Istri Mainan Sang Tuan Muda

Istri Mainan Sang Tuan Muda
Episode 26: Perasaan Hangat


__ADS_3

Anya yang mendengar tawaran dari adiknya itu segera terdiam sebentar.


Karena dirinya sebelumnya sudah memiliki janji dengan Henry, untuk mulai memasak makan malam jadi jelas dirinya tidak bisa pergi dengan adiknya.


"Maaf, Sherly. Aku tidak bisa pergi bersamamu maafkan Aku,"


Sherly yang mendengar penolakan dari kakaknya itu jelas merasa tidak nyaman lalu bertanya,


"Kenapa? Kan kita sudah lama tidak makan bersama,"


"Aku sebenarnya harus makan malam di rumah, yahh Kamu tahu, itu adalah Permintaan Suamiku, dan aku jelas tidak bisa menolak perintahnya,"


Sherly yang mendengar itu jelas merasa kesal.


"Tuan Muda itu dia pasti selalu mengekang dan memaksa Kakak seperti ini pasti kakak tidak nyaman dengannya,"


"Sherly, ini tidak seperti yang kamu pikirkan,"


"Sudahlah kakak tidak perlu menjelaskannya aku sudah tahu. Sebenarnya ada beberapa hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu namun aku pikir besok saja,"


Ya, Sherly memikirkannya, melihat saat ini kakaknya itu masih membela Suaminya itu, Sherly jelas tahu Kakaknya mungkin saat ini tidak ingin mengambil terlalu banyak resiko menentang Tuan Muda itu.


Butuh banyak upaya jika dirinya ingin meyakinkan kakaknya sekarang dirinya sendiri juga masih belum terlalu yakin soal rencana itu.


Sebaiknya, dirinya merencanakan hal ini dengan matang sebelum menjalankan rencana itu.


Atau...


Sebaiknya dirinya melakukannya diam-diam?


Sherly menjadi tenggelam dalam pikirannya itu.


Anya yang melihat adiknya diam itu segera berkata,


"Sherly, Aku tahu kamu marah padaku jangan seperti itu lain kali kita pasti akan makan malam bersama, sebenarnya aku juga memiliki permintaan padamu,"


Sherly segera tersadar dari lamunannya itu begitu mendengar kata-kata kakaknya itu.


"Tidak, tidak. Aku tidak marah pada kakak, Aku cukup maklum karena Kakak sekarang sudah menikah. Kakak memiliki permintaan apa? Jika aku bisa aku pasti akan membantumu,"


"Sebenarnya, Aku ingin Kamu untuk mengajariku masa kamu kan sangat pintar memasak,"


Sherly yang mendengar itu jelas merasa terkejut karena kakaknya itu memang dari dulu tidak suka untuk memasak.


"Kenapa tiba-tiba seperti itu?"


Walaupun Sherly bertanya, namun Sherly jelas tahu juga soal alasannya.


Pasti Tuan Muda itu yang memaksa Kakaknya bukan?


Sialan memang itu.

__ADS_1


Namun jika dipikirkan lagi ini mungkin sebuah kesempatan yang bagus untuk ke Rumah Kakaknya dan Tuan Muda itu bukan?


Yah, barangkali menemukan sesuatu yang bagus di sana nanti.


"Aku hanya ingin belajar memasak, jadi Apakah tidak apa-apa jika kamu mengajariku? Lakukan saja Jika kamu memiliki waktu luang,"


Sherly segera tanpa pikir panjang berkata,


"Tentu saja tidak masalah Aku juga akan sangat senang jika aku bisa membantu Kakak,"


"Itu bagus sekali,"


Dengan itu, mereka berdua lalu mulai membicarakan hal-hal lainnya dengan santai, sampai Anya menatap ke arah jam tangan jika itu sudah saatnya dirinya untuk kembali bekerja karena nanti juga masih harus pulang lebih awal.


Sherly juga merasa tidak keberatan Dan segera pulang dia mulai kembali memikirkan soal rencananya sendiri.


####


Malam itu, Anya benar-benar berusaha keras untuk mencoba memasak resep baru ini.


Kali ini, Anya memasak menu Soup Daging, di cuaca yang dingin seperti ini, jelas memakan sesuatu yang hangat adalah hal yang baik.


