Istri Mainan Sang Tuan Muda

Istri Mainan Sang Tuan Muda
Episode 57: Apakah dia membenciku?


__ADS_3

Anya merasa perutnya sedikit tidak nyaman, namun hanya itu, tidak sesakit itu.


Henry disisi lainnya, jelas merasa sangat cemas.


"Kenapa denganmu, Anya? Apakah kamu baik-baik saja? Kita jelas harus ke Rumah Sakit segera," kata Henry dengan cemas dan panik.


Anya lalu mengambil minyak angin di tasnya dan berkata,


"Tidak apa-apa, ini hanya nyeri ringan, tidak separah itu juga,"


Anya segera mengunakan minyak angin pada perutnya.


Henry yang melihat Anya terlihat cukup tenang itu, tidak tahu harus berkata apa namun tetap saja, perasaan tidak enak di hanti Henry segera muncul.


"Kamu yakin itu tidak apa-apa?"


"Seharusnya tidak apa-apa memang terkadang suka nyeri sedikit seperti ini, biasanya hanya Istirahat sebentar dan di beri minyak angin akan sembuh,"


Henry yang baru mendegar soal kelurahan Anya itu, segera menujukan wajah pucatnya.


"Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku jika sering nyeri seperti itu? Astaga... Kamu ini... Kenapa kamu tidak memperdulikan kesehatanmu sendiri?"


"Astaga, Aku hanya tidak ingin terlihat mencari perhatian dan sedikit-sedikit mengeluh untuk hal-hal kecil,"


Mendengar perkataan Anya barusan, Henry benar-benar tidak mengerti soal wanita itu.


Merasa jika Anya tidak masuk akal.


"Hal-hal kecil katamu? Namun, ini adalah tentang anak kita, jelas ini bukan hal kecil sama sekali,"


Anya yang mendengar itu, jujur tidak tahu harus berkata apa, sejujurnya kemarahan di hati Anya masih tersisa, tentang Tuan Muda yang ada di hadapannya ini, yang masih bermain-main di luar, bahkan mencoba mempermainkan adiknya Sherly.


Apakah Tuan Muda ini benar-benar peduli dengan calon anak mereka?


Hanya memikirannya saja membuat kemarahan semakin muncul.


"Aku tahu soal kondisiku sendiri jadi sebaiknya kamu jangan berisik!"


Hanry yang tiba-tiba mendapatkan bentakan Itu jujur tidak tahu harus bersikap seperti apa, hanya merasa kecewa kenapa Anya menjadi keras kepala.


"Anya, Kamu itu jangan menyepelekan beberapa hal Mari Sekarang kita ke rumah sakit saja, Pak Supir, putar ke arah Rumah Sakit Y,"


Anya yang mendengar keputusan itu segera berkata lagi,


"Tidak! Aku tidak mau ke rumah sakit! Ini jelas tidak kenapa-napa, Aku hanya butuh Istirahat di Rumah, lagipula ini mungkin aku hanya terlalu capek dan kebanyakan pikiran,"


"Apa yang kamu pikirkan? aku sudah bilang padamu untuk tidak terlalu banyak berpikir dan menjadi santai,"


"Apa? Bukannya kamu yang selalu membuat masalah dan malah membuatku pusing seperti ini? Jadi sekarang kita sebaiknya Pulang ke apartemen! Tidak perlu ke rumah sakit!" Kata Anya dengan marah.


Emosi Anya memang cukup tidak terkendali, terutama tadi bahkan ketika di Pesta, Henry juga sempat di ruangkul-rangkul oleh Tiara dengan tidak tahu malu.


Tadi setelah pesta berakhir, Tiara kembali datang, dan seperti biasanya bersikap sok ramah pada Anya, dan menempel pada Henry.


Membuat Anya semakin memiliki mood buruk.


Hanry yang mendengar tingkat keras kepala itu hanya bisa berkata lagi,


"Baik, kita tidak ke rumah sakit Mari segera pulang dan istirahatlah aku hanya akan memanggil dokter ke rumah apakah itu tidak masalah?"


Henry mencoba untuk lebih mengalah menghadapi wanita yang ada di hadapannya ini.


Tidak ada gunanya hanya berdebat dengannya ataupun marah-marah, itu mungkin hanya akan membuat Anya menjadi semakin stres.


"Ya, itu lebih baik,"


Lalu keduanya kembali menjadi diam saat perjalanan menuju ke apartemen.


Anya sendiri, memang masih merasakan nyeri di perutnya, sepanjang perjalanan.

__ADS_1


Dan ketika sekarang mereka tiba di lift, Anya merasa rasa sakit diperutnya semakin buruk.


Henry melihat kondisi Anya yang saat ini menjadi semakin terlihat tidak baik.


"Anya? Kamu tidak apa-apa? Astaga, udah aku bilang tadi sebaiknya kita ke rumah sakit,"


Henry yang cemas, mencoba untuk membantu Anya berdiri.


"Ukhh... Perutku hanya tambah terasa kram..." Kata Anya lalu mulai memegangi perutnya, Anya menjadi hampir jatuh, karena tiba-tiba merasa lemas.


Henry jelas menangkap Anya dengan sigap, mencoba mengendongnya.


Namun hal-hal yang ada di rok yang Anya pakai, membuat Henry panik.


Ada darah disana...


Darah berwarna merah merembes keluar.


"Anya... Ini...."


Anya sendiri juga menjadi panik ketika melihat ada darah yang keluar dari ujung rok yang di pakainya itu.


