Istri Mainan Sang Tuan Muda

Istri Mainan Sang Tuan Muda
Episode 41: Serius?


__ADS_3

Anya yang tiba-tiba ditanya apakah dirinya suka pedas atau tidak itu, lalu hanya segera berkata,


"Awalnya aku memang tidak menyukai pedas, namun aku pikir mencobanya sesekali tidak masalah, asal itu tidak terlalu pedas aku bisa memakannya, pedas aku pikir bukan hal yang buruk dan itu cukup enak aku sekarang cukup menyukainya, sudah tidak seperti dulu lagi,"


Henry yang mendegar itu, entah mengapa cukup puas karena setidaknya, bukankah dirinya cukup benar?


Jadi wanita itu tidak terpaksa untuk memakan pedas saat mereka makan bersama, dia memakan pedas mungkin karena ingin mencobanya apakah itu sesuatu yang cukup enak atau tidak Dan terlihat seperti sekarang dia menikmati makanan pedas.


"Ya seperti yang kalian lihat terkadang seseorang bisa berubah, benar bukan sayang? Mari aku akan menambahkan sedikit cabe di sup itu, dengan sedikit rasa pedas rasanya akan menjadi cukup enak dan tidak terlalu hambar, rasanya jadi sesuatu yang cukup menantang dan menarik,"


Anya yang mendengar itu hanya tersenyum, dan tidak menolak tawaran itu.


Hellio yang melihat bagaimana pasangan itu malah terlihat cukup mesra entah bagaimana jelas merasa hatinya tidak enak.


Namun mau bagaimana lagi?


Hah, dua orang itu pada dasarnya sudah menikah jadi tidak ada hal yang bisa dirinya lakukan.


Mungkin sudah cukup terlambat untuk mencoba mengejar wanita itu?


Sekarang setidaknya untuk menjaga hubungan baik juga tidak masalah.


Namun fakta bahwa suami Anya adalah Tuan Muda Henry Achilles itu jelas membuat dirinya merasa terganggu.


Awas saja jika nanti pria itu berani berselingkuh atau melakukan hal-hal yang membuat Anya tidak bahagia.


Dirinya jelas akan mengambil dan merebut Anya dari Tuan Muda itu, tanpa berpikir dua kali.


Makan siang itu berjalan dengan cukup damai pada akhirnya.


Walaupun Henry tetap masih sangat terganggu tentang bagaimana Anya dekat dengan Pria itu.


Saat ini, mereka berdua baru saja mengucapkan selamat tinggal pada teman-teman yang lain dan tidak pulang.


Ketika sampai di tempat parkir dan memasuki mobil, Henry segera berkata,


"Aku tidak suka tentang bagaimana kamu dekat dengan Pria yang tadi itu,"


Mendengar hal itu jelas membuat Anya menjadi heran dan segera bertanya,


"Maksudmu Hellio? Kami ini hanya teman tidak lebih dan tidak kurang, jangan terlalu kamu memikirkannya terlalu banyak,"


"Apakah kamu tidak melihat bagaimana dia memperlakukanmu?"


Anya sekali lagi menjadi bingung dan bertanya lagi,


"Memperlakukanku bagaimana? Aku pikir dia bersikap sopan padaku,"


"Dia bahkan memberikanmu sebuah buket bunga,"


"Dia memang dari dulu seperti itu sangat suka memberiku bunga random yang sering dia temukan, yang menurut dia indah,"


Ekpresi Henry jelas merasa tidak nyaman semakin dirinya mendengarkan terlihat sekali hubungan mereka berdua sangat dekat.

__ADS_1


"Apakah kamu segitunya menyukai bunga? Lain kali jangan terima bunga apapun atau hadiah apapun darinya, Aku bisa memberikan bunga yang lebih indah atau apapun yang kamu inginkan,"


"Sebenarnya aku tidak begitu menyukai bunga, itu adalah sesuatu yang rapuh dan mudah layu, itu terkadang membuatku bingung akan aku apakan setelah menerimanya,"


"Lalu Hal apa yang kamu suka biasanya?"


Anya yang ditanya itu segera terdiam dan terlihat berpikir.


"Aku tidak terlalu memikirkannya sesuatu yang aku suka,"


Henry yang mendengar itu jelas merasa heran.


"Bagaimana bisa kamu tidak memiliki sesuatu yang kamu sukai?"


"Aku benar-benar tidak terlalu memikirkannya hal-hal yang Aku sukai,"


Henry lalu segera tertawa mendengar jawaban itu, dan sebuah pemikiran konyol tiba-tiba muncul di kepalanya.


"Kamu tidak tahu apa yang kamu sukai? Kamu bisa menyukaiku jika kamu binggung,"


Anya yang mendengar itu langsung segera menjawab tanpa keraguan,


"Bahkan walaupun aku tidak tahu apa yang aku suka, itu tidak mungkin untuk aku menyukaimu,"


Ekpresi Henry terlihat menjadi kesal setelah mendengar jawaban itu.


"Kenapa kamu seperti itu? Setidaknya kamu harus belajar untuk menyukaiku, bagaimanapun juga Aku nanti akan menjadi Ayah untuk calon anakmu,"


"Apakah kamu benar-benar yakin untuk memiliki seorang anak denganku?" Tanya Anya lagi dengan sedikit ragu.


Anya jelas ingin menjawab Iya, namun dirinya tidak ingin untuk menyinggung tuan muda yang ada di depannya itu.


