
***
"Sudahlah, sebaiknya kita tidur. Saya capek. Emmm ... kamu bisa pijitin saya?"
Alira terdiam sesaat. Jujur saja, selama ini ia belum pernah mijit sama sekali, tapi demi belajar menjadi istri yang sholehah ia mengangguk juga.
Mereka masuk ke kamar dan Alira mulai memijit suaminya.
"Saya nggak nyangka ternyata kamu bisa mijit juga." Gus Irham mulai nyaman dengan sentuhan tangan Alira pada kepalanya yang terasa pening.
"Sebenarnya baru Gus yang aku pijat, sebelumnya belum pernah."
"Benarkah?"
"Huum."
"Kalo begitu saya yang pertama kali?"
"Iya."
Gus Irham tersenyum, dirinya merasa beruntung meski Alira dulunya adalah anak yang nakal dan suka keluyuran malam, tetapi ia yakin jika istrinya ini tak banyak berhubungan dengan lawan jenis.
Mungkin karena lelah dan juga capek Alira mulai terkantuk, beberapa kali ia menutup mulutnya karena menguap hingga tak sadar kedua matanya terpejam.
"Al," panggil Gus Irham karena tak ada pergerakan dari tangan istrinya lagi dan saat ia menengok ke belakang ternyata gadis itu sudah tertidur sambil duduk.
Gus Irham hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Alira terlihat sangat menggemaskan jika sedang seperti ini. Ia selayaknya bocah kecil yang butuh perlindungan.
Perlahan di baringkannya tubuh Alira lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Maafkan saya, mungkin kamu capek sekali, Al," ucapnya lalu mengecup kening istrinya kemudian berbaring.
Baru juga memejamkan mata terbuka lagi dan saat menoleh ternyata Alira memeluknya. Kedua mata mereka bertemu, ternyata Alira belum tidur dan tadi ia mendengar ucapan suaminya.
"Kamu ... belum tidur?" tanya Gus Irham. Jujur saja, saat ini ia tidak baik-baik saja dengan posisi mereka sekarang.
Wajah Alira yang begitu dekat dengan wajahnya sampai-sampai ia bisa merasai napas gadis itu, pun dengan Alira. Dadanya berdebar sangat kencang, kedua matanya tak berkedip menatap wajah suaminya yang tampan. Lidahnya kelu padahal ia ingin mengucapkan sesuatu, tetapi tidak bisa.
"Aku nggak bisa tidur, Gus." Malah kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.
"Kamu masih kepikiran masalah tadi?"
Ish, benar-benar tidak peka. Bukan itu yang ingin Alira dengar, tapi sudahlah. Masa iya dirinya yang harus menawarkan diri. Gengsi dong, mau ditaruh di mana mukanya. Malu.
__ADS_1
Alira melepaskan pelukannya lalu membelakangi Gus Irham. Ia terlanjur kecewa, mungkin Gus Irham memang tidak menginginkannya.
***
Pagi sekali Alira sudah bangun dan pergi ke dapur untuk membantu Mbak Minah dan Nurul menyiapkan sarapan, tapi ternyata makanan sudah tertata rapi di meja makan jadi Alira pergi ke belakang rumah dan ternyata di sana ada Tuan Sadewa sedang berolah raga.
"Pagi, Pah."
Tuan Sadewa menjeda gerakannya lalu menoleh ke belakang. "Pagi, sayang. Tumben sudah bangun?" Ia lalu duduk di kursi yang ada di sana diikuti Alira yang duduk di kursi sebelahnya berjarak meja kecil.
Di atas meja juga ada kue bolu dan kopi yang tinggal setengah.
"Biasanya juga udah bangun," jawab Alira manyun. Tak terima dibilang tumben, padahal sudah beberapa kali dirinya selalu bangun pagi.
Tak berapa lama Gus Irham datang dengan pakaian yang sudah rapi. Ia lalu pamit karena ada keperluan mendadak dan berjanji akan segera pulang sebelum jam 10.
"Saya mau pergi sebentar, Pah, ada urusan penting."
Dahi Tuan Sadewa mengerut. "Sepagi ini?"
Ini baru jam enam kurang dan menantunya sudah mau pergi? Apa menjadi da'i muda itu segitu sibuknya?
"Cuma sebentar kok, Pah. Sebelum jam 10 saya pulang. Kamu nggak apa 'kan, Al, kalo saya tinggal dulu?"
Jujur meski sebenarnya berat karena Gus Irham sepagi ini sudah mau pergi, tapi Alira memaklumi jika jadwal suaminya cukup padat karena harus menggantikan abahnya yang sedang sakit.
Alira meraih tangan suaminya lalu menempelkan ke wajah. Gus Irham meraih kepala istrinya kemudian mengecup keningnya dan pemandangan itu dilihat oleh Tuan Sadewa. Pria itu tersenyum karena merasa tak salah memilihkan suami untuk putrinya.
Sepeninggal Gus Irham ayah dan anak itu terlibat obrolan yang serius. Tuan Sadewa menceritakan awal mula hilangnya kakak kandung Alira.
