Istri Mainan Sang Tuan Muda

Istri Mainan Sang Tuan Muda
Episode 34: Rencana Masing-masing


__ADS_3

Robbie, Ayah Anya itu jelas saja menjadi kaget mendengar kata-kata Putri bungsunya itu soal Suami Kakaknya.


Ya, dirinya tahu dari awal soal tawaran Pernikahan itu memang bukan hal yang bagus.


"Jadi begini, Ayah... Aku tahu, Ayah mungkin akan terpukul ketika mendengarkan ini,"


"Tolong katakan Yang sejujurnya Ayah juga sudah menduga tentang, apa yang mungkin terjadi,"


Sherly yang melihat Ayahnya itu sepertinya, sudah menyiapkan diri soal apa yang akan dirinya katakan, segera mulai menceritakan apa yang dirinya tahu.


"Ayah, Aku sebenarnya belum sempat menceritakan ini padamu. Sesungguhnya, karena Akulah Perusahaan kita dalam masalah,"


"Apa maksudmu?"


"Aku... Aku sebelumnya pernah tidak segaja mencari masalah dengan Tuan Muda Henry, hingga dia melakukan hal-hal itu pada perusahaan kita. Ketika aku memikirkan ini, Aku merasa sangat bersalah, bahkan awalnya target Pernikahan itu adalah Aku, namun Kak Anya mau mengorbankan dirinya untuk menggantikanku demi keluarga,"


Ketika Sherly mengatakan itu, dia tiba-tiba menangis.


Hatinya terasa hancur ketika mengatakan ini.


Dirinya sudah sempat memberitahukan pada Kakaknya soal hal ini, dan sekarang ketika mengingat kejadiannya lagi dirinya menjadi semakin bersalah.


"Ini... Ini salahku, Ayah... Dan sekarang Kakak harus menanggung semuanya karena Aku,"


Robbie, yang mendengar pengakuan dari putrinya itu sejujurnya tidak tahu harus berbuat apa.


Ya, dirinya tahu jika Putri Bungsunya ini, masih cukup lugu dan polos, dia hidup dengan dimanjakan dan diberikan kasih sayang sejak kecil, tidak mengerti tentang bagaimana dunia bekerja.


Namun, itu jelas tidak bisa menyalak Putrinya.


Bahkan walaupun putrinya ini menyinggung seorang Tuan Muda Kaya, harusnya, Keluarga mereka tidak layak untuk mendapatkan balasan semacam ini.


Hal-hal ini jelas sangat semena-mena.


"Sherly, itu bukan sepenuhnya salahmu kamu tidak boleh merasa terlalu bersalah,"


"Tidak, Ini semua adalah salahku sampai keluarga kita menjadi seperti ini,"


Robbie, menjadi begitu bingung tentang bagaimana cara untuk menenangkan Putrinya itu.


Sampai kemudian, Ibu Sherly datang dan masuk kedalam.


"Sherly, Mama sudah sering bilang padamu bahwa semua tragedi ini bukan salahmu, kamu tidak bersalah. Dan lagi, sekarang bukankah Kakakmu Anya itu, akhirnya menikah? ini adalah hal yang selalu dikhawatirkan semua orang, toh dia menikah dengan orang Kaya, walaupun kelakuannya sedikit buruk, ini harusnya tidak seburuk itu untuk Kakakmu Anya,"


Sherly yang mendengar kata-kata dari Mamanya itu, dirinya menjadi marah,


"Mama tidak mengerti apapun! Saat ini hal yang dialami Kakakku jelas adalah hal yang buruk, kalian tidak tahu, bagaimana Kakakku saat ini menderita dan disiksa oleh Tuan Muda itu!"


Mendengar itu, ekpersi Robbie jelas segera menjadi buruk.


"Apa maksudmu, Sherly? Disiksa bagaimana?"


"Aku... Aku melihat, ada beberapa luka di tubuh Kak Anya sebelumnya, ditangannya, Aku yakin dia disiksa dengan keras, tidak hanya itu..."

__ADS_1


Ros, Ibu Sherly itu segera bertanya lagi,


"Apakah kamu yakin?"


"Ya, aku sangat yakin. Sebenarnya, Aku tidak ingin menceritakan ini karena takut membuat kalian khawatir, tapi satu hari setelah Pernikahan Kak Anya dan Tuan Muda Henry, saat Aku sedang bersembunyi di Hotel B, Aku tidak segaja bertemu dengan Tuan Muda itu, dia mengancamku akan membuat hidup Kak Anya menjadi buruk, dan ketika aku melihat Kakakku, dan keadaannya, Aku benar-benar sangat takut,"


Mendengar itu, Robbie, jelas segera mengepalkan tangannya merasa begitu marah.


"Apa? Dia bahkan sempat mengancammu? Apakah kamu pernah menceritakan itu pada kakakmu?"


"Aku... Aku tidak berani bercerita padanya takut dia menjadi sangat khawatir, saat ini dia sudah sangat menderita karena aku,"


Sherly lalu menjadi semakin menangis ketika mendengar hal itu.


Robbie yang mendengar kata-kata putrinya itu yang merasa sangat bersalah hanya bisa memeluknya untuk menenangkannya.


"Sherly, kamu jangan seperti ini, kita pasti akan menemukan cara agar Kakakmu Anya bisa segera lepas dari Tuan Muda itu, Kakakmu sudah bilang sendiri, jika dia memiliki rencananya bukan?"


