Istri Mainan Sang Tuan Muda

Istri Mainan Sang Tuan Muda
Episode 47: Ingin Mengujiku?


__ADS_3

Henry yang mulai memikirkan dan memiliki kecurigaan bahwa ada banyak kemungkinan Anya yang mengabil data diam-diam, menjadi marah sendiri.


Saat itu, tidak ada Pelayan yang datang ke Apartemen, hanya ada Anya yang menghabiskan waktunya di sana.


Dan lagi, hanya Anya yang memiliki cukup keberanian untuk memasuki ruang kerjanya hari itu.


Awalnya saat dirinya memeriksa ruang kerjanya, dirinya memang sadar jika seseorang memasuki ruangan itu, namun dirinya tidak terlalu mempermasalahkan itu.


Karena saat itu, Anya sudah memasakan masakan favoritnya.


Dirinya tidak curiga sedikitpun...


Hanya, sekarang setelah bukti ada di depan matanya tiba-tiba kemarahan dan kekecewaan muncul.


Henry hanya bisa berpikir sebenarnya apa maksud dan tujuan dari wanita itu?


Kenapa dia sampai berbuat sejauh itu?


Apa tujuan sebenarnya dia sampai membocorkan hal-hal semacam ini pada Perusahaan musuh?


"Pak Presdir? Apakah anda memiliki petunjuk soal kebocoran data ini?"


Henry yang mendengar suara Asistennya, Isacc itu, mulai tersadar.


"Aku tidak tahu. Naik lupakan saja soal desain itu Mari kita rancang ulang saja produknya,"


Semua orang yang ada di ruangan itu jelas menjadi panik.


"Ini jelas tidak bisa dilakukan secara terburu-buru Bapak tahu sendiri berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk merancang produk ini,"


"Sialan, aku tahu namun mau bagaimana lagi apakah menurutmu kita akan melangsingkan produk yang mirip dengan produk yang sudah dibuat oleh perusahaan saingan? cari sesuatu yang baru untuk memperbaiki produk itu lagi pula dari awal aku merasa ada beberapa kekurangan dari produk itu misalnya saja beberapa desainnya yang kurang fleksibel,"


"Tapi Pak Presdir...."


Henry yang mendengar alasan dari bawahannya itu hanya bisa menghela nafas dirinya tidak bisa menyalahkan bawahannya Setelah semuanya karena ini juga salahnya yang teledor dan ceroboh.


Namun apa sekarang yang bisa dirinya lakukan....


Hanya memikirkan, bahwa Anya yang membuat dirinya harus mengalami berbagai macam sakit kepala ini membuat dirinya merasa kesal.


Hari itu, rapat di selesai lebih cepat, Henry memberikan waktu bawahannya selama 1 hari dan akan kembali melanjutkan rapat besok untuk mencari solusi yang terbaik.


Henry yang merasa sangat lelah itu segera menuju ke ruangannya sendiri.


Asisten Henry, Isacc yang mengikuti atasannya itu, jelas melihat perubahan ekspresi dari atasannya itu, biasanya Jika ada masalah seperti ini atasannya itu akan lebih agresif kepada bawahannya namun kali ini dia sedikit mengalah seolah-olah soal kebocoran data ini adalah kesalahannya.


"Tuan Muda... Apakah anda sebenarnya tahu soal kebocoran data ini sebelumnya?"


Henry yang ditanya itu segera menunjukkan ekspresi kesal.


"Jika menurutmu orang yang aku percayai sampai melakukan hal-hal yang membuat ku kesal, menurutmu bagaimana?"


Isacc yang malah ditanya balik itu hanya segera terdiam benar-benar merasa tidak mengerti tentang jalan pikiran Tuan Mudanya itu.


Namun dirinya segera menjawab dengan bijak,


"Mungkin dia hanya ingin dibenci oleh Tuan Muda? Saya benar-benar tidak tahu soal hal-hal semacam itu,"


Henry yang mendengar itu, hanya segera merasa bahwa mungkin apa yang dikatakan oleh bawahannya ini cukup masuk akal.


Henry ingat, bagaimana Anya sebelumnya pernah membicarakan soal Perceraian pada Ayahnya, dan bilang dia memiliki rencananya sendiri.

__ADS_1


Apakah Anya mencoba menguji batas kesabaran yang dirinya miliki dan ingin membuat dirinya membenci wanita itu, agar dirinya bisa menceraikan nya?


Setelah semua, dalam perjanjian itu disebutkan apa yang sudah dirinya berikan tidak bisa diambil kembali, jadi ketika dirinya memutuskan perceraian, harga dan uang yang dirinya berikan pada Anya sebelumnya akan di anggap lunas.


Dirinya awalnya juga merasa hal-hal dalam perjanjian itu sepadan, karena toh memang dirinya yang memutuskan apakah akan bercerai atau tidak, jadinya yang memutuskan kapan surat perjanjian itu berakhir, kapan Pernikahan itu berkahir...


Dirinya awalnya memang ingin memanfaatkan dan mengambil lebih banyak keuntungan dari wanita itu dan menyiksanya...


Namun sejak kapan dirinya mulai berubah?


Henry juga tidak mengerti soal perasaannya ini.


Lalu apakah semua hal yang Anya lakukan ini ada hubungannya soal rencana dia ingin bercerai?


Bahkan Anya yang benar-benar tidak ingin memiliki anak dengannya, sampai-sampai menyiapkan obat secara rahasia untuk mencegah kehamilanya...


Sampai mana Anya itu ingin menguji batas kesabarannya?


Henry yang memikirkan ini menjadi begitu pusing dan terasa frustasi.


####


Malam itu, Henry yang kesal pulang kerja lebih awal, baru sekitar jam setengah enam, dia sudah pulang, namun dia tidak segera kembali ke apartemen.


