ISTRI NAKAL GUS TAMPAN

ISTRI NAKAL GUS TAMPAN
Kisah Silam


__ADS_3

***


Farhan masih terdiam mendengar kisah masa lalunya dari Tuan Sadewa. Iya, laki-laki yang memeluknya tadi adalah Tuan Sadewa-papanya Alira yang berarti orang tuanya juga.


"Papa sama Mama sangat sedih karena kehilangan kamu terutama Mama kamu. Dia sampai stres, tiap hari hanya menangis, tidak mau makan, tidak mau minum, sampai akhirnya Papa membawanya ke kota. Berharap suasana baru bisa membuatnya sedikit melupakan tentangmu," tutur Tuan Sadewa, sejenak bayangan wajah istrinya muncul di kepala.


Ia masih ingat dulu kala Farhan kecil hilang saat bermain bersama Gus Irham. Kala itu mereka sedang liburan ke taman Farhan dan Gus Irham terpisah tanpa sadar karena mengejar penjual balon. Mereka mencarinya bahkan sampai meminta untuk disiarkan berita kehilangan lewat pengeras suara. Beruntung ada orang baik yang bersedia mengantarkan Gus Irham kepada Kyai Syarif yang kala itu belum menjadi Kyai besar seperti sekarang. Lain dengan Farhan, putranya tidak bisa ditemukan sampai berhari-hari.


Tuan Sadewa dan beberapa orang yang sengaja dibayar untuk membantunya mencari sampai akhirnya ia pasrah dan menyerah.


""Papa sempat putus asa dan pasrah, tapi beberapa hari lalu orang suruhan Papa berhasil melacak keberadaanmu," pungkas Tuan Sadewa mengakhiri ceritanya.


Keadaan hening sejenak, sibuk dengan pikiran masing-masing. Farhan sendiri masih tidak percaya dengan kenyataan yang sesungguhnya jika dirinya adalah anak Tuan Sadewa.


Tuan Sadewa pamit dan berjanji akan sering mengunjunginya. Dia amat lega juga senang mengetahui bahwa putranya masih hidup bahkan sudah tumbuh dewasa.


Saat tiba di rumah Alira sudah menunggunya, gadis itu sangat cemas ketika tahu papanya pergi tanpa pamit.


Tuan Sadewa tak menjawab. Namun, dari raut wajahnya kentara sekali tak jika dia sedang bahagia.


"Papa kelihatannya sedang bahagia kayak baru dapat proyek baru?"


"Lebih dari itu."


Mereka berjalan masuk ke dalam rumah beriringan. Alira yang penasaran terus menguntit papanya dari belakang.


"Ayolah, Pah, ceritain Papa darimana?"


Bukannya menjawab pria berusia 55 tahun itu hanya tersenyum saja membuat Alira kian penasaran. Beberapa hari ini papanya murung dan sekarang tiba-tiba wajahnya begitu ceria.


"Nanti Papa ceritain, sekarang Papa capek mau istirahat dulu."


"Yah, Pah! Papa!"


Tuan Sadewa tak menggubris panggilan putrinya, dia tetap berjalan masuk ke kamar sambil bersiul kemudian menutup pintunya rapat-rapat.


"Papa kenapa sih, aneh gitu?"


Alira jadi khawatir melihat tingkah papanya yang tidak biasanya.

__ADS_1


"Sebaiknya aku telpon Mas Irham suruh pulang."


Alira segera kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya. Namun, berkali-kali nomor Gus Irham dihubungi, tapi tak diangkat sama sekali. Akhirnya Alira hanya meninggalkan pesan agar jika pengajian sudah selesai segera pulang ke rumah.


Usai mengirim pesan pada suaminya Alira menyimpan kembali handphonnya kemudian kakinya terayun ke dapur, ia hendak membantu Mbak Imah dan Nurul menyiapkan makan malam.


Sekitar pukul lima sore Gus Irham pulang dengan disambut Alira yang sudah tidak sabar ingin menceritakan soal papanya.


"Gus, Papa aneh banget hari ini? Pergi nggak bilang, pulang-pulang kelihatannya bahagia banget. Kira-kira kenapa ya, Gus?"


Baru juga masuk Alira sudah mencecarnya dengan pertanyaan. Gus Irham yang sedang melepas jasnya menoleh pada istrinya.


"Bukannya bagus kalo Papa bahagia? Memangnya kamu nggak seneng Papa bahagia?" jawab Gus Irham tenang seperti biasanya.


Alira menerima jas dari Gus Irham lalu menyimpannya di belakang pintu.


"Bukan begitu maksudku, tapi Papa aneh banget hari ini?"


Gus Irham tersenyum, ia tahu Alira hanya sedang khawatir pada papanya makannya dia takutnya sampai berlebihan.