Alira hanya menarik napas panjang, ia masih sedikit tak percaya jika semua itu ada hubungannya dengan suaminya. Pantas saja Gus Irham sering minta maaf padanya, mungkin laki-laki itu tahu betapa ia ingin sekali punya kakak laki-laki.
Setelah lama berbincang mereka sarapan lalu Alira kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan menyambut sang kakak.
[Hai, masih ingat gue? Gue Ricki. Temen SMA Lo?]
Satu pesan masuk saat Alira baru keluar dari kamar mandi dan melihat handphonnya menyala.
Dahinya berkerut, sesaat ingatannya melayang ke masa di mana ia masih mengenakan seragam putih abu-abu.
Ricki, cowok terkeren dan banyak memiliki fans terutama dari lawan jenis terutama dirinya. Cowok yang ia taksir secara diam-diam. Namun, belum sempat bunga itu mekar sudah harus layu lantaran Ricki ternyata sudah mempunyai pacar, sehingga ia memilih mundur dan mengubur dalam-dalam perasaannya. Apalagi pacar Ricki adalah teman dekatnya sendiri jadi mana mungkin ia tega merebutnya.
Dan kini kenapa Ricki tiba-tiba muncul lagi? Memang tidak Alira pungkiri jika perasaan itu masih tetap ada sampai sekarang, meski cuma sedikit.
__ADS_1
Tak ingin memberi celah untuk orang lain masuk ke dalam rumah tanganya, Alira memilih mengabaikan pesan itu tanpa berniat membalasnya. Ia sudah punya suami sekarang dan ia cukup bahagia dan mulai menikmati perannya sebagai istri meski yah ... ia belum menjadi seorang istri 100 persen, karena ada yang belum ia tunaikan. Ah, entah kapan itu akan terjadi.
Alira keluar kamar setelah rapi dan bersiap pergi ke toko kue karena tadi diminta sang papa untuk membeli kue kesukaannya.
Dengan mengendarai mobil papanya Alira pergi ke toko kue yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Alira mengambil lalu membayar kue di kasir setelah itu baru keluar.
"Alira!"
Panggilan dari seseorang membuat gadis berkerudung pasmina coklat itu menoleh sumber suara. Seorang pria berpakaian rapi tampak tengah menghampiri.
"Kamu Alira 'kan?" Tanya pria tadi sambil menunjuknya.
Alira mengangguk. "Iya, anda siapa yaa? Kok tau nama saya?" Alira balik bertanya karena memang tak mengenal laki-laki tampan yang kini berdiri di depannya.
Pria itu tersenyum. "Masa lo lupa sama gue? Gue Ricki, teman SMA lo masa lo lupa? Tadi gue yang ngecat elo?"
Alira tampak sedikit terkejut dan melihat Ricki sesaat. Ricki di hadapannya sangat berbeda dengan Ricki yang dulu. Dulu rambutnya diwarnai dan juga memakai anting, tapi Ricki di depannya justru sebaliknya.
Kemeja rapi lengkap dengan dasi dan sepatu orang kantoran, rambutnya pun hitam dan klimis. Benar-benar beda.
"Lo apa khabar? Lama ngga pernah ketemu? Terakhir, pas kelulusan."
Alira bingung harus menjawab yang mana dulu.
"Aa ...,"
"Lo sekarang beda yaa? Pake gamis, pake kerudung."
Sebenarnya Alira risih karena Ricki menelisik penampilannya apalagi jelas sekali raut wajahnya yang menampakkan kekaguman, tapi mau bagaimana lagi. Tidak mungkin ia menegur pun rasanya tidak enak jadi Alira cuma nyengir.
"Tapi lo lebih cantik sii."
Bukannya tersanjung Alira justru makin risih, apalagi Ricki terus menatapnya sehingga Alira menundukkan wajahnya. Rasa tidak nyaman mulai Alira rasakan. Ia ingin cepat-cepat pergi menjauh dari laki-laki itu. Atau Ricki segera pergi dari sana.
"Maaf, Rick, aku harus pergi." Alira berbalik, tapi gerakannya tertahan oleh tangan lelaki itu.
Alira menoleh ke bawah di mana pria tampan itu mencekal pergelangan tangannya. Ricki ikut melihat ke bawah dan refleks melepas tangannya.
"Sory. Btw, lo udah nikah?"
Alira membuka mulutnya hendak menjawab, tapi sama seperti tadi Ricki mendahului.
"Pasti belum. Lo 'kan cinta banget sama gue." Dengan pede-nya Ricki berucap sambil mengedipkan sebelah matanya, genit.
__ADS_1
Alira memutar bola mata malas. Ternyata Ricki masih sama seperti dulu, tak berubah. Hanya penampilannya saja yang berubah, sifatnya tidak. Terutama kepercayaan dirinya yang kelewat tinggi.
Namun, yang dikatakannya memang benar. Dulu ia cinta mati sama Ricki dan sekarang ...,