
"Selamat, Nak Henry anda sebentar lagi akan segera menjadi Ayah," kata salah satu kerabat jauh Henry, yang diundang di acara itu.
"Terimakasih Paman,"
"Jadi anak laki-laki atau perempuan yang kamu inginkan?"
Ketika Henry ditanya itu oleh salah satu kerabatnya dirinya menjadi bingung lalu mulai menatap ke arah Anya.
Mulai berpikir, jika memiliki seorang anak, jika anak perempuan apakah itu akan secantik Anya?
Itu pasti hal yang cukup baik jika seperti itu, pasti akan sangat lucu dan manis.
Henry kemudian mulai membayangkan seorang anak kecil yang mirip Anya, yang memanggilnya Ayah.
Disisi lainnya, Anya yang juga mendengar pertanyaan itu segera mulai memikirkan jawabannya.
Anya sebelumnya pernah melihat foto-foto Henry ketika masih kecil, sangat imut dan menggemaskan, apakah nanti jika anaknya laki-laki itu akan seperti Tuan Muda itu ketika dia kecil?
Manis, lucu dan menggemaskan.
"Anak Perempuan seperti nya baik,"
"Aku pikir itu mungkin anak laki-laki, pasti akan jadi mengemaskan,"
Kebetulan, Anya dan Henry mengatakan itu di saat yang bersamaan.
Keduanya sama-sama kakek dengan jawaban masing-masing yang berbeda dan saling menatap satu sama lain dengan heran.
Kerabat yang bertanya itu, segera menjadi tertawa ketika melihat pasangan suami Istri itu sepertinya tidak sependapat soal calon anak mereka.
"Astaga, kalian berdua tidak perlu terlalu berdebat soal memikirkan itu, kalian toh masih muda, ini baru kehamilan pertama, masih ada kedua, dan mungkin ke tiga, jadi kalian pasti bisa memiliki anak Laki-laki dan Perempuan,"
Anya yang mendengar soal kehamilan kedua atau ketiga segera menjadi pucat.
Emm...
Tidakkah, terlalu jauh untuk memikirkan ke sana?
Sedangkan Hanry segera memiliki ekspresi wajah senang sambil memeluk Istrinya itu.
"Ah, yang mereka katakan itu benar sekali bukan sayang? Kita nanti pasti akan memiliki Anak Laki-laki dan Perempuan, setelah Anak kita yang ini, lahir Aku pasti akan berusaha keras untuk membuat adik untuknya, dia pasti tidak akan kesepian jika memiliki adik," kata Henry sambil mengelus perut Anya.
Ya, Henry benar-benar berpikir, dimasa depan dirinya dan Anya pasti tidak hanya memiliki seorang anak, satu atau dua lagi tidak masalah.
Keluarga mereka nanti pasti akan menjadi ramai.
Henry tiba-tiba mulai membayangkan masa depan yang jauh.
Hal-hal itu terlihat sangat menyenangkan.
Anya sendiri, saat ini masih tidak memiliki ekspresi apapun.
Hanya...
Anak kedua dan ketiga...
Anya belum sampai memikirkan terlalu jauh karena bahkan memikirkan anak nasip anak yang ada di kandungannya saja masih membuat dirinya bingung.
Herny bercakap-cakap sebenar dengan kerabatnya itu sampai mereka pergi.
Lalu tatapan matanya menatap kearah Anya, yang saat ini terlihat linglung mungkin saja sedang memikirkan soal apa yang ditanyakan kerabatnya tadi?
"Anya, jika kamu benar-benar ingin memiliki seorang anak laki-laki, tidak apa-apa, aku akan setuju dengan keputusanmu," kata Henry sambil tersenyum.
"Aku belum terlalu memikirkannya,"
__ADS_1
"Kamu benar, sekarang calon anak kita ini, baru sangat kecil sekali, masih jauh bahkan untuk memikirkan jenis kelaminnya. Namun apakah nanti anak ini Perempuan atau Laki-laki itu tidak masalah, Aku akan tetap menyukai anak ini," kata Henry lagi, sambil mengelus perut Anya penuh perhatian, seolah-olah benar-benar menantikan sesuatu yang ada di sana mulai tumbuh.
Anya menatap bagaimana, Henry menyentuh perutnya itu, terlihat benar-benar menunjukkan ekspresi kebahagiaan.
Ekpersi yang sangat hangat, membuat Anya merasa terteguh.
Apakah Henry benar-benar menantikan anak ini?
Apakah dia tidak akan berubah pikiran?
Namun lebih baik untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal yang buruk dulu.
"Ya, itu benar, tidak masalah apakah itu laki-laki atau perempuan,"
Dua orang itu, terlihat sangat damai untuk menikmati percakapan mereka tanpa melihat jika beberapa orang melihat mereka berdua dengan ekspresi tidak senang.
"Lihat, Tiara bagaimana mereka berdua sepertinya sangat akrab," kata Stevan lagi.
"Diamlah, Aku sudah tidak peduli lagi," kata Tiara dengan kesal, lalu segera pergi dari Stevan, terlalu malas mendengarkan omong kosong dari pemuda licik itu.
Tiara tentu saja kesal soal Henry dan Istirnya, yang saat ini menjadi semakin akrab dan dekat seperti itu karena sebentar lagi akan ada anak antara mereka berdua.
Tiara tentu saja, masih memikirkan cara untuk memisahkan mereka berdua.
Namun apa yang bisa dirinya lakukan?
