ISTRI NAKAL GUS TAMPAN

ISTRI NAKAL GUS TAMPAN
Keributan Kecil Di Kereta


__ADS_3

***


Kereta yang mereka tumpangi terus melaju dengan kecepatan tinggi, Alira yang duduk di dekat jendela menatap keluar. Pohon dan rumah yang berjejer di pinggir rel seolah berlarian ke belakang. Gus Irham membiarkannya, mungkin istrinya sedang tidak ingin diganggu.


Pria itu lalu mengeluarkan buku kecil berisi catatan, mengecek kembali jadwal yang sudah ia susun beberapa hari lalu. Sebenarnya masih ada dua tempat yang harus ia datangi untuk mengisi pengajian menggantikan abahnya, akan tetapi kondisi Kyai Syarif sudah semakin mengkhawatirkan bahkan harus di rawat di rumah sakit segala jadi terpaksa ia membatalkan.


Gus Irham menarik napas dalam saat mengingat abahnya. Pria itu banyak berjasa termasuk dalam kelangsungan hidupnya.


Menyimpan kembali catatan lalu menoleh gadis berkerudung coklat di depannya. Asya seperti tengah asik dengan dunianya, gadis itu sedang bermain ponsel sambil sesekali senyumnya mengembang dan tampak sedang malu-malu entah chatan sama siapa.


Di tolehnya lagi istrinya yang masih seperti semula, tak beranjak sedikit pun atau hanya bergeser tempat. Ah, Gus Irham merasa seperti tengah berada di antara dua orang asing padahal ia berada bersama istri dan juga adiknya, tetapi Gus Irham memaklumi. Mungkin Alira masih berat meninggalkan papanya.


"Hah." Helaan napas berat terdengar dari mulut Alira. Perempuan itu telah selesai melamun, kemudi mengalihkan pandangannya pada suaminya.


"Kenapa?" lalu tanyanya karena Gus Irham terus menatapnya intens. Pria itu menggeleng pelan sambil tersenyum.


"Tidak apa. Apa yang kamu lamunÄ·an?"


Pasal, sejak naik ke dalam kereta tadi Alira terlihat tak bersemangat.


Ali tak lantas menjawab. Sebenarnya tadi ia sedang memikirkan perubahan sikap Farhan tadi, kenapa pria itu tadi datang bersama Asya. Apa mereka....


"Nggak ada, cuma lagi kepikiran Abah sama Ummi aja." Demi apa ia berbohong, tetapi memang ia juga sedang memikirkan keadaan kedua mertuanya.


"Ohh, saya pikir apa. Kita do'akan saja semoga Abah tidak kenapa-napa dan beliau lekas sembuh."


"Aamiin."


"Cha! Cha!" panggil Gus Irham pada adiknya karena sejak tadi gadis itu lebih fokus pada benda tipis di tangannya ketimbang tertarik untuk ikut mengobrol.


"Hah? Iya Mas Irham, ada apa?" sahut Asya menoleh sekilas lalu kembali memainkan ponsel. Jemarinya begitu lincah menari-nari di atas tombol.


Gus Irham menarik napas dalam sambil geleng-geleng melihat kelakuan Asya yang sepertinya belum berubah.


"Lagi chatingan sama siapa sih, sampai lupa sama sahabat sendiri?"


Asya tersadar lalu buru-buru menyimpan ponselnya lalu nyengir.


"Maaf, Mas. Piss." Mengangkat dua jarinya ke atas sebagai tanda minta maaf.

__ADS_1


"Minta maafnya sama Alira!"


Pandangan Asya beralih pada perempuan di sebelah Gus Irham. "Sory ya, Al, aku lupa kalo ada kamu."


"Gak pa-pa, emang kamu lagi chatingan sama siapa?" Selama mereka bersahabat baru kali ini Asya acuh ketika bersamanya. Biasanya gadis itu begitu senang mengobrol bersamanya.


Sekali lagi Asya nyengir memperlihatkan deretan giginya yang rapih, menggaruk kepalanya yang tertutup hijab meski tak gatal.


"Itu ... anu. Siapa ... emmm." Mendadak Asya menjadi grogi, ia bingung antara harus berbohong atau mengatakan yang sejujurnya.


"Ya udah kalo kamu belum mau cerita, tapi nanti cerita ya, oke?"


"Siap Kakak ipar." Kelakuan Asya yang yang meletakkan tangan di pelipis layaknya prajurit mengundang gelak tawa dari Gus Irham dan Alira.


"Alira?" Sapaan seseorang membuat ketiga orang itu menoleh suara. Berdiri tak jauh dari Gus Irham seorang pria yang asing, tetapi tidak bagi Alira, wajah perempuan itu langsung pucat pasi.


"Ricky," gumam Alira hampir tanpa suara.


"Hei. Apa aku bilang, kita memang berjodoh. Buktinya kita ketemu lagi." Sambungnya dengan senyum yang sulit diartikan.


