Istri Mainan Sang Tuan Muda

Istri Mainan Sang Tuan Muda
Episode 64: Mulai Dari Awal


__ADS_3

Pagi itu, Henry yang menyadari bahwa dirinya ketiduran di depan Apartemen itu jelas merasa aneh terutama kenapa Anya tidak pulang malam itu.


"Apakah dia menginap di Rumah Keluarganya?"


Henry baru saja ingat, Anya sempat bilang jika dia cukup merindukan rumah keluarganya mungkin di saat-saat seperti ini dia kembali ke sana?


Hah, kenapa dirinya tidak memikirkannya?


Dirinya ingin sekali bertemu dengan Anya, jika saja nomor ponselnya tidak di blokir oleh Anya, pasti mudah untuk bisa bisa membuat janji dengannya.


Dirinya jelas tidak tahu kenapa nomor ponselnya di blokir, Namun bukan berarti dirinya menyerah untuk Ingin Bertemu dengannya.


Jadi, setelah beberapa saat Henry memutuskan kembali ke mobil lagi, menunggu Anya nanti berangkat ke Butik.


Henry menatap bunga layu di tangannya.


Baik, mari mencari hadiah lain yang lebih bagus untuk Anya.


Apakah sebuah cincin?


Hmm, ini boleh juga.


Henry segera memutuskan pergi dari sana untuk mencari hadiah baru untuk Anya.


Namun bahkan setelah Henry kembali ke Butik, Henry cukup kaget ketika dia tahu bahwa Anya ternyata memang sedang tidak di butik.


"Bu Anya saat ini memutuskan untuk mengambil cuti dulu," kata salah satu pegawai disana.


"Cuti? Kenapa?"


"Maaf, soal itu saya juga kurang tahu,"


Henry dengan ekspresi cemberut segera keluar dari tempat itu.


Sekarang apa yang harus dirinya lakukan?


Segera telepon Henry berbunyi, hampir Henry menyangka itu telepon dari Anya.


Namun ternyata bukan,


"Ya, Isacc Ada apa kamu menelepon?"


'Aku sudah mencari bukti-bukti yang sebelumnya kamu minta,'


Dan sekarang Hendry ketika mengingat lagi tentang insiden sebelumnya, ekspresi yang dimilikinya segera menjadi buruk.


Ya, Henry juga dengar dari Kakeknya, bahwa Stevan yang mengatakan soal hubungannya dan Anya hanya pura-pura.


Sialan.


Stevan, selalu saja ingin menjatuhkan dirinya dengan berbagi cara.


"Bagus sekali, kalau begitu aku juga memintamu untuk menyelidiki lebih lanjut hal-hal yang belakangan ini Paman lakukan, dan Stevan juga, lebih banyak kejahatan mereka yang terungkap ini akan lebih mudah untuk kita memasukan dia ke penjara, tidak ke penjara saja tidak cukup, minta beberapa orang berkumpul, dan beri dia pelajaran diam-diam,"


'Tentu saja, aku akan mengatur semuanya,'


"Orang-orang brengsek itu, jelas harus menerima akibatnya karena berani sekali bermain-main denganku!"


Setelah satu masalah selesai, akhirnya Henry memutuskan untuk pergi ke Rumah Keluarga Anya.


Kebetulan, disana ternyata kosong hanya ada Para Pelayan.


Orang Tua Anya baru saja pergi ke Kantor.


"Apakah Anya ada disini?"


"Maaf, Tuan Muda Nona Anya dan Nona Sherly, baru saja pergi mereka sepertinya ingin pergi berlibur di suatu tempat,"


"Apa pergi berlibur? Kemana?"


"Wah, Maaf Tuan Muda jika itu, kami tidak tahu, namun bukankan Anda seharusnya yang lebih tahu Istri anda kemana?"


Ekpersi Henry segera menjadi gelap ketika pelayan itu berkata seperti itu, seolah-olah kata-kata itu benar-benar menusuk pas pada kesalahannya.


Ya, dirinya sebagai Suami Anya, tidak tahu kemana Anya pergi.


Apakah dirinya ditinggalkan?


Tidak tidak jelas dirinya tidak boleh memiliki hipotesis seperti ini.


Dirinya jelas harus bertemu dengan wanita itu lebih dulu dan bertanya langsung daripada hanya mengira-ngira.


