
Ini adalah hari-hari yang dilalui, oleh Tuan Muda Henry Achilles, yang saat ini masih minum-minum di salah satu Bar.
Teman, Henry yaitu Hanzel, jelas merasa heran ketika temannya itu tiba-tiba menjadi seperti ini.
Hanzel sendiri tidak tahu alasannya kenapa, hanya sejak dua hari lalu, temannya ini sudah seperti ini, hanya minum, dan minum sampai mabuk, dan bahkan tidak berangkat kerja ke kantor.
Padahal, Hanzel cukup tahu, walaupun sahabatnya ini, cukup bebas dengan kehidupan pribadinya, dan sering ke Club semacam ini, sahabatnya itu, tidak pernah mengabaikan pekerjaannya dan selalu datang ke perusahaan miliknya itu tepat waktu.
Namun kali ini tidak, sahabatnya ini, benar-benar terlihat seolah kehilangan segalanya dan hanya menghabiskan waktu di sini melamun dan minum.
Hanzel jujur sudah bertanya, namun tidak mendapatkan jawaban dari Henry.
"Henry, aku merasa kamu cukup untuk minum-minum hari ini aku akan mengantarkanmu pulang,"
"Apa? Aku masih ingin di sini, aku tidak ingin pulang,"
Henry mengatakannya dengan nada terputus-putus ciri khas seseorang yang baru saja mabuk.
"Ini sudah jam 12 malam, kamu sebaiknya pulanglah tidakkah Istrimu menunggu di rumah?"
Ketika Henry diingatkan soal hal itu ekspresinya tiba-tiba menjadi tambah buruk.
Hal yang paling Henry benci sekarang adalah berada di Apartemennya.
Ya, di mana tempat itu penuh dengan kenangan soal Anya.
Waktu yang mereka habiskan di sana mungkin tidak terlalu lama namun itu juga tidak terlalu sedikit.
Banyak hal yang terjadi selama ini setelah pernikahan mereka.
Apartemen itu yang awalnya dingin tiba-tiba menjadi memiliki suasana hangat dan menyenangkan sejak Anya datang.
Namun sekarang Apartemen itu, terasa sangat sepi dan dingin, seolah-olah tidak memiliki penghuni.
Henry tidak tahu kenapa, dan sejak kapan dirinya terbiasa, terbiasa atas kehadiran Anya di Apartemennya.
Jadi sekarang ketika memasuki apartemen Yang sepi itu seolah-olah perasaannya hancur dan keputus asaan tiba-tiba datang ke arahnya.
Anya tidak ada di sana.
Tidak ada lagi seseorang yang menunggunya di Apartemen.
Tidak ada seseorang yang memasak untuknya bahkan walaupun terkadang rasa masakannya cukup buruk, Henry menikmati hari-hari damai itu.
Tidak ada lagi yang bisa dirinya ajak berdebat.
Biasanya, dirinya selalu berdebat dengan Anya, tentang berbagai macam hal karena pikiran mereka tidak selalu sama.
Seolah-olah hari-hari yang hangat dan menyenangkan itu hanyalah sebatas Mimpi dan angan-angan.
Sesuatu yang baru saja terjadi sebentar namun seolah-olah itu sudah terjadi dalam waktu yang begitu lama...
Ini baru dua hari, sejak Henry belum bertemu dengan Anya.
Namun semakin Hari berlalu rasa penyesalan kesedihan yang ada di dalam hatinya semakin dalam.
"Kamu tidak tahu apa-apa.. tidak ada yang menungguku sekarang.."
Hanzel yang mendengar kata-kata kesedihan dan keputusan itu hanya bisa menghela nafas.
Hanzel kurang lebih bisa memahami tentang apa yang terjadi.
Kemungkinan besar, yang membuat sahabatnya menjadi seperti ini karena masalah yang dimilikinya dengan Istrinya.
Entah dua orang itu sedang berselisih atau sedang marahan.
"Aku memang tidak tahu apa-apa, itulah kenapa kamu sebaiknya memberitahuku tentang apa yang terjadi?"
Namun ketika Hanzel bertanya, tidak ada jawaban dari sahabatnya itu.
Yang sekarang sepertinya sudah mulai tertidur mungkin karena efek lelah?
