
Namun Anya hanya bisa menahan dirinya melihat pemandangan yang ada di depannya itu lalu segera berjalan menuju ke arah tempat duduk kosong di seberang Henry.
Kakek Henry juga meliat bagaimana Anya, duduk jauh dari cucunya itu, dan segera sadar bahwa tempat duduk yang biasa Anya tempati di duduki oleh Tiara.
Tiara adalah teman masa kecil cucunya sudah biasa juga dia dekat dengan cucunya seperti itu, dan duduk di sana namun sekarang cucunya ini sudah menikah seharusnya dua orang itu tidak bisa bersikap terlalu dekat seperti itu.
Namun Kakek Henry itu, tentu tidak menegur secara langsung, takut takut itu malah menyinggung perasaan dua wanita yang ada disana.
Kakek Henry hanya segera menyikut cucunya itu, mencoba untuk memberikan semacam kode, agar cucunya itu peka.
Namun Henry, tentu saja tidak paham dengan maksud kakeknya itu.
"Kakek ingin minum? Pelayan, ambilkan kakekku susu hangat, ingat untuk jangan menambahkan gula,"
Kakek Henry hanya bisa merasa kecewa dengan sikap cucunya yang tidak peka itu.
Dia segera menyengol cucunya lagi.
"Emm, kenapa Kakek? Apakah kebetulan kepala Kakek sedang sakit?"
Kakek Henry dari tadi sudan mencoba memberikan kode dengan kepalanya ituk menujuk posisi Anya, dan lihatlah cucunya yang tidak peka ini!
Merasa kesal, Kakek Henry segera menarik Henry dan berbisik padanya,
"Kamu itu sekarang adalah pria yang sudah menikah, kenapa kamu malah membiarkan istrimu duduk sendirian di seberang mejamu? Kamu itu seharusnya duduk di sampingnya,"
Dengan kata-kata itu akhirnya Henry menatap ke arah Anya yang memang saat ini duduk di posisi yang jauh dengan dirinya, dan dirinya yang duduk dengan Tiara.
Dan kenapa dengan wajah tidak enak di wajah Anya itu?
Owh, jangan bilang sekarang dia cemburu?
Henry, lalu segera tersenyum dan berdiri dari tempatnya dan segera berpindah ke tempat di samping Anya.
"Sayang, Mari aku akan mengambilkan sarapan untukmu," kata Henry dengan nada ramah kepada istrinya itu.
Anya menatap heran dengan sikap yang tiba-tiba ditunjukkan oleh tuan muda itu.
Apakah kepalanya baru saja terbentur atau sesuatu?
Atau dia hanya sedang berakting sebagai seorang suami yang baik?
"Tidak perlu merepotkanmu kamu sebaiknya sarapan saja sayang," kata Anya dengan ekspresi ramah.
Henry sudah mengambilkan sarapan yang ada di meja itu kepiring Anya.
"Tidak apa-apa hari ini aku hanya ingin memanjakanmu,"
Kakek Henry terlihat senang melihat kedekatan dua orang itu yang benar-benar terlihat sangat alami.
Disisi lainnya, Tiara menjadi sangat kesal tentang dua orang itu yang sekarang malah terlihat sangat akrab.
Dirinya mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri jika dua orang itu saat ini hanya berakting.
Benar, Kak Henry jelas melakukan itu hanya untuk menunjukkan hal-hal itu kepada kakeknya tidak mungkin pula dua orang itu memiliki hubungan yang lebih.
"Benar, Kak Anya harus mencoba sarapan buatanku juga, pasti Kakak juga akan menyukainya," kata Tiara dengan nada akrab.
Henry lalu segera menambahkan,
__ADS_1
"Itu benar, sayang. Terutama lauk ini, buatan Tiara adalah yang paling baik, Aku sudah lama tidak mencobanya karena dia pergi ke luar negeri,"
Anya menatap salah satu lauk disana, itu sepertinya seafood?
Ya, dirinya pernah membaca didalam dokumen, bahwa tuan muda itu sepertinya sangat menyukai masakan laut.
Sayang sekali untuk bisa memasak-masakan laut yang enak, butuh keahlian memasak yang sangat tinggi, karena jika setengah-setengah aroma amis masih akan tersisa yang akan mengakibatkan rasa dari suatu masakan hancur.
Dirinya sampai saat ini belum berani untuk mencoba memasak masakan seafood.
Ah, ini juga mengigatkannya bahwa adiknya Sherly sangat hebat dalam memasak masakan laut.
Memang, mungkin nanti di akhir pekan dirinya bisa mengajak adiknya itu untuk datang ke rumah agar bisa mengajari dirinya secara langsung bagaimana memasak seafood.
Untuk memasak hal-hal semacam itu tentu saja tidak cukup hanya dari melihat video.
"Ya, Tiara ini sepertinya pandai memasak, kamu sangat baik harus repot repot memasak untuk keluarga kami," kata Anya lagi, dengan basa-basi.
"Tentu saja tidak repot-repot, lagi pula Kakek dan Kak Henry sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri, Aku dan Kak Herny, dekat cukup lama kami di you bahkan satu sekolah," jawab Tiara, ali minyaknya ingin memperjelas jika hubungan antara dirinya dan Henry sudah sangat dekat, dan mereka sudah kenal lama.
"Ya, Aku dan Tiara memang cukup dekat, Tiara sudah aku anggap seperti adikku sendiri, jadi kamu dak perlu merasa cemburu sayang," kata Henry sambil merangkul Anya.
