ISTRI NAKAL GUS TAMPAN

ISTRI NAKAL GUS TAMPAN
Kabar Perjodohan


__ADS_3

***


"Tidak bisa! Kamu tidak boleh kerja! Papah sudah menjodohkan kamu dengan anak teman Papah dan kamu tidak boleh nolak!"


Kedua bola mata Alira hampir saja meloncat keluar dari tempatnya, mulutnya terbuka lebar mendengar perkataan papanya barusan.


"Apa? Dijodohkan?"


"Iya, dan minggu depan kalian tunangan!"


"Tapi, Pah. Alirakan baru tamat kuliah. Alira belum mau nikah. Alira masih mau kerja dulu!"


"Tidak! Papah tidak izinkan kamu! Ini sudah jadi keputusan Papah. Mau tidak mau kamu harus tetap menikah. Titik!" tegas Tuan Sadewa, ia tak peduli dengan perasaan anak gadisnya saat ini.


Dada Alira mendadak terasa sesak, wajahnya memerah menahan amarah dan tangis secara bersamaan. Ia tidak menyangka papahnya yang selama ini selalu menuruti keinginannya akan setega itu menjodohkan dirinya. Padahal baru saja kemarin ia mengatakan mendapat tawaran kerja di sebuah perusahaan dengan gaji yang lumayan dan papanya sudah setuju, tapi sekarang?


Tiba-tiba papanya justru memaksanya menikah dengan laki-laki yang tak Alira kenal. Alira juga belum siap menjadi seorang istri, ia belum siap mengurus suami, mengurus anak jika punya anak nanti. Ah, pokoknya Alira belum siap semuanya.


Perlahan kedua matanya mengeluarkan air bening kemudian meluncur bebas jatuh ke pipinya.


"Papah jahat! Alira benci sama Papah!"


Lalu berlari masuk ke kamar, tidak peduli dengan Tuan Sadewa-papanya yang terus memanggil.


"Alira! Alira! Dengerin dulu! Papa belum selesai bicara! Alira!"


Alira tidak peduli dan tetap masuk ke kamarnya membanting pintu hingga terdengar bunyi berisik yang memekakan telinga.


Tuan Sadewa hanya menggelengkan kepalanya, meraup wajahnya melihat ulah anak gadisnya yang semakin hari semakin susah diatur.


"Anak itu ... hhh," desahnya, lalu beralih menatap bingkai yang tergeletak di atas meja tak jauh darinya. Tuan Sadewa meraih bingkai itu dan ditatapnya potret di dalamnya.


Dadanya makin sesak. 21 tahun sudah ia membesarkan putrinya seorang diri tanpa di dampingi istrinya. Almira-mamah Alira meninggal setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya seorang diri tanpa sepengetahuannya.


Almira adalah sosok istri yang kuat, tidak banyak mengeluh dan meminta. Bahkan dia adalah sosok perempuan yang terbaik yang pernah ia kenal sepanjang hidupnya.


"Mah, Papah tidak sanggup mengurus Alira sendirian. Papa butuh mamah di samping Papah. Kenapa mamah begitu cepat menggalkan Papah?"


Dibelainya wajah cantik dalam bingkai. Ia sungguh sangat merindukan istrinya saat ini. Selama ini ia sudah berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi putrinya. Semua yang Alira butuhkan ia penuhi, bahkan tanpa diminta pun ia belikan karena rasa sayangnya pada Alira.


Apa ia terlalu memanjakannya sehingga Alira menjadi seperti ini? Berani menentangnya? Padahal ia hanya ingin yang terbaik buat putrinya.

__ADS_1


Di dalam kamar Alira menghempaskan tubuh ke atas kasur yang empuk, memeluk boneka kesayangannya, meringkuk seperti bayi. Air matanya kian deras mengalir dari kedua matanya sampai membasahi boneka Tedy Beruang kesayangannya. Alira kecewa pada papahnya karena begitu egois memaksakan kehendak.


Ia masih terlalu muda untuk menikah. Alira masih ingin bekerja, bermain bersama teman-temannya. Ia belum siap melayani seorang suami, perjalanannya masih panjang. Masih banyak yang ingin dicapainya. Alira ingin jadi orang sukses tanpa bantuan dari papahnya, dan jalan itu sudah ada di depan mata masa iya harus dilepaskan begitu saja.


Tidak! Alira tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Mendapat tawaran kerja di perusahaan cukup besar itu jelas-jelas kesempatan langka dan ia tidak boleh menyia-nyiakan itu.


Dihapusnya kedua pipinya yang basah kemudian beranjak masuk ke kamar mandi. Menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin.


"Gue nggak mau nikah sekarang! Gue masih muda. Gue masih mau kerja."


Alira mondar-mandir di kamar mandi sambil memikirkan bagaimana caranya agar pernikahan itu tidak terjadi. Enak saja ia harus menikah muda. Bagaimana kalau ternyata calon suaminya sudah tua? Sudah bau tanah? Pesakitan? Dan dirinya harus merawatnya sepanjang hidupnya? Iyuuee


"Pernikahan itu harus gagal, tapi bagaimana caranya?"


