ISTRI NAKAL GUS TAMPAN

ISTRI NAKAL GUS TAMPAN
Ke Pasar


__ADS_3

***


"Kamu kenal dimana dia?" tanya Gus Irham setelah Farhan tak terlihat.


"Maksud Mas Irham, Mas Farhan?" Gus Irham tak menjawab, tapi dari raut wajahnya yang terlihat serius Acha tahu jika orang yang dimaksud adalah Farhan.


"Di jalan. Waktu itu aku nggak sengaja hampir tertabrak mobil, tapi untung ada Farhan yang nolongin kalo nggak, gak tau deh," terang Acha.


Gus Irham hanya mengangguk saja dan tak berapa lama pesanan datang sehingga menjeda obrolan hingga piring kosong.


"Mas anter kamu!" kata Gus Irham terdengar seperti sebuah perintah usai mereka di parkiran.


"Nggak usah Mas, kamu pasti capek," tolak Acha halus. Ia tahu Gus Irham pasti kelelahan selepas mengisi pengajian tadi.


"Nggak boleh ngelawan, ini udah malam. Bahaya anak gadis pulang sendirian!"


Acha berpikir ada benarnya juga apa yang dikatakannya, apalagi jalan menuju kostannya sekarang tidak seaman dulu. Ada preman yang sering mangkal di post satpam dan kerap mengganggunya.


Tapi beruntung hari ini sepertinya mereka tidak ada jadi dia aman. Gus Irham segera pulang setelah memastikan gadis itu masuk ke dalam dan ia segera pulang.


Jam setengah sembilan lewat sepuluh menit Gus Irham tiba di rumahnya dan melihat Alira tertidur di ruang tamu dengan posisi tangan memegang sebuah album photo. Gus Irham merasa kasihan, pasti gadis itu menunggunya pulang.


Sebenarnya jika Tuan Sadewa tidak dalam keadaan sakit, ingin rasanya ia mengajak serta Alira untuk menemaninya, tapi keadaannya sedang tidak memungkinkan.


Gus Irham duduk di sisi Alira mengambil album itu kemudian menghela napas dalam.


Dibukanya album itu selembar demi selembar, Gus Irham menarik kedua sudut bibirnya kala menemukan photo dirinya dan Alira semasa kecil. Rupanya istrinya ini belum menyadari jika yang sedang menggendongnya itu adalah dirinya.


Gus Irham menyimpan album itu ke meja lalu dengan gerakan pelan diangkatnya tubuh Alira ke dalam kamar lalu dengan gerakan sama pula membaringkannya di kasur, menatapnya sebentar sebelum kemudian keluar lagi menuju kamar mertuanya.


"Nak Irham," ucap Tuan Sadewa saat melihat menantunya datang.


Gus Irham masuk lalu menarik kursi dan duduk di dekat ranjang.


"Bagaimana keadaan Papa sekarang?" tanya Gus Irham.


"Lebih baik, terima kasih ya, Nak."


"Kenapa Papa berterima kasih, ini sudah jadi kewajiban saya sebagai anak Papa," jawabnya tenang.


Tuan Sadewa hanya tersenyum. Ia merasa beruntung mempunyai menantu seperti Gus Irham. Andai saja putranya masih ada, pasti sudah sebesar Gus Irham karena usia mereka hanya terpaut dua tahun, tapi entah dimana anak itu sekarang berada? Apakah masih hidup atau ... ah, terkadang ia berharap jika anak itu masih ada dan mereka bisa bertemu. Alangkah bahagia dirinya.


Tapi mungkinkah? Itu sudah bertahun-tahun lamanya dan Alira juga tidak tahu jika dia mempunyai seorang kakak laki-laki.


Gus Irham kembali ke kamar dan seperti dugaannya, Alira sama sekali tak bergerak dari posisi saat ia membaringkannya di sana.

__ADS_1


"Dasar putri tidur," gumamnya lalu menggelengkan kepalanya sebelum kemudian beranjak menuju sofa lalu tidur.


Mungkin karena terlalu lelah Gus Irham baru terbangun ketika samar mendengar azan subuh berkumandang di masjid, ia segera bangun dan pergi ke masjid.


"Pah, Papa mau ke masjid?" tanyanya saat mendapati mertuanya sudah berpakaian koko lengkap dengan peci dan sarung. Serta sajadah tersampir di pundak.


"Iya, Nak. Papa sudah lama tidak solat berjama'ah."


"Tapi-kan Papa baru sembuh?"


"Tidak, Papa sudah merasa lebih sehat. Lihat!" Tuan Sadewa memutar-mutar badannya, menggerakkan di tangannya untuk meyakinkan Gus Irham bahwa dia sudah sehat.


"Kalo begitu kita pergi sekarang!"


"Ayo, Pah."


"Alira?"


