
***
Asya turun dari mobil Farhan dan mengucapkan terima kasih, melambaikan tangan saat mobil itu kembali melaju ke jalan raya meninggalkannya dengan ribuan pertanyaan di kepalanya.
"Pacar yang mana, Mas?"
"Yang bersamamu waktu itu?"
Asya mengingat kembali pertemuan mereka di restoran milik Farhan dan seketika pikirannya tertuju pada kakaknya-Gus Irham.
"Oh, dia bu ...," Belum juga kalimatnya usai, tetapi Farhan sudah menyela.
"Ah, nggak penting juga dijelasin. Mau pacar kamu atau bukan itu bukan urusanku. Ya udah, yuk, aku antar kamu pulang!"
Asya membuang napas berat mengingat percakapan mereka tadi. Rupanya Farhan sudah salah paham karena menduga Gus Irham adalah pacarnya. Entahlah, hatinya mendadak sesak dan rasanya sedikit nyeri.
Asya kemudian memutar badan lalu masuk ke dalam rumah. Membaringkan tubuhnya ke kasur. Hari ini ia tidak pergi kemana-mana selain bertemu Alira, tetapi ia merasa sangat lelah.
[Kak Asya kenapa nggak datang?]
Satu pesan masuk saat gadis itu membuka ponsel, bibirnya melengkung membaca pesan tersebut.
[Maaf ya, mungkin beberapa hari ini Kakak nggak bisa datang soalnya Kakak mau pulang, abah sakit, tapi Kakak janji nanti begitu abah sembuh Kakak langsung pulang lagi]
Menunggu beberapa saat pesannya langsung dibaca dan terlihat Nabila sedang mengetik.
[Beneran? Kakak nggak bohong 'kan?]
[Iya, Kakak nggak bohong kok]
[Asiikk]
Asya tertawa kecil membaca pesan terakhir dari Nabila kemudian menaruh ponsel di dekatnya.
Inilah salah satu alasan yang membuat Asya berat meninggalkan Jakarta. Nabila, gadis kecil berusia 10 tahun yang sudah terlanjur lengket dengannya, juga perasaan yang ia miliki untuk seseorang membuatnya makin membuatnya enggan pergi.
Selain itu, ia juga tidak bisa meninggalkan anak-anak panti asuhan yang ia bangun bersama Gus Irham. Selama ini ia yang mengurusnya, Gus Irham hanya datang sesekali saja itu pun jika sedang ke Jakarta.
[Nduk, kamu pulang kapan? Apa ndak kangen sama ummi sama abah? Abah nanyain kamu terus loh?]
__ADS_1
Lagi bibir gadis yang masih mengenakan pasmina tersenyum. Hampir tiga tahun ia tak pulang ke rumah, apakah abahnya masih marah karena telah jadi anak pembangkang?
"Abah nggak akan ngizinin kamu kuliah di Jakarta! Apa di sini kampusnya kurang bagus? Di Surabaya 'kan ada, yang lebih dekat?"
Terngiang kembali ucapan Kyai Syarif yang melarangnya melanjutkan pendidikan di kota, bukan tanpa alasan Asya menolak kuliah di sekitar rumahnya, tetapi Asya hanya ingin mencari suasana baru dan mencari pengalaman. Asya bosan dengan kehidupannya, teman-temannya yang menjauh karena alasan sungkan.
"Acha cuma pingin cari teman baru saja Abah. Acha bosan di pesantren terus. Acha juga pingin punya pengalaman, Acha pengen tahu seperti apa kehidupan di luar sana."
Sejak dari kecil sampai SMA Asya tidak pernah mengenal dunia luar, hidupnya hanya di lingkungan pesantren karena itu ia merasa bosan dan seiring bertambahnya usia Asya mulai memberontak. Asya memang tidak seperti Gus Irham yang penurut, selalu sendiko dawuh sama abahnya.
"Apa kamu pikir di luar sana orang baik semua? Kamu pikir enak hidup bebas, iya?" Nada suara Kyai Syarif mulai meninggi, dadanya kembang kempis menahan emosi yang hendak meledak.
Kyai Syarif tidak habis pikir dengan jalan pikiran anak gadisnya ini, bagaimana bisa seorang putri Kyai besar dan disegani ingin hidup bebas di luar sana.
"Kalau kamu masih tetap dengan pendirian kamu silahkan, tapi jangan harap Abah mau membiayai kamu hidup di kota."
