
Disalah satu ruangan Club, terlihat beberapa orang masih asik saling mengobrol dan berpesta sendiri, di ujung pojok, ada dua orang yang terlihat saling berbicara, dengan beberapa pil obat dan beberapa hal lainnya didepannya.
Sang wanita yang ada disana, menatap obat-obat itu dengan ekspresi penasaran,
"Hanzel, Untuk apa kamu membawa begitu banyak hal seperti ini? Hah, kamu itu mau bermain dengan berapa banyak wanita?"
"Tiara, ini tidak seperti yang kamu pikirkan, ini itu bukan milikku,"
"Lalu kenapa semua itu ada di situ di depanmu?"
"Jadi begini, tadi aku sempat bertemu dengan Henry, kita melakukan beberapa percakapan, soal dia yang tiba-tiba ingin memiliki seorang anak, dan mulai berkonsultasi padaku, tentang bagaimana cara tercepatnya, ya aku mana tahu, aku juga kan belum menikah apalagi punya anak, Henry itu benar-benar seperti menyindirku," kata Hanzel kesal.
Tiara yang mendengar itu jelas memiliki ekspresi syok.
"Hah? Kak Henry ingin memiliki seorang anak?"
"Ya, itu benar. Itulah kenapa semua obat-obatan kontrasepsi miliknya diberikan padaku karena dia bilang dia sudah tidak membutuhkannya lagi, stek yang dia miliki dibawa ke sini semua, dia pikir aku gila apa? Memakai semua ini? Hah, Henry memang menjadi gila menikah, sungguh gila, bahkan sampai ingin punya anak,"
"Tunggu, maksudnya punya anak dengan Istri Kak Henry yang sekarang?" Tanya Tiara dengan rasa cemas.
"Tepat sekali,"
"Bukankah pernikahan mereka hanya pernikahan pura-pura?"
Hanzel segera menggelengkan kepalanya, dan berkata,
"Ya mana aku tahu jalan pikiran si Henry itu, dia kan memang aneh dan sulit ditebak,"
"Tapi bukankah mereka akan bercerai nantinya?"
"Soal itu aku juga tidak tahu, hah Henry itu memang aneh, masa mendadak ingin punya anak, terlalu tidak masuk akal jika dipikirkan,"
"Aku setuju soal itu, jangan bilang itu adalah rayuan dan bujukan dari Istri Kak Henry itu?"
"Aku pikir tidak seperti itu, Henry tadi cerita bagaimana Istrinya itu sebenarnya tidak ingin memiliki anak pada awalnya, dan setelah beberapa pertengkaran seperti yang kamu lihat, Henry jelas menang,"
"Itu aneh, kenapa Kak Henry tiba-tiba ingin memiliki anak?"
"Sudahlah, Tiara. Aku terlalu malas untuk membicarakan si sialan itu, hah lalu mau aku apakan obat-obat sial ini?"
Tiara jelas merasa sangat kesal ketika memikirkan Henry malah mau memiliki seorang anak dengan Istri pura-puranya itu, jika mereka berdua sampai memiliki anak bukankah nantinya kemungkinan hubungan antara keduanya bisa menjadi sesuatu yang lebih serius?
Hal-hal semacam ini jelas tidak bisa dibiarkan.
Dirinya tidak rela Henry jatuh ke tangan wanita ****** itu!!
Tidak akan dirinya biarkan wanita itu sampai hamil anak Henry, hal-hal seperti itu jelas tidak bisa ada.
"Aku ambil saja obat-obat ini mana," kata Tiara lagi.
"Kamu buat apa obat-obat ini pula?"
"Aku memiliki seorang kenalan yang mungkin membutuhkan obat-obat ini,"
"Owh, ya sudah ambil saja itu aku toh tidak membutuhkannya,"
Dengan itu, Tiara mulai mengambil obat-obatan itu, dan memasukkannya ke dalam tasnya.
__ADS_1
Dia terlihat memiliki rencana sendiri akan memberikan obat itu kepada siapa.
Hmm, jika obat-obatan ini di berikan pada Istri Kak Henry, dan ketahuan oleh Kak Henry jika Istirnya itu ternyata menyembunyikan obat semacam ini pasti itu akan membuat masalah antara mereka berdua.
Ya, setidaknya dirinya harus membuat dua orang itu saling benci satu sama lainnya.
Hmm, namun kapan sebaiknya dirinya melancarkan semua rencana ini?
####
Hari segera berganti, ini kebetulan adalah minggu pagi, pagi itu Anya sudah bangun cukup pagi dan mulai membuat sarapan, menu hari ini adalah nasi goreng seafood, karena bahan-bahan seafood kemarin masih tersisa.
Dirinya sudah diberi tips dan trik dari adiknya, bagaimana cara mengolah seafood-seafood ini, agar bisa terasa enak, dan menghilangkan aromanya yang begitu amis.
Anya benar-benar menikmati pagi itu ketika dirinya mulai mengirim dan menyiapkan bahan satu demi satu.
Henry yang masih berada di tempat tidur mulai terbangun, merasakan jika tidak ada lagi seseorang di sampingnya.
Namun dirinya mencium aroma yang terasa enak.
Henry segera mengambil bajunya yang ada di meja samping tempat tidur.
Memikirkan bahwa aroma ini terlihat sangat enak dan menggiurkan dan membuat dirinya menjadi semakin lapar.
