
Hari sudah cukup malam ketika Anya mulai tersadar dari pingsannya.
Ketika Anya membuka matanya, kali ini dirinya tidak menemukan siapa-siapa didalam ruangan itu.
Hanya tiba-tiba, dirinya merasakan lapar karena mencium aroma masakan yang terlihat enak.
Anya ingat, dirinya belum makan apapun sejak siang tadi.
Perutnya terasa kosong.
Anya lalu memegangi perutnya sebentar, selalu kembali teringat tentang kejadian sore hari.
Dimana, Henry tiba-tiba marah padanya karena ada obat-obatan di Tas miliknya.
Dirinya jelas yakin, belum membeli obat semacam itu, walaupun dirinya sedang mempertimbangkan untuk obat-obat itu.
Namun tentu saja, benar-benar dirinya lakukan.
Lalu hasil Tespeknya...
Garis Dua, Positif.
Yang Artinya dirinya saat ini sedang hamil.
Ketika memikirkan ini, Anya tiba-tiba memiliki ekpersi rumit.
Dirinya sejujurnya tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Apakah harus senang atau sedih...
Dirinya akan memiliki seorang anak dengan Tuan Muda itu.
Namun apakah ini tidak apa-apa?
Tuan Muda itu sering marah-marah tidak jelas padanya tentang berbagai hal, bahkan sebelumnya marah.
Hanya...
Yang paling Anya takutkan, bagaimana jika Tuan Muda itu tiba-tiba berubah pikiran dan tidak ingin memiliki anak lagi?
Apa nanti yang akan terjadi padanya atau calon anaknya nanti?
Semakin Anya memikirkannya, Anya menjadi semakin pusing.
Belum lagi, Tuan Muda itu, tadi marah padanya, dia kecewa soal tanggapan yang dirinya berikan.
Hanya, tadi dirinya terlalu terkejut bahkan untuk merespon.
Anya benar-benar tenggelam dalam pikirannya sampai pintu masuk ke dalam kamar segera dibuka.
Nampak, Henry yang saat ini memakai celemek, mulai masuk membawa sebuah nampan, yang sepertinya berisi masakan hangat, sup daging dan nasi, juga beberapa lauk lainnya.
Anya yang menatap pemandangan itu segera menjadi heran dan kaget.
"Kamu sudah bangun? Untunglah, sangat kebetulan Aku baru saja menyelesaikan masakanku, kamu pasti lapar bukan? Ini makanlah, aku pikir kamu akan menyukainya," kata Herny dengan senyuman ramahnya, dan meletakkan makanan di meja samping tempat tidur.
Anya jujur merasa sangat kaget, lebih kaget dari pada tahu dirinya hamil, saat melihat sikap Tuan Muda itu yang tiba-tiba berubah 180 derajat.
Tuan Muda itu repot-repot memasak untuknya?
Terlebih repot-repot membawanya ke kamar?
Seorang Henry Achilles?
__ADS_1
Apakah dia baru saja di rasuki mahluk halus?
Hal-hal ini benar-benar sangat tidak wajar.
Atau mungkin dirinya masih di alam mimpi?
Henry melihat tentang bagaimana wajah Anya tiba-tiba menjadi pucat, seolah sedang ketakutan seperti itu.
"Apakah ada yang masih sakit? Bagian mana yang sakit? Atau kamu merasa mual?"
Terlihat Henry segera mendekati Anya, dan mencoba untuk memeriksa suhu badan Anya, mungkin saja demam mendadak?
Anya yang mendapatkan sentuhan tiba-tiba itu segera mundur.
Sentuhan itu terasa hangat, itu artinya bukan mimpi?
"Anya?"
Anya yang mendengar suara itu segera sadar, dan secara refleks berkatanya.
"Kamu benar-benar Tuan Muda Henry Achilles?"
Henry yang tiba-tiba ditanya soal jati dirinya itu, segera menunjukkan ekspresi cemberut dan berkata,
"Menurutmu siapa lagi? Siapa lagi yang memiliki wajah tampan ini kalau bukan Henry Achilles?"
Anya yang mendengar kata-kata penuh kepercayaan dari dari pria yang ada di hadapannya itu segera mengangguk.
Ya, orang ini sepertinya benar-benar Tuan Muda Henry Achilles.
Mungkin dia tiba-tiba sakit atau sesuatu, kepalanya mungkin baru saja terbentur?
Itulah kenapa dia jadi seperti ini?
Jika Tuan Muda ini terkena gagar otak kan gawat!!
Henry sekarang yang terkejut dengan sentuhan itu, lalu segera menyentuh tangan Anya yang ada di kepalanya.
