
Setelah beberapa perdebatan singkat, dan Anya cukup bisa menenangkan Ayahnya, Anya segera keluar dari ruangan itu.
Hanya bisa sedikit berharap jika Tuan Muda yang ada di depan tidak mendengar semua percakapan yang ada di dalam.
Namun ketika Anya keluar, sudah tidak ada siapa-siapa di sana.
Anya tiba-tiba memiliki firasat rumit soal ini.
Emm?
Atau dirinya saja yang terlalu banyak berpikir?
Mungkin Tuan Muda itu, hanya merasa bosan karena ditinggalkan di luar jadi dia mungkin harus segera pergi ke kantor?
Ya, itu benar, Tuan Muda itu adalah seseorang yang sangat sibuk.
Anya memilih untuk tidak terlalu memikirkannya, dan segera duduk di depan ruang rawat itu, mencoba untuk menenangkan pikiran nya.
####
Henry disisi lainnya segera merasa kesal, dan memiliki mood yang buruk hari itu.
Salah satu bawahnya, baru saja memberikan laporan pada Henry, dan Henry yang menerima itu segera memeriksanya beberapa saat, dan kemudian berkata dengan marah,
"Bukankah kamu seharusnya sudah memberikan laporan ini padaku sejak kemarin?"
"Maaf, Pak Presdir, memang ada keterlambatan dalam laporan ini karena..."
Pegawai itu bahkan belum selesai memberikan alasan namun sudah dipotong oleh atasannya itu.
"Kamu ini benar-benar tidak berguna, bisa-bisanya terlambat menyampaikan laporan penting ini!!"
"Maaf sekali lagi Pak Presdir,"
"Aku cinta sudah memeriksa laporan ini, lihat ada kesalahan di mana-mana kamu itu bagaimana?"
Henry segera melemparkan laporan itu pada bawahannya tersebut.
"Cepat bereskan kekacauan yang kamu buat, sudah aku tandai dalam laporan itu dan bahwa kemari sore ini tidak boleh ada keterlambatan!"
Pegawai itu, yang tiba-tiba pernah marah hanya bisa mengambil dokumen itu dan segera pergi dari situ sambil sekali lagi meminta maaf.
Padahal dirinya yakin, sudah membuat laporan ini dengan baik?
Kenapa Pak Presdir tiba-tiba menjadi marah tidak jelas begitu?
Hah, atau memang mungkin benar-benar ada yang salah dengan laporan ini?
Henry sendiri, masih ada di ruangannya itu, murai memeriksa beberapa dokumen yang ada di depannya itu.
Ketika sedang marah, Henry memang lebih cenderung menjadi sangat teliti dan perfeksionis ketika membaca laporan laporan semacam itu, dan sangat pintar menemukan berbagai cela disana, dan jelas Henry mulai memanggil satu persatu bawahannya untuk di marahi.
Hal itu berlangsung selama seharian itu.
Sampai tiba-tiba, Henry mendapati sebuah telepon dari temannya.
"Ya, Hanzel? Ada apa kamu menelpon ku segala?"
'Henry, kenapa moodmu terlihat begitu buruk seperti itu?'
"Apa? Aku baik-baik saja,"
'Sudahlah jangan bohong padaku aku ini tahu kamu sejak lama aku juga sudah tahu, dari suaramu saja jika mumu itu sedang buruk jadi sekarang ceritakan padaku ada apa denganmu?'
Henry yang ditanya itu segera terdiam, lalu segera menatap kearah jam yang saat ini sudah surel hari menunjukkan pukul 4 sore.
Waktu benar-benar sudah berlalu cukup cepat padahal kejadian itu sudah berlangsung dari tadi pagi.
Namun kenapa bahkan sampai detik ini dirinya masih merasa sangat terganggu?
Ketika memikirkan, Anya yang menyebut-nyebut soal perceraian?
"Aku hanya sedikit merasa terganggu soal Istriku,"
'Astaga, Henry? Kamu memikiran soal Istri Mainanmu itu? Kenapa kamu terganggu oleh nya? Aku pikir kamu bukanlah tipe orang yang suka memikirkan atau merasa terganggu dengan sikap wanita manapun, kamu biasanya begitu cuek, tentang segala hal soal wanita, bahkan dengan orang-orang yang kamu ajak kencan, kamu tidak benar-benar pernah merasa terganggu dengan mereka, apapun yang mereka lakukan, jadi sekarang kenapa Istrimu itu malah membuatmu merasa terganggu dan kepikiran sampai membuat moodmu buruk seperti itu?'
__ADS_1
Ketika temannya ini bertanya, Henry juga mulai memikirkan soal hal ini.
Itu benar, kenapa dirinya malah terganggu dan kepikiran soal hal hal ini?
Soal Anya yang ingin segera bercerai atau sejenisnya?
Ini bukan cara dirinya yang biasanya.
Daripada dirinya melarikan diri dan pergi dari sana bukankah seharusnya dirinya langsung marah-marah di depan Anya itu?
Yang sangat seenaknya saja?
Tunggu, jika dipikirkan lagi sebenarnya apa yang membuat dirinya marah?
Kenapa dirinya terganggu dengan Perceraian?
Padahal ini jelas hanya Pernikahan pura-pura, yang cepat atau lambat ini akan berakhir dan tidak akan berlangsung selamanya.
Hal-hal yang dikatakan Anya soal perceraian, sebenarnya itu adalah hal yang wajar, dan tidak ada yang salah sama sekali, karena memang pernikahan mereka hanya pura-pura.
Namun sungguh, kenapa dirinya merasa sangat terganggu soal ini?