Pria itu lalu tanpa permisi duduk di samping Asya membuat gadis berhijab itu risih lalu bergeser merapat ke jendela.


"A-aku mau ke Jawa Timur," jawab Alira gugup kemudian pandangannya beralih pada suaminya. Gus Irham tampak biasa saja.


"Jawa Timur? Liburan? Kalo gitu kebetulan sekali. Gue juga mau ke rumah sodara gue. Gimana kalo kita liburan bareng?" Pria yang tak lain adalah Ricky menaik turunkan kedua alisnya bermaksud menggoda Alira.


Sekali lagi Alira menoleh pada Gus Irham, laki-laki bergelar suaminya itu masih menunjukkan sikap biasa saja dan tenang.


"Oh iya, lo sama siapa?" tanya Ricky lagi. Alira tak menjawab, tetapi dengan ekor mata yang sesekali melirik pada Gus Irham Ricky mulai paham. "Oh, sama Om lo, ya?"


Mendengar sebutan 'Om' baik Gus Irham, Alira juga Asya membola. Sok mudaan. Itu yang ada di pikiran mereka saat ini. Meski memang, penampilan Ricky terlihat lebih muda dan juga trendi.


Ricky memakai celana jean hitam yang dipadukan dengan jaket kulit berwarna senada. Berbeda dengan Gus Irham yang mengenakan baju koko berwarna merah maroon, menjadikannya terlihat dewasa.


"Dih, gak sopan banget. Dia siapa sih, Al?" Gadis itu melontarkan pertanyaan sambil melirik pada Ricky.


Belum juga sempat menjawab pertanyaan Asya Ricky menyela, tangan kanannya terangsur di depan Asya.


"Kenalin ... gue Ricky, teman dekat Alira waktu SMA."

__ADS_1


Asya hanya menatap tangan itu tanpa berniat menjabatnya membuat Ricky menariknya kembali.


"Oh, sory. Bukan muhrim ya? Ohiya, Al, gimana tawaran aku tadi?"


"Gak bisa! Alira udah punya suami!" Dengan ketus Asya menjawab.


"Hah? Suami? Beneran lo udah nikah, Al?" tanya Ricky memastikan.


"Ya beneran. Tuh, yang di sampingnya itu suaminya. Dia Kakakku." Lagi Asya yang menjawab pertanyaan.


Ricky memindai Gus Irham dari atas sampai bawah lalu kedua pipinya mengembang karena menahan tawa yang hendak pecah. Melihat itu Asya makin kesal, gadis itu lalu memukul lengan pria itu.


"Ngapain kamu ketawa? Ada yang lucu?" Jika tak ingat mereka sedang di dalam kereta ingin rasanya Asya menyumpal mulut laki-laki itu dengan kain lap.


"Hahaha." Akhirnya Ricky tak kuasa menahan tawanya. Ia bahkan tertawa cukup keras membuat penumpang di dalam kereta itu menoleh ke arahnya.


Sedang Gus Irham tak bereaksi apa-apa meskipun dirinya sedang jadi bahan tawa oleh orang lain. Pria itu tetap tenang dan kalem seperti biasanya. Sementara Alira menatap dengan sangat geram, ia ingin sekali mengatai Ricky, tatapi tangannya dipegang Gus Irham seolah menyuruhnya untuk tetap tenang.


"Sudah puas tertawanya? Silahkan kembali ke tempat duduk Anda!" Ucap Gus Irham sambil mempersilahkan Ricky untuk pergi.


"Lo siapa ngusir gue?"


"Seperti yang sudah Asya katakan, saya suaminya Alira. Jika sudah tidak ada perlu dengan istri saya silahkan pergi karena kehadiran anda sangat mengganggu kenyamanan kami."


Kedua tangan Ricky mengepal, rahangnya mengeras, giginya gemeletuk karena saling menaut. "Jadi bener, lo suami Alira?"


"Iya, dia suami aku," jawab Alira sudah tak bisa menahan diri lagi. Dulu mungkin laki-laki seperti Ricky adalah impian, tetapi sekarang tidak lagi.


Ricky menggeleng-geleng tak percaya. "Gak mungkin. Gak mungkin dia suami lo?"


"Kenapa nggak mungkin? Bahkan aku lagi hamil anak kami." Kata Alira sambil memegangi perutnya untuk meyakinkan Ricky.


Mendengar itu Ricky tampak syok, pria itu lalu berdiri kemudian pergi dengan wajah penuh amarah.


"Hah, akhirnya pergi juga." Alira bisa bernapas lega sekarang kerana Ricky sudah pergi, tapi. "Kanapa pada ngeliatin aku kayak gitu?"


Asya juga Gus Irham kini sedang menatapnya dengan ekspesi tak biasa. Asya dengan binar bahagia, sedang Gus Irham dengan seribu pertanyaan terbesit di kepalanya.


"Kamu ... beneran lagi hamil, Al?" tanya Asya memastikan.

__ADS_1


__ADS_2