
Melihat Henry malah marah gara-gara Sup yang panas, Anya hanya bisa meminta maaf soal itu, dirinya sempat lupa kalau Supnya panas.
"Hpmh, sudahlah selesaikan saja acara memasak itu, Aku akan pergi mandi dulu, jangan lupa masaknya yang enak ya,"
Henry memerintahkan Anya dengan nada arogan seperti biasanya, segera pergi dari dapur.
Anya juga langsung segera kembali melanjutkan sesi memasaknya.
Sampai beberapa saat berlalu, ketika makan malam tiba, Henry sudah siap di meja makan, dan Anya segera membawa nampan berisi dua mangkuk Sup, dan juga ada nasi.
Henry menatap masakan itu dengan tidak sabar, karena aromanya terlihat cukup lezat.
Sampai kemudian, Henry melihat sayuran yang ada di dalam Sup.
"Apa-apaan sayuran di dalam supmu kenapa potongannya sangat aneh?"
Ya, potongan sayuran disana cukup besar besar dan bahkan ada bentuknya yang tidak karuan, bahkan masih ada sayur yang masih utuh berbentuk daun.
Anya juga melihat hal ini hanya bisa memalingkan wajahnya karena merasa sedikit mulu.
"Aku memang kurang pandai untuk memotong sayuran,"
"Hah, Apakah kamu tidak pernah belajar memasak dari Ibumu atau bagaimana?"
Ketika di tanya itu, ekpersi Anya segera menunjukkan wajah yang cukup sedih.
"Aku sebenarnya sudah tidak memiliki Ibu,"
Henry menatap Anya dengan pandangan tidak percaya.
"Apa? Kamu jangan coba-coba berbohong padaku dan mencari simpati, jelas Aku pernah melihat Ibumu saat Pernikahan kita,"
"Dia sebenarnya adalah Ibu Tiriku, Ibu Kandung ku sudah lama meninggal sejak Aku kecil, Sherly dan Aku hanya saudara tiri,"
Henry tiba-tiba memiliki perasaan yang cukup rumit setelah mendengar itu.
"Kamu masih mending memiliki seorang Ayah,"
Anya ingat bagaimana Pria di depannya itu, saat ini tidak memiliki orang tua.
Apalagi, Anya teringat bahwa Ayahnya saat ini masih koma di Rumah Sakit.
Tentu saja, Anya akan pergi menjenguknya sesekali, untuk melihat keadaannya.
Anya juga merasa, pembicaraan ini jelas memiliki topik yang cukup tidak begitu baik jadi dia sekarang mengalihkan pembicaraan.
"Semua orang pasti memiliki kesulitan yang sendiri sendiri. Aku bahkan kesulitan untuk memasak ini, kenapa kamu tidak segera mencoba masakan itu?"
Henry lalu segera menyingkirkan perasaan aneh di dalam hatinya dan menatap kearah sub yang ada di depannya yang memiliki tampilan yang cukup mencurigakan.
"Kamu tidak mencoba meracuniku bukan?"
Anya lalu langsung memakan Sup di mangkuknya dengan santai.
Anya merasa setidaknya rasanya cukup lumayan.
Kemudian, Anya mengabil satu sendok sup lagi, dan meniupinya sampai dingin, kemudian memberikannya pada Henry.
Henry juga secara refleks membuka mulutnya, menerima suapan itu.
Henry segera memberikan komentar setelah mencicipinya.
__ADS_1
"Ini memiliki rasa yang lumayan, kamu dinas masih harus memiliki resep yang bagus untuk sup seperti ini rasanya masuk sedikit kurang,"
Anya sendiri juga tahu, jika rasa di dalam sup ini benar-benar pas-pasan.
Hah, mungkin dirinya memang setidaknya harus memanggil ardina itu untuk menghajar iya memasak the juga bisa berbagi resep padanya.
Jelas sekali, untuk memuaskan Tuan Muda yang ada di depannya itu merupakan hal yang sangat sulit.
Henry walaupun bilang seperti itu, tetap menghabiskan Sup dalam mangkuk itu, entah itu lapar atau karena memang Henry menikmatinya?
Anya yang melihat pria di depannya itu menikmati masakan buatannya, merasa cukup puas.
Ya, kenapa dengan perasaan hangat yang dimiliki ini?
Anya tiba-tiba merasa frustasi sendiri dengan perasaannya yang muncul tiba-tiba ini, dan mengalihkan pikirannya padahal hal lainnya.
Makam malam itu, berakhir dengan tenang dan keduanya kembali ke kamar tidur.
Anya lalu menatap kearah meja di samping tempat tidur yang berantakan, dan Henry yang menata hal-hal itu.
"Apa itu?" Tanya Anya penasaran.
"Ini adalah rancangan dan prototipe dari produk yang akan Perusahaan launching bulan depan,"
"Huh? Kenapa kamu membawa hal-hal sepenting itu ke sini?"
