ISTRI NAKAL GUS TAMPAN

ISTRI NAKAL GUS TAMPAN
Bertemu Asya


__ADS_3

***


Sudah dua kali Gus Irham mendengar kalimat yang sama dari istrinya dan iya yakin jika kali ini Alira menyebut kata 'pacar' bukan 'pagar' seperti kemarin karena mereka sedang berada di dalam mobil.


Ia lalu membenarkan posisi duduknya menghadap Alira menatapnya penuh tanya.


"Katakan! Apa maksud kamu menuduh saya punya pacar dan atas dasar apa kamu menuduh saya? Tidak usah mengelak karena tidak ada pagar di sini?!" Tegas dan penuh penekanan.


Sementara mendapat tatapan yang tidak biasa dari suaminya Alira kalang kabut sendiri, tetapi tuduhan itu ia berikan bukan tanpa Alasan. Ia melihat sendiri Gus Irham dengan sangat mesra mengusap kepala wanita itu mereka juga makan bareng sambil tertawa, kalo bukan pacar lalu apa namanya?


Alira mengerjap-ngerjapkan kedua bola matanya karena bingung mau menjawab apa?


"Kenapa kok, tidak dijawab?"


Alira menoleh jok belakang yang kemudian disusul Gus Irham. Sepertinya mereka lupa kalau ada Nurul yang sejak tadi bersama mereka.


"Oke, kita bicara lagi nanti di rumah." Gus Irham kembali ke posisi semula dan bersiap melajukan kendaraannya kembali.


Alira menghela napas lega, ia memang butuh waktu untuk menyusun kalimat yang pas untuk bertanya mengenai apa yang di lihatnya lihatnya waktu itu.


"Sekarang katakan maksud ucapan kamu tadi?"


Baru juga menutup pintu kamar, Gus Irham sudah menodongnya dengan pertanya, sepertinya laki-laki itu memang sudah tidak sabar ingin segera mengetahui mengapa Alira bisa berkata demikian?


Alira yang baru hendak melepas jilbab instannya urung, memutar badan menghadap suaminya. Tampak wajah Gus Irham menatapnya penuh selidik.


"Waktu itu aku pernah lihat kamu makan sama perempuan berhijab di depan rumah sakit," sahut Alira dengan muka sedih. Bayangan suaminya yang terlihat mesra itu sedikit melukai hatinya.


Gus Irham mengernyitkan keningnya seperti tengah mengingat sesuatu.


"Bukan cuma itu, kamu juga mengusap kepalanya, tertawa, bahkan kamu terlihat sangat bahagia sama dia, Gus." Tumpah sudah sesak dadanya seiring lolosnya dua bulir air mata dari kedua netranya. Ini untuk kedua kalinya Alira seperti ini di depan suaminya.


Bedanya dulu menangis karena dijodohkan, tapi sekarang menangis justru karena takut kehilangan. Iya, Alira sadar semakin hari ia sangat takut kehilangan Gus Irham.


Gus Irham hanya terpaku di tempatnya berdiri sejurus kemudian bibirnya menyungging senyum lebar.


"Bukan begitu, dia ...,"


"Dia istri kamu yang lain 'kan, Gus?" sela Alira cepat tak memberi celah Gus Irham untuk menjelaskan. "Lebih baik kita pisah aja, Gus, aku mundur," sambungnya kemudian terisak.


Alira duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke tempat tidur lalu menekuk kedua kakinya dan menyembunyikan wajahnya di sana.

__ADS_1


Gus Irham menghampiri lalu ikut duduk di sebelahnya, menarik napas dalam kemudian mengeluarkannya perlahan.


"Besok kamu ikut saya! Saya akan memperkenalkan seseorang sama kamu," ucapnya kemudian menoleh ke samping.


"Siapa?" Cepat Alira mengangkat wajahnya. "Perempuan itu? Aku nggak mau."


"Pokoknya besok kamu ikut, nanti kamu juga tau. Sekarang bangun dan cuci muka kamu, jelek tau kalo nangis." Gus Irham mengusap wajah Alira membuat gadis itu tersipu.


"Al, asal kamu tau. Dalam hidup ini, saya hanya ingin membina berumah tangga sekali. Membesarkan anak-anak kita nanti, mengajari mereka solat, mengaji ... dan itu hanya sama kamu."


Lenyap sudah kemarahan dan sesak di dada Alira, meski ia tahu itu hanya gombalan, tapi entah kenapa hatinya langsung melunak Atau memang semua perempuan seperti ini? Suka digombalin?


"Awww, kok saya dicubit?" Satu cubitan berhasil mendarat di perut Gus Irham.


"Au ah, kamu gombal, Gus."


