
Ini adalah sebuah hari yang baru, hal pertama yang Anya lihat, ketika dirinya bangun tidur tentu saja adalah wajah Henry.
Ini sudah cukup lama sejak dirinya bangun di tempat tidur yang sama dengan Tuan Muda itu, namun masih terasa cukup aneh.
Apalagi, sikap Tuan Muda itu, yang tiba-tiba menjadi cukup baik padanya, tidak terutama kebaikan dari tuan muda itu beberapa hari ini cukup meresahkan.
Misalnya soal hadiah pot bunga darinya.
Anya masih tidak mengerti tentang hadiah-hadiah tanaman bunga yang diberikan.
Awalnya tuan muda itu hanya memberikan dirinya satu buah tanaman mawar.
Dirinya yang mendapatkan hadiah tentu saja hanya berterima kasih dan bilang menyukai Hadiah itu hanya sebagai sopan santun.
Namun mana tahu, keesokan harinya tuan muda itu memberikan dirinya tanaman lagi, dan keesokan harinya lagi.
Apakah Tuan Muda itu ingin dirinya berkebun atau sesuatu?
Tidak hanya hal itu, ketika Tuan Muda itu pulang dari kantor, tiba-tiba saja dia sering membawa hal-hal yang sekiranya tidak perlu.
Misalnya, katanya kebetulan lewat toko perhiasan lah, atau Kebetulan lewat toko sepatu, atau lewat toko Kue.
Selalu ada berbagai macam hal yang Tuan Muda itu bawa.
Terlebih, Tuan Muda itu suka mengirimkan pesan padanya.
Bahkan ketika dirinya sedang bekerja, bisanya menanyakan beberapa hal soal kegiatannya atau apakah dirinya sudah makan?
Sebuah perhatian baru, yang membuat Anya kewalahan.
Jadi, ini mau tidak mau membuat Anya berpikir lagi, apakah Tuan Muda itu menyukai dirinya?
Atau ini hanya karena dirinya mengandung calon anak Tuan Muda itu?
Anya sekali lagi tidak pernah mengerti jalan pikiran Tuan Muda itu.
"Anya? Kamu sudah bangun? Begitu pagi?"
Anya tentu saja menjadi kaget ketika Taun Muda disampingmu yang dari tadi dirinya tatap membuka matanya itu tiba-tiba.
Anya entah kenapa takut ketahuan, jika dirinya menatap wajah Tuan Muda itu dari tadi.
"Hanya... Ingin bangun pagi saja,"
"Ya, bangun pagi adalah sesuatu yang bagus memang. Tapi kan ini hari libur kenapa kamu tidak tidur lebih lama?"
Anya lalu segera ingat sesuatu,
"Bukankah hari ini Kakek Tuan Muda akan mengadakan sebuah Pesta Perayaan kecil-kecilan?"
Henry yang ditanya itu segera ingat.
Ya, Kakeknya memang pernah ingin meminta untuk merayakan soal kehamilan Anya, awalnya itu adalah rencana pesta besar-besaran.
Namun jelas, Henry menolak Pesta yang begitu besar, karena takut nanti Anya malah menjadi kewalahan dan lelah untuk bertemu dengan setiap tamu.
Jadi itu hanya menjadi sebuah pesta perayaan kecil bagaimana hanya beberapa kerabat dekat yang diundang.
"Itu benar sekali, namun toh pestanya masih nanti siang kenapa mesti buru-buru?"
"Yah, Aku hanya ingin mengecek gaun nanti yang aku pakai, lagi pula aku memang tidak terbiasa bangun siang,"
Hanry lalu segera mengaguk, dan ikut bangun, pertama yang dirinya lakukan adalah memberikan ciuman selamat pagi di bibir Anya.
Anya tentu tidak terlalu keberatan dengan ciuman itu, karena memang Tuan Muda itu, dari dulu selalu menciumnya tiba-tiba seperti ini, seolah itu hal yang biasa.
Hanya saja, sekarang periode ciuman itu menjadi lebih sering dari sebelumnya.
Namun sekali lagi, Anya tidak bisa menolak itu hanya menerimanya secara diam-diam.
Hanry sendiri, makin merasa tidak karuan, hanya dengan ciuman saja, jantungnya sudah berdebar-debar seperti ini, membuat Henry merasa cemas sendiri Apakah Anya akan mendengarkan detak jantungnya yang keras itu.
"Lalu sarapan apa yang kamu inginkan, Anya?"