Dengan itu, Henry segera mengambil bonsainya mulai menelepon seseorang untuk mencari tahu keberadaan Anya.


####


Di tempat lainnya, saat ini Anya baru saja tiba di kamar sebuah hotel, setelah baru saja bertemu dengan adiknya.


Tempat mereka berlibur adalah di sebuah pulau kecil, di mana Di sana khususnya untuk liburan yang tenang dan ingin menikmati pantai.


Anya mulai menatap ke arah keluar hotel itu di mana langsung disuguhkan oleh pemandangan tepi laut yang indah.


Sebuah laut biru tanpa batas yang sangat menyegarkan.


Mungkin akan lebih nyaman jika melihat secara langsung?


Anya, akhirnya memutuskan untuk langsung pergi ke sekitar pantai yang kebetulan tidak terlalu jauh dari sana.


Anya memang sengaja pergi sendiri karena dirinya memang ingin menenangkan diri.


Berjalan-jalan di tepi pantai seperti ini memang cukup asyik apalagi saat ini, tidak begitu panas.


Namun kemudian, Anya teringat dan memegang kearah perutnya, yang saat ini sudah tidak ada apa-apa di sana.


Mengingatkan dirinya tentang kesedihan yang dimilikinya.


Anya tahu, tidak ada yang bisa dilakukan bahkan ketika dirinya mulai menangis.


Hal-hal yang sudah pergi tidak akan pernah kembali.


"Selamat Tinggal...."


Anya mengatakan itu sambil menatap ke arah Pantai yang jauh.


Seolah-olah berusaha melepaskan hal-hal yang sudah pergi.


Sesuatu yang datang dan pergi begitu cepat dalam hidupnya.


Anya melamun di tempat itu sendirian sampai-sampai tidak sadar jika ada seseorang yang mendatanginya.


Anya begitu kaget, ketika mendengar namanya di panggil.


Anya segera menatap ke arah belakang di mana di sana ada wajah yang familiar.


"Hellio?"


Ya, ini adalah teman lamanya, terakhir melihatnya di acara reuni tempo hari yang sempat dibuat kacau oleh Herny.


"Aku terkejut melihat kamu sendirian di tempat ini, dimana Suamimu?"


Hellio jelas hanya menanyakannya dengan santai karena memang merasa cukup penasaran karena bisa bertemu dengan Anya di tempat seperti ini.


Anya, yang di tanya itu, hanya menjawab saatnya.


"Aku kebetulan berlibur di sini bersama Adikku, yah ingin menghabiskan beberapa waktu dengan adikku, Suamiku tidak disini,"


Seolah mengerti, Hellio lalu mengagguk.


"Jadi begitu, aku hampir mengira kalau kamu sedang bertengkar dengan Suamimu,"


Anya jelas menjadi heran ketika mendengar itu.


"Kenapa menurutmu bisa begitu?"


"Awalnya Ketika aku melihatmu dari jauh aku seolah baru saja melihat seorang wanita yang baru saja putus cinta atau sesuatu,"


Melihat tebakan itu tepat sasaran, Anya tidak tahu harus merespon seperti apa namun jelas dirinya berusaha untuk menyembunyikan masalahnya.


Itu benar, lagipula Anya masih tidak tahu masalah dengan Henry selesai atau belum, atau kapan mereka benar-benar bercerai, menyebar cerita soal masalah mereka hanya akan membuat rumor buruk.

__ADS_1


Terutama, Anya setidaknya tahu Hellio berasal dari perusahaan musuh Keluarga Achilles.


Walaupun, Anya merasa kesal pada Henry, bukan berarti dirinya ingin menjatuhkan Tuan Muda itu.


Hanya ingin hubungan mereka berakhir dengan damai.


"Pfff... Apakah begitu? aku mungkin hanya sedang menikmati indahnya pemandangan laut itu saja Bukankah memang laut selalu seperti itu? Kadang sering membuatmu melamun karena terpesona oleh keindahannya,"


"Kamu benar,"


Setelah itu keduanya mulai bercakap-cakap tentu saja hanya mengatakan hal-hal ringan seperti kenangan ketika mereka masih di SMA, atau hal-hal soal pekerjaan mereka.


Tidak ada yang saling menanyakan urusan pribadi masing-masing karena dua-duanya saling paham kalau privasi itu penting.