"Dia masih tidur."


"Hah, anak itu. Tidak berubah juga," desah Tuan Sadewa. Padahal ia berharap dengan menikahkan Alira dengan Gus Irham putrinya itu akan berubah, tapi nyatanya?


Mereka lalu segera pergi.


"Kenapa aku ada di sini? Siapa yang pindahin?" Alira mengingat-ingat jika dirinya semalam ketiduran di sofa ruang tamu saat menunggu Gus Irham pulang.


Namun, ia tidak ingat apa-apa lalu siapa yang membawanya ke kamar? Masa iya dia jalan sambil merem? Tak mau pusing akhirnya Alira memutuskan untuk mencuci wajahnya sekalian berwudhu kemudian solat.


Usai beribadah Alira baru menyadari jika dirinya hanya sendirian di kamar, tak didapatinya Gus Irham. Alira mendengus kesal. Pikirannya sudah melayang kemana-mana.


"Apa mungkin dia tidur di tempat perempuan itu?" Alira mulai ngelantur, tapi bukan tanpa sebab. Wajar jika dia berpikir begitu, andai ia tak melihatnya langsung mungkin dirìnya tak mudah percaya begitu saja.


Suaminya seorang putra Kyai besar jadi rasanya tidak mungkin kalau berselingkuh, tapi ini ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, suaminya duduk berduaan dengan seorang wanita yang bukan mahram. Apa pantas itu dilakukan oleh seorang pria yang sudah beristri?


"Istri?" Alira merasa konyol sendiri saat menyebut dirinya 'istri'. Bukankah tugas seorang istri seharusnya melayani suaminya?


Alira menggeleng frustrasi, apa yang harus ia lakukan sekarang?


Alira terus saja merenung sampai tidak sadar jika pintu kamarnya ada yang mengetuk.


"Masuk nggak dikunci!"


Nurul masuk dan menanyakan jika Alira hendak makan apa hari ini karena dia mau pergi ke pasar. Setelah berpikir sejenak akhirnya Alira memutuskan untuk ikut berbelanja bersama gadis itu.


"Tapi, Non, pasarnya jauh nanti Non Alira capek?"

__ADS_1


"Gak apa pokoknya aku mau ikut, titik!"


Nurul akhirnya mengalah dan membiarkan Alira ikut bersamanya. Alira tampak bersemangat. Ini untuk pertama kalinya ia naik kendaraan umum dan pergi ke pasar. Alira hanya mengikuti dan memperhatikan saja apa yang gadis berhijab itu lakukan.


Gadis itu juga tawar menawar sat membeli belanjaan dan Alira takjub melihatnya. Seumur-umur ia baru melihat cara orang berbelanja di pasar karena selama ini ia taunya hanya tinggal makan saja.


"Bang, ayam sekilonya berapa?"


"40 ribu, Neng."


"Mahal amat? 35 ya saya beli tiga kilo?"


Pria penjual ayam itu berpikir sejenak lalu mengangguk. Sesekali ia juga melirik Alira.


"Sodaranya, Neng?" tanyanya pada Nurul, ia sudah sering melihat gadis itu berbelanja, tapi ini pertama kalinya Nurul membawa teman dan menurutnya Alira sangat cantik dan terlihat seperti anak orang berada.


"Bukan. Dia ...," Belum juga Nurul menyelesaikan kalimatnya Alira sudah menyela dan mengatakan jika dirinya adalah sodara Nurul dari Jawa Timur.


"Non Alira kok nggak jujur saja kalo Non, itu majikan saya?" Nurul merasa tidak enak karena perkataan Alira tadi.


"Buat apa?"


"Tapi 'kan ...," Lagi-lagi Alira memotong ucapannya.


"Udah nggak usah dibahas dan jangan panggil aku Non, aku bukan orang kaya lagi!" tegas Alira. Ia merasa tidak pantas lagi diberi embel-embel di depan namanya.


"Lalu saya mesti panggil apa dong?"


"Terserah, nama aja juga boleh."


"Nggak sopan ah, Mbak Alira gimana?"


"Itu lebih baik. Sekarang kita beli apa lagi?"


Nurul memeriksa daftar belanjaan yang di tulis Bibinya.


"Kayaknya sudah semua, Non, eh, Mbak.


"Kalau gitu kita pulang, yuk! Panas."


Mereka lalu berjalan menuju keluar dari pasar sambil menenteng kanton keresek di tangan. Sambil menunggu angkot Alira sesekali menyeka wajahnya yang berkeringat. Nurul sampai kasihan melihatnya, padahal ini baru jam delapan dan matahari belum terlalu terik, tapi Alira sudah basah kuyup oleh keringatnya sendiri.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka dan kacanya terbuka.


"Butuh tumpangan?"

__ADS_1


__ADS_2