
***
Gus Irham kembali dari aula dan
melihat sosok gadis yang sedang tertidur dengan kepalan berbaring di sisi kanan banker dekat calon mertuanya.
Sedangkan Tuan Sadewa sendiri terbangun ketika mendengar suara derit pintu yang dibuka. Beliau mengembangkan senyumnya begitupun Gus Irham.
"Nak Irham sudah selesai salatnya?"
"Sudah Om, baru saja,"
jawab Irham ramah.
Kemudian pria tampan itu menghampiri banker sisi kiri Tuan Sadewa yang bersebrangan dengan Alira yang sedang terlelap, menatapnya hingga beberapa saat lamanya.
'Nyenyak sekali dan sepertinya dia kelelahan' begitu pikir Gus Irham. Dia kasihan pasti tidak nyaman tidur seperti itu.
"Alira memang begitu Nak, kalau dia habis menangis tak lama setelahnya pasti dia akan tertidur," terang Tuan Sadewa yang melihat Gus Irham yang terus menatap putrinya.
"Menangis? Alira menangis kenapa, Om?" tanya Gus Irham.
Jujur saja ia heran, tadi saja gadis itu masih ngomel-ngomel seperti emak-emak yang kehilangan tumprawernya, yang membuat dirinya hanya bisa geleng kepala melihatnya.
"Oh itu, tadi Alira saya beri ancaman sedikit. Habisnya dia menolak terus dijodohkan dengan Nak Irham. Padahal saya hanya mau yang terbaik untuknya," tukasnya, ditatapnya anak gadisnya yang masih terlelap.
"Seharusnya Om tidak sampai memaksanya, jika dia menolak menikah dengan saya, saya tidak keberatan perjodohan ini dibatalkan."
Gus Irham teringat percakapannya tadi bersama Alira, mungkin gadis itu memang tak menginginkan perjodohan ini.
"Tidak Nak, dia mau menikah dengan. Cuma yaa ... dia memang sedikit keras kepala dan manja. Maklum dia anak Om satu-satunya."
Tuan Sadewa Kurdi sepertinya sangat takut jika perjodohan mereka sampai batal.
"Om, apakah itu tidak terlalu berlebihan, memaksa Alira untuk melakukan perjodohan ini?"
Bagaimanapun, Gus Irham merasa bersalah karena secara tidak langsung ia telah memaksa seorang anak gadis menikah dengannya.
"Tidak apa karena saya tidak mau Alira jatuh pada laki-laki yang salah. Alira adalah anak Om, satu-satunya jadi Om inginkan yang terbaik untuknya,"
terangnya sendu masih dengan menatap putrinya lalu beralih pada laki-laki tampan yang berdiri di sampingnya.
"Alira sebenarnya anak yang baik dan penurut dulunya, karena pergaulan dan pengaruh dari teman-temannya makannya dia jadi sedikit nakal, dan Om tidak mau itu terus-terusan terjadi padanya." Ditatapnya wajah Gus Irham dalam.
"Nak Irham maukan, menjaga Alira untuk, Om?" tuturnya dengan penuh harap. Ia tau jika calon menantunya ini bisa membawa Alira ke arah yang lebih baik lagi.
Gus Irham menarik nafas dalam. Ia akui sebenarnya gadis impiannya
bukanlah yang seperti Alira, tetapi ketika mendengar kabar perjodohan dari Abah dan Tuan Sadewa membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut.
Dan setelah mendengar penuturan Tuan Sadewa ia jadi berpikir.
__ADS_1
Mungkin ini adalah takdir dan tantangan untuk dirinya yang notabennya sebagai seorang'Gus', harus merubah seorang gadis yang nantinya akan menjadi istrinya untuk menjadi lebih baik.
"InsyaAllah saya akan menjaga Alira sepenuh hati saya. Mungkin ini adalah takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah untuk saya." Menoleh Alira sesaat kemudian kembali melihat ke arah Tuan Sadewa.
"Saya akan menikahi Alira dan membimbingnya ke jalan Allah," sambungnya tanpa ragu.
Tuan Sadewa sangat terharu sehingga kedua matanya mengembun karena akhirnya dia bisa menemukan laki-laki yang tepat untuk putrinya.
Alira yang sedang tertidur sedikit terusik dengan suara orang di dekatnya dan terbangun. Alira kaget karena tiba-tiba dia melihat sosok pria tampan yang ia omeli tadi di kantin rumah sakit.
"Astaghfirullah, lo kok ada di sini? Dasar pria patung bikin orang kaget aja! Kalo gue jantungan terus mati gimana? Lo mau tanggung jawab. Hah?" Omel Alira dengan wajah kesal.
"Alira! Kamu jangan ngomong begitu sama calon suami kamu!"
tegur Tuan Sadewa marah. Ia tidak suka putrinya bicara kasar pada Gus Irham, terlebih laki-laki itu adalah calon suaminya.
Alira yang mendengar kata
'Calon suami' merasa jengah.
Pasalnya sudah berapa kali
papanya menyebut pria kaku di depan mereka saat ini sebagai calon suaminya. Padahal Alira menerimanya dengan keterpaksaan.
Gus Irham lagi-lagi hanya bisa
geleng kepala. Sepertinya lehernya ini lama-lama mungkin bisa saja keseleo jika terus melihat tingkah aneh dari gadis cerewet ini.
