Istri Mainan Sang Tuan Muda

Istri Mainan Sang Tuan Muda
Episode 63: Menunggu


__ADS_3

Hari itu, setelah mendapatkan beberapa nasehat dari Kakeknya, Henry jelas sudah mulai memiliki keberanian untuk melaksanakan rencananya.


Ya, Henry sekarang sudah mengumpulkan tekadnya untuk benar-benar bisa bertemu dengan Anya.


Henry sekarang tidak peduli tentang apa yang mungkin akan terjadi, apakah Anya akan menolaknya atau tidak.


Benar apa Kakeknya, ini mungkin karena selama ini dirinya tidak pernah mengejar siapapun.


Jadi, dirinya takut ketika menghadapi sesuatu yang disebut penolakan.


Namun terus apa?


Dirinya mencintai Anya.


Hanya karena mungkin di tolak, bukan berarti itu mematahkan langkah yang dirinya miliki atau mematahkan cinta yang ada di hatinya.


"Baik, mari sekarang membeli Bunga dan beberapa hal yang Anya suka?"


Setelah memikiran itu, Henry segera pergi membeli beberapa hal sebelum bertemu dengan Anya.


####


Ini adalah suatu siang, Anya sekali lagi menjalani hari-harinya yang sepi.


Jam makan siang baru saja dimulai, namun Anya masih tetap pada pekerjaannya, fokus membuat desain seolah lupa waktu.


Asisten Anya, yang berada di luar ruangan jelas menjadi cemas kepada atasannya yang belakangan ini bersikap aneh.


Dia tidak tahu, kenapa Anya tiba-tiba kembali ke Apartemennya yang didekat Butik?


Apakah ada masalah dengan Suaminya atau sesuatu?


Namun ketika di tanya, Anya hanya menjawab jika dia memiliki beberapa hal yang harus di urus di Butik, karena sebentar lagi banyak pameran, jadi lebih efisien untuk tinggal di dekat kantor, jadi bisa mulai mengawasi juga dalam proses pembuatan contoh pakaian.


Namun karena khawatir pada Anya, Sang Asisten akhirnya mengetuk pintu dan masuk.


"Ada apa?" Tanya Anya bingung karena tiba-tiba Asistennya masuk.


"Anya, Bukankah sebaiknya kamu harus makan siang?"


"Owh, itu Apakah sudah waktunya jam makan siang? Aku hanya tidak sadar saja jam berlalu, namun nanti saja aku makan saat ini aku sedang tanggung untuk mengerjakan salah satu desain ku,"


"Astaga, Anya Bukankah kamu lebih baik tetap menjaga kesehatanmu? Kamu itu harus makan teratur,"


"Sungguh, ini tidak seperti aku melewatkan makan siang sering atau bagaimana,"


"Anya, Kamu pikir aku tidak sadar? belakangan ini kamu bahkan lebih banyak melamun apalagi ketika jam makan siang kamu juga lebih sering jarang makan tepat waktu, Aku hanya bertanya sekali lagi kali ini bukan sebagai asistenmu tapi sebagai sahabatmu yang mengkhawatirkanmu, Sebenarnya ada apa?"


Anya yang tiba-tiba mendapat pertanyaan itu segera terdiam, namun segera berkata dengan tenang,


"Sungguh tidak ada apa-apa ini hanya karena ada begitu banyak deadline belakangan,"


"Baiklah jika kamu tidak ingin cerita. Namun Anya, Aku hanya ingin memberimu beberapa nasehat juga, apapun masalahnya, kamu jangan hanya lari begitu, itu jelas tidak akan menyelesaikan masalahmu, kamu hanya bekerja dan bekerja, aku yakin itu pasti agar kamu lupa? Namun semakin kamu ingin melupakannya itu akan membuatmu semakin ingat, aku hanya berharap kamu segera menyelesaikan masalahmu,"


Setelah mengatakan itu, Asisten Anya segera pergi dari sana, meninggalkan Anya sendirian lagi di Ruangannya.


Anya yang sendirian di ruangan itu segera memejamkan matanya.


Ya, kurang lebih Anya mengerti apa yang dikatakan oleh Asistennya ini.


Dirinya memang mencoba untuk melupakan masalah yang dimilikinya namun melupakan bukan berati masalah selesai.


Namun sebenarnya apa masalahnya?


Anya tidak tahu.


Apa sebenarnya yang mengganggu dirinya?

__ADS_1


Apakah soal dirinya yang jauh cinta pada Tuan Muda itu?


Namun apa?


Bahkan walaupun dirinya memiliki perasaan tuan muda itu sudah meninggalkannya dan mencampakkannya.


Bukan berarti, dirinya pergi atau lari, dirinya hanya ditinggalkan begitu saja.


Bahkan Tuan Muda itu, tidak ingin lagi melihat wajahnya.


Daripada terus terlalu pusing memikirkannya, akhirnya Anya memutuskan untuk pergi makan siang, dari pada membuat Asistennya atau semua orang Nanti malah khawatir padanya dirinya tidak ingin membuat orang-orang khawatir.


Hanya, saja ketika dirinya sedang makan, dirinya teringat soal Tuan Muda itu.


Bagaimana mereka dulu sering makan bersama.


Dan sekarang makan sendirian terdengar terlalu hambar.


Pada akhirnya, Anya yang tidak dalam mood baik itu, memilih pergi ke Restoran yang agak jauh dari Butiknya, mungkin mencari makanan favoritnya?


Namun yang membuat Anya kaget, ketika tiba di Restoran Favoritnya itu, Anya melihat wajah yang familiar.


