anya bahkan nekat meminum obat semacam ini?


Apakah ini juga sudah direncanakan sebelumnya?


Itulah kenapa, Anya dari tadi terlihat tidak ingin diajak ke rumah sakit?


Henry benar-benar tidak pernah mengira untuk kemungkinan ini.


Hanya...


Segitu inginkan Anya bercerai dengan dirinya?


Dan Anya benar-benar membencinya, sampai tidak Sudi hanya memiliki anak dengan dirinya?


Hati Henry terasa sakit...


Anya yang dari tadi pingsan akhirnya segera bangun.


Hal pertama yang di lihatnya adalah wajah Henry.


Anya tentu saja menjadi bingung melihat dirinya berada di rumah sakit.


Apakah ini kambuh lagi?


Untuk di bawa ke Rumah Sakit seperti ini...


Tunggu...


Anya baru saja teringat, soal hal sebelum dirinya pingsan...


Darah....


Anya lalu segera menatap ke arah Henry, dan bertanya,


"Aku... Anak kita...."


Henry yang melihat bagaimana Anya bertanya, Tentu saja tidak mengerti apa maksudnya.


Bukankah Anya senang?


Henry benar-benar tidak mengerti dan dipenuhi kemarahan.


"Dia sudah tidak ada."


Itu adalah jawaban singkat.


Anya yang mendengar itu, segera terdiam, seolah-olah tidak mengerti harus bersikap seperti apa.


Dirinya keguguran?


Calon Bayinya sudah tidak ada?


Henry melihat tentang bagaimana wanita yang ada di hadapannya itu menjadi terdiam dengan ucapannya.


"Apakah kamu senang dengan berita itu? Kamu akhirnya tidak perlu repot-repot untuk menanggung anakku lagi,"


Kata-kata yang terkesan dingin itu, membuat Anya menjadi heran,

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


Henry memilih untuk tidak berkata apa-apa lagi karena dirinya merasa muak dan kesal jika harus berdebat dengan wanita yang ada di hadapannya itu.


Hanry segera memutuskan, hal-hal terbaik yang mungkin bisa dirinya ambil sekarang.


Hatinya dipenuhi kehancuran, dimana memikirkan wanita di hadapannya bisa begitu tega membuat keputusan ektrim semacam itu.


Henry sendiri tahu, jika wanita di hadapannya itu, dari awal memang tidak menyetujui keputusan soal mereka akan memiliki seorang anak.


Namun, Henry kira, waktu akan menjawab dan membuat wanita yang ada di depannya itu perlahan-lahan menerima kehamilannya.


Namun sepertinya, hanya dirinya sendiri yang menantikan anak itu, sedangkan Anya tidak.


Hanya memikirkan semua itu membuat rasa frustasi dan kemarahan semakin memuncak.


Apakah Anya benar-benar membenci dirinya?


Saat ini, Henry benar-benar tidak bisa berpikir jernih karena semua hal-hal yang terjadi benar-benar membuat dia merasa tertekan dan syok.


Jadi dengan penuh emosi, Hanry segera membuat keputusan yang implusif.


"Anya, jika itu yang kamu mau. Mari, kita segera bercerai,"


Anya yang tiba-tiba mendengar kata-kata itu jelas tidak mengerti.


"Apa maksudmu?"


Anya hanya bisa berpikir, jika mungkin Tuan Muda yang ada dihadapannya ini menjadi marah padanya, karena dirinya tidak bisa menjaga calon anak mereka.


Sampai akhirnya bisa Keguguran seperti ini.


Sungguh?


Ini tidak seperti Anya mengiginkan hal ini terjadi...


Ya, karena Tuan Muda itu, akan selalu bisa meninggalkan dirinya kapanpun dia.


Kapanpun tuan muda itu memiliki mood untuk membuangnya maka dirinya akan dibuang.


Dirinya, tidak lebih hanyalah sebuah mainan.


Istri Maninan Tuan Muda itu.


Yang bisa dimainkan sesukanya dan dibuang kapanpun Tuan Muda itu bosan.


Dirinya tentu memiliki hati, tidak bisa diperlakukan seenaknya dan sewenang-wenang seperti ini...


Namun apa...


Anya tentu menyadari keinginan dalam hatinya.


