ISTRI NAKAL GUS TAMPAN

ISTRI NAKAL GUS TAMPAN
Kembali Ke Pesantren


__ADS_3

***


Malam harinya Alira mengemasi baju dirinya dan suaminya setelah sebelumnya sudah meminta izin kepada papanya untuk pulang ke pesantren. Apalagi setelah mendapat telepon dari mertuanya jika abah masuk rumah sakit. Alira tahu Gus Irham semakin mencemaskan keadaan abahnya.


Sebenarnya tidak banyak baju yang Alira bawa karena di sana bajunya pun sudah banyak, akan tetapi Gus Irham tetap membantunya berkemas. Gus Irham ternyata tak cuma pandai dalam berdakwah, pria dengan postur yang tak begitu gemuk atau pun kurus itu juga sangat rapi menata bajunya ke dalam kopor. Alira sampai geleng-geleng kepala melihatnya karena saking rapinya.


"Kenapa senyum-senyum?"


Alira salah tingkah sendiri karena kepergok tengah mengamati orang secara diam-diam.


"Enggak. Kok, kamu bisa rapi banget nata bajunya? Aku sampe kalah, Gus."


Gus Irham melihat isi kopor Alira lalu membandingkan dengan kopor miliknya. Isi kopor Alira sangat berantakan, malah lebih mirip baju yang belum dilipat.


Gus Irham tak berkata apa-apa, ia cuma tersenyum saja. Ia tahu Alira tidak pernah mengerjakan pekerjaan seperti ini. Dulu ia tinggal terima beres karena semua dikerjakan asisten rumah tangga.


Setelah semua beres mereka pergi tidur. Gus Irham berjalan ke arah sofa hendak pergi tidur, tapi sebelumnya ia mengecek ponselnya terlebih dahulu karena tadi saat sedang berkemas ada notif masuk.


[Mas Irham, Acha ikut pulang. Mas Irham pesenin tiket satu lagi, ya!] Isi pesan tersebut yang ternyata dari adiknya.


Gus Irham tersenyum lalu membalas pesan bertuliskan, 'iya' kepada adiknya kemudian merebahkan tubuhnya di sofa. Tanpa di sadari sejak tadi Alira mengamati gerak-geriknya dari atas tempat tidur. Alira curiga karena saat membaca pasan suaminya itu sepertinya terlihat bahagia.


"Gus, pesan dari siapa?" tanyanya dengan nada cemburu. Kedua mata Gus Irham yang sudah terpejam kembali terbuka, menoleh istrinya yang berwajah masam karena cemburu sehingga timbul niatan untuk mengerjainya.


"Dari Ning Alia," jawabnya santai lalu kembali ke posiai semula.


Seperti yang sudah ia duga, Alira kesal. "Ngapain Ning Alia chat-chat kamu, Gus?" Darahnya langsung mendidih begitu mendengar nama Ning Alia disebut. Alira masih ingat permintaan tak masuk akal dari putri kyai yang cukup mempunyai nama di masyarakat itu. Melamar dan menikahinya, padahal jelas-jelas Ning Alia sudah tahu jika Gus Irham sudah menikah.


"Gus! Jawab! Aku tau kamu belum tidur!" Alira makin kesal karena Gus Irham tak mau menjawab dan justru pura-pura tidur. Ia lalu bangkit dan mendekati Gus Irham, mengguncang-guncang bahunya.


"Gus! Gus! Nggak usah pura-pura tidur! Jawab dulu isi pesannya apa?"


Meski ingin rasanya melihat wajah Alira saat sedang cemburu, tetapi Gus irham tetap memilih berpura-pura tidur. Ia ingin tahu apa yang akan istrinya lakukan. Apakah Alira akan memeriksa ponselnya atau hanya diam dengan menahan kesalnya.


"Oke, kalo kamu nggak mau ngasih tau, Gus. Aku nggak jadi ikut pulang ke Jawa."

__ADS_1


Niat hati mengerjai eh, malah Alira ngambek beneran dan pakai mengancam segala. Dengan terpaksa Gus Irham bangun lalu membujuk istrinya. Beberapa bulan menikah mulai mengenal karakter Alira yang kadang kekanakan, kadang kalem, kadang pecicilan, dan masih banyak lagi sifat Alira yang menurutnya unik.


Mood Alira juga sering berubah-ubah kala sedang marah seperti sekarang ini. Alira ngambek karena chat dari sahabatnya sendiri.


"Al, maafin saya. Itu tadi dari Asya. Dia mau ikut pulang ke Jawa Timur," terangnya. Mendengar nama adik ipar sekaligus sahabatnya disebut Alira membalikkan tubuhnya menghadap Gus Irham. Wajahnya berbinar karena senang.


"Beneran?" tanyanya memastikan. Bukan apa? Jika ada Asya di sana ia tak akan kesepian nanti.


Gus Irham mengangguk. "Iya."