Tidak...


Tidak ini...


Henry yang panik segera mengendong Anya keluar lift dan menuju mobil, buru-buru menyuruh Supir untuk ke Rumah Sakit terdekat, namun sekali lagi, Apartemen Henry, cukup jauh ke Rumah Sakit.


Selama perjalanan, Henry di penuhi dengan rasa ketakutan, namun tidak berani berkata apa-apa, takut malah membuat kondisi Anya menjadi semakin parah.


Henry ingin marah...


Namun tidak bisa...


Hanya saja, jika Anya tidak begitu keras kepala..


Namun percuma ketika memikirkannya sekarang.


Henry menjadi semakin cemas melihat sekarang Anya mulai kehilangan kesadarannya.


Henry segera membuka Tas Anya, mencari minyak angin, dia menemukan minyak angin, namun selain itu menemukan sebuah bungkusan obat yang terlihat aneh.


Deg


Obat apa ini...


Hanry tentu menjadi semakin memiliki banyak ketakutan.


Segera memasukan bungkus obat ke bajunya.


Hari sudah begitu larut ketika Henry sampai di Rumah Sakit.


Dengan putus asa, Henry menunggu Dokter melakukan pemeriksaan pada Anya.


"Maaf, Tuan Muda, Istri anda baru saja mengalami Keguguran, calon bayi yang ada di perutnya sudah tidak bisa diselamatkan lagi,"


Henry yang mendengar itu segera merasa hancur, seolah hatinya tidak kuat untuk mendengar semua kabar buruk ini.


"Tidak, ini tidak mungkin bukan?"


"Maaf,"


Dokter yang melihat ekspresi Henry, hanya bisa menunjukkan ekspresi menyesal.


"Kenapa? Kenapa ini bisa terjadi?"


Dokter itu lalu segera berkata,


"Sebenarnya setelah melakukan beberapa pemeriksaan kami curiga bahwa, Istri anda meminum beberapa obat-obatan tertentu, yang memicu keguguran ini.

__ADS_1


Hanry yang mendengar kata-kata dokter itu jelas tidak percaya.


Ya, tidak mungkin Anya melakukannya...


Henry yakin, Anya bukan orang semacam itu...


Henry mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika hal itu tidak mungkin.


Namun kemudian, Henry menjadi ingat dengan bungkus obat yang di bawanya.


Henry segera menyerahkan ke dokter obat apa itu.


Tentu dokter juga awalnya tidak tahu, dan akan meminta laboratorium untuk menguji obat itu.


Dan sekarang, Henry hanya memiliki ekspresi putus asa sambil menatap Anya yang saat ini masih terbaring di ranjang Rumah Sakit.


Dokter bilang, kondisi Anya sudah stabil, dan tidak ada gejala lainnya, hanya saja bayi dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan.


Dan karena itu, bahkan belum sampai satu bulan, jadi tidak perlu ada operasi.


Hanry mantap wajah tidur itu.


"Anya... Aku yakin, ini bukan kamu kan? Entah bagaimana aku yakin ada orang yang menjebak kamu agar meminum obat itu bukan?"


Anya Tentu saja tidak bisa menjawab karena saat ini masih pingsan.


"Ya, Anya kamu tidak melakukannya bukan? Kamu pasti mengharapkan anak kita lahir juga,"


Henry sekali lagi mencoba untuk meyakinkan dirinya untuk percaya pada wanita yang ada di hadapannya itu.


Wanita yang juga adalah orang yang dirinya cintai.


Kemudian, Henry ingat wajah pucat Anya ketika dia tahu bahwa dia dulu hamil, seolah-olah hal-hal itu adalah hal-hal yang buruk.


Henry awalnya percaya, jika Anya pasti akan segera terbiasa dan menerima kehamilannya itu.


Lalu kemudian, Henry menjadi teringat dengan semua tindakannya di masa lalu.


Dimalam bahkan dirinya pernah melecehkan dan memaksa Anya untuk melakukan hal semacam itu, bahkan walaupun Anya tidak melawan...


Sekarang, semua hal-hal yang Henry lakukan pada Anya, segera mulai muncul dalam pikirannya.


Tentang bagaimana, dirinya memperlakukan Anya dengan buruk.


Menyuruhnya berlutut, merendahkan harga diri Anya...


Menyuruh Anya bahkan tidur di lantai setelah mereka melakukannya.


Memaksa Anya untuk tetap melayaninya, bahkan walaupun Anya sedang dalam kondisi kurang baik.


Mengatakan hal-hal buruk tentang Anya di depannya, menghina Anya..


Memperlakukannya dengan buruk...


Hanya untuk sekedar melampiaskan rasa marahnya..


Bahkan dengan egois, memutuskan untuk memiliki seorang Anya dengan Anya, tanpa sepertujuan Anya.


Dan bahkan awalnya berniat bermain-main dengan sepasang Kakak dan Adik itu.


Henry yang memikirkan tindakannya itu, tiba-tiba merasa bersalah.


Jika dipikirkan lagi, dengan semua tindakan yang dirinya lakukan wajar untuk Anya mungkin membenci dirinya, jijik akan tindakan yang dia alami...


Anya selalu memiliki rencana untuk bercerai...


Apakah Anya benar-benar sangat membenci dirinya ini?


Hanry yang mulai memikirkan kemungkinan itu merasa begitu frustasi.

__ADS_1


Jadi akan sulit untuk dia....


__ADS_2