Anya yang ditanya itu tentu menjadi terkejut karena belakangan ini setiap pagi Tuan Muda itu memasuki untuknya.
"Aku rasa tidak perlu terburu-buru untuk menyiapkan sarapan, toh ini hari Libur,"
"Tidak bisa, kamu itu harus makan tepat waktu tidak boleh sampai telat sarapan,"
"Tidak apa-apa pula,"
__ADS_1
Hanry lalu segera bertanya lagi,
"Lalu apakah ada yang ingin kamu makan? Aku akan membelikannya,"
"Emm, sebenarnya Aku tiba-tiba ingin Bubur Ayam dekat Apartemenku dulu. tapi itu cukup jauh jadi aku rasa tidak perlu Bagaimana kalau mencari di sekitar sini saja?"
"Apa? tidak masalah sama sekali kamu tunggu saja aku akan membelikannya untukmu,"
Anya diam-diam tersenyum mendengar jawaban itu, tidak mengira Tuan Muda itu akan repot-repot membelikan sarapan cukup jauh.
Rasanya cukup menyenangkan diberlakukan dengan baik seperti ini.
Anya hanya merasa dirinya mulai sedikit terbiasa dengan perlakuan baik.
Namun Apakah tidak apa-apa terbiasa dengan perlakuan baik ini?
Nanti Bagaimana jika Tuan Muda itu kembali mengabaikannya seperti sebelumnya?
Perasaan telah menerima suatu kenyamanan dan tiba-tiba ditinggalkan itu rasanya tidak menyenangkan.
Henry melihat tentang wanita yang ada di hadapannya itu tiba-tiba merubah ekspresinya menjadi...
Sedih?
"Anya? Kenapa denganmu kenapa ekspresimu seperti itu?"
Anya hanya segera mengatakan isi hatinya dengan terang-terangan,
"Kenapa kamu begitu baik padaku?"
Henry yang tiba-tiba ditanya itu segera memalingkan wajahnya,
"Memang apa yang salah jika aku baik padamu?"
"Aku... Aku hanya merasa sedikit tidak nyaman mendapatkan kebaikan tanpa pamrih seperti itu, aku takut tidak bisa membalas kebaikanmu,"
"Aku tidak pernah mengharapkan balasan apapun darimu Kenapa kamu itu begitu ribet memikirkan hal itu? Hanya terima saja apa adanya? Kenapa kamu selalu memikirkan begitu banyak hal tentang sesuatu yang simple?"
Anya tentu saja ingin menjawab jika dirinya takut terbiasa dengan kenyamanan dan kebaikan ini hingga mungkin masuk ke dalam hatinya lebih daripada yang dirinya pikirkan.
Hanya, Anya tidak berani untuk mengatakan kenyataannya dan hanya mengangguk ringan.
Perasaan semacam ini...
Apalagi perasan semacam ini untuk Tuan Muda itu?
Seseorang yang entah akan membuang dirinya kapan.
Sedangkan Henry juga mulai tenggelam dalam pikirannya memikirkan soal, kadang dirinya selalu bertanya-tanya juga soal isi pemikiran wanita yang ada di hadapannya itu.
Yang sepertinya terlalu banyak berpikir tentang semua hal yang dia lakukan, terlalu merencanakan hal-hal yang akan dia lakukan.
Sikapnya yang masih sedikit kaku...
Lalu, ekpersi yang dia miliki begitu dia terkejut.
Namun justru ini hal-hal yang Henry sukai.
Pagi itu berjalan dengan sebuah kedamaian kecil sekali lagi.
####
Siang itu di kediaman Keluarga Achilles, tengah diadakan sebuah pesta.
Tamu undangannya tidak cukup banyak hanya beberapa teman, atau kerabat dekat keluarga Arcilles.
Dan tentu saja teman-teman Henry juga diundang ke sana.
Hanzel datang bersama dengan Tiara dan Isacc.
Hazel lah, yang terlihat paling bersemangat dan antusias dengan pesta ini.
Karena dirinya begitu kaget, ketika tiba-tiba mendapatkan sebuah undangan yang dikirim ke ruang kerjanya.
Bagaimana bisa sahabatnya Itu mengirim undangan mendadak seperti itu?
Apalagi soal kabar baik yang baru diberitahu itu!
Bahkan dulu, Pernikahan Henry juga undangan baru datang H-3 sebelum Pesta!
"Henry, kenapa kamu tidak pernah memberikan kabar baik seperti itu padaku sebelumnya?" Protes Hazel setelah melihat temannya, yang saat ini sedang bersama Anya itu.