Anya tahu, jika Hellio selalu menjadi sosok yang menyenangkan untuk diajak bicara.


Ya, sangat menyenangkan, Anya menikmati bisa mengobrol berbagai macam hal dengan pria itu.


Sampai hampir melupakan beberapa kesedihannya.


Mereka berdua juga kebetulan mampir ke sebuah restoran di dekat pantai.


Mungkin karena terlalu asik mengobrol mereka berdua tidak menyadari jika waktu berlalu cukup cepat.


Kemudian, ketika sampai di sekitarnya hotel tempat Anya menginap, ada seseorang yang menatap ke arah mereka berdua dengan ekspresi kesal.


Ya, itu adalah Henry yang baru saja tiba di hotel tempat Anya menginap, dirinya baru sampai di tempat itu namun sudah disuguhkan dengan pemandangan yang sangat-sangat tidak nyaman.


Dimana, wanita yang begitu dicintainya itu saat ini terlihat sangat bahagia dan tersenyum dengan seorang pria lain.


Rasa cemburu dan kemarahan muncul di dalam hatinya.


Apa-apaan itu!


Namun sekali lagi, Henry mencoba menahan perasaan yang dimilikinya itu.


Setelah semua hal buruk yang dia lakukan pada Anya, dirinya tidak berhak untuk berkomentar soal ini atau mulai menuduh Anya macam-macam.


Anya jelas sekali bukan tipe wanita semacam itu.


Setelah meyakinkan dirinya, Henry segera berjalan ke tempat Anya berada.


Anya yang tiba-tiba melihat Henry itu, jelas sekali menunjukkan keterkejutan karena tidak pernah mengira jika tuan muda itu berada di sini.


Hal ini, membuat Anya tiba-tiba memiliki begitu banyak pertanyaan untuk ditanyakan pada Tuan Muda itu.


Seperti, kenapa dia disini?


Dan bagaimana dia bisa sampai di sini?


"Anya, aku memiliki hal-hal yang ingin aku katakan denganmu," kata Henry dengan ekpresi tenang, lalu tatapannya menatap Pria yang ada di samping Anya, dan mulai melanjutkan perkataannya,


"Hanya berdua, di tempat yang sedikit privasi,"


Anya tentu saja menjadi bingung dengan permintaan yang begitu tiba-tiba itu namun segera mencoba menenangkan pikirannya.


Apakah ini akan membahas soal Perceraian mereka atau sesuatu?


Anya benar-benar merasa tidak siap namun tidak juga bisa lari dari hal itu.


"Tentu saja,"


Pada akhirnya, Anya memilih untuk mengikuti permintaan itu tanpa banyak berpikir, mengajak Henry ke kamar hotel tempatnya menginap.


Ada kecampuran besar ketika keduanya sedang berada di dalam lift, tidak ada satupun dari mereka yang ingin memulai pembicaraan di sana, hingga akhirnya mereka berdua tiba di kamar hotel Anya.


Tepat ketika sampai disana, Anya jelas hendak bertanya tentang apa yang diinginkan oleh tuan muda itu.


Namun pemandangan pertama yang Anya lihat, adalah sesuatu yang tidak akan pernah dirinya kira.


Tuan Muda Henry Achilles saat ini berlutut dihadapannya.


Sesuatu yang begitu mengejutkan sampai-sampai membuat Anya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya itu.


Namun belum sempat Anya bertanya, Henry lalu mengeggam tangan Anya dan berkata dengan gugup,


"Anya Aku Minta Maaf..."


Bukan berarti dirinya belum menyiapkan hal-hal yang ingin dikatakan namun ketika menatap wajah wanita yang dicintainya itu seolah-olah semua kata yang dipikirkannya hilang dalam sekejap, dan otaknya blank.


Anya yang tiba-tiba mendapatkan permintaan maaf itu tentu saja merasa tidak mengerti dan kemudian bertanya secara refleks,


"Kenapa kamu minta maaf?"


Henry tidak mengira akan ditanya seperti itu lalu segera menjawab lagi dengan sedikit ragu,


"Bukankah Aku selama ini bersikap kasar padamu? Aku selalu memperlakukanmu sewenang-wenang untuk mengikuti semua keinginan egois yang aku miliki memaksamu untuk melakukan semua yang aku inginkan, aku tahu kamu mungkin masih tidak menyukai tentang bagaimana aku memperlakukanmu selama ini, dan bagaimana aku selalu menuduhmu yang tidak tidak, itulah kenapa Aku minta maaf, aku tahu kamu mungkin bingung dengan kata-kataku ini...."