Usai berkata demikian Alira beranjak keluar untuk membantu Mbak Minah dan Nurul memasak. Sementara Gus Irham hanya tersenyum melihat istrinya yang salah tingkah tadi.


"Ternyata perempuan kalo sedang marah lebih menggemaskan," gumamnya sejurus kemudian masuk ke kamar mandi.


Seperti biasa, hari ini pun Gus Irham diminta menggantikan abahnya dengan alasan yang sama yaitu beliau sedang tidak enak badan. Sebenarnya Gus Irham ingin pulang karena khawatir dengan kondisi beliau, tetapi di sini pun Alira sedang membutuhkan dirinya. Tidak mungkin ia meninggalkan istrinya dan membiarkannya merawat papanya yang masih belum sepenuhnya sehat.


Ponsel Alira berdering sejak tadi, tetapi tak ada yang mengangkat karena si pemilik sedang asik menata makanan di meja. Gus Irham yang baru keluar dari kamar mandi meraih ponsel istrinya yang terus menari-nari di atas nakas, akan tetapi sebelum ia sempat angkat sudah mati. Namun, beberapa detik kemudian ada notif masuk.


Di dapur Alira tampak sedang senyum-senyum sendiri dari tadi sampai tidak sadar jika ada Mbak Minah dan Nurul yang memperhatikan.


"Bik, kelihatannya, Neng Alira lagi bahagia. Tuh, dari tadi senyum-senyum sendiri?" ucap Nurul lirih.


Mbak Minah melirik sekilas pada Alira yang sedang duduk melamun.


"Biarkan saja, daripada kemarin dia sedih terus mikirin papanya?"


"Iya juga, kasihan. Kemarin waktu papanya sakit si Eneng Nur lihat sering nangis."


"Iya. Sudah jangan nggosipin Non Alira terus! Itu piring dicuci yang bener!"


"Iya, Bik."


"Al, saya mau pergi mengisi acara menggantikan abah. Kamu tidak apa-apa 'kan, kalo saya tinggal?"


Ucapan itu mengagetkan Alira lalu menoleh sumber suara. Tampak Gus Irham sedang berdiri tak jauh darinya dengan pakaian yang sudah rapi.

__ADS_1


"Gus." Alira beranjak dari duduk mengayunkan kedua kakinya menghampiri suaminya. "Kamu mau pergi?"


"Iya, saya harus menggantikan abah mengisi acara seperti kemarin. Abah masih sakit."


"Abah sakit?" Ada kecemasan yang Gus Irham tangkap dari wajah istrinya, mungkinkah Alira juga mengkhawatirkan abahnya?


Ah terang saja istrinya juga khawatir karena papanya pun sedang sakit jadi dia cemas.


"Iya abah sedang sakit mungkin karena terlalu lelah."


"Gus mau pulang jenguk, abah?"


"Nanti saja kalo papa sudah benar-benar sembuh biar kita sama-sama pulangnya. Ohiya, ini tadi handphone kamu bunyi terus dan sepertinya juga ada pesan masuk." Gus Irham mengulurkan ponsel milik Alira yang langsung diterimanya.


[Kamu di Jakarta? Sherlock, aku mau main]


Alira Tersenyum lebar membaca pesan dari sahabatnya, mereka sudah lama tidak bertemu.


Alira mengetik balasan dan tak lupa menyebut lengkap alamat rumahnya.


"Kayaknya bahagia banget."


Pandangan Alira yang semula terfokus pada ponsel teralih.


"Kamu, bisa nggak perginya ditunda sebentar, ada orang yang mau aku kenalin?"


Gus Irham melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Jam 9:50 menit acara mulai sekitar pukul 12 siang selepas sholat dzuhur jadi ia masih ada waktu untuk sekedar berkenalan dengan sahabat istrinya.


Tak berapa lama pintu diketuk dari luar, Alira segera beranjak membukanya.


"Hai." Senyum menyambut bersamaan tangan kanan yang terayun di depan wajah.


"Asya?" Mereka laku berpelukan selayaknya telettubiebiss.


"Gila ya pulang ke Jakarta nggak bilang-bilang aku kangen banget tau nggak sama kamu?" ucap Asya usai mengurai jarak. Alira hanya nyengir menampilkan deretan giginya lalu mengajaknya masuk dan duduk di ruang tamu.


"BTW katanya kamu udah nikah kok nggak bilang-bilang, terus suami kamu mana?"


"Ada, sebentar aku panggilin." Alira hendak bangun, tetapi urung karena melihat Gus Irham datang dari dalam. "Itu dia suami aku."


Asya menoleh dan seketika kedua matanya membola serta mulutnya yang terbuka lebar.

__ADS_1


"Mas Irham?"


__ADS_2