Istri Mainan Sang Tuan Muda

Istri Mainan Sang Tuan Muda
Episode 32: Bertaruh


__ADS_3

Anya yang mendengar kata-kata dari pria yang ada di depannya itu jelas merasa kaget, berpikir dirinya mungkin salah dengar.


"Tunggu, apa yang barusan kamu katakan?"


Henry yang malah ditanya balik itu segera menunjukkan ekspresi cemberut dan berkata sekali lagi, sambil mengelus perut Anya,


"Aku ingin memiliki seorang anak, sesuai dengan keinginan Kakek,"


Anya yang mendengar itu segera berdiri dari pangkuan Henry, dan berkata langsung,


"Tidak, hal itu tidak bisa dilakukan,"


Jelas, Anya langsung menolaknya tanpa banyak berpikir.


Ya, karena memang hal-hal itu tidak bisa dilakukan.


"Apa? Ini adalah perintah dariku kamu jelas tidak bisa melanggarnya,"


"Namun dalam kontrak itu tidak dijelaskan bahwa kita harus memilki seorang anak, yang harus aku lakukan adalah melakukan peranku untuk menjadi Istrimu,"


Henry lalu segera berkata lagi, dengan sebuah alasan baru,


"Tentu saja, mengandung anakku, juga adalah salah satu tugasmu sebagai Istriku,"


Mendengar hal-hal itu, Anya segera terdiam dan mencoba memikirkan soal hal ini lagi tentang bagaimana cara menolak hal ini.


"Tapi ini bahkan hanya Pernikahan Pura-pura, Aku merasa sangat berlebihan untuk memiliki seorang anak,"


Henry mendengar bagaimana wanita yang ada di hadapannya itu sangat tidak senang sekali dengan idenya itu.


Hal ini membuat Henry semakin jengkel.


"Ini bukan permintaan namun perintah dariku kamu yang bilang sebelumnya tidak akan menolak semua perintah ku!"


Anya lalu segera berkata lagi dengan lebih tegas,


"Ya, selain memiliki seorang anak, Aku akan menuruti semua perintahmu namun jangan memiliki seorang anak, aku tidak bisa melakukannya,"


"Kenapa tidak bisa? itu bukan kamu yang memutuskannya itu adalah aku Yang memutuskannya Kenapa kamu tidak paham juga?"


"Sungguh, Aku mohon, Tuan Muda mempertimbangkan ini lagi, Tuan Muda perlu berpikir lebih jernih soal masalah ini,"


Henry yang semakin ditentang itu jelas merasa semakin tidak senang.


"Tidak, Aku sudah memikirkan ini dengan cukup jernih. Aku membutuhkan seorang Pewaris, jadi Aku akan memiliki seorang anak,"


Hal itu jelas membuat Anya kaget.

__ADS_1


Itu adalah sebuah keputusan yang besar, namun jelas dirinya tetap tidak bisa melakukannya karena ini adalah hal yang terlalu berlebihan.


Seorang anak, bukan hal-hal yang dianggap remeh, ataupun bagian yang bisa dijadikan sebuah permainan.


Seorang anak memiliki masa depan dan perasaannya sendiri.


Bagaimana nanti nasip anak itu setelah mereka bercerai?


Atau, bahkan nanti jika Tuan Muda didepannya ini berubah pikiran dan menelantarkan anak itu?


Lalu, jika Tuan Muda didepannya ini setelah bercerai menikah lagi dan memiliki sebuah Keluarga Baru, pasti keberadaan anak mereka akan menjadi terlupakan, anak itu akan tumbuh tanpa Ayahnya.


Tumbuh tanpa kedua orang tua yang lengkap jelas bukanlah pilihan yang bagus.


"Tidak bisa, aku tetap tidak bisa melakukannya ini masih terlalu berlebihan untukku,"


"Kenapa sih kamu begitu keras kepala?"


Anya yang dipaksa itu mulai segera kehabisan kesabarannya.


"Tuan Muda lah, yang harusnya berpikir lebih jernih soal hal ini, memiliki seorang anak bukanlah sebuah permainan,"


"Siapa yang menganggap itu sebuah permainan? Aku benar-benar serius ketika mengatakan ini,"


"Tidak, itu mungkin hanya keputusan implusifmu saja, Tuan Muda pasti akan berubah pikiran soal hal itu, namun nanti bagaimana nasip anak ini..."


Kenapa wanita ini, begitu keras kepala?


Padahal dirinya sudah memberikan hak istimewa agar bisa mengandung anaknya, hal-hal yang jelas sangat diinginkan oleh banyak wanita di luar sana.


"Apa? Kamu ragu Aku tidak akan bertanggung jawab? Aku akan bertanggungjawab penuh atas anak ini nantinya, Aku akan jamin, anak itu nanti akan menjadi Pewaris dari seluruh kekayaan yang Aku miliki,"


Anya menjadi terteguh ketika mendengar itu, tidak tahu apakah ucapan dari pria yang ada di hadapannya itu adalah hal omong kosong atau nyata.


Henry, melihat bagaimana Anya menjadi terdiam dengan tawarannya barusan, namun dilihat dari ekspresinya yang menunjukkan rasa tidak nyaman itu, membuat Henry semakin kesal.


Anya menolak ingin memiliki anak dengannya karena ingin segera bercerai?


Atau apakah mungkin, Anya ini memang memiliki orang yang disuka diluar sana itulah kenapa dia ingin segera bercerai?


Apakah Pria yang sebelumnya?


Semakin Henry memikirkan hal ini dirinya menjadi semakin marah.


Henry segera menarik Anya, dan mendorong Anya keatas tempat tidur.


"Kamu harus hamil Anakku, tidak ada penolakan,"

__ADS_1


Anya yang tiba-tiba didorong itu jelas merasa panik.


"Tidak, ini tidak bisa!"


"Aku tidak menyuruhmu untuk memiliki sebuah pendapat!"


Henry lalu mencium bibir Anya, namun itu segera dibalas dengan gigitan oleh Anya.


Henry merasakan bibirnya berdarah.


Ini cukup sakit.


Lalu tatapan mereka segera bertemu.


Ini adalah pertama kalinya dirinya melihat bahwa wanita yang ada didepannya ini, menolaknya.


Anya ini, bahkan walaupun dirinya suruh untuk melakukan apapun, termasuk berlutut, dia akan melakukannya.


Apakah segitu tidak inginnya kan Anya memiliki anaknya?


Perasaan Henry menjadi rumit setelah mendengar ini.


"Apakah kamu berani padaku sekarang?"


Anya juga melihat jika dirinya sedikit terbawa emosi hingga salah langkah.


Membuat Tuan Muda ini marah, jelas bukan sebuah pilihan.


Namun bagaimana ini?


Nasipnya ada di ujung tanduk.


Apa sekarang yang harus dirinya lakukan untuk menyelesaikan semua ini?


Dirinya tidak mungkin setuju namun dirinya juga tidak mungkin menolak.


Tunggu...


Ini hanya jika dirinya hamil bukan?


Dirinya dengar, itu tidak semudah itu, untuk bisa memiliki seorang anak?


Apakah dirinya bertaruh saja?


Ya, itu benar sekali, dirinya jelas hanya bisa bertaruh agar tidak hamil.


Ini adalah satu-satunya pilihan yang dirinya miliki saat ini.

__ADS_1


Mungkin saja tuan muda yang ada di depannya itu akan berubah pikiran nanti.


__ADS_2