
***
Alira masih tak habis pikir, sebenarnya apa yang terjadi dengan papahnya? Kenapa rumahnya bisa di sita bank? Lalu dimana papanya sekarang? Alira benar-benar syok berat, lututnya mendadak lemas seperti tak bertulang dan hampir saja lunglai ke tanah kalau saja Gus Irham tidak cekatan menangkap bahunya.
Gus Irham membawa Alira duduk di pos tak jauh dari sana, memberikan minum untuk istrinya agar tenang.
"Gimana? Sudah enakan?" Tanya Gus Irham sambil menerima botol air mineral dari tangan Alira. Alira mengangguk.
"Gus, papa." Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya keluar juga dari tempatnya. Alira tidak dapat menahan kesedihan sekaligus kebingungan yang sedang ia rasakan. Ini terlalu berat baginya.
Umurnya baru 21 tahun dan ia sudah harus menanggung beban sebesar ini? Baru saja ia berusaha menerima takdirnya yang sudah harus menjadi istri orang lalu sekarang? Cobaan apalagi yang harus ia tanggung?
Dadanya sesak, pikirannya buntu. Alira tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang? Kemana ia harus mencari papanya?
Alira berpikir beberapa saat, siapa yang harus ia hubungi dan bertanya keberadaan sang papa. Setelah berpikir akhirnya Alira tahu siapa yang harus ia hubungi. Mbak Minah, iya. Wanita itu pasti tahu di mana papahnya karena Mbak Minah yang tiap hari bersama pria itu. Ah, kenapa lelet sekali pikirannya.
"Halo, Mbak? Mbak dimana? Papa ada sama, Mbak?" berondong Alira saking paniknya sampai-sampai ia lupa untuk mengucap salam terlebih dahulu.
[Di rumah sakit biasa, Non] jawaban dari seberang.
"Oh, oke aku ke sana sekarang."
Sambungan ditutup, Alira makin panik karena papanya masukk rumah sakit. Apa jantungnya kumat lagi?
__ADS_1
Tanpa menunggu lama mereka langsung gegas meluncur ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Alira terus saja menangis, air matanya seakan tidak mau berhenti mengalir sampai-sampai kemeja yang di pakai Gus Irham jadi basah karena Alira menangis dalam pelukannya.
Gus Irham tahu apa yang sedang dirasakan istrinya saat ini. Alira pasti sangat takut terjadi sesuatu pada pria yang sudah membesarkannya sejak kecil.
"Sus, kamar papa saya dimana, Sus?" tanya Alira tak sabar pada suster yang kebetulan lewat. Ia sudah tidak sabar ingin melihat keadaan pria itu.
"Nama papa Mbaknya siapa?" tanya suster itu bingung.
"Oh iya lupa. Sadewa Kurdi."
"Oh, Tuan Sadewa? Mari ikut, saya antar!" ajak suster itu. Alira mengangguk. Sebelum pergi suster itu melirik Gus Irham sekilas, mengangguk dan tersenyum.
"Silahkan Mbak, ini ruangan Tuan sadewa," kata Suster bername tag Bela yang tertera di dadanya.
"Makasih banyak, Sus."
Alira langsung mendorong pintu dan menerabas masuk tanpa peduli pada siapapun termasuk suaminya.
Di atas tempat tidur, Tuan Sadewa tengah terbaring lemah tak berdaya. Wajahnya pucat dan tubuhnya terlihat lebih kurus dari biasanya. Melihat itu hatinya terasa teriris, langkahnya gontai menghampiri papanya. Tas yang tersampir di pundaknya pun merosot dan jatuh ke lantai.
"Pah, kenapa bisa kaya gini, Papa kenapa?" Tak kuasa Alira membendung air matanya untuk tidak keluar dari tempatnya.
Belum juga lama ia meninggalkan rumah dan papanya sudah seperti ini? Alira tahu jika papanya kalau bekerja suka lupa waktu, akan tetapi Alira juga tahu jika papanya selalu menjaga kesehatannya setelah ia mau menuruti permintaannya menikah dengan Gus Irham.
__ADS_1
Tuan Sadewa terbangun karena mendengar orang terisak di atas dadanya. Tangan kanannya bergerak dengan gemetar membelai kepala Alira lembut.
"Ah, Papa udah bangun?"
Tuan Sadewa tersenyum. "Kamu ke sini?" tanya Tuan Sadewa dengan nada lemah lalu menoleh pada menantunya. "Nak Irham."
Gus Irham mendekat, menyalami papa mertuanya. "Pah."
Tak berapa lama Mbak minah masuk. Wanita itu tadi habis keluar beli makanan karena sejak pagi dia belum makan karena menunggui majikannya, dia pergi pun setelah dipaksa Tuan Sadewa untuk tidak mengabaikan perutnya.
Gus Irham lalu duduk di samping mertuanya sementara Alira mengajak Mbak Minah keluar, ia ingin meminta penjelasan mengapa semua ini bisa sampai terjadi?
Mereka duduk di depan ruangan dimana Tuan Sadewa di rawat.
"Mbak, kenapa Papa bisa kayak gitu dan kenapa bisa rumahnya disita Bank?"
Mbak Minah bingung harus mulai darimana dulu untuk menceritakan semuanya pada Alira. Sebenarnya rumah itu sudah lama digadaikan ke Bank untuk membayar gaji karyawan di kantor yang sudah menunggak beberapa bulan.
Perusahaan Tuan Sadewa memang sedang jatuh dan Alira sama sekali tidak tahu akan hal ini, karena itulah Tuan Sadewa ingin Alira menikah biar ada yang menjaga dan menafkahi jika sewaktu-waktu ia benar-benar seperti sekarang.
Sejak Alira menikah bahkan ia tinggal di rumah yang ia beli dengan sisa uang yang ia punya bersama Mbak Minah dan Nurul.
Alira menangis mendengar itu semua. Ternyata ini alasan mengapa papanya begitu ngotot ingin dirinya menikah, pria itu tidak ingin dirinya menderita.
__ADS_1
Papanya ternyata begitu pintar menyembunyikan semuanya darinya.
Next capter