"Papa mau bicara apa?" tanya Alira tegang.
"Papa tadi sudah bicara sama, Nak Irham bahwa dia menerima perjodohan ini jadi ... kamu tidak bolah menolak! Dan Papah sama orang tuanya Nak Irham sepakat akan melaksanakan pernikahan kalian minggu depan," jelas Tuan Sadewa tegas.
JEDER
Petir serasa menyambar telinga Alira demi mendengar ucapan pria yang kini terlihat sudah membaik barusan. Bagaimana mungkin pernikahan mereka akan di laksanakan dalam kurun waktu sesingkat itu?
"Pah! Papah yang bener aja dong? Seminggu ke depan itu waktu yang sangat singkat. Dan bahkan kami belum saling kenal?" tentang Alira.
"Justru karena itu Papah menikahkan kalian secepatnya supaya kalian dapat saling mengenal satu sama lain setelah menikah nanti, kalau istilah sekarang namanya berpacaran setelah menikah. Bukan itu lebih baik, Nak Irham?" tanya Tuan Sadewa Kurdi meminta persetujuan pada Gus irham.
Gus irham hanya mengangguk dan pasrah apa kata calon mertuanya. "I-iya, Om."
Mendengar itu memelotot pada Gus Irham.
'Enak saja pria tembok ini ngomong. Pokoknya gue nggak mau nikah sama dia!' gumam Alira dalam hati, ia tidak suka pada pria itu.
"Papa tidak mau ada penolakan dari kamu Alira. Atau kamu mau melihat Papah mati?" Lagi Tuan Sadewa mengancam dengan senjata ampuhnya karena ia tau Alira pasti akan menuruti semua kemauannya.
"Paahh ...," Langsung menggeleng dan memeluk sang Papanya.
"Papa jangan ngomong gitu lagi bisa nggak? Alira gak mau kehilangan Papah." Alira mulai terisak. Meski ia nakal dan bandel, tetapi ia sangat menyayangi Papanya.
__ADS_1
Gus Irham yang melihat pemandangan di depannya sedikit terharu.
"Kalau begitu turuti keinginan Papah ya sayangnya, Papah?"
Dengan berat hati akhirnya Alira mengangguk yang membuat Tuan Sadewa tersenyum sumringah.
"Emm ... Alira mau ngomong sama Gus Irham bolehkan, Pah?" tanya Alira setelah melepaskan pelukan.
"Silahkan, sayang," jawab Papahnya..
_____________&&&_______________
Dua orang yang berbeda gender itu kini tengah duduk di kursi taman dekat RS. Bukan duduk, lebih tepatnya hanya Alira yang duduk. Sedangkan Gus Irham berdiri sekitar satu meter lebih dari bangku yang Alira duduki. Ia harus menjaga jarak dengan yang bukan mahram.
"Sekarang kamu mau ngomong apa?" Gus Irham buka suara.
"Karena pernikahan kita dilaksanakan karena perjodohan jadi jangan harap gue bisa mencintai elo," tukas Alira.
Gus Irham tak langsung menjawab, melihat ke arah Alira sesaat kemudian membuang wajahnya ke depan.
"Saya juga akan pikir-pikir lagi untuk mencintai kamu," jawab Gus Irham dengan santainya.
"Maksud elo apa ngomong gitu. Hah?" berang Alira yang tersinggung sebab, baru kali ini ada seseorang berbicara begitu padanya.
"Kamu itu bisa tidak ngomong nya tidak usah kenceng-kenceng begitu? Saya ini belum budeg!" Gus Irham heran mengapa calon istrinya suka sekali berteriak.
"Ya terserah gue dong. Mulut-mulut gue." Alira tak mau kalah.
Melihat itu Gus Irham beristighfar dalam hati. Menghadapi gadis seperti Alira ini harus memiliki stock sabar yang banyak. Belum juga jadi istrinya, tetapi sikap Alira sudah membuatnya menghela napas berkali-kali, apalagi nanti jika sudah menikah? Bisa-bisa telinganya rusak gara-gara Alira.
"Sebelum pernikahan konyol itu terlaksana, gue mau bikin persyaratan," ucap Alira lagi.
Irham yang mendengar Alira menyebut `Pernikahan konyol`
merasa sedikit tersinggung.
Bagaimana bisa yang namanya pernikahan itu adalah hal yang sakral bukan permainan.
Gus Irham juga berjanji pada dirinya bahwa dia akan menikah
cuman sekali dalam seumur hidupnya. Susah senang insyaAllah akan dia jalani dengan ikhlas walaupun bersama gadis secerewet Alira.
"Persyaratan apa maksud kamu?"
"Ya nanti, persyaratannya gue bakal bilang sama elo tiga hari menjelang akad dan intinya lo harus menerima apapun persyaratannya itu dari gue. Ngerti nggak lo?" jelas Alira.
Gus Irham menghela nafas panjang dan lagi-lagi ia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis cantik tapi cerewet di depannya kemudian berlalu meninggalkan Alira di taman sendirian dengan senyum smirk.
"Lihat aja ya elo. Gue bakalan bikin lo gak betah nikah sama gue!"
Next capter >>
__ADS_1