Namun keinginan di dalam hatinya mungkin adalah sesuatu yang sangat mustahil.


Sudah seharusnya, dirinya dari awal tidak perlu berharap apapun kepada Tuan Muda yang ada di depannya ini.


Tidak boleh sampai membawa hal-hal ini masuk kedalam hati...


Ini hanya permainan yang Tuan Muda itu buat.


"Kamu, tidak perlu lagi kembali pulang ke apartemenku, kamu selalu bisa kembali ke rumah lamamu jika itu adalah apa yang kamu inginkan, Aku sudah tidak peduli lagi, akan lebih baik jika aku tidak melihat wajahmu lagi."


Setelah mengatakan itu, Henry segera pergi dari sana.


Anya yang mendengar kata-kata itu dan kepergian Tuan Muda itu, lalu segera menangis.


Menagis, karena tiba-tiba hatinya terasa begitu sakit.


Rasanya hari ini adalah hari yang berat...

__ADS_1


Seolah-olah, dirinya baru saja kehilangan dua hal yang paling berharga dalam hidupnya...


Anya memegangi perutnya, yang sekarang sudah tidak ada apa-apa di sana.


Disini, Anya akhirnya menyadarinya, bahwa ternyata dirinya juga menginginkan anak ini...


Jika anak ini sangat dirinya nantikan juga kelahirannya.


Namun sayangnya ketika menyadari perasaan ini Semuanya sudah terlambat.


Harusnya, dirinya lebih menjaga dirinya sendiri, dan mendegarkan saat di ajak ke Rumah Sakit.


Ya, kenapa dirinya seperti ini?


Dan begitulah, hari berlalu, Anya tentu saja, tidak memberitahukan kabar soal kegugurannya ini pada semua orang, takut semua orang jadi panik, apalagi sebelumnya adalah hari perayaan.


Hah, Anya juga tidak mau terlalu pusing untuk memikirkan soal itu.


Hanya memikirkan soal kesedihan yang Anya miliki sendiri.


Anya berada di Rumah Sakit tidak terlalu lama.


Namun, selama Anya di Rumah Sakit, Henry tidak pernah berkunjung.


Anya entah kenapa hanya menjadi semakin kecewa.


Jadi, ketika Anya sudah keluar dari Rumah Sakit, Anya yang tidak ingin membuat semua orang khawatir itu, akhirnya memutuskan kembali ke Apartemen miliknya, yang biasa dirinya tinggali sendirian.


Sudah lama sejak Anya tidak datang ke Apartemen itu, Apartemen itu, sekarang benar-benar kosong terlihat tidak ada kehidupan di sana.


Namun tempat itu tetap terawat dengan bersih, karena Anya menyewa orang untuk rutin membersihkannya setiap berapa hari sekali.


Namun sekarang, ketika memasuki Apartemen yang sepi, itu perasaan Anya tiba-tiba menjadi tidak nyaman.


Padahal, sudah bertahun-tahun, Anya tinggal di tempat ini.


Sudah terbiasa dengan suasana sebuah apartemen kosong tanpa penghuni.


Namun kenapa sekarang ketika dirinya kembali ke Apartemen itu...


Ada perasaan yang membuatnya begitu sedih?


Ya, perasaan kesepian yang mulai menggerogoti hatinya.


Perasaan sepi dan hampa...


Bukan-bukan, bukan karena ini hanya Apartment biasa, namun lebih seperti...


Biasanya, ketika dirinya pulang ke Apartemen Tuan Muda itu, disana terlihat sangat ramai.


Tuan Muda itu, yang terkadang selalu mengeluh sepanjang malam.


Dan permintaan anehnya yang tiba-tiba.


Atau, Anya yang harus membuat masakan untuknya.


Dan sekarang, hanya ada sebuah rumahan kosong di apartemen itu.


Anya benar-benar merasa, bahwa mungkin hatinya sudah jatuh terlalu dalam, dan terlalu nyaman tinggal dengan Tuan Muda itu.


Bahkan walaupun Tuan Muda itu bersikap tidak masuk akal.


Hah...


Apakah hubungan mereka benar-benar sudah berakhir?


Apakah Tuan Muda itu, benar-benar sudah membuang dirinya?


Tidak adakah harapan yang tersisa?

__ADS_1


__ADS_2