
***
Gus Irham menatap istrinya dengan takjub. Ia tidak menyangka Alira mau makan di tempat seperti ini? Karena makanan sudah terlanjur dibungkus Gus Irham terpaksa mengajak Alira makan di warung yang ada di pinggir jalan, tadi ia meminjam dua piring untuk dirinya dan Alira.
Mungkin karena sudah terlalu lapar atau memang itu sudah biasa Alira makan dengan lahap tanpa peduli dengan sekitar.
"Alhamdulillah," ucap Alira lalu mengelap bibirnya menggunakan ujung jilbab.
"Eh, mau ngapain?" tanya Gus Irham heran.
"Lap."
"Di sini saja." Gus Irham mengulurkan lengannya. Alira hanya menatapnya heran.
"Buat apa, Gus?"
"Katanya mau lap, udah di baju saya saja!"
Alira mengedip-ngedipkan kedua matanya. Suaminya ini salah makan apa gimana sih kenapa tiba-tiba jadi so sweet begini.
Alira mengangkat tangan kanannya kemudian menempelkan di kening suaminya. "Nggak panas. Kamu sakit, Gus?"
Gus Irham berdecak. "Tidak, saya baik-baik saja. Sudah cepetan lap bibir kamu!" Gus Irham kembali mendekatkan lengannya. Alira palah makin heran dibuatnya.
"Kenapa diam katanya butuh lap?"
"Ta-tapi nanti baju njenengan ko-kotor, Gus." Alira benar-bisa tak mengerti dengan sikap Gus Irham saat ini. Tadi marah sekarang perhatian begini, aneh.
__ADS_1
"Tidak apa-apa nantikan bisa dicuci kalau sudah sampai di rumah daripada jilbab kamu yang kotor?"
Dengan terpaksa akhirnya Alira mengelap bibirnya pada lengan suaminya, aroma parfum yang menyeruak tercium hidunya. Wangi dan Alira sangat suka. Tiba-tiba jantung berpacu sangat cepat, berdentum-dentum seperti mau keluar dari tempatnya.
'Kenapa gue jadi degan gini sih? Eh, hati! Bisa diem gak si lu? Brisik tau!' batin Alira memaki. Ia tidak mengerti dengan apa yang sedang ia rasakan saat ini pakah itu cinta atau hanya terharu?
Setelah kenyang mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju pondok. Keadaan jadi sangat canggung dan keduanya hanya saling diam tanpa sepatah kata. Kadang mereka saling pandang kemudian tersenyum satu sama lain. Alira kembali mengutuki hatinya yang masih saja tak bisa tenang seperti sedang ada konser Blak Pink di sana.
Karena hampir maghrib akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti di sebuah masjid yang ada di dekat jalan untuk sholat. Setelah azan dan iqomat seorang laki-laki berpeci hitam berbisik pada pria yang duduknya di barisan persis di samping Gus Irham.
"Pak Kyai ndak bisa rawuh, beliau mendadak sakit."
"Aduh, bagaimana ini?" kata Bapak-Bapak yang berdirinya paling dekat dengan Gus Irham.
"Njenengan saja yang jd imam."
"Lah, kok saya? Jangan. Saya belum pantas."
Laki-laki yang berbisik tadi melirik Gus Irham. "Bagaimana kalo dia saja? Kayaknya dia anak pondokan."
Dan setelah dipaksa akhirnya Gus Irham mengimami sholat maghrib di sama. Ada yang sempat heran karena suaranya berbeda, masih muda, terdengar jelas, lantang dan suaranya sangat merdu.
Usai sholat mereka penasaran siapa yang jadi imam tadi terutama perempuan. Mereka mengintip dari kain yang digunakan sebagai pembatas laki-laki dan wanita.
"Yu Lasmi, delo'en. Masya Allah suami idaman, wes wonge ganteng, suaranya bagus, sholeh lagi. Coba aku belum menikah pasti dia ...,"
"Lambemu iku toh Yu, Yu. Mbok ngaca, bojone sampean meh di duko ngendi?" Cibir kawannya.
__ADS_1
Alira yang ada di belakangnya hanya tersenyum. Iya, ia mengakui jika suaminya itu memang tampan, suaranya merdu dan juga sholeh. Apa ia harus bersyukur punya suami seperti Gus Irham? Ah, entahlah. Yang jelas untuk saat ini ia belum tahu tentang perasaannya pada laki-laki pilihan papanya.
"Kamu ngantuk?" tanya Gus Irham saat mereka sedang berjalan menuju mobil. Alira sejak tadi selalu menguap.
"Sedikit," jawab Alira lalu menguap lagi. Kebiasaan kalau kenyang Alira pasti ngantuk.
Gus Irham membuka pintu mobil untuk Alira dan mempersilahkan masuk. Alira jadi merasa tersanjung mendapat perlakuan yang begitu manis dari suaminya.
"Yah, dia sudah punya istri mana istrinya cantik banget lagi."
"Ck, ck, ck, Yuuu. Eling kang Darto mbok kowe kapa'no?"
"Buang ke laut."
Gus Irham juga Alira menoleh kedua wanita yang berdiri tak jauh dari mereka. Gus Irham hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sementara Alira memonyongkan bibirnya. Ia tidak rela suaminya diperebutkan orang.
Gus Irham lalu masuk ke mobil dan langsung menghidupkan mesinnya, perlahan tapi pasti kendaraan beroda empat itu mulai bergerak meninggalkan pelataran masjid.
Alira masih sama seperti tadi, manyun. Hatinya sangat panas mengingat pujian kedua perempuan di masjid tadi.
"Al, kamu kenapa diam terus dari tadi? Masih ngantuk, kalau iya tidur saja nanti kalau sudah sampai saya bangunin?"
Alira hanya menggeleng sebagai jawaban, malas bersuara.
"Atau kamu masih lapar?" tanya Gus Irham lagi. Alira menggeleng lagi membuat laki-laki yang sedang mengemudi bingung. Kenapa mood perempuan mudah sekali berubah.
"Oh, kamu cemb ...,"
__ADS_1
"Aku nggak suka perempuan-perempuan itu muji-muji kamu, Gus. upst," kesal Alira kemudian cepat menutup mulutnya.
Next capter >>>