"Ada apa denganmu yang menyentuhku tiba-tiba? Apakah kamu baru saja ingin menggodaku?"
Anya yang ditanya itu hanya segera menjawab dengan jujur,
"Aku hanya sedikit khawatir, mungkin kamu baru saja terbentur dan mengalami beberapa gagar otak,"
Ekpersi Henry segera menunjukkan rasa kesal dan mulai berteriak sedikit marah,
"Siapa yang kamu kira gagar otak? Aku tidak terbentur apapun!!"
Anya yang mendengar itu, sedikit lega, karena Tuan Muda itu sepertinya baru saja pulih seperti biasanya, dan memang tidak ada cedera apapun di kepalanya.
Henry lupa kalau dirinya tiba-tiba marah itu, segera menutup mulutnya.
Dirinya ingat tidak boleh marah, tidak bisa marah pada Anya sekarang?
Henry mencoba menahan diri dan berkata dengan lembut.
"Aku benar-benar tidak sakit, kamu tidak perlu khawatir harusnya aku yang khawatir padamu,"
Anya yang mendengar kata-kata lembut itu segera kaget lagi, namun kali ini Anya hanya diam.
"Ah, benar, mari coba Supnya dulu, Aku yakin kamu lapar, Aku akan membantumu mencoba mendinginkan Supnya, ini masih terlalu panas untuk langsung dicoba,"
Heny mengambil sup dengan sendok, lalu meniupinya, hingga terasa tidak terlalu panas dan segera mengarahkan sendok itu kepada Anya.
__ADS_1
Anya sendiri, segera menerima suapan itu tanpa kata-kata.
Dan herannya, sup itu benar-benar enak!!
Apakah itu benar-benar masakan buatan Tuan Muda itu?
"Kenapa dengan ekpersi mu? Apakah kamu tidak menyukai masakannya?"
"Ini enak,"
Henry yang mendengar pujian itu segera berkata dengan penuh percaya diri,
"Tentu saja, ini adalah buatan ku aku selalu percaya diri dengan masakanku, kamu adalah orang yang beruntung karena bisa memakan masakan hasil dari Tuan Muda ini, Aku tidak pernah memasak untuk orang lain sebelumnya,"
"Terimakasih,"
"Jadi, apakah kamu perlu aku bantu untuk makan?"
Anya jelas merasa aneh untuk disuapin semacam ini.
Tuan Muda yang ada di depannya jelas terasa aneh.
padahal terakhir kali sebelum dirinya susan Tuan Muda itu masih marah marah padanya.
"Tidak apa-apa, aku tidak selemah itu dan masih bisa makan,"
"Hah, padahal aku sudah menawarkannya secara khusus,"
"Aku hanya merasa aneh, denganmu yang seperti itu, hampir saja aku mengira kamu gagar otak atau kesurupan"
Henry yang mendengar kata-kata jujur itu segera mengajukan ekspresi cemberut nya dan berkata lain,
"Jadi itu alasanmu memeriksa tapi aku kira kamu mengkhawatirkan ku ternyata malah mengira Aku sakit semacam itu?"
"Maafkan Aku, aku hanya stagen kenapa tindakanmu begitu,"
"Aku hanya ingin bersikap baik padamu apakah tidak boleh?"
"Tentu saja boleh hanya saja aku merasa tidak terbiasa,"
"Kamu mulai sekarang harus terbiasa," kata Henry lagi.
Anya yang mendengar itu entah kenapa jadi merasa canggung.
"Emm, kamu... Kamu tidak marah padaku?" Tanya Anya lagi.
Henry, yang ditanya itu jelas mengerti apa maksudnya.
"Aku tidak marah, mari lupakan soal hal-hal sebelumnya. Aku tidak akan marah padamu,"
Kata-kata itu diucapkan dengan tulus, membuat Anya lagi-lagi merasa cukup kewalahan.
Sungguh, kenapa Tuan Muda ini mendadak jadi baik?
"Sungguh?"
"Iya, sungguh. Aku tidak akan marah padamu lagi, jadi segeralah makan makanan itu, Aku yakin kamu lapar, kamu harus menjaga kesehatanmu dengan baik, aku sudah memastikan sayur yang cukup di sup itu, jadi pastikan di makan semua sampai habis? Mengerti?" Kata Herny lalu mulai menyiapkan meja kecil yang bisa di letakan di tempat tidur, agar Anya bisa makan dengan nyaman.
Anya lalu segera mengikuti kata-kata Tuan Muda itu.
Hanya...
Rasanya benar-benar aneh...
__ADS_1
Namum setidaknya dirinya merasa cukup lega karena Tuan Muda itu tidak marah padanya.