ISTRI NAKAL GUS TAMPAN

ISTRI NAKAL GUS TAMPAN
Luapan Hati Alira


__ADS_3

***


Jam di dinding menunjuk di angka 11 malam, tetapi Alira belum juga bisa memejamkan kedua matanya. Miring salah, melumah salah, tengkurep juga salah. Semua serba salah. Ditolehnya laki-laki yang sedang terlelap di sofa tak jauh darinya.


Sofa itu tak cukup panjang menampung tubuh yang tingginya 177 cm atau mungkin lebih karena jika sedang berdiri di dekatnya Alira hanya sebahu laki-ki itu. Kedua kakinya saja sampai tidak muat sehingga harus di tekok. Apa tidak sakit juka seperti itu semalaman? Pikir Alira.


"Kasihan juga dia, tapi kalo gue suruh tidur di kasur ntar dia macem-macemin gue lagi."


Pikirannya sudah ngelantur kemana-mana padahal belum tentu apa yang dikhawatirkannya akan terjadi. Gus Irham sudah berjanji tidak akan menyentuhnya tanpa dapat izin darinya. Gus Irham itu adalah orang yang teguh memegang janjinya dan tidak akan pernah ingkar.


Alira kembali memposisikan tubuhnya ke semula yaitu membelakangi Gus Irham. Hatinya tidak tenang dan terus saja gelisah terlebih jika mengingat pesan papanya. Apa jika ia tidak melayani suaminya ia akan berdosa dan masuk neraka? Tapi ia benar-benar belum siap untuk melakukannya.


Alira bangun kemudian turun dari ranjang berjalan keluar. Di tutupnya pintunya dengan sangat pelan agar jangan sampai membangunkan suaminya. Kemudian langkahnya mengayun menuju teras lalu duduk di salah satu kursinya.


Kedua matanya mengedar sekeliling hingga netranya terhenti disatu arah yaitu masjid. Alira melihat ada beberapa santri putri keluar dari sana mungkin habis mengaji atau apa Alira tidak paham.


Saat ini suasana hati Alira yang sedang tidak baik-baik saja atau karena sedang merindukan rumah dan juga papanya, tapi yang jelas Alira sedang sangat sedih. Alira ingin menangis, ia butuh bahu untuk bersandar. Kelihatannya saja ia kuat padahal dirinya sangat rapuh.


"Kenapa belum tidur?"


Suara yang tidak asing membuat gadis itu menoleh ke samping. Di sana berdiri Gus Irham menyandarkan badannya pada gawang pintu dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Tak ada senyum, kaku seperti biasanya.


"Gue nggak bisa tidur," sahut Alira setelah menghela napas.


Gus Irham berjalan lalu duduk di kursi berhadapan dengannya.


"Kamu kangen sama papa kamu?" tanya Gus Irham. Meski Alira tak pernah mengatakannya, tetapi ia tau bahwa istrinya ini pasti sangat merindukan papanya.


Alira melirik sekilas. "Nggak usah sok peduli. Lo yang udah bikin gue jauh dari papa, lo juga yang udah hancurin mimpi gue buat jadi wanita karir, Gus. Jadi nggak usah sok perhatian." Tumpah sudah unek-unek yang mengganjal di hatinya beberapa hari ini.


Dicurahkannya dalam bentuk emosi dan tangis. Alira ingin suaminya tau bahwa dirinya belum siap untuk membangun sebuah rumah tangga.


"Lo tau, Gus? Gue belum siap menikah, gue masih mau kerja, gue pengen gapai cita-cita gue, gue ingin mandiri," katanya lagi.


Gus Irham hanya diam mendengarkan, ia tau perasaan Alira saat ini. Tentu tidak mudah bagi istrinya menerima dirinya yang masih asing meski Alira bukanlah orang asing baginya. Alira masih muda dan masa depannya masih panjang, tapi sekarang mereka sudah menikah dan Alira harus sadar itu.


Gus Irham beranjak lalu memeluk tubuh istrinya yang masih menangis. Alira tak menolak bahkan menyembunyikan wajahnya di perut suaminya.


"Maafkan saya, Al. Maafkan saya."