"Kenapa memangnya? Ini toh rumahku, aku berhak membawa apapun."
Anya memilih tidak berkomentar lagi, dan malah Anya ingat sesuatu lagi.
Tepat setelahnya Anya mengabil hadiah yang sebelumnya dia siapkan itu, dan memberikannya pada Henry.
Henry awalnya cukup sibuk dengan prototipe produk di hadapan, lalu segera meletakkan hal itu dan menatap sebuah kantong belanja dengan ekpresi heran.
"Ya, itu hadiah dariku,"
"Tapi kupikir saat ini aku sedang tidak terulang tahun," kata Henry dengan heran sambil menatap kantong belanja di depannya itu yang tertutup rapat.
"Apakah Tuan Muda terulang tahun ketika mendapatkan sebuah hadiah? Pokoknya ini sebuah hadiah untukmu tidak perlu terlalu memikirkan soal alasannya,"
"Kamu aneh,"
Henry sejujurnya merasa sangat senang dengan hadiah ini, dan segera membuka tempat hadiah itu dan terkejut ketika isinya adalah satu set pakaian.
"Ini...."
"Ya,b ini salah satu baju yang aku rancang, Aku tidak tahu apakah itu memenuhi selera mu namun aku hanya memberikannya sebagai hadiah, karena aku pikir itu akan serasi untuk kamu pakai saja,"
Henry mengambil salah satu baju yang ada di situ dan menatapnya, mananya melia sesuai dengan selera nya juga bentuknya memang cukup unik, hal-hal ini memang sejujurnya sangat bagus.
Namun jelas, Henry tidak akan memuji wanita yang ada di hadapannya itu.
"Hpmh, belum tentu juga aku akan memakainya,"
Anya mendengar itu hanya segera berkata,
"Ya, itu terserah padamu mau kamu apaan setelahnya aku hanya memberikan hadiah sebagai sebuah niat baik,"
Henry lalu segera berpikir sesuatu, dan sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya.
Henry segera menarik Anya kedalam pangkuannya.
__ADS_1
Saat ini mereka berdua memang sudah ada di kamar tidur.
"Kalau begitu aku akan memberikan balasan hadiah padamu," kata Henry dengan senyuman liciknya.
Anya jelas merasa memiliki firasat buruk setelah mendengar hal hal itu.
'Hadiah' disini, bukan berarti sebuah hadiah yang nyata.
Itu di awali dengan sebuah ciuman sederhana.
Dan berakhir dengan satu lagi, malam panas dan bergairah untuk mereka berdua.
Namun kali ini, Henry melakukannya dengan cukup lembut, membuat Anya benar-benar merasa melayang di atas awan, terbuai dengan rasa kesenangan duniawi.
"Ah~ Henry... Ini sangat enak,"
"Aku suka bagaimana kamu menyebut namaku, tentu saja aku akan melakukannya dengan baik, dan ingat kata-kataku sebelumnya, jangan pernah tunjukkan wajah dan ekspresi ini kepada siapapun,"
Terlihat ada nada obsesi tertentu ketika Henry membisikan itu ditelinga Anya.
####
Di pagi hari yang indah, ketika Anya bangun, dirinya segera merasakan ada di sebuah tempat tidur yang empuk dan nyaman!
Anya hampir saja kaget, karena dirinya tidur di tempat tidur!
Semalam, apakah dirinya terlalu lelah hingga ketiduran di sini?
Apakah Tuan Muda menyebalkan itu tidak menyuruhnya tidur di lantai?
Henry saat ini tidur disamping Anya, segera ikut terbangun juga karena suara ponsel.
Ya, ponsel Anya saat ini sedang berbunyi.
"Berisik, itu segera kamu angkat saja ponselmu itu,"
Anya memilih untuk tidak bertanya apapun daripada malah menyinggung Tuan Muda itu.
Telepon itu berasal dari adiknya, Sherly.
"Ya Sherly, ada apa?"
'Ayah Sudah Sadar, dan saat ini dalam keadaan yang cukup baik berdasarkan pemeriksaan dari dokter,'
Anya yang mendengar kabar bahagia itu jelas merasa sangat senang.
Astaga...
Benar?
Ayahnya akhirnya sadar dari komanya?
"Ada apa?" Tanya Herny yang menjadi penasaran ketika melihat ada ekspresi terkejut dari wanita yang ada di sampingnya itu.
Anya merasa sangat senang itu, secara refleks memeluk Henry.
"Ayahku akhirnya sadar,"
Henry cukup terkejut dengan pelukan dan nada ceria yang dikatakan oleh Anya.
Namun dirinya tidak menolak pelukan itu, pelukan ini benar-benar terasa sangat hangat entah bagaimana.
__ADS_1
Hah, Henry benar-benar menjadi semakin bingung dengan dirinya sendiri.
Tapi melihat Anya senang seperti ini, dirinya juga merasa senang.