Hah.
Hanzel tidak tahu tentang apa yang harus dirinya lakukan pada pria yang saat ini tidur di meja itu.
Jadi, Hanzel memutuskan untuk menelepon seseorang.
Tidak lama, sampai panggilan itu dijawab.
Ada suara lelah dan malas, dari ujung telepon.
__ADS_1
"Isacc, kamu Asisten Henry, Apakah kamu tahu tentang masalah yang dia alami akhir-akhir ini?"
Isacc yang berada di ujung telepon itu segera memiliki ekspresi serius dan berkata,
"Di mana dia sekarang?"
Namun bukannya menjawab pertanyaan, Hazel, Isacc malah balik bertanya.
Hanzel yang mendengar nada serius dari sahabatnya yang satunya itu segera berkata lagi dengan kesal,
"Kamu pasti tahu sesuatu bukan?"
Ada keheningan di sana.
"Ya, beberapa masalah serius,"
"Kenapa kamu tidak menceritakannya padaku?"
Lagi-lagi ada keheningan panjang.
"Aku akan ke sana dulu dan menceritakannya,"
Setelah itu, Hanzel segera memberitahukan lokasinya berada, dalam setengah jam orang yang ditunggu segera tiba.
Isacc yang baru saja datang itu melihat tentang bagaimana Tuan Muda yang dia layani, sekaligus sahabatnya itu, sedang tertidur di meja, terlihat sekali memiliki wajah yang sedih.
"Isacc, lihatlah keadaan Henry, dia sudah seperti ini sejak beberapa hari yang lalu sekarang katakan apa yang terjadi?"
Isacc, yang melihat keadaan temannya itu jelas merasa cukup sedih.
Isacc tentu saja tahu, apa yang terjadi, Henry sempat meminta dirinya untuk mengurus surat cerai tiba-tiba.
Dan alasannya, karena Anya benci Henry atau sesuatu.
Tidak, lebih tepatnya, karena Henry sahabatnya ini, baru saja kehilangan calon anak yang dia dambakan itu.
Kejadian, benar-benar buruk.
"Hanzel, besok agar Henry sendiri yang cerita, Aku tidak ingin lancang menceritakan masalah miliknya,"
Hanzel segera memiliki ekspresi kesal dan marah dan berkata,
"Kalian selalu seperti itu menyimpan begitu banyak rahasia dariku, bahkan dulu Soal Pernikahan Henry yang tiba-tiba itu, apakah kalian bahkan masih mengagapku teman?"
Hanzel lalu hanya segera menghela nafas pasrah dan berkata,
"Baik, lalu sekarang menjadi urusanmu soal Henry. Aku akan pulang kamu bawalah dia pulang ke rumahnya,"
Setelah itu, Isacc membawa Herny ke mobilnya.
Herny, saat ini sudah setengah sadar.
"Isacc? Kemana kamu akan membawaku! Aku tidak ingin pulang!!"
"Henry! Jika kamu terus menghindar Kamu tidak akan pernah menyelesaikan masalahmu sekarang dinginkan pikiranmu dan pulanglah ke apartemenmu itu, pikirkan lagi tentang apa yang paling penting dalam hidupmu,"
"Apa lagi menurutmu yang harus aku lakukan? Anya membenciku, sampai dia tega untuk...."
Isacc yang mendengar itu segera memiliki ekspresi yang rumit.
Ada beberapa rahasia yang dirinya pegang.
Tentang kejadian malam itu.
Awalnya, Isacc yang bersama dengan Tiara, tidak sengaja melihat Tiara memasukan sesuatu ke Tas Anya, yang pada akhirnya ternyata itu bungkus obat untuk mengugurkan kandungan.
Tentu, dirinya sempat bertanya pada Tiara karena marah, mengira Tiara sudah gila sampai melakukan hal-hal itu.
Namun pelakunya bukan Tiada...
Hanya...
Tiara yang tahu, membiarkan hal itu terjadi dan malah memperumit keadaan.
Tiara memohon padanya agar tidak menceritakan ini pada Henry...
Isacc kembali mengingat kejadian itu bagaimana gadis itu memohon padanya.
