
Anya tidur benar-benar cukup lelap, dan waktu cepat berlalu, sampai tidak sadar jika Herny sudah masuk ke kamar mereka dan juga mulai tidur di samping Anya.
Sore itu, Anya yang mulai terbangun karena merasa lapar itu, merasa cukup kaget ketika bangun.
Ya, wajah Henry yang saat ini begitu dekat dengan dirinya, karena Tuan Muda itu saat ini sedang tidur sambil memeluk dirinya.
Anya benar-benar merasa belum terbiasa terbangun di samping Tuan Muda itu.
Rasanya masih terasa tidak nyata.
Seolah belum lama ini jika Tuan Muda itu menyuruhnya untuk tidur di lantai namun sekarang dirinya sudah diizinkan untuk tidur di tempat tidur.
Jadi, terbagun dalam pelukan tuan muda itu benar-benar membuat dirinya merasa aneh dan asing.
Yah, Pernikahan mereka sudah lebih dari satu Bulan ternyata, waktu benar-benar berlalu dengan cukup cepat.
Dan sudah dari minggu lalu, sejak Tuan Muda itu memutuskan untuk memiliki keinginan aneh seperti memiliki seorang anak.
Hah, Anya terkadang merasa tidak habis pikir dengan perilaku Tuan Muda itu, yang benar-benar tidak bisa dirinya prediksi.
Dirinya kira rencana yang dirinya miliki untuk menjadi penurut akan membuat Tuan Muda itu merasa cepat bosan padanya, dan segera meninggalkannya begitu saja.
Namun ternyata efeknya malah kebalikan, Tuan Muda itu bukannya merasa bosan, namun dia malah menjadi semakin menempel.
Terutama selama satu minggu ini, Tuan Muda itu benar-benar sangat menempel dan lengket, seolah-olah, tidak akan melepaskan dirinya di manapun mereka berada.
Selalu, mencuri kesempatan untuk mencium dirinya ketika mereka di rumah, di berbagai kesempatan.
Lalu malamnya...
Tidak perlu dipikirkan soal kegiatan dimalam hari yang cukup interes.
Sejauh ini, Anya memiliki beberapa pemahaman soal perilaku Tuan Muda itu.
Dia sebenarnya, bukan benar-benar orang yang jahat, hanya ucapannya saja yang tidak bisa di kontrol.
Tuan Muda ini juga sebenanya cukup pemalu, dia kadang mengucapkan hal-hal yang berkebalikan dari apa yang dia katakan.
Dan sikapnya yang sedikit manja ini, terlihat cukup mengemaskan.
Banyak hal baru soal Tuan Muda itu yang juga dirinya pelajari ketika bersama Tuan Muda itu.
Tentang masalalunya yang sedih...
Hal-hal, yang selalu coba dia sembunyikan dalam sikapnya yang arogan.
Anya tanpa sadar mengelus sedikit rambut Henry yang menutupi wajahnya ini.
"Dan wajah tampan ini, benar-benar sangat enak untuk dilihat,"
Tuan Muda itu benar-benar memiliki Gen yang baik, untuk bisa menjadi seorang pria yang setampan dan semempesona ini.
Ketika Anya mengatakannya, Herny ternyata sudah mulai membuka matanya.
Herny juga mendengar tentang apa yang baru saja Anya katakan.
"Jadi menurutmu Aku ini tampan?"
Anya yang kepergok itu merasa sedikit malu karena ketahuan melakukan hal yang tidak-tidak seperti menatap Tuan Muda itu secara berlebihan ketika dia tidur.
Namun Anya mencoba tetap menjaga ekspresinya dan segera berkata,
"Semua orang yang memiliki mata pasti akan menjawab seperti itu,"
"Kenapa kamu tidak jujur saja mengatakannya bahwa menurutmu Aku tampan? Kenapa mesti berbelit-belit seperti itu dalam mencari alasan?"
__ADS_1
"Aku hanya mengatakan seadanya,"
Anya jujur, masih benar-benar merasa malu untuk mengakui hal itu tepat di depan Tuan Muda itu, ada beberapa harga diri yang harus dirinya jaga, untuk tidak terpesona pada pesona mematikan dan ketampanan Tuan Muda itu.
Henry juga memilih untuk tidak memperdebatkannya, lalu hanya segera mencium bibir Anya.
"Ya, Kamu mungkin tidak bisa berkata jujur, tapi tubuhmu benar-benar jujur,"
"Aku tidak mengerti apa maksudmu,"
"Anya, mungkin kamu tidak menyadari ekspresi apa yang kamu buat setiap kali Aku menciummu belakangan ini?"
Anya yang mendengar itu jelas merasa terkejut juga, namun jelas mencoba mencari alasan.
"Aku hanya menjadi sensitif tidak lebih,"
Henry semakin kesini juga sedikit lebih mengenal wanita yang menjadi Istrinya itu, yang sepertinya memiliki gengsi yang cukup tinggi juga, yang terkadang jalan pikirannya masih tidak bisa dirinya mengerti.
"Baiklah, karena sebentar lagi malam Bagaimana jika kamu segera memasak makan malam?"
Anya yang diminta itu hanya segera mengangguk.
"Tentu saja aku akan melakukannya, masakan apa yang kamu mau?"