Anya dengan hati-hati mulai memasak sup itu.


Tidak banyak masalah yang terjadi karena sebelumnya dirinya juga sudah mencoba resep ini.


Seharusnya, sekarang sudah layak untuk dimakan.


Sekarang, tinggal mengurus untuk memasukkan beberapa sayuran.


Anya segera memotong sayuran disana dengan hati-hati.


Ketika Anya melakukannya, Anya menjadi terkejut karena tiba-tiba dirinya mendapatkan sebuah pelukan dari belakang.


Anya tidak perlu melihat ke belakang untuk tahu siapa itu.


"Wow, kamu hari ini memasak Sup?"


Anya segera menjawab,


"Ya, aku rasa ini bagus untuk cuaca yang dingin. Kenapa Tuan Muda pulang lebih awal?"


Ya, saat ini bahkan belum pukul 08.00 malam.


Henry memang sengaja pulang lebih awal dari biasanya, yang sempat membuat kehebohan di kantor, karena Bos mereka yang biasanya workholic itu, pulang lebih awal?


Atasan yang biasanya, selalu meminta semua orang untuk bekerja lembur.


"Apa? Hanya kebetulan saja jalanan tidak macet jadi aku pulang lebih awal,"


Tentu saja, ini hanya alasan Henry saja, karena memang diam sengaja pulang lebih awal namun dirinya tidak ingin Anya tahu, takut Anya nanti menjadi besar kenapa, seolah dirinya menantikan masakan Anya.

__ADS_1


Dirinya jelas, hanya ingin memeriksa keterampilan dari Anya!


Tidak lebih dan tidak kurang!


Bukan seperti dirinya ingin merasakan masakannya!


Herny sekali lagi mencoba meyakinkan dirinya sendiri soal pikirannya itu.


"Jadi begitu, namun kalau bisa tuhan muda melepaskan pelukannya saya musti bersiap-siap untuk memasak lagi nanti takut keburu kosong,"


Henry selalu mulai menyadari tindakannya yang tiba-tiba itu.


Ini benar-benar terlihat memalukan langsung memeluk Anya seperti ini.


Hanya saja, kartika dirinya masuk ke apartemen ini, lampu sudah menyala selalu dari arah dapur tercium aroma segar yang menggiurkan.


Dan ketika Henry melihat kesana, ada Anya yang saat itu sedang memasak dan mengenakan celemek, yang entah kenapa terlihat menggemaskan.


Rasanya begitu hangat ketika sampai di rumah dan ada seseorang yang menunggumu.


Apalagi memasakkan sesuatu untuk nya.


Mungkin, karena Henry merasa terlalu terbiasa hidup sendiri jadi mendapatkan kehangatan yang tiba-tiba itu membuat hatinya cukup senang.


Dan entah kenapa, itu membuat dirinya ingin memeluk wanita itu yang saat itu memasak.


Itu adalah sebuah tindakan untuk siapa yang membuat Henry sendiri malu.


Herny lalu segera melepaskan pelukannya dan berkata dengan canggung,


"Aku hanya ke sini ingin mencoba mencicipi masakan apakah itu sudah biasa dicicipi?"


"Sudah bisa sebentar aku akan mengambilnya,"


Anya mengambil sebuah sendok lalu mengambil sup ke sendok, dan memberikannya kepada Henry.


Namun bukannya menerimanya hanya Henry membuka mulutnya.


Anya benar-benar merasa Tuan Muda ini ternyata memiliki sisi yang manja dan lucu seperti ini.


Ini benar-benar membuat Anya merasa tertarik.


Jadi, Anya segera memberi suapan pada Henry.


"Ah, ini panas! Apakah kamu berniat untuk membakar lidahku?" Kata Henry marah.


Anya sampai sup itu marah.


Dan sekarang, ekpersi Henry kembali menunjukkan ekspresi yang biasanya menyebabkan itu seolah-olah adegan sebelumnya adalah sebuah khayalan.


Anya mau tidak mau mencoba menahan hatinya agar tidak terlalu banyak terpesona pada Tuan Muda menyebalkan itu.

__ADS_1


__ADS_2