Henry menjeda kata-katanya, Anya masih mendengarkan semua kata-kata itu dengan penuh pertanyaan di dalam dirinya.


Terutama pertanyaan kenapa tuan muda itu minta maaf?


Anya yang mendengar penjelasan sebelumnya itu jelas masih tidak bisa mengerti tentang tuan muda itu yang meminta maaf.


Bagaimana mengatakannya ini seperti sesuatu yang terlihat tidak masuk akal.


"Aku tahu kamu binggung, kenapa aku melakukan semua ini? Aku ingin memulai kembali semua ini dari awal,"


Kata-kata itu dikatakan dengan begitu tegas.


"Memulai dari awal?"


Anya jelas masih tidak mengerti dengan ucapan pria yang berlutut di depannya itu.


"Ya, aku ingin memulai kembali hubungan kita dari awal. Jadi aku akan mulai dengan ini...."


Henry mulai menarik nafas dalam-dalam seolah sedang mempersiapkan hatinya untuk mengatakan hal ini.


"Anya Aku Menyukaimu... Aku sangat mencintaimu... Aku tahu terasa tidak masuk akal bukan? Ketika aku mengatakan ini? Aku memang begitu terlambat untuk menyadari perasaan ini, tapi Anya... Sungguh, Aku sangat mencintaimu... Aku tidak ingin kita bercerai, aku tidak ingin kehilangan kamu, aku selalu ingin kamu berada di sisiku, aku ingin memilikimu selamanya, aku sangat menginginkanmu, karena Aku sangat mencintaimu...."


Anya yang tiba-tiba mendengar semua hal itu sekali lagi merasa terkejut dan merasa tidak percaya dengan apa yang barusan dirinya dengar.


Apakah ini sebuah mimpi?


Anya bahkan tidak pernah bermimpi di mimpi telinganya tentang bagaimana pria yang ada di hadapannya ini menyatakan cinta padanya.


Namun mungkin di balik hatinya yang paling dalam dirinya selalu mengharapkan hal ini.


Bagaimana dirinya berharap, jika pria itu akan merasa kesepian ketika dirinya pergi dan akan mulai mencari dirinya...


Bagaimana pria itu, mungkin memiliki beberapa perasaan untuknya.


Jadi ketika dihadapkan dengan semua ini ini terasa tidak nyata, seperti fatamorgana, mungkin ketika dirinya mulai terbawa perasaan dirinya mulai terbangun dari mimpi ini.


"Berdirilah..."


Itu adalah kata-kata yang keluar dari mulut Anya.


Henry lalu hanya segera mulai berdiri, masih merasa bingung dengan respon wanita yang ada di hadapannya.


Namun yang mengejutkan, Henry tiba-tiba mendapatkan sebuah pelukan yang begitu erat.


Anya yang memeluk Henry, merasakan kehangatan dari pelukan itu, sebuah pelukan Yang sejujurnya sangat dirinya rindukan.


Pelukan ini sangat nyata...


Dirinya bisa merasakan keberadaan pria yang ada di pelukannya...


Aroma familiar yang memasuki penciumannya...


Pelukan hangat yang familiar...


Henry Achilles saat ini benar-benar ada di hadapannya dan baru saja menyatakan cintanya.


Ini semua adalah kenyataan dan bukan mimpi.


Jujur, yang Anya inginkan saat ini hanya keberadaan Pria ini...


Dirinya selalu mengingkarinya selama ini dan mencoba mengalihkan pikiran, namun jika dihadapkan pada keinginan terdalam yang paling jujur, dirinya mengiginkan Pria ini...

__ADS_1


Seolah-olah tidak peduli dengan apa yang terjadi dimasalalu.


Dirinya hanya mengiginkan Henry Achilles.


"Anya?"


Henry masih merasa bingung dengan pelukan itu.


Anya segera melepaskan pelukannya, kemudian mulai menatap wajah pria yang ada di hadapannya itu.


Anya mengunakan kedua tangannya, untuk memegang pipi Henry, mengamati dari dekat wajah tampan yang mempesona itu.