Ada penyesalan dalam ucapan Gus Irham. Dia kasihan pada Alira, tapi dia juga tidak mau kehilangan gadis itu.


Tak jauh dari sana ada sepasang mata yang tengah mengawasi keberadaan mereka berdua.


"Ada hubungan apa Gus Irham sama santri baru itu kenapa mereka sepertinya sangat dekat? Pelukan lagi."


***


Pukul setengah lima pagi Gus Irham terbangun lalu masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu setelah itu baru membangunkan Alira.


"Al, bangun sholat subuh dulu yuk!" Panggilnya sambil mengguncang tubuh Alira.


"Apa sih, masih ngantuk tau." Ditariknya selimutnya ke atas sampai menutup seluruh badan.


"Al, sholat subuh dulu nanti boleh tidur lagi."

__ADS_1


"Emmm," sahut Alira dari dalam selimut.


Gus Irham kemudian meraih peci berwarna hitam yang tergeletak di atas meja lalu di pasangkan ke kepala, juga mengambil sajadah kemudian menyampirkannya di pundak.


"Al, saya mau ke masjid. Kamu solat di rumah saja ya," pesannya ketika sudah membuka pintu. Tak ada jawaban dari Alira. Gus Irham menghela napas berat.


Sungguh tidak mudah mendisiplinkan seseorang untuk melaksanakan sholat tepat waktu. Terlebih Alira yang pada dasarnya lebih sering meninggalkan ketimbang melaksanakan.


Di ruang tamu Gus Irham berpapasan dengan Abahnya yang juga hendak pergi ke masjid.


"Istrimu sudah dibangunkan, Le?" tanya abahnya.


"Sampun Abah."


*Sudah Abah


Kyai Syarif menepuk pundak putranya pelan.


"Pelan-pelan, sabar, jangan grasa-grusu nanti dia palah kabur," kata abahnya lagi. Beliau sudah mengetahui perangai Alira dari papanya yang sekaligus juga sahabatnya.


"Nggih Abah," sahut Gus Irham menunduk. Dia sangat menghormati abahnya itu.


*Iya Abah


Mereka lalu berangkat ke masjid bersama-sama.


Alira di kamar bangun dan langsung berwudhu kemudian sholat dengan sangat cepat kemudian naik ke ranjang lagi. Ia benar masih mengantuk karena semalam baru bisa tidur sekitar jam setengah tiga pagi. Alira juga melihat suaminya bangun dan sholat malam kemudian berdoa sambil menangis. Entah apa yang diminta suaminya sampai menangis seperti itu karena kedua matanya sudah sangat berat.


Tak berselang lama Alira mendengar pintu yang dibuka dan ditutup, ia tau itu adalah suaminya karena Alira tidak benar-benar tidur. Setelah wajahnya terkena air wudhu tadi kantuknya buyar entah kemana.


"Al, bangun. Sholat dulu!"


Tak ada pergerakan sama sekali dari gadis itu sehingga Gus Irham mengulanginya sekali lagi, tetapi Alira masih tak merespon membuat kesabarannya menipis.


"Al, bangun atau saya siram kamu pake air segayung!"


Alira menyibak selimutnya. Dia melihat wajah Gus Irham yang merah padam.


"Ck, jadi cuma segitu kesabaran kamu, Gus?" ejek Alira. "Aku udah bangun dari tadi dan juga udah sholat. Cuma aku pingin ngetes sampai dimana kesabaran kamu ternyata cuma setipis kertas."


Menyadari tengah dikerjai istrinya Gus Irham merasa malu. Ternyata benar yang Alira katakan dirinya belum bisa sesabar abahnya yang setiap harinya harus menghadapi santri-santrinya yang nakal dan melanggar peraturan pondok.


Perlahan emosi Gus Irham yang tadi sudah di ujung tanguk melunak, ia harus benar-bisa menyesuaikan karakter istrinya masih labil.


"Kamu mengerjai saya? Rasakan ini." Gus Irham menggelitiki pinggang Alira membuat gadis itu tertawa karena geli, Alira paling tidak tahan di gelitiki.


"Hentikan Gus, geli!"