Asya mengusap kedua yang basah karena tak terasa menangis. Kemarahan abahnya dulu membuatnya takut pulang. Dulu pernah pulang karena rindu sama umminya, tapi hanya melihat dari jauh tidak berani menghampiri meski besar rasa ingin memeluk umminya.
Kyai Syarif memang sedikit keras padanya tidak seperti pada kakaknya-Gus Irham. Abahnya selalu lebih memprioritaskan anak lelakinya karena dia yang akan jadi penerus memimpin pesantren miliknya. Kata abahnya dulu, anak perempuan tidak bisa apa-apa.
Ketukan di pintu mengalihkan pandangannya ke sumber suara.
"Lala, Kak." Lala adalah anak pemilik kost tempatnya tinggal, Lala juga yang selalu menemaninya ke asrama setelah Alira tiba-tiba Alira menghilang seperti ditelan bumi.
"Masuk aja, La, nggak dikunci kok."
Seorang gadis remaja yang masih mengenakan seragam putih abu masuk. Asya membawa tubuhnya untuk duduk menghadap Lala.
"Di luar ada yang nyariin Kakak."
Dahi Asya mengerut dalam. "Siapa?" Perasaan ia tak ada janji dengan siapa pun lalu siapa yang mencarinya?
Lala mengedikkan kedua bahunya. "Nggak tau," lalu katanya.
Asya terdiam sejenak sebelum kemudian berajak keluar dari kamar menuju teras.
"Loh, Mas Farhan?"
Sedikit kaget karena ternyata yang mencarinya adalah Farhan. Laki-laki itu bangun dari duduk kemudian menghampiri.
__ADS_1
"Ini punya kamu bukan? Tadi ada di mobilku." Sambil mengulurkan benda seperti gelang.
Asya meraba pergelangan tangannya dan benar saja gelangnya hilang. "Oh, iya ini punyaku. Terima kasih, ya. Aku nggak sadar kalo ini jatuh di mobil tadi."
Asya mengambil gelang itu dari tangan Farhan kemudian memasangnya di tangan.
"Dari pacar?" tanya Farhan karena Asya terus saja memandangi gelang itu. Gadis itu mendongakkan kepalanya.
"Bukan, ini tuh dari ...," Belum kalimatnya selesai ponsel Farhan berbunyi.
"Sebentar, aku angkat telephon dulu." Laki-laki itu sedikit menjauh kemudian menempelkan ponsel ke telinga setelah sebelumnya menggeser layar ke atas.
Asya hanya menatapnya, mungkin telpon dari pacarnya karena Farhan terlihat bahagia dan bicaranya pun sangat lembut. Pikirnya.
Entah mengapa dadanya terasa sesak setiap ia menerka itu, perasaan yang ia pendam untuk laki-laki itu membuatnya sakit sendiri dan kepulangannya kali ini adalah untuk menghindar agar mereka tak bertemu lagi.
Farhan tampak sudah menyudahi panggilan lalu kembali pada Asya.
"Eemm, maaf aku harus segera pulang mau jemput seseorang."
"Oh, iya nggak apa. Pacar kamu pasti udah nungguin kamu. Makasih ya sekali lagi gelangnya."
Farhan hanya membalas dengan senyum, dalam hati ia berkata 'jangankan pacar gadis yang disukainya saja sudah menikah'.
"Ohiya, sekalian aku pamit besok pagi aku mau pulang ke Jawa Timur," sambung Asya dengan tatapan sayu.
Sebenarnya ini sangat berat buatnya, tapi terus berada di Jakarta juga percuma karena orang yang dicintainya sudah mempunyai kekasih.
"Sama siapa?"
"Sendiri."
"Oh, oke. Hati-hati. Kalo begitu aku aku pulang dulu dan sampai ketemu lagi." Pamitnya kemudian berlalu. Asya hanya terpaku di tempat menatap punggung laki-laki yang sudah lama dikaguminya.
"Tapi aku nggak akan balik ke sini lagi."
Kalimat itu membuat langkah Farhan yang hampir sampai di pintu pagar terhenti lalu memutar tubuhnya.
"Nggak balik ke Jakarta lagi? Kenapa? Kamu mau menikah?"
__ADS_1
hai readers, semoga harinya selalu menyenangkan dan bahagia. jangan lupa tap love, star dan tinggalkan jejak usai membaca biarpun authornya lelet updatenya. maklumi saja yaa, sibuk di duta.😊