Henry tentu saja hanya menatap bingung pada wanita yang ada di hadapannya, sampai tiba-tiba Henry mendapatkan sebuah ciuman.


Ciuman itu, begitu Agresif membuat Henry bahkan tidak bisa berkata-kata, dan hampir kehabisan nafasnya.


Ciuman di lepaskan Anya sebentar, namun Anya segera melanjutkan ciuman itu.


Ciuman panas penuh kerinduan, dan keinginan.


Henry sampai-sampai tidak bisa mengikuti perkembangan ini, hingga saat ini Henry di dorong keatas tempat tidur, lalu Anya duduk diatasnya.


"Hey... Hey... Tunggu dulu... Anya apa yang kamu coba lakukan?"


Itu karena Anya melepaskan satu persatu kancing kemeja yang Henry pakai.


"Bukannya kamu baru saja bilang kamu menyukaiku? Kamu bilang, kamu ingin bersamaku selamanya, bukankah itu artinya kamu sekarang adalah milikku? Apakah kamu mencabut kata-katamu?"


"Tentu saja tidak!!"


"Itu bagus sekali, kamu tahu? Aku sebenarnya bukan seseorang yang bisa kamu mainkan dengan mudah, kamu tidak bisa bermain-main denganku, kamu juga tidak bisa mencabut kata-kata yang sudah kamu ucapkan, kamu adalah milikku sekarang..."


Henry yang mendengar kata-kata itu masih sedikit tidak mengerti.


"Maksudmu?"


Anya segera menepuk kepala Henry, dan berkata sambil tertawa,


"Di saat-saat seperti ini kamu sepertinya tidak bisa menggunakan otak jeniusmu itu, bukankah hal-hal ini sudah begitu jelas? Aku juga menyukaimu, itulah kenapa Aku menciummu, aku juga sangat menginginkanmu...."


Ketika Anya mengatakan itu, tangannya sudah bergulir ke resleting celana panjang yang Henry pakai.


Henry juga melihat gerakan tangan yang terkesan nakal itu.


"Tunggu dulu, Anya... Aku... Aku benar-benar masih belum beradaptasi dengan perkembangan yang begitu cepat ini.... Ah.. Apa yang kamu lakukan? Tanganmu...."


Ya, Henry pada dasarnya, bahkan mulai menyiapkan berbagai sekenario tentang bagaimana dirinya di tampar, atau di tolak pada akhirnya.


Atau sekenario dimana dirinya di terima, lalu dirinya memakainan cincin hadiah untuk Anya, lalu mereka berdua mulai makan malam romantis dan memulai dari awal?


"Apa? Kenapa sekarang kamu baru saja bertingkah seperti seorang perjaka? Astaga... Sejujurnya aku bukan tipe orang yang suka melakukan hal-hal merepotkan, itulah kenapa aku memilih jalan langsung, bukannya kamu juga mengiginkanku seperti Aku mengiginkanmu? Sungguh, tubuhmu bahkan lebih jujur dari pada mulutmu,"


"Ukh... Anya kamu...."


"Apa? Sungguh, jika kamu bisa berkata jujur lebih awal seperti bagaimana tubuhmu merespon dengan jujur, bukankah ini akan menjadi lebih mudah? Tapi kamu malah memilih jalan memutar,"


Henry seolah kehabisan kata-kata, setelah mendegarkan Anya.


"Jadi karena kita saling mengiginkan... Bukankah ini seharusnya tidak apa-apa? Seperti bagaimana kita biasanya..."


Henry yang mendengar kata-kata rayuan nakal itu kemudian tertawa,


"Anya, apakah kamu tidak akan menyesalinya?"


"Tentu saja tidak, tidak akan pernah... Tidak akan pernah menyesal menjadi milikmu...."


Itu menjadi salah satu hari terindah dalam hidup mereka, keduanya saling memadu kasih, mengungkapkan semua rasa kasih sayang dan kerinduan yang selama ini mereka tahan.


Hari terindah bagaimana mereka berdua saling menyatakan cinta...


Sebuah awal yang baru dari hubungan mereka, sesuatu yang di mulai dari awal lagi, untuk mendapatkan kebahagiaan bersama.


####


1 Bulan Kemudian


Hari-hari memang cepat berlalu, saat ini Anya sedang berbaring di pangkuan Henry sambil menonton sebuah berita.