Ekpersi Anya negara menjadi kaget ketika mendengar kata-kata barusan.
Siapa pula yang cemburu?
Dirinya tidak cemburu sama sekali!
Ini jelas bukan urusannya jika, Henry ingin dekat dengan wanita manapun karena dari awal tuan muda itu memang selalu bersama dengan banyak wanita.
Anya hanya tersenyum setelah mendengar itu.
Henry punya, segera memilih duduk di samping Anya.
Namun, Tiara jelas terlihat tidak menyerah dengan rencananya.
####
Siang, itu Anya pergi ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan ayahnya.
Ayah Anya, sudah tidak lagi bertanya soal pernikahannya, jadi Anya merasa lega karena tidak harus membuat ayahnya khawatir.
Ya, Ayah Anya, tidak ingin membuat khawatir putrinya jadi dia tidak mengatakan soal percakapan yang sebelumnya dirinya miliki dengan Sherly.
"Apakah keadaan Ayah sudah cukup baik?"
"Ya, kata dokter setelah aku melakukan beberapa rehabilitasi aku akan bisa berjalan dengan normal kamu tidak perlu khawatir keadaan jantungku sekarang juga sudah baik-baik saja,"
"Syukurlah aku setidaknya merasa sangat lega dengan berita ini,"
Dua orang itu, terlihat bercakap-cakap dengan senang, sampai siang hari, dan akhirnya Sherly datang.
Anya, jelas segera mengatakan rencananya untuk mengundang Sherly ke Apartemennya untuk mengajarinya memasak.
Sherly jelas senang, karena akhirnya kesempatan untuk datang ke apartemen tempat Kakaknya Anya dan Tuan Muda itu tinggal akhirnya tiba.
Mungkin dirinya bisa menemukan hal-hal yang bagus di rumah mereka.
Namun, ada beberapa hal lain yang membuat Sherly penasaran.
__ADS_1
"Kak Anya ingin belajar memasak? Kenapa tiba-tiba seperti itu?"
"Ya, seseorang memintaku untuk memasak untuknya, aku tidak memiliki pilihan,"
Sherly tentu saja tahu siapa orang yang dimaksud itu.
"Emm, Apakah Kakak tidak apa-apa?"
"Sherly, Kenapa kamu terus bertanya soal keadaanku dari kemarin? Sebenarnya kenapa denganmu?"
"Aku hanya khawatir kepada Kakak, Apakah itu tidak boleh?"
"Hah, kamu ini tidak perlu khawatir padaku. Kamu harus mengkhawatirkan dirimu sendiri, jangan lagi membuat masalah di luar sana,"
Sherly tentu saja mengerti apa kata-kata Kakaknya itu.
"Ya, Aku tidak akan membuat masalah,"
"Benar juga, Ibu dimana? Aku belum melihatnya dari tadi?"
"Dia saat ini sedang ada di perusahaan untuk mengurus beberapa hal di sana,"
"Hmm, jadi begitu dia pasti cukup kesulitan juga sejak Ayah sakit,"
"Begitulah,"
Dan sebenarnya tanpa dua orang itu, tahu saat ini Ibu Tiri Anya sedang mengadakan sebuah pertemuan dengan Henry.
"Ya, ada hal penting apa yang Ibu Mertua inginkan? Aku ini sebenarnya orang yang sangat sibuk,"
"Jadi begini Tuan Muda, saat ini Perusahaan masih membutuhkan beberapa suntikan dana lagi, kami berniat untuk melakukan perluasan perusahaan,"
Ketika Henry mendegar itu, dirinya merasakan hal-hal tidak enak.
bukan karena dirinya pelit atau hitung-hitungan.
"Apakah itu benar-benar perlu?"
"Bukankah tuan muda sendiri sebelumnya sudah janji akan menginvestasikan dana pada Perusahaan kami?"
"Aku sebelumnya sudah memberikan dana kepada kalian apakah itu masih kurang cukup?"
"Tapi, memang saat ini Perusahaan masih membutuhkan dana yang cukup,"
Henry menjadi terdiam ketika mendengar itu, namun segera dirinya memiliki sebuah ide.
Dirinya teringat soal Anya yang tidak ingin hamil itu, walaupun semalam Anya terlihat tidak menolak namun apa yang tahu sesuatu yang dia rencanakan?
"Aku akan memberikan kalian dana tambahan, asalkan Ibu Mertua mau membujuk Anya, agar dia mau memiliki anak denganku, bahkan dua kali lipat, yang kamu inginkan,"
Ros yang mendengar permintaan tiba-tiba itu jelas menjadi kaget.
Namun jelas sekali itu bukan penawaran yang buruk sama sekali, dan jelas saja kok sebagian uang itu akan masuk ke kantongnya sendiri.
"Tentu saja, Tuan Muda. Itu perkara mudah, pasti Aku akan membujuk Anya, agar dia bisa cepat hamil,"
"Itu bagus,"
Henry merasa cukup puas dengan rencananya.
__ADS_1
Ya, dirinya benar-benar serius untuk memiliki seorang anak dengan Anya sekarang, kalau dipikir lagi saat ini umurnya sudah 30 tahun pula.
Jelas, dirinya tidak bisa membiarkan Anya lepas darinya tangannya begitu saja, karena Anya kan sudah menjadi miliknya, apapun rencana yang dia miliki dirinya pasti akan menggagalkannya.