"Nanti biar saya yang tanya sama Papa. Saya mau mandi dulu nanti kita sholat sama-sama."


"Njenengan nggak sholat di masjid?"


"Hari ini saya ingin sholat berjama'ah dengan istri saya tercinta." Katanya lalu menutup pintu.


Kedua pipi Alira langsung berubah merona mendengan ucapan suaminya barusan. Ia jadi teringat dengan janjinya pada dirinya sendiri jika malam ini Gus Irham meminta haknya Alira sudah siap.


"Eh, sini sayang duduk dekat Papa ada yang mau Papa bicarakan!" Tuan Sadewa menepuk sisi kanan sofa yang masih kosong.


Usai makan malam Tuan Sadewa sengaja duduk di ruang keluarga karena ingin menceritakan soal Farhan.


Alira menurut sementara Gus Irham duduk di sofa singgel di sebelah kanan mertuanya.


"Papa mau cerita sesuatu, tapi kamu jangan marah ya, sama Papa?" tanya Tuan Sadewa hati-hati sebab, dia takut kalo Alira marah karena baru memberitahu jika dia mempunyai kakak laki-laki.


Alira menoleh suaminya sekilas kemudian kembali menoleh papanya.


"Apa Pah, kelihatannya serius?"

__ADS_1


Tuan Sadewa menarik napas panjang sebelum mulai cerita, Alira mendengar dengan seksama dari awal hingga akhir. Meski sedikit kecewa karena bertahun-tahun lamanya baru mengetahui jika dirinya mempunyai sodara. Sedangkan itu adalah impiannya sejak dulu.


Menjadi anak tunggal dan selalu ditinggal pergi kerja membuatnya sering merasa kesepian. Karena itulah dulu ia sering keluar rumah apalagi kalau bukan untuk menghibur dirinya yang kesepian.


"Maafkan Papa karena Papa baru menceritakannya sekarang. Sebenarnya Papa sudah pasrah dan ikhlas jika memang kakak kamu tak bisa ditemukan, tapi seminggu lalu orang suruhan Papa berhasil menemukannya," kisahnya.


Alira hanya diam mendengar kisah papanya dalam mencari kakaknya. Ternyata papanya lebih menderita ketimbang dirinya. Kehilangan sang buah hati selama bertahun-tahun tentu itu sangat menyiksa.


"Terus kakak mana, Pah, kenapa nggak dibawa pulang? Alira 'kan juga pengen ketemu, Pah?"


Dulu Alira berpikir seandainya ia punya sodara dirinya bisa bermanja kepadanya karena pada dasarnya ia memang sangat manja, hanya saja dulu papanya selalu sibuk bekerja jadi ia mencari kesenangan sendiri.


"Besok Papa ajak kamu bertemu dengannya, kamu kenal sama dia," kata Tuan Sadewa dengan wajah berbinar.


Alira juga Gus saling pandang.


"Alira kenal, Pah? Siapa?"


Alira menerka beberapa nama teman laki-lakinya. Namun, dari sekian tak ada satu pun yang dia yakini sebagai kakaknya karena dia juga kenal dengan keluarganya.


"Ayolah, Pah, jangan main tebak-tebakan? Katakan siapa dia?"


Alira begitu penasaran akan sosok seperti apa kakak lelakinya. Apakah mirip dengan dirinya? Ah, Alira sudah tidak sabar ingin segera berjumpa.


"Nanti kamu juga akan tahu," jawabnya semakin membuat Alira penasaran kemudian berlalu masuk ke dalam kamar.


Tinggal Alira dan suaminya yang masih duduk sambil terus berpikir, menebak-nebak siapa gerangan orang yang dimaksud papanya.


"Kira-kira dia sia ya, Gus? Kenapa papa nggak ngasih tau aja sih kenapa main tebak-tebakan? Ish, bikin penasaran aja?" Alira menggerutu tidak jelas, kenapa papanya membuatnya penasaran begini.


Gus Irham hanya tersenyum kemudian berpindah duduk ke samping Alira, mengusap pundak istrinya.


"Sabar, kata papa besok kita ke sana." Gus Irham mencoba menenangkan istrinya yang sedang kesal.


"Ck, kamu nggak tau sih, Gus, kalo dari dulu aku kepingin punya kakak?" Bukannya tenang Alira justru makin kesal membuat Gus Irham bingung harus berbuat apa.


"Iya saya tau, tapi kamu harus belajar bersabar, yaa?"


Alira mengangguk kemudian mereka beranjak ke kamar, tetapi tiba-tiba Alira menghentikan langkahnya di depan pintu.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Gus Irham.


"Apa jangan-jangan dia ...,"


__ADS_2