"Wow, kamu benar-benar membuat Stevan masuk penjara?"


Henry menatap sebuah berita tentang sepupunya itu yang saat ini sedang ada di kantor polisi benar-benar merasa sangat puas.


"Hah, dia berani bermain-main denganku apalagi sampai mengambil hal-hal berharga milik kita berdua dia layak mendapatkannya,"


"Kamu benar sekali dia layak, sungguh aku tidak pernah mengira bahwa ada hal-hal seperti itu,"


Yah, Henry tentu sudah menceritakan semuanya bahkan tanpa terlewat sedikitpun kepada Anya.


"Ya, rasanya masih begitu sedih memikirkan kita kehilangan calon anak kita,"


Anya juga segera menunjukkan ekspresi sedih ketika memikirkan itu.


Ya, bayak yang terjadi selama satu bulan ini, tapi kesalahpahaman antara Henry dan Anya juga sudah selesai semua, termasuk masalah dengen Sherly atau Keluarga Anya.


Namun tetap saja mengatakan berita sedih soal kepergian calon anak mereka itu masih terasa menyedihkan.


"Ya, itu benar-benar sebuah kemalangan, Aku tidak bisa menjaganya dengan baik,"


"Anya, aku sudah bilang padamu untuk tidak menyalahkan dirimu ini jelas karena beberapa orang jahat yang mencelakakanmu, namun kamu tenang saja, Aku ingat hasil pemeriksaan Dokter kemarin, bukankah Rahimmu sudah kembali pulih? Kata Dokter, kamu sudah bisa hamil lagi, jadi mari kita buat lagi calon anak kita,"


Henry mengatakan itu dengan ekspresi yang terlihat polos, Anya segera memukul kepala Henry.


"Ini masih siang, kamu benar-benar tidak sabar bukan?"


"Ini sudah satu bulan sejak kita melakukannya, karena aku memikirkan kondisimu sungguh membutuhkan kesabaran ekstra untukku menahan diri,"


Henry terlihat menghela nafas setelah mengatakan itu.


"Sudahlah, sana cepat ambilkan Aku minum, panas sekali ini," kata Anya lagi.


"Baik-baik,Nona Anya, sebentar,"


"Pfff... Kamu mulai lagi deh,"


"Apapun untuk Anyaku..."


Anya hanya tersenyum mendegar itu, ya saat ini Anya merasa seperti dirinya adalah wanita yang paling beruntung, bisa bersana dengan Pria yang dirinya cintai.


Sebuah hubungan yang awalnya dimulai dari sebuah permainan sekarang sudah menjadi sebuah cinta yang nyata...


Mereka memulai hubungan mereka dari awal lagi...


Ya, Anya sangat puas dengan ini.


Bersama-sama mereka pasti akan terus mendapatkan kebahagiaan, dan nanti mereka pasti anak memiliki seorang anak lagi.


Dirinya sudah bukan lagi Istri Manian Tuan Muda itu, tapi sudah menjadi Istri Sungguhan...


Terasa konyol jika memikirkan bagaimana ini dimulai namun sekarang sudah baik-baik saja.


Karena permainan sudah selesai dan mereka membangun lembaran baru, kisah baru yang akan mereka miliki, pasti lebih baik dari sebekumnya, karena kisah baru ini ditemani cinta yang mereka miliki, yang akan mewarnai perjalanan baru yang mereka berdua punya.


Sebuah Awal Baru...


...####...


...TAMAT...


...####...


**Catatan Penulis: Terimakasih atas dukungannya kepada para Pembaca sekalian, yang selama ini selalu mendukungku berkat kalian aku bisa menulis sampai sejauh ini bisa sampai sepanjang ini,


Makasih, banget dukungan, mulai dari Komentar setiap bab, yang selalu bisa bikin aku semangat untuk terus menulis, like, gift dan vote, yang bikin Aku tambah seneng, 😆😆😆


Tidak terasa sudah di penghujung Carita,


Sampai Jumpa di Novel Berikutnya 😆😆


Terimakasih Sudah Baca sampai sejauh ini, 🥰🥰🥰

__ADS_1


Mari Cek Daftar Novel-novelku yang lain,


See You, 🥰🥰🥰🥰**


__ADS_2