
***
Baik Alira, Gus Irham, mau pun Asya sama-sama masih tak percaya. Terlebih Alira, perempuan itu sama sekali tak menyangka jika Asya yang bisa ia panggil dengan sebutan Acha adalah adik dari suaminya-Gus Irham. Gus Irham memang tidak pernah bercerita jika dia mempunyai seorang adik perempuan.
Apalagi Asya, gadis itu tidak pernah mengatakan jika dia adalah seorang putri Kyai. Asya sengaja memilih tinggal di Jakarta karena suatu alasan dan menyembunyikan jati dirinya dari Alira maupun semua orang. Bukan tanpa sebab, Asya tidak ingin orang memberi batasan saat bergaul dengannya, ia ingin punya banyak teman tanpa ada embel-embel panggilan 'Ning' di depan namanya seperti saat ia duduk di bangku SD sampai SMA.
Dan tadi pagi Asya menelpon Gus Irham karena memintanya mengantar ke stasiun, ia mau pulang setelah umminya menelpon dan mengatakan jika abah mereka sakit. Namun, sepertinya ia akan menundanya barang sehari saja untuk mendengar cerita dari Alira, bagaimana bisa gadis itu menikah dengan kakaknya?
Selain itu, tanpa sengaja Asya bertemu dengan teman mereka yang dulu satu angkatan dan kebetulan ayahnya yang menikahkan Alira dan Gus Irham. Dari situlah Asya tahu jika Alira sudah menikah dan ia buru-buru menghubungi nomor sahabatnya itu.
Alira lalu menceritakan semuanya dari awal mereka bertemu di lampu merah dulu selepas mengantar Asya kembali ke kostannya. Yang Alira tidak habis pikir kenapa ia tidak pernah punya pikiran bertanya asal-usul Asya karena bagi Alira itu tidak terlalu penting dan akhirnya jadi begini, menikah dengan kakak sahabatnya sendiri pun ia tidak tahu.
Sekarang Alira baru sadar jika perempuan yang ia lihat bersama suaminya di kafe depan rumah sakit adalah Asya. Ah, Alira sangat menyesal karena sudah berprasangka buruk pada suaminya dan ia sungguh merasa berdosa. Sepertinya ia harus minta maaf pada laki-laki itu. Iya, Alira harus menebusnya dengan cara apapun termasuk ia sudah ikhlas jika nanti Gus Irham meminta haknya, Alira sudah siap lahir dan batin.
Gus Irham berpamitan pergi pada istri dan adiknya setelah melihat jam di pergelangan tangannya. Laki-laki itu juga mengusap kepala serta mengecup singkat kening istrinya membuat adiknya berdecak kesal.
"Ck, pamer kemesraan lagi. Udah pergi sana, Mas!" Usirnya sambil menarik ujung kemeja Gus Irham yang terus menempel pada Alira.
"Apa sii, ganggu aja. Makannya buruan nikah!" balas Gus Irham.
"Apa sih, kok jadi kesitu ngomongnya?" Bibirnya mendadak manyun sebab, karena alasan inilah ia memilih ke Jakarta. Usai tamat SMA, abahnya menyuruhnya mondok di pesantren milik salah satu temannya dan menjodohkannya dengan putra mereka.
Asya menolak karena ia ingin kuliah dan atas bantuan Gus Irham lah semua keinginannya terwujud meski harus menerima murka dari abahnya meski umminya mendukung, tetapi Kyai Syarif memiliki watak yang keras kalau sudah punya kemauan. Beruntung itu tidak menurun padanya dan kakaknya-Gus Irham.
"Apa perlu Mas yang cariin?"
__ADS_1
"Gak, makasih. Udah buruan pergi sana ih, ganggu orang mau kangen-kangenan aja!" Lagi Asya menarik kemeja yang dikenakan Gus Irham menyuruhnya segera pergi karena ia masih mau berduaan sama sahabat sekaligus kakak iparnya.
"Sabar kenapa, Mas kan juga masih kangen sama istri, Mas." Gus Irham tak mau kalah, dia malah memeluk erat Alira.
"Mas Irham, cepetan pergi sana!"
Meski Asya terus menarik bajunya, tetapi Gus Irham tetap kekeh dan enggan pergi.