Lalu, tepat setelah itu, Tiara melihat bagaimana Henry sepertinya berpisah dengan Anya, mungkin ingin kekamar mandi atau sesuatu?
Tiara memutuskan untuk mengikuti Henry.
Jelas berniat untuk mendekati pria itu.
Kesempatan bahkan masih ada sebelum anak itu lahir bukan?
Namun hal yang mengejutkan Tiara adalah, Henry yang mau kekamar mandi itu, di hadang oleh seorang gadis.
"Huh? Siapa gadis sialan itu?"
Tiara tentu saja penasaran, ketika dua orang itu terlihat berjalan ke arah balkon yang cukup sepi.
Tiara Tentu saja sangat kepo dan ingin tahu siapa gadis yang bersama Henry, mencoba untuk menguping pembicaraan mereka berdua.
Hanry yang ada di balkon itu, segera menatap gadis yang ada di hadapannya dengan ekpersi binggung.
Karena Hanry akhirnya ingat, bahwa dirinya memiliki beberapa masalah dengan gadis itu.
"Apa yang ingin kamu katakan?"
Gadis itu adalah Sherly.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Kenapa? Kenapa kamu bahkan membuat Kak Anya hamil? Apakah ini caramu untuk menyiksa Kakakku?"
Henry segera menujukan ekpersi cemberutnya.
"Kenapa sih kamu itu bicara omong kosong?"
Sherly awalnya mencoba untuk sedikit tahan, dan mendengarkan kata-kata kakaknya.
Namun begitu dengar soal kabar kehamilan Kakaknya itu, Sherly tiba-tiba menjadi marah.
Apalagi Pria yang ada di depannya itu masih bermain dengan wanita lain, namun beraninya dia menyentuh Kakaknya sampai Kakaknya hamil seperti ini...
Apakah ini cara penyiksaan baru?
Bisa membuang Kakak nya setelah itu?
__ADS_1
Tiara yang ada di luar sana kemudian menjadi ingat tentang apa yang terjadi.
Dirinya ingat, jika sebelumnya yang ingin Henry nikahi adalah adik Anya, siapa itu namanya?
Sherly?
Mungkin hal ini bisa menjadi hal-hal menarik.
Tiara lalu segera pergi dari situ, buru-buru menuju kearah Anya.
Anya jelas kaget bagaimana Tiara tiba-tiba muncul dan segera menyeretnya pergi itu.
"Apa sih yang coba kamu lakukan?"
"Kamu ikut saja denganku ada sesuatu hal yang perlu kamu tahu,"
Anya jelas menjadi bingung dengan gadis yang menyeretnya itu.
Hanya bisa mengikutinya, lalu ketika Anya di bawa ke balkon sepi di ujung ruangan, Anya menjadi tambah binggung.
"Apa maksudmu?"
"Kamu lihat saja apa yang ada didalamnya,"
Anya Yang penasaran itu segera melihat kebalik tirai.
Namun dirinya menjadi terkejut ketika melihat kedalam.
Dimana, ada adiknya Sherly yang saat ini berlutut di depan Henry.
Apalagi, kata-kata yang di ucapkan adiknya.
"Aku mohon padamu, Maafkan Aku atas kesalahan yang Aku buat padamu, Aku sekarang menuruti permintaanmu dulu, Kamu bilang jika Aku memohon dan berlutut padamu dan menyerahkan diriku, kamu akan setidaknya tidak akan menyakiti Kakakku... Jadi kumohon... Jangan lagi sakiti dia lagi, Kamu boleh melakukan apapun padaku bisa marah padaku namun ku mohon, setidaknya karena Kak Anya sudah jadi Istrimu, jangan sakiti dia lagi..."
Henry yang melihat gadis itu berlutut jelas menjadi kaget.
Lalu, Henry menjadi ingat soal Ancaman kekanakan yang pernah dirinya buat untuk menakut-nakuti Sherly sebelumnya ketika dirinya kesal dulu, setelah Pernikahannya dengan Anya.
Acaman itu, awalnya hanya bagian dari permainan miliknya karena dirinya kesal pada gadis yang ada di depannya ini, yang pernah mempermalukan dirinya dulu, dan bahkan menolak menikah dengannya.
Tapi itu sudah masalalu...
Masalalu gelap!
Karena segalanya sudah berubah sekarang.
Anya bukan lagi, hal yang akan dirinya permainkan, bukan bagian permainannya lagi.
Henry yang memikirkan soal kelakuannya di masa lalu itu tiba-tiba menjadi pucat, merasa malu sendiri.
Astaga...
Namun sebelum Hanry sempat berkata-kata, agar menyuruh Sherly berdiri.
Anya yang mendengar semuanya, masuk kesana, dan menampar Henry.
"Kamu!! Aku tidak tahu jika kamu sangat kurang ajar!! Aku sudah pernah bilang padamu, jangan pernah menyentuh Adikku! Kamu bisa melakukan apapun padaku, tadi tidak dengan adikku! Aku tidak mengira kamu melakukan permainan kotor di belakangku!! Kamu bahkan mengancamnya?"
Anya yang melihat itu, akhirnya memiliki beberapa kesimpulan kenapa adiknya selalu begitu takut ketika membahas soal Tuan Muda itu, sampai-sampai adiknya nekat memiliki rencana gila soal ingin menjatuhkan Tuan Muda itu dari posisinya...
Jadi adiknya pernah di ancam?
Apa tadi?
Berlutut dan menyerahkan dirinya?
__ADS_1