Dirinya mulai membuat alasan,


"Aku sudah berumur segini, kamu tahu? Di usia ini, cukup susah jika ingin memiliki seorang anak,"


"Astaga, kamu toh masih di usia subur, tidak ada yang tidak mungkin, dan jelas aku akan berusaha lebih keras agar kita cepat memiliki anak, kamu tidak perlu terlalu memikirkannya, nanti kita bisa mengatur ulang jadwal kita menjadi lebih padat agar kita cepat memiliki anak,"


Anya merasa baru saja mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak dirinya katakan.


Astaga, sekarang saja sesi malam mereka sudah sangat padat, dan Tuan Muda ini ingin membuatnya menjadi lebih padat?


"Jangan seperti itu aku masih harus pergi bekerja keesokan harinya," kata Anya pada akhirnya.


"Ini mengingatkanku pada sesuatu, bukankah kita belum pergi bulan madu?"


Anya segera memiliki firasat tidak enak soal ini.


"Aku kira kamu saat ini cukup sibuk, tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk bulan madu segala,"


"Tidak, Aku selalu bisa mengosongkan jadwalku, ah benar nanti habis ini mari ke apotik dulu, Aku ingin membeli Alat Tes, hmm apakah kita perlu berkonsultasi pada Dokter juga soal Program kehamilan? Jika kamu benar-benar khawatir soal kondisimu?"


Anya, jelas merasa kaget dengan kata-kata dari Tuan Muda yang ada di depannya itu.

__ADS_1


"Tidak perlu seperti itu, Aku rasa tidak perlu untuk ke dokter segala,"


Awalnya mereka cukup berdebat soal hal itu namun pada akhirnya, Henry mengalah tidak jadi ke dokter dan hanya ke apotik untuk membeli alat tes kehamilan.


Anya hanya bisa merasa lega dengan itu.


####


Ketika sampai di Apartemen, dua orang itu segera terkejut karena ada tamu di sana.


Itu adalah Tiara, Yang sepertinya sudah diizinkan masuk oleh pelayan yang ada di apartemen itu.


Tiara yang melihat Henry, segera menghampiri tuan muda itu, dan merangkul tangannya dengan mesra.


"Kak Henry, aku merindukanmu, padahal aku sedang di sini namun kakak begitu sibuk," kata Tiara dengan nada manja.


Henry hanya tersenyum menanggapi itu, lalu mengelus rambut Tiara,


"Aku ingin mengajakmu pergi kemarin namun kamu bilang kamu memiliki rencana dengan teman-temanmu,"


"Ah kemarin, sebenarnya malamnya aku juga pergi ke tempat itu namun Kak Hanzel bilang, kak Henry malah sudah pulang padahal aku ingin bertemu denganmu,"


Anya yang melihat adegan itu hanya merasa sedikit ilfil dan kesal, namun memilih untuk mengabaikannya dan ingin segera kembali ke kamar saja.


Tiara, jelas ingin menunjukkan kemesraannya itu Henry di depan Anya, untuk menunjukkan posisi mereka yang berbeda, dimana Tiara merasa akan diberlakukan lebih spesial daripada bagaimana Henry memperlakukan Anya.


"Tunggu, Kak Anya, kenapa tidak ikut mengobrol dengan kita sebentar?"


Anya yang mendengar kata provokasi itu, hanya segera berkata,


"Maafkan aku, aku masih memiliki beberapa hal yang harus aku kerjakan, tidak apa-apa bukan Henry? Jika Aku kembali ke kamar?"


"Tentu saja kamu bisa kembali ke kamar istirahatlah yang cukup, kamu memiliki pekerjaan penting nanti malam,"


Anya hampir saja terpleset mendegar kata-kata tidak tahu malu dari Henry itu, dirinya memilih untuk tidak mengatakan apapun.


Namun ketika Anya hendak pergi, Tiara melepaskan diri daru Henry, lalu menarik Anya, mencobanya untuk menahannya di sini.


"Kak Anya, kan bisa minum-minum teh dulu bersama kami? Bukankah seharusnya itu tidak apa-apa, Kak Henry? Nanti dia bisa pergi setelah minum teh bersama kami," Kata Tiara bersikap sok akrab ke Anya, dan mulai merangkul tangan Anya.


Tanpa mereka sadari, tangan Tiara, sudah memasukan sesuatu ke tas yang Anya pakai.


Henry menatap Anya yang diam itu, jelas sekali bahwa wanita itu benar-benar sedang tidak memiliki mood yang baik.


"Biarkan saja Anya Istirahat, mari kita berdua ngobrol-ngobrol berdua saja,"


Tiara lalu segera merubah ekspresinya terlihat cukup kecewa.


"Owh, Astaga, baiklah padahal aku juga ingin sedikit berkenalan dengan Kak Anya," lalu melepaskan rangkulannya, merasa jika misinya telah sukses.


"Haha, mungkin lain kali saja," kata Henry pada Tiara.


Anya sendiri, yang tidak curiga apapun segera kembali ke kamarnya benar-benar ingin istirahat.

__ADS_1


Anya segera meletakkan tasnya di atas meja, dan segera tidur di tempat tidur.


Memikirkan bahwa nanti malam akan menjadi malam yang panjang tanpa tidur lagi, dirinya benar-benar harus tidur banyak siang ini.


__ADS_2