Istri Mainan Sang Tuan Muda

Istri Mainan Sang Tuan Muda
Episode 46: Bagaimana Bisa?


__ADS_3

Seperti namanya, ini adalah sebuah Butik Kelas Atas, yang menjual berbagai produk pakaian atau menerima pesanan khusus dari desain buatan Anya Florance.


Henry mengamati sekeliling tempat itu.


"Tempat ini tidak buruk," komentar Henry.


Anya yang mendengar komentar itu segera merasa cukup lega setidaknya Tuan Muda itu tidak mengkritik tempatnya bekerja sebagai sesuatu yang cukup buruk.


"Ya, Terimakasih. Apakah kamu ingin melihat-lihat dan berkeliling? Mungkin ada sesuatu yang kamu suka,"


Henry terdiam sebetar, dan segera berkata,


"Aku tidak terbiasa mengambil barang gratis semacam ini, dari orang lain,"


"Tidak apa-apa, anggap saja ini sebuah hadiah walaupun mungkin hal-hal di sini tidak sebagus atau sesuai dengan seleramu,"


"Tidak, aku merasa desain rancanganmu itu termasuk cukup bagus aku akan mengambil satu yang aku suka nanti,"


Anya lalu mengatar Henry untuk berkeliling di sekitar tempat itu.


Sampai dua orang itu tiba di salah satu patung yang memamerkan baju pernikahan, baik yang laki-laki maupun perempuan.


"Ternyata kamu juga desain baju untuk pesta pernikahan?" tanya Henry terlihat kaget.


"Itu benar sekali sebenarnya cukup menyenangkan untuk mendesain pakaian pernikahan semacam itu,"


"Jadi apakah sebenarnya kamu tidak ingat untuk mendesain gaun pernikahanmu sendiri?"


"Sebenarnya begitu, namun karena saat itu tidak cukup waktu, aku hanya mengikuti hal-hal yang sudah kamu siapkan saja,"


Henry yang mendengar itu segera berkata dengan sedikit kecewa juga,


"Aku tidak tahu jika kamu seorang Desainer saat itu,"


"Tidak apa-apa, dah lain kali Aku bisa mendesain Gaun pernikahanku sendiri,"


Henry yang mendegar itu segera menujukan ekpresi cemberutnya,


"Siapa yang bilang kamu bisa menikah lagi? Kita jelas tidak akan berpisah, jadi kamu tidak akan pernah menikah lagi,"


Anya yang merasa salah bicara itu segera ingin meminta maaf, takut membuat tuan muda yang ada di depannya itu menjadi marah dirinya juga mulai memikirkan alasan lain.

__ADS_1


"Aku hanya mengatakannya dengan acak, soal merancang baju Pernikahan, Aku mungkin akan merancang baju pernikahan untuk calon anak kita nanti di masa depan, harusnya ini sebaik merancang baju pernikahanku sendiri,"


Henry yang mendengar itu segera tertawa, lalu mengelus perut Anya pelan,


"Dia bahkan belum lahir, tapi kamu sudah merancang untuk membuat kan Baju Pernikahannya nanti?"


Anya yang lagi-lagi habis mengatakan omong kosong itu segera merasa malu dengan ucapannya sendiri bisa-bisanya dirinya malah berkata seperti itu.


Ada suasana hangat dan harmonis ketika dua orang itu saling berbicara satu sama lainnya.


Henry tidak lama ada di sana setelah memilih sesuatu yang dirinya suka segera memberikan ciuman pagi untuk Anya dan pergi dari butik itu.


Sebenarnya, tidak ada yang spesial soal ciuman itu, hanya saja Henry yang tidak tahu malu itu, mencium Anya di tengah lobi, di mana di sana ada cukup banyak karyawan entah yang baru saja datang atau beberapa orang yang masih bersantai di sana.


Anya benar-benar merasa cukup malu ketika diperhatikan oleh semua orang yang ada di sana.