Mungkin karena terlalu gembira sehingga reflek Alira memeluk tubuh suaminya, membuat jantung Gus Irham serasa berhenti sejenak. Selama menikah baru kali ini mereka sedekat ini bahkan tanpa sekat.


"Makasih, Gus," ucap Alira masih belum sadar dengan apa yang ia lakukan.


"Iya sama-sama. Jadi ikut pulang ke rumah Abah 'kan?" Pertanyaan itu justru membuat Alira tersadar lalu melepaskan pelukannya.


"Ma-maaf, nggak sengaja." Ingin rasanya ia berlari ke kamar mandi dan berkaca, pasti wajahnya sudah semerah tomat.


"Nggak pa-pa, saya senang kok."


"Dih."


Alira terdiam mendengar kata-kata Gus Irham barusan. Ia merasa tertampar karena sampai detik ini belum juga melaksakan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik.


"Ka-kalau Gus mau se-sekarang, aku siap kok."


***


Azan subuh mendengung di telinga. Gus Irham membangunkan istrinya yang masih bergemul di dalam selimut untuk sholat subuh berjamaah seperti biasanya. Ia sendiri sudah bangun sedari tadi untuk sholat malam sekalian berdoa untuk kesehatan abahnya yang ada di rumah sakit. Tak lupa ia juga untuk keluarga kecilnya.


Setelah melaksanakan sholat Alira segera pergi ke dapur untuk membantu menyiapkan sarapan. Alira juga menyiapkan kopi dan teh manis untuk suami dah papanya dan hal itu membuat Mbak Minah tersenyum.


Nona mudanya kini benar-benar sudah jauh berubah. Dulu jangankan memasak, pergi ke dapur saja sangat jarang Alira lakukan. Apa mungkin ini karena didikan suaminya yang sudah membuat Alira berubah begini?


Setelah semuanya siap Alira memanggil suami dan papanya untuk sarapan bersama. Suasana di meja makan terlihat hening karena Tuan Sadewa sadar sebentar lagi ia akan kesepian.

__ADS_1


"Pah! Papah kenapa?" Sejak tadi Alira memperhatikan papanya seperti tak berselera makan.


Tuan Sadewa menghela napas dalam. "Papah nggak apa-apa," jawabnya tak ingin membuat putrinya sedih. "Kalian berangkat jam berapa?"


Alira menoleh suaminya sekilas. Gus Irham mengangguk, ia tahu apa yang ada di pikiran istrinya saat ini. Alira pasti berat harus berpisah lagi dari papahnya.


"Emmm ... jam delapan. Maafin, Al, Pah. Papah pasti nanti kesepian lagi."


"Nggak apa, sayang. Kan ada Mbak Minah sama Nurul yang menemani Papa. Papa pasti baik-baik aja."


Alira memaksakan bibirnya tersenyum meski itu sangat berat.


"Al, atau kamu sebaiknya tinggal di sini saja menemani Papa," kata Gus Irham saat mereka sudah berada di kamar. Alira yang sedang memakai hijabnya menoleh.


"Maksud kamu apa? Gus nggak mau aku temani?" tanya dengan nada sedikit kesal.


"Bukan begitu, kasihan Papa sendirian," lanjut Gus Irham. Alira berjalan menghampiri suaminya yang sedang duduk di tepi ranjang, memegang tangannya.


"Gus, aku ini istri kamu. Bukankah kata kamu tugas istri itu mengikuti kemana suaminya pergi?"


Gus Irham terhenyak mendengar ucapan Alira barusan, tapi jujur ia senang melihat Alira yang sekarang.


"Tapi kamu nggak apa-apa kalo jauh dari Papa?"


Alira jadi gemas melihat Gus Irham seperti ini. Ia mencubit hidung suaminya yang mancung.


"Iya, yang penting aku nggak jauh dari kamu. Suami aku." Tanpa rasa malu Alira mulai mengapresiasikan perasaan cintanya pada Gus Irham. Pria yang dulu tak disukainya karena merasa telah merampas kebebasannya untuk menjadi wanita karir, tetapi kini ia pasrah dengan keadaannya, dan justru Alira sangat bahagia sekarang.


Seperti yang sudah dikatakan tadi saat di meja makan, mereka berangkat ke stasiun pukul delapan pagi dengan mengendarai mobil Tuan Sadewa. Dan setibanya di stasiun sudah ada Asya yang sudah menunggu, tetapi ada yang berbeda di sana karena tampak Farhan menemani gadis itu.


Setelah kereta datang mereka segera naik dan melambaikan tangan ke arah Tuan Sadewa dan juga Farhan.


"Pah! Farhan udah mutusin, Farhan mau tinggal sama Papah."


Tuan Sadewa yang masih menatap kereta yang baru saja berlalu mengalihkan pandangannya ke samping.

__ADS_1


"Beneran, Nak? Kamu mau tinggal sama Papah?" Kedua matanya tampak mengembun karena saking bahagianya.


Farhan mengangguk diiringi dengan senyuman.


__ADS_2