"Emm, Seafood kesukaanku? Aku menyukai masakan seafood yang kamu buat sebelumnya, itu cukup enak,"
Anya yang dipuji itu jelas merasa cukup senang juga.
"Ya, aku akan membuat lagi yang seperti itu,"
Makan malam itu, berjalan dengan cukup damai dan indah.
Sampai mereka berdua kembali kekamar.
Henry menjadi teringat soal beberapa hal yang dirinya beli di apotek itu.
Anya yang menerima kantong plastik itu sedikit bingung,
"Ini?"
"Kamu coba saja dipakai,"
Anya lalu ingat soal hal-hal yang Tuan Muda itu beli di apotek, dan benar saja ketika Anya membukanya ada banyak Set alat Tes.
"Aku pikir tidak perlu terburu-buru untuk menggunakan alat ini,"
Henry yang mendengar itu menggelengkan kepalanya, dan berkata dengan bangga,
"Aku sebenarnya cukup percaya diri dengan kemampuanku,"
Anya yang mendengar hal-hal tidak masuk akal itu, hanya menunjukkan ekspresi tidak percaya.
"Kamu meragukan kemampuanku?" Kata Henry yang melihat keraguan wanita yang ada didepannya itu, pada kata-katanya.
"Bukan seperti itu... Tapi ini baru satu minggu,"
"Satu Minggu tetap saja sudah satu Minggu, alangkah lebih baik jika kita berdua mengetahuinya lebih awal, Aku dengar dari salah satu Temanku, melakukannya terlalu sering juga tidak begitu baik, apalagi jika memasuki masa kehamilan awal yang belum stabil, itu bisa menjadi berbahaya, Aku hanya ingin mengantisipasinya, siapa yang tahu jika kamu sudah hamil,"
Anya yang mendengarkan hal itu tiba-tiba merasa sedikit pucat.
Dirinya tiba-tiba merasa sedikit takut untuk melakukan Tes.
"Kenapa wajahmu seperti itu? Udahlah sebaiknya kamu coba saja Tes Apa susahnya?"
Pada akhirnya, Anya mengabil salah satu alat itu lalu segera memasuki kamar mandi.
__ADS_1
Herny sendiri, menunggu di luar dengan perasaan cemas.
Ya, ini adalah tas yang sangat penting tentu saja dirinya cemas bukan?
Untuk menghilangkan kecemasannya itu, Herny memutuskan untuk minum air yang ada di meja.
Namun mana tahu, jika Henry malah tidak sengaja menyenggol Tas milik Anya hingga jatuh, membuat isi dari tas itu berceceran di lantai.
Henry yang merasa tidak enak itu, lalu segera mencoba membereskan tas itu.
Namun dirinya tidak mengira bahwa di dalam tas itu ada obat untuk kontrasepsi.
Henry yang melihat obat-obat itu ekspresinya menjadi marah.
Jadi ini rencana Anya?
Pantas saja dia hanya mengiyakan, dan menjadi penurut saat dirinya ingin memiliki anak dengannya.
Jadi, dia ternyata diam-diam meminum obat-obat ini di belakangnya?
Kemudian dia menggunakan alasan umurnya sebagai alasan susah hamil?
Itulah juga kenapa dia tidak ingin diajak pergi ke dokter?
Ketika mengambil obat itu, Henry jelas merasa marah dan melemparkan salah satu obat itu tong sampah.
Rasanya tiba-tiba hatinya begitu hancur.
Karena hanya dirinya saja yang menantikan hal ini, namun Anya sama sekali tidak menginginkan memiliki seorang anak dari dirinya.
Perasaan Henry menjadi campur aduk antara kesedihan, kekecewaan dan kemarahan.
Saat itulah Anya, keluar dari kamar mandi.
Anya tentu belum melihat hasil tesnya karena akan keluar sekitar 3 sampai 5 menit lagi.
Jadi, dirinya hanya langsung keluar dari kamar mandi setelah mengabil Sempel.
Sekarang, Anya menatap kearah Henry yang terduduk di lantai.
"Huh? Ada apa?" Tanya Anya dengan ekspresi heran.
Henry lalu menunjukkan obat-obat yang ada di tangannya.
"Apakah kamu ingin memberikan penjelasan padaku soal ini? Kamu benar-benar menipuku selama ini?"
Anya yang mendengar itu jelas saja terkejut, jadinya juga tidak tahu kenapa ada obat-obatan seperti itu.
"Sungguh, Aku benar-benar tidak tahu!"
"Kamu masih saja berbohong padaku bukan? Bahkan setelah ketahuan? Anya, sungguh kenapa kamu melakukan ini padaku? Hanya aku yang menginginkannya?"
Dari pada kemarahan, lebih ada kekecewaan dan kesedihan disana, membuat Anya binggung harus berbuat apa.
Dirinya tidak pernah mengira jika reaksi dari Tuan Muda itu akan separah itu.
Namun sungguh, dirinya meminum obat apapun.
"Henry ini..."
Anya mencoba untuk mendekati Herny, untuk menenangkannya namun tangannya ditepis.
Dan alat Tes itu akhirnya jatuh ke lantai, tepat di depan mereka berdua.
Dan sekarang, pelan-pelan sudah mulai terlihat hasilnya.
__ADS_1
Dua orang itu menjadi terkejut ketika menatap alat tes itu, yang sekarang ada dua garis merah.