Anya merasa Tuan Muda itu, memang suka melakukan hal-hal yang tidak masuk akal seperti ini, Anya hanya bisa langsung bersembunyi dan pergi dari tempat itu memasuki ruangan miliknya.


Merasa bahwa hari ini hari teraneh dalam hidupnya.


Namun cukup menyenangkan untuk melakukan hangat seperti ini....


Astaga....


Ada apa dengan dirinya yang mulai berdebar-debar ini dengan perlakuan-perlakuan hangat itu?


Namun hal-hal ini terasa sangat menyenangkan.


####


Hari-hari itu berjalan dengan damai dalam beberapa hari kedepan.


Dan setelah kesekian kalinya, Anya diantarkan oleh Tuan Muda itu menuju tempatnya bekerja, Anya mulai beradaptasi dengan hal itu dengan cepat, bahkan sebelum Henry meminta, Anya sudah lebih dulu memberikan ciuman selama jalan, saat Henry membuka kaca mobilnya.


"Ya, aku akan baik-baik saja, kamu cepatlah ke kantor, Bukankah katamu hari ini ada rapat penting?"


Henry yang mendengar itu, segera tersenyum dan berkata,


"Itu benar Hari ini aku aja rapat penting soal produk baru yang akan launching minggu depan, harusnya hari ini sudah fix untuk penetapan produk itu,"


"Tentu, aku hanya berharap semoga berjalan dengan lancar,"

__ADS_1


Dengan itu, Henry segera menuju ke Kantor.


Sayang sekali Begitu tiba di ruang rapat, Henry segera mendapatkan kabar buruk dari para bawahannya.


"Apa? Produk yang akan kita launching minggu depan itu ternyata malah sudah ada Perusahaan lain yang melaunchingkannya? Baik desain dan fungsi yang dimilikinya memiliki kemiripan dengan produk kita? Bagaimana ini bisa terjadi?" Kata Henry marah.


Para anak buahnya yang ada di ruangan itu segera terdiam karena tidak tahu juga kenapa ini bisa terjadi.


"Bukankah aku sudah bilang sebelumnya bahwa semuanya harus dirahasiakan? Kenapa bisa hal ini bisa bocor di saat penting seperti ini?"


Salah satu bawahan lalu segera berkata,


"Tapi... Tapi kami benar-benar tidak tahu kenapa ini bisa terjadi kenapa data kita bisa bocor, kami sebelumnya sudah memeriksa semua CCTV, semua data soal produk baru itu tidak pernah keluar dari perusahaan dan tidak pernah ada hal-hal mencurigakan yang terjadi di ruang pembuatan produk setelah kami memeriksa CCTV, hanya hanya sangat Aneh Kenapa hal-hal itu bocor,"


Henry yang mendengar itu hanya berkata dengan emosi lagi,


"Itu jelas adalah urusan kalian semua Kenapa ini bisa bocor! Kalian yang harus mencari tahu, bagaimana ini bisa bocor,"


Salah atau bawahan, lalu segera menatap satu sama lain dan memiliki sebuah pemikiran,


"Sungguh, selain produk prototipe dan data blue print yang Pak Presdir bawa pulang, tidak ada dari bawahan di sini yang membawa atau memiliki data soal blue printnya,"


Henry yang tiba-tiba mendengar tuduhan itu segera menjadi tambah marah,


"Jadi menurut kalian Aku ini gila dengan membocorkan produk yang akan launching di perusahaanku sendiri ke Perusahaan orang lain Hah?"


Para bawahan itu segera menjadi pucat dan berkata,


"Bukan begitu Pak Presdir... kami hanya memikirkan soal Bagaimana ini bisa bocor, mungkin saja... Ada seseorang yang pernah mencuri data itu dari Pak Presdir?"


Henry yang mendengarkan hal itu segera terdiam.


Jadi bagaimana bisa data itu bocor?


Data-data ini jelas selalu ada di bawah pengawasannya.


Kecuali...


Tidak...


Dirinya memang pernah meninggalkan data ini di Apartemen miliknya hari itu...

__ADS_1


__ADS_2