__ADS_1
Hanry yang bertemu teman-temannya itu hanya bisa berkata,
"Aku hanya ingin membuat kejutan buat kalian juga,"
"Astaga Kamu paling bisa membuat alasan, bahkan saat pernikahanmu itu jika aku tidak bertanya apakah kamu akan mengundangku?"
"Itu adalah perkara lain, Hazel. Jangan lagi,"
"Hah, baik-baik. Tapi Henry kamu benar-benar akan menjadi seorang Ayah sebentar lagi! Selamat kalau begitu, hah besok kalau Istrimu sudah lahiran Jangan lupa untuk memberitahu lebih awal agar aku bisa menyiapkan kado,"
"Sungguh Aku tidak membutuhkan kado darimu,"
"Lihat Tiara, Isacc, Henry ini benar-benar jahat pada kita"
Tiara yang ada di ruangan itu hanya bisa berpura-pura memasangkan senyumnya dan memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua.
Tiara jelas masih tidak suka bagaimana Istri Henry itu tiba-tiba hamil.
Hah...
"Selamat untuk kalian berdua ya," kata Tiara ramah.
Pembicaraan mereka cukup banyak, terutama karena Hanzel yang banyak bicara itu.
Tiara tentu saja menjadi tidak sabar dan kesal setiap kali, teman-temannya yang lain membahas soal kehamilan Anya, jadi Tiara segera pergi duluan dan menuju ke stan makanan karena kesal.
Tiara lalu mulai duduk disalah satu tempat duduk.
Kemudian, ada seorang Pria yang mendatangi gadis itu,
"Hallo, Tiara. Aku terkejut ketika mendengar kamu sudah pulang dari luar negeri,"
Tiara menatap ke arah pria yang memiliki wajah familiar lalu ekspresinya segera menjadi buruk,
"Stevan? Hah, Aku kira kamu tidak diundang di acara ini,"
"Astaga, mau bagaimanapun juga Kak Henry masih sepupuku, jelas saja keluargaku diundang,"
"Aku kira hubungan keluarga kalian buruk?"
"Tidak seburuk itu tentu saja, sejujurnya aku terkejut dengan Pernikahan Kak Henry tiba-tiba dengan Istrinya yang sekarang, karena aku pikir kamu dan Kak Henry cukup dekat? Ah, atau jangan bilang kamu di campakkan oleh Kak Henry?"
Tiara yang melihat sindiran dari pria itu jelas merasa kesal.
"Tolong jaga bicaramu Aku tidak pernah dicampakkan oleh siapapun,"
"Tapi, Tiara, lihatlah orang yang kamu kejar selama bertahun-tahun itu, malah menikah dengan orang lain... Astaga, kalau aku jadi kamu aku akan sangat marah... Apalagi melihat mereka begitu damai seperti itu,"
Tiara yang diajak bicara itu hanya bisa menahan emosinya.
"Diamlah saja,"
"Untuk seseorang yang dicampakkan kamu benar-benar cukup berani. Namun apakah kamu ingin tahu soal rahasia penting?"
"Rahasia penting apa?"
"Kamu mungkin tidak tahu, jika Anya itu di paksa untuk menikah dengan Henry,"
Tiara Sebenarnya cukup terkejut ketika tahu jika Stevan bisa tahu soal rencana pernikahan kontrak Henry itu.
Stevan juga melihat tentang bagaimana wanita yang ada di hadapannya itu tidak menunjukkan keterkejutannya merasa sedikit kecewa dan berkata lagi,
"Ah, jadi kamu sebenarnya sudah tahu?"
"Itu bukan urusanmu,"
"Sebenarnya ada rahasia lain yang ingin aku katakan,"
"Apa?"
"Wanita itu sebenernya mengiginkannya Harta Kak Henry,"
Tiara yang mendengar itu segera tertawa dan berkata,
"Stevan, kamu berani mengatakan orang soal hal itu Apakah kamu tidak berkaca soal dirimu sendiri?"
Stevan jelas saja merasa kesal ketika dikatakan seperti itu.
Padahal dirinya datang kesini dengan maksud akan memprovokasi kemarahan gadis yang ada di depannya ini.
Bagaimanapun juga, ketiak seorang wanita cemburu, terkadang bisa melakukan hal-hal di luar nalar.
__ADS_1
Misalnya, bisa membantu rencananya untuk membuat Istri Kakaknya Henry keguguran?
Jadi dirinya tidak perlu repot-repot turun tangan untuk mengotori tangannya sendiri.