Alira hanya tertawa melihat kelakuan keduanya yang lebih mirip anak kecil yang sedang berebut kasih sayang ibunya dan Alira bàru jika ternyata sifat mereka bisa semanja ini karena Gus Irham juga Asya biasanya sama-sama bersikap sebaliknya, bijaksana dan dan dewasa.
Setelah tragedi tarik menarik akhirnya Gus Irham mengalah dan pergi setelah dibujuk Alira. Entahlah, kenapa tiba-tiba laki-laki itu begitu berat meninggalkan istrinya.
Alira mengajak Asya menemui papanya di kamar, karena gadis itu sudah mengenal papa sahabatnya jadi mereka terlihat akrab. Asya yang pada dasarnya selalu bersikap sopan pada orang yang lebih tua membuat Tuan Sadewa selalu merasa senang.
"Oh, jadi kamu adiknya, Nak Irham?" Tuan Sadewa tak percaya setelah Alira menjelaskan semuanya kepada papanya.
"Hah, dunia ternyata hanya selebar daun kelor."
"Nggak dong, Om. Kalo cuma segede daun kelor Acha mau tinggal dimana dong? Kan kecil begitu? Emang Acha ulat daun?" seloroh Asya asal yang kemudian membuat semuanya tertawa.
Begitulah Asya, pandai membuat suasana hangat karena itulah Alira betah berlama-lama berteman dengan gadis itu. Asya bisa jadi teman, kakak, adik dan ia juga selalu mengajarkan hal baik kepada Alira.
"Aku masih nggak percaya loh, kalo kamu nikah sama Mas Irham?" kata Asya setelah mereka keluar daŕi kamar Tuan Sadewa. Mereka kini duduk di ruang tengah.
Alira hanya tersenyum saja, ia pun tak menyangka jika mereka bersaudara. Atau mungkin karena tidak mirip? Tapi jika diperhatikan Asya yang mempunyai nama lengkap Kiara Asyahidan itu lebih mirip Kyai Syarif, sedang Gus Irham lebih dominan ke Bu Nyai Halimah.
__ADS_1
Ah, Alira jadi membayangkan jika nanti punya anak apakah anaknya mirip dirinya atau ayahnya-Gus Irham. Aih, kenapa ia sudah membayangkan sejauh itu? Tidur bersama saja belum pernah bagaimana bisa punya anak?
"Dih, ngapain senyum-senyum gitu?"
Sontak saja Alira terperanjat, wajahnya langsung memerah karena malu telah berhayal terlalu jauh. Lagian belum tentu juga Gus Irham mau punya anak dengannya karena sejauh ini hubungan mereka masih berjalan di tempat, meski ada sedikit kemajuan.
"Nggak apa." Jawab Alira sembari menggeleng.
"Nggak jelas banget."
Obrolan terus berlanjut sampai tiba makan siang, Alira mengajak Asya makan setelah sebelumnya melaksanakan ibadah terlebih dahulu.
Sekitar jam dua siang Asya pamit untuk bersiap-siap karena besok akan pulang ke Jawa Timur, Alira menitip salam untuk abah dan ummi juga meminta maaf karena belum bisa pulang, tapi Alira berjanji akan segera pulang jika keadaan papanya sudah membaik.
"Asya, sedang apa di sini?" sapa seseorang saat gadis itu sedang duduk di halte menunggu angkot.
"Mas Farhan?" Wajahnya mendadak berbinar melihat siapa yang menyapanya.
Farhan tersenyum lalu mengambil duduk di samping Asya. "Kamu belum jawab pertanyaanku kamu sedang apa di sini?" ulangnya.
"Aku baru dari rumah teman dan sekarang mau pulang, tapi kok, nggak ada angkot yang lewat ya?"
Hampir setengah jam Asya menunggu di halte, tetapi tak satu pun angkutan umum yang akan mengantarnya ke kostan. Ada, tapi bukan jurusan yang ia tuju.
Farhan menyisir pandangan sekitar. Panas dan juga sepi, sangat berbahaya bagi seorang gadis duduk sendirian karena akan mengundang penjahat apalagi Asya cantik pasti banyak laki-laki iseng yang menggodanya.
__ADS_1
"Emmm ... daripada kamu kepanasan di sini nunggu angkot aku antar pulang aja gimana,tu pun kalo pacar kamu nggak marah nanti?"
"Hah? Pacar?"