ISTRI NAKAL GUS TAMPAN

ISTRI NAKAL GUS TAMPAN
Salah Tingkah


__ADS_3

***


Ketukan di daun pintu mengagetkan keduanya, menoleh sumber suara secara bersamaan. Cepat Alira mendorong dada suaminya agar menjauh darinya kemudian berjalan untuk membuka pintu.


"Ning, Gus Irham dipanggil Pak Kyai," kata Ayu menunduk.


Alira menoleh suaminya. Laki-laki yang tadi membuat jantungnya memompa lebih cepat itu sedang duduk di sofa dengan laptop yang menyala di depannya.


"Emm, iya nanti aku bilangin sama, Gus," jawab Alira kemudian.


Alira lalu menutup pintu kembali setelah Ayu berlalu lantas menghampiri Gus Irham.


"Siapa, Al?" Tanya Gus Irham menoleh Alira sekilas lalu kembali ke laptopnya.


"Ayu. Katanya kamu dipanggil abah."


Gus Irham tak berkata apa-apa karena terlalu fokus pada benda yang menyala di depannya. Sebenarnya Gus Irham mempunyai restoran kecil-kecilan yang ia rintis dari nol bersama Miftah. Dan tadi ia baru saja mengecek laporan pemasukan dan pengeluaran bulan ini.


Ada sedikit masalah di sana dan sepertinya Gus Irham harus segera pergi ke sana untuk mengeceknya lansung.


"Gus!"


"Iya Al, sebentar."


Alira menarik napas dalam, memperhatikan suaminya secara diam-diam. Jujur saja, Gus Irham terlihat sangat tampan jika sedang serius. Rambutnya yang hitam lebat, hidungnya yang mancung, bibirnya tipis dan juga alisnya tebal. Ah, Alira jadi iri kenapa suaminya punya alis seperti itu.


Alira terperanjat dan pura-pura membaca buku yang diraihnya di atas meja depannya. Bisa malu dia kalau sampai ketahuan sedang memperhatikan orang secara diam-diam.

__ADS_1


Gus Irham tersenyum lalu beranjak dari tempat duduknya. "Al," panggilnya lembut. Namun, Alira masih pura-pura membaca membuat Gus Irham gemas saja.


Alira belum sadar jika suaminya kini berdiri sangat dekat dengannya. Gus Irham sendiri menikmati wajah istrinya yang seolah-olah sedang serius membaca padahal ia tahu jika Alira hanya berpura-pura untuk menutupi rasa gugupnya karena ketahuan mencuri-curi pandang.


"Al," panggilnya lagi. Kali ini si empunya nama mengangkat wajahnya dan hampir saja hidung mereka bersentuhan karena jarak yang terlalu dekat.


Pandangan mereka bertemu dan saling mengunci sampai beberapa saat. Degub jantung keduanya pun berdetak sangat keras dan saking kerasnya mereka sampai bisa mendengarnya satu sama lain.


"I--iya Gus, kenapa?" tanya Alira gugup dan terbata. Apakah suaminya tahu jika tadi dirinya mengamati suami secara diam-diam.


"Baca bukunya terbalik," bisik Gus Irham tepat di dekat telinganya.


Alira mengangkat tangannya dan benar saja bukunya terbalik. "Oh, ini ... aku sengaja. Aku suka baca buku terbalik kok," jawabnya kemudian berlalu dari hadapan Gus Irham.


Malu, sungguh Alira kini sangat malu. Kalau ada pintu kemana ladi punya Doraemon atau ada lubang mungkin dirinya akan memilih salah satunya.


Alira yang hampir mencapai pintu menoleh.


"Ambil minum."


"Bukunya nggak ditaruh dulu?"


"Oh iya lupa."


Ingin rasanya Gus Irham mencubit pipi istrinya karena saking gemasnya, tetapi itu jelas tidak mungkin. Ia sudah berjanji untuk tidak menyentuh Alira tanpa seisinnya.


Mereka lalu keluar kamar. Alira pergi ke dapur untuk mengambil minum sementara Gus Irham menemui abahnya di ruang tamu.

__ADS_1


Di dapur Alira bertemu dengan Ayu yang sedang membuat kopi untuk Kyai Syarif dan Gus Irham.


"Biar aku yang antar."


Alira mengambil alih nampan dari tangan Ayu lalu membawanya ke depan, menyimpan gelas itu di depan mertuanya juga suaminya.


"Nduk, sini duduk dulu!" pinta Kyai Syarif saat Alira hendak kembali ke dalam. Alira mengangguk lalu duduk bersebelahan dengan suaminya.


Alira hanya menyimak tanpa tahu apa yang sedang dibicarakan suami dan abah mertuanya, tapi dari yang ia tangkap. Kyai Syarif menyuruh putranya untuk menemui Kyai Hanan. Entah siapa beliau Alira tidak tahu.


***


"Nanti kamu ikut saya!" kata Gus Irham terdengar bukan mengajak, tapi memerintah.


"Kemana? Jalan-jalan?" tanya Alira menaik turunkan kedua alisnya.


"Ke rumah Kyai Hanan."


Alira baru ingat pecakapan suami dan abah mertuanya tadi. Beliau meminta Gus Irham menemui Kyai Hanan.


"Dia siapa, Gus?"


Gus Irham menarik nafasnya seakan berat menjawab pertanyaan istrinya.


"Beliau abahnya Ning Alia."


Deg

__ADS_1


Next capter >>


__ADS_2