Henry terdiam cukup lama, membuat Hanzel yang ada di ujung telepon segera bertanya lagi dengan tidak sabar,
'Hey, Henry jangan bilang kamu sudah mulai jatuh hati padanya? Owh, Astaga, Tuan Muda Henry jatuh cinta,'
Henry yang mendengar kata-kata omong kosong dari sahabatnya itu segera memprotes,
"Mana ada Aku jatuh cinta padanya? Itu berhentilah menghayal, dan berbicara omong kosong, Aku tentu saja..."
Herny berniat mengatakannya namun tiba-tiba merasa sedikit ragu, namun segera melanjutkan ucapannya.
"Tidak mungkin Aku jatuh cinta pada Wanita bermuka datar itu, mana mungkin hal seperti itu terjadi, hatiku ini bebas, dan tidak akan pernah menjadi milik siapa-siapa,"
Ya, itu benar Henry mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dirinya katakan itu benar.
Mana mungkin dirinya jatuh cinta pada Anya itu bukan?
Dan jelas, dirinya mungkin kesal soal perceraian karena memang dirinya memiliki kenangan buruk soal itu.
"Berubah apa? Aku merasa diriku tidak berubah sama sekali,"
'Tapi, sejak Kamu menikah, aku tidak pernah melihatmu untuk melirik atau bermain-main dengan beberapa wanita seperti sebelumnya, hmm kadang tiap akhir pekan, kamu kan sering berganti-ganti teman kencan,'
Henry memang sempat memikirkan hal ini, ya sejak Pernikahannya dengan Anya hanya dirinya memang tidak pernah lagi pergi keluar dan bermain-main dengan beberapa wanita seperti biasanya.
Yah, karena sekarang sudah ada Anya yang menemani dirinya tiap malam, dan bisa memuaskannya setiap hari.
Tunggu...
Henry mulai merasa ada yang salah dengan sikapnya ini yang sepertinya menjadi sedikit tergantung pada Anya.
Tidak!
Ini jelas tidak bisa dibiarkan!
"Apa? Itu tidak mungkin! Ayo pergi malam ini, cari tempat pesta dimana banyak wanita disana, aku pastikan aku akan mengajak salah satu wanita untuk bersenang-senang denganku nanti,"
'Tentu saja, itulah alasan kenapa aku menelepon mu dari awal. Kamu ingat gadis bernama Cecilia sebelumnya?'
"Aku tidak ingat,"
'Itulah kamu, kamu memang tidak pernah ingat dengan gadis-gadis yang kamu temui, Cecilia ini salah satu penggemarmu, dia sangat cantik, Aku pikir dia tipe gadis yang akan kamu sukai untuk di ajak bersenang-senang, kalian seharusnya pernah bertemu disalah satu pesta,'
"Ya sudah ajak saja dia,"
'Beres, dia nanti akan ada dipesta itu, mari memiliki pesta yang meriah malam ini,'
Itu adalah rencana Henry malam itu, dia tidak menelepon atau mengabari Anya soal dirinya yang pulang telat.
Henry memutuskan untuk mencoba bersenang-senang.
Dirinya pasti hanya merasa sedikit terganggu dengan Anya ini, karena Anya adalah wanita yang belakangan dirinya ajak tidur.
Ya, mungkin itu saja yang membuat dirinya kepikiran hal yang aneh-aneh!
__ADS_1
Henry mencoba meyakinkannya dirinya sendiri jika dirinya ini jelas bisa hidup tanpa ada Anya itu.
Bercerai apa?
Dirinya bisa melakukannya kapan saja!
Namun sayangnya, itu hanya sebuah rencana.
Malam itu, Henry benar-benar mengajak gadis bernama Cecilia itu ke kamar sebuah hotel.
"Tuan Henry, Aku harap kita memiliki malam yang indah,"
"Tentu saja sayang," bisik lembut Henry pada gadis itu, yang membuat gadis itu tersipu.
Ya, bahkan walaupun hanya satu malam gadis itu rela.
Henry lalu mulai membawa gadis itu ke tempat tidur.
Lalu, segera, Henry mencium gadis itu.
Namun entah kenapa dirinya tidak merasa ciuman ini baik.
Rasanya tidak menyenangkan, tidak seperti berciuman dengan Anya.
Sial!
Kenapa dirinya kepikiran soal Anya lagi!
Henry menjadi begitu frustasi, memutuskan untuk menyudahi ciuman itu.
Dan segera ke intinya saja.
Namun memang ada masalah yang sangat penting yang Henry lupa.
Ya, Henry berciuman cukup interes dengan gadis itu, Henry bahkan sempat memberikan beberapa ciuman di leher gadis itu.
Namun, sesuatu di bawah sana sama sekali tidak bereaksi sama sekali.
Padahal gadis didepannya memakai pakaian yang cukup seksi dan surgesif.
Sungguh?
Ada apa ini?
Kenapa ini tidak juga bereaksi?
Biasanya hal-hal ini akan bereaksi di saat seperti ini?
Namun ini tidak!
Apakah dirinya tiba-tiba terkena penyakit misterius?
Astaga....
Bagaimana ini...
"Tuan Muda?"
Henry segera berdiri dan membenarkan pakaiannya.
"Aku tiba-tiba sedang tidak mood," kata Herny segera pergi dari ruangan itu, dengan perasaan cemas sendiri.
Perasaan tadi pagi masih berfungsi dengan baik, ketika memalakukanya dengan Anya...
Atau karena dirinya terlalu banyak bersenang-senang belakangan dengan Anya?
Tidak...
Tidak...
Dirinya tidak mungkin selemah itu bukan?
Tunggu...
Kenapa dirinya memikirkan Anya lagi?
__ADS_1
Sialan!