Istri Mainan Sang Tuan Muda

Istri Mainan Sang Tuan Muda
Episode 62: Sebuah Nasehat


__ADS_3

Hal-hal ini membuat Henry menjadi syok.


"Kakek? Kenapa tiba-tiba kakek seperti ini?"


Lagi-lagi, Kakek Henry menampar cucunya itu.


"Sungguh aku begitu kecewa padamu,"


Tamparan itu, jelas tidak begitu kuat, hingga melukai wajah Herny, hanya sedikit nyeri.


"Apa yang kakek maksudkan aku tidak mengerti,"


"Henry, kamu sudah tidak bisa menyembunyikannya lagi aku sudah tahu tentang bagaimana pernikahanmu dengan Anya adalah sebuah permainan yang kamu buat, kamu jelas memaksa gadis itu menikah denganmu agar kamu bisa membuat Kakek senang bukan?"


Henry jelas merasa kaget tentang bagaimana kakeknya bisa tahu tentang hal-hal ini.


"Kakek? Apa yang Kakek maksudkan?"


"Sudahlah kamu tidak perlu berbohong Aku sudah tahu dan menemukan semua buktinya. aku benar-benar sangat kecewa padamu Bagaimana kamu sampai menipuku, kakekmu sendiri, anggota dari keluargamu. Kenapa kamu itu begitu tega pada Kakekmu ini?"


Henry Yang sepertinya sudah tidak bisa menyembunyikan ini dan mulai tertangkap basah akhirnya berkata dengan jujur.


"Ya, Awalnya Aku memang memasak Anya menikah denganku karena perjanjian, juga karena Aku ingin menyenangkan Kakek dengan Pernikahan pura-pura ini, aku menyadari kesalahanku, Aku salah karena bermain-main dengan Pernikahan..."


Henry mencoba mengatakan itu dengan penuh emosi, memikirkan tentang semua awal rencana ini.


Kakek Henry, mendengar pengakuan cucunya itu jelas rasa kecewa segera memasuki hatinya namun sebelum dirinya bisa marah lagi, Henry masih melanjutkan kata-katanya.


"Ini semua adalah salahku, tentang bagaimana aku memaksa Anya menikah denganku dan memperlakukannya dengan buruk, Ini semua adalah salahku, Aku yang terlalu gila untuk semua rencana bodoh ini... Namun apa? Pada akhirnya, Aku benar-benar jatuh cinta padanya, namun... Itu semua sudah terlambat karena aku pikir Anya membenciku, dan akan meninggalkanku...."

__ADS_1


Ada sebuah kesedihan dan luapan emosi mendalam ketika Henry mengatakan itu, ya, Henry memendamnya selama beberapa hari ini tentang luapan hatinya yang paling dalam Bagaimana dirinya sangat takut bahkan untuk sekedar menemui atau minta maaf pada Anya.


Takut, jika semuanya sudah berakhir hubungan antara mereka.


Kakek Herny jelas, melihat kesedihan dan keputusan di wajah cucunya ini sesuatu yang tidak pernah dirinya lihat.


Kakek Henry, hanya segera menghela nafas tidak mengira hal-hal itu menjadi begitu rumit.


Jadi, intinya, wanita bernama Anya itu bisa memikat hati cucunya yang keras kepala ini?


Hah, bahkan walaupun pernikahan itu awalnya pura-pura.


Namun sekarang sepertinya, Cucunya ini ingin membuat segalanya menjadi lebih serius.


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


Henry, lalu mulai bercerita pada Kakeknya itu, tentang semau kecurigaannya pada Anya, dan malah menuduh Anya yang tidak-tidak, juga soal dirinya yang sempat memaksa Anya dalam beberapa hal dan memperlakukannya dengan buruk.


Henry juga mulai menceritakan, bagaimana dirinya juga memaksa Anya untuk mereka segera memilih anak, sampai akhirnya insiden kecelakaan itu, saat Anya keguguran, dan Henry yang malah marah pada Anya dan menyuruh Anya pergi.


"Ya, sekarang aku melihat tentang bagaimana Anya baik-baik saja hidup tanpaku, mungkin hanya aku yang memikirkannya, hanya Aku yang jatuh cinta, dia tidak pernah mencintaiku, Dia sangat membenciku, dan bahkan aku sempat salah menuduhnya, sekarang sejujurnya aku tidak tahu harus bagaimana,"


Kakek Herny mulai mendengarkan cerita cucunya itu dengan seksama lalu segera menarik kesimpulan.


"Kamu jatuh cinta padanya kan?"


Henry tanpa ragu ketika ditanya langsung menjawab,


"Ya, Aku sangat mencintai Anya,"

__ADS_1


"Jika begitu, sana minta maaf padanya, memohonlah ampun padanya, dan nyatakan perasaanmu itu, Bukankah itu hal yang?"


"Tapi dia membenciku... Aku..."


Kakek Henry itu, segera menatap cucunya itu dengan ekspresi tidak percaya.


"Henry, apakah kamu mendegar sendiri bahwa Anya membencimu dari mulutnya? Apakah Dia pernah mengatakan hal itu di depanmu? Aku melihat di sini tentang bagaimana kamu hanya membuat berbagai macam hipotesis dan pemikiranmu sendiri, Apakah kamu benar-benar pernah bertanya padanya tentang perasaan yang dimiliki oleh Anya sendiri?"


Ketika Henry ditanya, itu segera berkata dengan ragu,


"Tidak,"


Kakek Henry segera menggeleng-geleng kepalanya, lalu menatap cucunya dengan ekpersi menyedihkan.


"Kamu itu memiliki otak yang pintar, Namun ternyata sangat tidak berguna jika menyangkut hal-hal seperti perasaan dan cinta. Hal-hal begitu mudah jika kamu hanya minta maaf padanya dan menyatakan cintamu, kamu takut di tolak dan di tinggalkan? Astaga, kamu hanya perlu memohon dengan tulus, jika kamu benar-benar di tolak, hanya coba kejar dia lagi sampai kamu mendapatkan hatinya, lakukan lagi dan lagi? Atau harga dirimu terlalu tinggi untuk melakukannya? Kamu takut di tolak, karena mungkin dalam hidupmu kamu tidak pernah ditolak siapapun? Jawab Kakek! Apakah kamu benar-benar cinta dengannya atau tidak?"


Henry yang mendengar kata-kata Kakeknya itu segera menjadi seolah tercerahkan.


"Kakek benar, Aku mencintainya, Aku benar-benar tidak ingin kehilangannya,"


"Cih, anak muda jaman sekarang,"


Henry setelah mendengarkan nasehat dari kakeknya itu segera pergi dari sana dengan sebuah rencananya.


Ya, apa yang dikatakan Kakeknya jelas benar sekali.


Dirinya tidak bisa terus menggantung hubungan ini seperti ini dan lari dari masalah.


Dirinya harus bertemu Anya sendiri, tidak boleh menghindar lagi karena ketakutan dan pikirannya yang tidak jelas.

__ADS_1


Henry sudah mulai memiliki tekadnya.


__ADS_2