Kembali Alira berjalan kesana-kemari seperti setrikaan. Ia terus berpikir dan berpikir. Tiba-tiba terpikir sebuah ide, kedua bibirnya tertarik ke samping membentuk senyum jahat.


"Gue tau caranya. Ah, Alira lo emang jenius. Gak salah nilai IPK lo tinggi kalo masalah ginian aja lo gak bisa pecahin."


Alira keluar lalu mencari papahnya, tetapi Tuan Sadewa tidak ada di ruang tamu.


"Pah! Papah di mana?"


Kedua kalinya terayun ke kamar papahnya, tapi di kamar pun tidak ada. Di taman belakang, di teras depan juga tidak ada.


"Papah kemana ya?"


Alira terlonjak karena tiba-tiba asisten rumah tangganya tiba-tiba berdiri di dekatnya. Dadanya sampai berdentum saking kagetnya.


"Mbak Minah, bikin orang kaget aja. Kalo jantung Alira copot gimana, Mbak Minah mau tanggung jawab?"


"Ganti jantung pisang, Non." Jawab asisten rumah tangganya sambil cekikikan. Alira memajukan bibirnya ke depan.


"Apaan sih, gaje banget."


"Maafin si Mbak, Non."


"Emmm, Mbak Minah lihat Papah nggak?" kemudian tanya Alira.


"Tau, tadi saya lihat Tuan pergi naik mobil. Ohiya kelihatannya Tuan juga buru-buru setelah mengangkat telpon," terang Mbak Minah.


Alira mengangguk-anggukan kepalanya sambil berpikir apakah papahnya marah kepadanya karena ia menolak dijodohkan? Ah, entahlah.

__ADS_1


"Papah kemana ya?" gumamnya memegangi dagu.


"Saya juga nggak tau, Non."


"Ck, aku lagi nggak nanya kamu. Ah, udahlah aku mau masuk dulu."


Alira kembali ke dalam diikuti Bi Imah dari belakang kemudian kembali ke kamar ia hampir lupa jika ada janji dengan Asya-sahabatnya untuk menemaninya ke sebuah tempat.


Usai berdandan Alira segera meluncur menjemput Asya di rumahnya dan ternyata gadis itu sudah menunggunya di teras.


"Lama banget sih kamu aku udah nungguin juga dari tadi?" sungut Asya manyun, pasal hampir satu jam dia menunggu Alira.


"Hehe, maaf, aku lupa," jawab Alira nyengir lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Pantas. Udah yuk berangkat keburu telat!"


"Eh, tunggu. Kita mau kemana sih kok, dandanan lo kayak gitu?" Alira bingung karena belum tau kemana mereka akan pergi, terlebih melihat penampilan gadis yang biasa disapa Aca itu beda.


Asya sangat rapi seperti orang mau pergi kondangan. Sementara dirinya hanya memakai celana kulot dengan kaos lengan panjang berwarna toska.


Aca nyengir. "Ke pengajian," sahutnya yang membuat Alira melongo.


"Wath?"


"Ish, udah buruan yuk, keburu pengajiannya dimulai!" Aca masuk ke mobil sementara Alira masih terpaku di tempat. "Woi, ngapain masih bengong di situ, buruan!"


Alira terperanjat lalu duduk di belang kemudi, ia masih linglung untuk apa ke pengajian? Apa sahabatnya ini akan memaksanya mendengarkan ceramah lagi seperti waktu itu?


Setelah menempuh perjalanan mereka tiba di tempat tujuan, Alira tidak ikut turun karena tidak memakai hijab meski baju yang ia kenakan sopan tetap saja ia tidak memakai tutup kepala. Kan tidak mungkin ia masuk mendengarkan ceramah tapi tidak memakai kerudung. Namun, ternyata Asya sudah menyiapkan jilbab untuknya dan terpaksa Alira ikut masuk meski dengan sepenuh hati.


Mereka lalu berbaur dengan jemaah pengajian yang lain. Alira merasa risih karena sejak tadi semua orang seperti memperhatikan dirinya. Apa ada yang salah dengan penampilannya? Memang ia tidak memakai gamis seperti yang lain, tetapi pakaiannya longgar dan juga panjang karena Alira memang tidak suka baju ketat yang mencetak bodynya yang ramping.


"Ca, gue tunggu di mobil aja ya? Gue risih diliatin terus dari tadi?" bisik Alira di dekat telinga sahabatnya yang sedang asik mengobrol dengan ibu-ibu yang berada di sebelahnya.


"Ya udah deh terserah kamu aja yang penting kamu jangan tinggalin aku," sahutnya berbisik pula.


Alira keluar dari masjid dan tak sengaja bertabrakan dengan orang yang hendak masuk ke dalam.


"Maaf," ucap Alira sopan, tetapi orang yang ditabraknya hanya mengangguk dengan kepala tertunduk kemudian berlalu bersama dua orang di belakangnya. Alira menatap orang itu hingga ia berdiri di belakang podium.


'Apa itu yang mau ceramah?' batin Alira kemudian melanjutkan jalannya menuju ke parkiran di mana mobilnya berada.

__ADS_1


Sebenarnya Alira malas datang ke tempat seperti ini kalau bukan karena sudah janji pada Asya ia mana mau. Mending di rumah tidur atau ke mall itu lebih menyenangkan.


Bersambung


__ADS_2