Itu...


Bukankah Henry?


Anya yang berada di pintu masuk itu segera bersembunyi di balik dinding sebelah pintu, agar dirinya tidak bertemu dengan Henry, atau agar Henry tidak melihat kearahnya.


Kenapa dia ada disini?


Lalu, kenapa dia membawa bunga segala?


Apakah sekarang dia sedang berkencan dengan wanita lainnya?


Ketika memikiran itu, Anya ingin marah, namun tidak bisa marah.


Yah, walaupun mereka belum benar-benar bercerai?


Anya juga menjadi binggung kenapa Tuan Muda itu belum mengirimkan surat cerai?


Sial, dia masih tetap kembali ke dirinya yang dulu dan suka bermain-main bahkan setelah semua yang terjadi diantara mereka.


Seolah-olah, hal-hal tidak pernah terjadi.


Hanya dirinya yang memikirkan soal ini?


Soal hubungan mereka, lalu masalah soal kehilangan calon anak mereka?


Hanya dirinya yang sedih?


Sedangkan Tuan Muda itu tidak terpengaruh dan hanya mulai mencari wanita lainnya?


Hanya memikirkannya, membuat Anya menjadi kesal.


Anya pada akhirnya, tidak jadi makan di restoran itu dan pergi dari sana.


####


Siang itu, Hanry yang baru saja memesan makanan kesukaan Anya di restoran favorit Anya itu, segera menuju ke Butik Anya, dengan bunga yang dia bawa.


Namun, Henry merasa kecewa karena para pengawal Anya bilang, Anya sedang keluar dan tidak tahu kapan akan kembali, karena katanya Anya pergi makan di Luar dan akan Meeting dengan Klaien setelahnya.


"Astaga, kenapa sekarang begitu sulit untuk bertemu dengannya?"


Jadi, Henry lalu kembali ke mobilnya, memutuskan untuk menunggu sampai Anya kembali.


Namun, jam terus berganti, sampai Butik mau tutup, tidak ada tanda-tanda Anya kembali, setelah dia bertanya pada pegawai di butik.

__ADS_1


Henry jelas merasa kecewa.


Jadi, Henry memutuskan untuk menuju ke Apartemen Anya, mungkin dia kembali?


Namun tepat ketika Henry turun dari mobil, sebuah pikiran tiba-tiba muncul.


Bagaimana jika Anya memang mencoba untuk menghindari dirinya dan tidak ingin bertemu?


Tunggu, Kakeknya sudah memberikan nasehat bahwa dirinya tidak boleh terlalu berprasangka buruk.


Henry mencoba untuk menenangkan pikirannya lalu segera memasuki apartemen itu.


Namun bener saja, ketika bel di tekan, tidak ada sahutan dari dalam seolah tempat itu tidak memiliki penghuni.


"Baiklah, aku hanya perlu menunggu sampai Anya pulang? Lagipula, dia pasti akan pulang bukan?"


Henry segera memutuskan untuk duduk didepan pintu Apartemen Anya, mencoba menunggu Anya kembali pulang.


Namun jam semakin larut, dan yang Hanry tunggu tidak kunjung datang.


Tentu, duduk di depan pintu Apartemen orang, bukan hal yang nyaman.


"Anya kenapa belum pulang juga?"


Henry menatap kearah jamnya yang sudah pukul tujuh malam.


"Apakah cek di butik?"


Henry ingat Butik sudah tutup.


"Apakah meeting dengan Klien begitu lama?"


Pada akhirnya, Henry mencoba untuk sabar dan tetap menunggu di situ.


Mungkin karena Henry terlalu lelah, dia ketiduran disana.


Namun orang yang dia tunggu tidak kunjung datang juga bahkan ketika malam akhirnya berakhir.


####


Ini adalah pagi yang baru, mungkin karena Anya tidur di Rumah Orang Tuanya yang cukup nyaman, Anya Akhirnya bisa tertidur lelap malam itu.


Anya pikir, tinggal di Apartemen sendirian mungkin tidak begitu baik sekarang, jadi Anya akhirnya memutuskan untuk menginap di Rumah Orang Tuanya.


Ya, Rumah itu selalu sedikit ramai jadi tidak membuat Anya begitu kesepian.


Pagi, Anya sedang mengobrol dengan adiknya, yang terlihat Sherly sedang antusias membicarakan jika dia akan pergi berlibur.


"Sherly, bagaimana jika Aku ikut?"


"Huh? Ikut? Maksud Kakak?"


"Ikut kamu berlibur,"


"Eh? Kakak kan sedang hamil, apakah tidak apa-apa? Lalu Suami Kakak?"


Anya tentu belum cerita soal keguguran dan lainnya.


"Tidak apa-apa dia pasti mengizinkannya. Aku hanya ingin mencari beberapa udara segar tidakkah itu tidak masalah? Berlibur selama beberapa hari jelas itu hal yang bagus,"


"Eh? Tentu saja bisa, namun Kak Aku pergi siang ini apakah tidak apa-apa? apakah aku perlu menunda acara liburan ini?"


"Tidak usah ditunda aku hanya akan ikut, Aku akan mencoba mencari tiket hari ini Mari nanti bertemu di Hotel tempat kamu menginap,"


"Tentu saja,"


Ya, Anya memutuskan untuk pergi dulu berlibur, mungkin dirinya benar-benar butuh liburan, sangat melelahkan berada di kota ini yang membuat dirinya selalu ingat tentang Tuan Muda itu.

__ADS_1


Mungkin liburan di tempat yang jauh bisa membuatnya lupa....


__ADS_2