"Tapi, Ayah... Aku masih sedikit tidak yakin dengan rencana yang, Kak Anya miliki. Dia biasanya selalu membuat rencana yang beresiko tinggi, Aku hanya benar-benar takut, apa nanti yang akan terjadi padanya,"


"Lalu, apa lagi yang bisa kita lakukan?"


"Emm, Ayah sebenarnya aku juga memiliki rencanaku sendiri,"


Mendengar itu, Ros segera berkata dengan putrinya itu,


"Sherly, Kamu itu jangan juga mencoba berbuat hal-hal gegabah, Bagaimana jika itu malah merugikanmu sendiri?"


"Sherly!"


"Aku juga tidak akan melakukan rencanaku segera, yang paling penting setelah semua adalah kesehatan Ayah, jadi nanti Ayah bisa segera kembali ke Perusahaan, masalah utama kita adalah Perusahaan,"


Robbie memikirkan bahwa apa yang dikatakan putrinya itu memang benar.


Awal dari masalah ini, memang karena saat ini berusaha sedang memiliki masa kritis.


Jika dirinya cepat pulih, dan bisa segera memperbaiki keuangan Perusahaan, sehingga dirinya bisa segera membayar dan menebus biaya-biaya yang Tuan Muda itu sudah keluarkan, mungkin saja dia akan melepaskan Putrinya Anya?


"Ya, Kamu benar aku akan segera ingin kembali ke Perusahaan,"


Ros hanya bisa menghela nafas, melihat suami dan putrinya itu..


Hah, dirinya jelas tidak bisa membiarkan dua orang itu melakukan hal aneh-aneh.


Lagipula, dari awal lebih banyak keuntungan yang bisa di dapatkan dari Tuan Muda itu.


Baru saja, dirinya berencana membuat beberapa alasan agar bisa meminta uang lebih dari Suami Anya itu.


Ya, Anya itu biarkan saja dia terus bersama Tuan Muda itu, agar dirinya bisa memeras uang Tuan Muda itu, untuk kesenangannya sendiri.


Lagipula, masih ada begitu banyak barang mewah yang ingin dirinya beli.


Manfaatkan saja Pernikahan Anya itu, lagipula mendapatkan posisi menjadi Keluarga Besar dari Keluarga Achilles memberikan padanya beberapa martabat di depan orang-orang, setidaknya dirinya bisa membangkan posisi ini.

__ADS_1


Dirinya tidak perlu banyak berkorban itu, itu biarkan Anya saja yang berkorban, dan dirinya bisa menikmati segala keuntungan yang didapatkan, hal-hal bagus seperti ini, kapan lagi ada kesempatannya?


Ros tersenyum sendiri dengan rencana yang dimilikinya.


####


Pagi itu, setelah Anya selesai mandi, dirinya berniat pergi ke meja makan untuk sarapan bersama dengan Henry dan Kakeknya.


Namun ketika dirinya sampai di bawah, dirinya melihat wajah seorang gadis yang familiar.


Tunggu, bukankah itu salah satu wanita atau teman Tuan Muda itu?


Tiara kalau tidak salah?


Anya menatap bagaimana Tiara saat ini, ada di meja makan, sedang mengambilkan lauk untuk Kakek Herny, lalu segera mengambilkan lauk untuk Herny.


Sepintas ketika melihat pemandangan itu itu terlihat seperti sebuah keluarga bahagia.


Entah kenapa, Anya merasa tidak nyaman dengan pemandangan itu.


"Ah, Anya? Kamu sudah datang? Mari segera duduk, owh benar kamu sudah kenal belum? Ini adalah teman cucuku, Herny bernama Tiara, mereka adalah teman masa kecil, Tiara ini sudah sering main ke rumah, jadi aku sudah menganggapnya seperti cucunya sendiri," kata Kakek Herny dengan ramah.


Anya yang mendengar itu hanya segera tersenyum dan berkata,


"Ya, Kakek. Aku sudah pernah bertemu dengan Nona Tiara sebelumnya,"


"Huh dimana?"


Sebelum Anya menjawab, Herny yang panik karena takut Anya bicara macam-macam itu segera berkata,


"Kan Tiada temanku, Tentu saja dia pernah bertemu dengan Istriku untuk mengucapkan selamat juga atas pernikahan kami berdua,"


Tiara juga ikut bekerja sama dengan Henry dan berkata,


"Itu benar, Kakek,"


Anya tidak bertanya banyak hanya segera ingin duduk.


Ah, benar Anya biasanya duduk disamping kursi Henry namun sekarang sudah di isi oleh Tiara.


"Kak Anya, cobalah masakanku, Hari ini aku sengaja memasak Kakek, karena kami sudah lama tidak bertemu aku pikir kakek akan senang setelah memakannya," kata Tiara dengan senyum manisnya, merasa cukup menang dengan ini, karena dari awal dirinya memiliki hubungan yang baik dengan Kakek Henry, dirinya harus bisa menyingkirkan Anya ini!


Henry lalu segera ikut berkata juga,


"Itu benar, masakan Tiara selalu sangat enak, tidak seperti masakan seseorang,"


"Kak Henry bisa saja," kata Tiara merasa sedikit malu.


Anya yang menatap itu, hanya bisa berpikir,


'Kalau kalian berdua sedekat Itu, kenapa tidak kalian menikah saja? Kenapa pula Aku harus melewati berbagai hal menyebalkan ini? Dan harus menikah dengan Tuan Muda sialan itu!!!'


Ya, Anya sejujurnya sangat kesal melihat hal-hal yang ada di depannya.

__ADS_1


__ADS_2