"Itu akibatnya kalau kamu ngerjain saya. Dari dulu kamu nggak pernah berubah, ya." Sepertinya Gus irham baru keceplosan satu kalimat di akhir dan Alira mendengar itu.


"Maksud Gus Irham 'dari dulu nggak pernah berubah', itu apa? Memang kita pernah ketemu sebelumnya?"


"Ekhemm, maaf saya tadi salah bicara saja, saya cuman refleks iya, refleks saja."


Gus irham mencoba menetralkan rawut wajah agar tak membuat istri curiga. Alira menatap dengan penuh selidik, merasa kurang puas dengan jawaban sang suami.

__ADS_1


Alira menatap dalam manik teduh nan tajam milik sang suami, mencoba mencari titik kebohongan di sana. Namun, Alira tidak bisa menebaknya.


"Beneran?"


"Iya, benar. Lebih baik sekarang kamu bangun dan mulai belajar ngaji pagi ini." Gus Irham beranjak menuju sofa.


"Tapi, aku belum lancar bacaanya, Gus." Alira turun dari ranjang menghampiri suaminya.


"Saya yang akan mengajari kamu. Kamu tahu kan peran dan tugas saya disini itu apa?" tanya Gus Irham. Alira mengganguk paham.


"Ya sudah sekarang kamu wudhu lagi habis itu kita ngaji bareng, mau kan?"


"Tapi tadi aku udah wudhu, Gus."


"Sekarang kamu wudhu lagi biar lebih segar dan bisa semangat ngaji nya. Atau mau saya yang wudhuin kamu, heumm?" Gus Irham sedikit menggoda Alira. Dia amat gemas pada istrinya jika sedang seperti ini.


"Ck. Dasar kaku," sungut Alira kesal.


"Kamu bilang apa tadi?"


"Eh gak ada, yaudah aku wudhu lagi. Puas?"


Akhirnya Alira berwudhu kembali untuk bisa belajar ngaji dengan suaminya itu. Tadi saja Alira sangat mengantuk berat, tapi entah kenapa, setelah kedatangan Gus Irham membuat matanya jadi terang.


Alira sudah siap dengan mukenah yang dia gunakan untuk sholat tadi.


"Masyaallah istriku cantik sekali." Gus Irham mulai menggoda Alira.


"Terus kemarin-kemarin ga cantik?"


"Bukan gitu, kalau kamu seperti ini terus kamu jadi makin cantik."


"Ck, ternyata Gus ini sangat jago menggombal, ya?" Alira baru sadar, ternyata Gus Irham ini bisa banyak bicara dan juga bisa humor juga.


"Saya berkata sesuai fakta, kamu itu benar-benar cantik."


"Ck, jadi ngajinya kapan mulai nih?"


"Iya, sekarang."


Akhirnya pasangan suami istri itu mengaji pagi bersama. Gus irham sangat sabar dalam mengajari Alira. Alira merasa banyak dosa kepada Sang Pencipta hingga tanpa terasa mulai terisak. Ia sudah mencoba untuk menahan air matanya agar tidak keluar, tapi nyatanya sia-sia. Air matanya makin lama makin deras mengalir.


Gus Irham menyadari kalau istrinya itu menangis dan dia tidak tau penyebabnya apa.


"Kamu kenapa, Al? Kamu nangis? Kamu sakit atau aku nyakitin kamu?" tanya Gus Irham. Ia khawatir karena tiba-tiba istrinya seperti ini.


Alira masih terisak mendadak lidah terasa kelu untuk menjawab pertanyaan suaminya.


Gus irham melihat tak ada respon dari istrinya itu kemudian dia menangkup dan membingkai wajah sang istri menghadapnya sehingga kedua netra mereka bertemu.


"Kamu kenapa?" Alira menangkap kecamasan di wajah itu.


Tangis Alira semakin kencang ketika ditanyai seperti itu membuat Gus irham jadi serba salah dibuatnya. Kemudian ia mendekap erat tubuh sang istri, berharap itu bisa membuat Alira tenang. Pikir Gus Irham.


Diperlakukan seperti oleh suaminya Alira terharu, pelukan suaminya sangat nyaman dan juga dia merasa seperti menemukan sesuatu yang sudah lama hilang.

__ADS_1


__ADS_2