'Kak Isacc, Aku mohon.... Jangan ceritakan ini padanya... Aku tidak ingin dia membenciku,'
'Kenapa bisa kamu melakukan hal yang tidak masuk akal? Apakah kamu gila?'
__ADS_1
'Kak Isacc yang tidak pernah jatuh cinta tidak akan pernah mengerti. Aku sangat mencintai Kak Henry.... Aku hanya berharap bisa bersama dengannya namun kemudian Kak Henry tiba-tiba menikah dengan wanita sialan itu!'
Walaupun, Isacc awalnya sudah memikirkan alasannya namun ketika hari itu benar-benar mendengar alasannya entah kenapa hatinya sakit.
Ya, bukan berati dirinya tidak mengerti...
Mencintai orang yang tidak mencintaimu, itu berat bukan?
Yah, pada akhirnya karena melihat Tiara menagis, dirinya tutup mulut.
Hanya...
Itulah kenapa Isacc, tidak menemui Henry belakangan ini.
Dan sekarang, menatap Herny dalam keadaan menyedihkan ini, Isacc tiba-tiba merasa bersalah.
"Herny, Jika kamu mencintai seseorang harusnya kamu yang paling tahu orang seperti apa yang kamu cintai itu bukan? Aku hanya bisa mengatakan ini padamu, Apakah kamu benar-benar tahu orang yang kamu cintai itu seperti apa?"
Henry yang tiba-tiba ditanya itu menjadi diam.
Anya yang dirinya cintai...
Seorang wanita yang akan melakukan segalanya demi Keluarganya.
Gadis mandiri, yang selalu mencoba menyelesaikan semua masalahnya sendiri.
Dia memang sedikit keras kepala, namun dia benar-benar sosok yang lembut, selalu baik dan sabar bahkan selama menghadapi dirinya selama ini....
Henry mulai tenggelam pada pikirannya sendiri.
Dan tidak sadar, ketika Henry saat ini sudah tiba di Apartemennya, dan Isacc pergi dari sana.
Menatap sebuah apartemen kosong itu, hati Henry tiba-tiba terasa sangat sakit dan sedih.
Ya, tidak ada lagi orang yang menyambutnya pulang.
Anya...
Anya yang dirinya cintai...
Hanry sadar, dirinya tidak mengerti banyak soal wanita itu.
Jadi, Henry memutuskan untuk segera ke kamarnya, dimana ada barang-barang Anya juga disana.
Barang-barang yang tidak dirinya sentuh masih tergeletak dan tersusun rapi di meja maupun di lemari.
Lalu, suara seperti baterai drop terdengar.
Henry menatap sebuah tablet yang ada di meja.
Herny ingat, Anya belakangan ini sering tersenyum sendiri dan asik dengan tabletnya, namun wanita itu tidak mau berbagi atau menceritakan tentang apa yang dia lihat di sana.
Hanry pikir, Anya mungkin sibuk dengan desain barunya?
Hingga dia sangat antusias seperti itu.
Henry, yang tiba-tiba diliputi rasa penasaran, lalu segera mengambil change, mencoba mengisi baterai tablet itu.
Sampai akhirnya benda itu bisa menyala.
Tampilan awalnya hanya seperti tablet biasa, hanya di sana ada lebih banyak menu Desain.
Di layar monitor, ada tulisan menu kecil, yang bertuliskan 'Desain Manis'
Henry yang penasaran, segera membukanya, dan menjadi terkejut tentang apa yang ada di dalamnya.
Ada berbagai desain baju bayi, entah bayi perempuan atau laki-laki.
Ada desain untuk usia baru lahir, atau yang sudah agak besar.
Penuh warna-warni cerah di berbagai desain disana.
Disalah satu desain ada sebuah tulisan yang cukup menarik perhatian.
'Jika ini anak laki-laki, pasti akan cocok memakai baju ini, dia akan terlihat manis dan lucu seperti Ayahnya saat Kecil nanti ketika anak itu sudah cukup besar,'
Ini....
Henry yang melihat semua desain-desain itu tiba-tiba saja mulai menangis...
Hal-hal ini adalah sesuatu yang akan dibuat oleh seorang Ibu yang benar-benar menantikan kelahiran anaknya....
__ADS_1
Dan ini di buat oleh Anya....
Bukankah itu artinya....