Apakah Anya memasak?
Kali ini kira-kira menu apa yang dimasaknya?
Henry segera bangun, dan menuju kearah dapur.
Henry melihat bagaimana Anya fokus memasak di dapur dan mengenakan sebuah celemek, ini benar-benar pemandangan yang sangat menyenangkan di pagi hari ini.
Sagera Henry memeluk Anya dari belakang, dan bertanya,
"Kamu sangat rajin sekali sudah memasak pagi-pagi,"
Anya yang awalnya fokus memasak itu tentu saja menjadi kaget ketika mendapatkan pelukan yang tiba-tiba, pelukan ini terasa sangat menyenangkan karena dirinya sudah mulai terbiasa juga dengan pelukan ini?
"Aku sedang mencoba untuk memasak nasi goreng seafood, kamu tunggu saja di meja makan,"
Henry yang mendengar bahwa wanita dalam pelukannya itu sepertinya mulai memasak sesuatu yang dirinya suka jelas merasa sangat senang dan mulai bersikap cukup manja,
"Namun aku masih ingin di sini ini hasil masakanmu,"
"Astafa Tuan Muda, Ah maksudku Henry aku menjadi tidak fokus jika kamu seperti ini, bagaimana jika nanti ini gosong atau malah aku membakar dapurmu bukankah kamu akan marah?"
"Tidak apa-apa sama sekali, dapur yang rusak masih selalu bisa diperbaiki,"
Anya benar-benar merasa kewalahan harus bersikap seperti apa jadi dirinya tetap berusaha untuk lepas dari pelukan itu.
"Ini sebentar lagi matang sungguh lepaskan aku dulu,"
Henry akhirnya mengalah lalu segera berkata,
"Baiklah baiklah aku akan menantikan masakan yang enak darimu ingat ya aku tidak suka juga itu tidak enak,"
"Tentu saja sesuai yang kamu suka,"
__ADS_1
Sarapan pagi itu berjalan dengan damai, Henry terlihat menyukai masakan yang dibuat oleh Anya, dan memberikan beberapa pujian, Anya sendiri merasa cukup senang ketika dirinya menata pria itu sedang menikmati dan memakan hasil masakannya.
Tidak sia-sia memang dirinya belajar memasak begitu keras sebelumnya yang akhirnya setidaknya bisa memuaskan tuan muda yang ada di depannya ini.
Tepat setelah menyelesaikan sarapan itu, Anya segera teringat soal janji dengan temannya sebelumnya, akan lebih baik jika dirinya meminta izin pada pria yang ada di hadapannya ini daripada nanti akan ribut jika dia tidak tahu.
"Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu,"
Henry yang baru saja selesai minum itu segera berkata,
"Tentu saja kebetulan mood ku sedang baik kamu bisa meminta apa saja padaku, katakan saja,"
"Hari ini aku akan izin untuk pergi dengan teman-teman lamaku saat di sekolah,"
"Semacam acara reuni?"
"Bukan ini hanya acara pertemuan biasa dengan beberapa teman lama tidak besar seperti acara reuni hanya beberapa kenalan pribadi yang cukup dekat denganku,"
"Jadi begitu,"
"Apakah aku bisa pergi ke sana?"
"Tentu saja kamu bebas melakukannya, memang kapan acara itu?"
"Acaranya siang ini,"
Mendegar itu, Henry terdiam sebentar seolah sedang berpikir dan tidak lama sampai dia membuat keputusan dan segera berkata,
"Baiklah, Aku memiliki waktu luang siang ini aku akan ikut dengan mu,"
Anya yang mendapat tawaran itu jelas menjadi kaget dan secara refleks menolak,
"Kamu tidak perlu repot-repot ikut denganku,"
"Apa? Kenapa aku tidak bisa ikut?"
"Aku sebenarnya belum menceritakan kepada teman-temanku jika aku sudah menikah, ini sedikit terlalu rumit jika aku menceritakan pada mereka,"
"Bukankah malah itu adalah ide yang bagus untuk aku ikut? Kamu mulai bisa memperkenalkan ku sebagai suami di depan teman-temanmu,"
"Tidak bisa seperti itu aku berencana untuk merahasiakan pernikahan kita,"
Ekpresi Henry segera menjadi muram ketika mendengar itu.
"Apa masalahnya? Kenapa kamu pakai merahasiakan pernikahan kita segala padahal aku juga sudah memperkenalkanmu kepada teman-temanku bahkan seluruh orang di kantor tahu aku sudah menikah bukannya tidak adil jika kamu malah merahasiakan pernikahanmu dari teman-temanmu?"
"Maksudku, toh ini hanya pernikahan sementara, Aku hanya merasa tidak perlu untuk memperkenalkanmu pada teman-temanku,"
Henry yang mendengar kata pernikahan sementara itu, jelas menjadi marah,
"Kamu itu sangat tidak masuk akal pokoknya, kamu harus memperkenalkanku pada teman-temanmu, aku akan ikut nanti,"
"Tidak usah,"
Melihat Anya terlihat membantah ucapannya ini membuat Henry menjadi curiga.
"Jangan bilang, di antara teman-teman lama-mu itu sebenarnya ada seorang Pria yang kamu suka? Jadi kamu ingin merahasiakan soal pernikahan kita?"
__ADS_1