Melainkan, untuk mulai menemui teman-temannya.


Bahkan di umur segini, tidak semua teman Henry mulai mengagur, Jadi cukup sulit untuk menemukan seseorang yang bisa diajak curhat.


Henry tidak bisa curhat dengan Isacc, karena temannya yang itu sangat monoton dan terlalu kaku, tidak cocok untuk diajak pembicaraan semacam itu.


Sedangkan Hazel, yang memiliki pekerjaan sebagai salah satu aktor dan model itu, saat ini sedang memiliki pekerjaannya sendiri.


Henry merasa, tidak ada salahnya untuk sekedar berbicara dengannya, atau kalau tidak hanya menghabiskan waktu untuk menghilangkan rasa penat dan kesal yang dimilikinya.


Lagipula, nanti ketika bertemu Anya...


Henry merasa dirinya tidak memiliki kesabarannya lagi dan mungkin akan marah padanya.


Namun melihat keadaan Anya yang saat ini sedang hamil muda, masih belum stabil, dirinya jadi tidak bisa marah padanya.


Sial.


Henry merasa cukup frustasi sendiri untuk memikirkan tentang bagaimana caranya nanti berhadapan dengan Anya...


Kenapa Anya sampai sejauh itu?


Segitu bencinya kan Anya padanya?


Segitunya kah dia ingin bercerai?


"Kak Henry? Kenapa Kakak tiba-tiba menelepon?" Kata Tiara dengan ramah, yang baru saja tiba di restoran tempat Henry berada.


"Hah, aku hanya benar-benar merasa lelah saja,"


Tiara jelas saja mencoba mengambil kesempatan ini untuk mendekati Henry.


"Tidak biasanya Kak Herny memiliki masalah? Apakan ini ada hubungannya dengan pekerjaan?"


"Ya semacam itulah,"


"Kak Henry, hanya harus tenang Aku yakin Kakak pasti bisa menemukan semua solusi untuk pekerjaan Kakak,"

__ADS_1


"Tapi ini tidak hanya karena pekerjaan,"


Tiara yang mendengar itu tiba-tiba merasa memiliki firasat tidak nyaman lalu dirinya segera memiliki beberapa tebakan,


"Apakah ini ada hubungannya dengan Istri Kak Henry?"


Tiara merasa, bukankah harusnya Henry sudah menemukan obat-obat itu Tas Anya?


Pasti mereka bertengkar hebat, hah.


Tiara entah kenapa merasa cukup puas jika pria yang ada di hadapannya itu akan membenci Anya, hingga mereka berdua akan cepat bercerai.


"Kamu benar-benar menebaknya dengan tepat,"


"Hmm, apakah ini masalah soal keinginan Kak Henry yang ingin memiliki anak itu? Apakah Istri Kakak menentangnya?"


Henry yang baru saja diingatkan tentang masalah lama, segera menunjukkan ekspresi tidak senang.


"Aku benar-benar tidak mengerti tentangnya,"


"Lagipula, kenapa Kak Henry tiba-tiba ingin memiliki seorang anak dengannya? Bukankah Pernikahan Kakak hanya Pernikahan pura-pura? Aku pikir Kakak hanya ingin bermain-main dengannya,"


Baru setelah gadis yang ada di hadapannya mengatakan itu, Henry mulai teringat dengan 'permainan' yang dimaksud.


Ya, awalnya ini hanyalah permainan yang dirinya mulai, ketika mengingat awal dari semua kejadian ini, perasaan Henry terasa tidak nyaman.


"Apakah menurutmu aku sejahat itu?"


"Apa? Kak Henry tentu saja baik hati, Jika ada yang salah aku yakin itu Istri Kakak, bukankah begitu? Dia sudah mengambil banyak keuntungan dari Kakak bukan?"


Henry mulai memikirkannya.


Anya memang sudah menerima begitu banyak uang untuk melunasi hutang-hutang Keluarga nya setelah Pernikahan mereka.


Tapi...


Hanya itu...


"Ini tidak seperti itu...."


"Astaga, kenapa Kak Henry jadi seperti ini? Ini bukan seperti Kakak biasanya saja,"


"Hah, Aku juga tidak mengerti. Ini mudah jika Aku hanya bisa marah padanya, tapi saat ini, Anya sedang hamil Anakku, ini membuatku takut, dia menjadi tertekan, sungguh aku sampai sekarang tidak mengerti Jalan pikirannya, apa yang harus aku lakukan padanya... Apa yang dia inginkan... Aku sungguh menjadi binggung, aku yang terlalu memikirkan seorang wanita seperti ini, jelas tidak terlihat seperti Aku biasanya, Aku juga binggung...."


Henry hanya mengatakan semua hal yang ada dalam pikirannya tanpa di filter sedikitpun, karena begitu frustasi.


Henry tentu saja tidak berniat merahasiakan kehamilan Anya, toh orang pertama yang dirinya beritahu adalah Kakeknya.


Tiara yang mendengar soal kehamilan Anya jelas merasa syok dan terpukul, tidak pernah mengira jika hal itu benar-benar terjadi begitu cepat.


"Apa? Istri Kakak sedang hamil?"


"Ya, seperti itulah, aku memang belum sempat mengabari teman-temanku, ini memang masih hal baru,"


Setelah mendengar hal itu jelas api kemarahan dan rasa kesal memenuhi hati Tiara.


Bagaimana bisa wanita sialan itu hamil anak Henry?


Tiara yang masih tidak mempercayai hal yang baru saja dirinya dengan itu lalu segera berkata,


"Namun, Kak Henry... Emm ini mungkin sedikit tidak sopan, namun Apakah Kakak yakin anak yang di kandung Kak Anya adalah Anak Kakak?"

__ADS_1


__ADS_2