ISTRI NAKAL GUS TAMPAN

ISTRI NAKAL GUS TAMPAN
Ayo Kita Pulang!


__ADS_3

***


"Farhan," gumam Alira. Ia heran sedang apa laki-laki itu di sini? Tidak mungkin untuk berbelanja 'kan?


Laki-laki mengembangkan senyum manisnya. "Gimana? Mau aku antar?"


"Gak usah kami naik angkot aja. Ayo, Nur!"


Mereka lalu meninggalkan Farhan, tetapi laki-laki itu justru turun dari mobil dan menghadang jalan Alira.


"Ayolah, Al, aku anter kamu pulang." Terdengar memaksa, tapi biarlah. Farhan cuma tidak mau melihat perempuan yang disukainya panas-panasan apalagi naik kendaraan umum.


Alira menghela napas lalu membuangnya perlahan. "Terima kasih, tapi kami mau bisa na ...," Belum juga kalimatnya selesai Farhan sudah keburu menyela. Laki-laki itu kekeh mau mengantar Alira pulang dan itu membuat Alira kesal.


Bukan apa? Selama tinggal di rumah mertuanya Alira mulai paham batasan pergaulan antara lawan jenis apalagi mengingat statusnya yang sudah bersuami. Tentu jika ia menerima tawaran Farhan ia takut akan timbul fitnah dan Alira tidak mau seolah dirinya memberi Farhan peluang masuk ke dalam kehidupannya.


"Al, please. Aku antar kamu yaa?" Mohon Farhan sambil menangkupkan kedua tangannya di depan wajah. "Atau aku perlu sujud, nih?"


Farhan bersiap berlutut, tetapi dengan cepat Alira mencegahnya.


"Eh, jangan!" Alira mengedarkan pandangan sekeliling, orang-orang mulai memperhatikan dirinya. Sementara Nurul yang mulai paham situasi hanya diam, ia tidak berani ikut campur urusan majikannya.


"Makannya aku antar kamu?"


Alira membuang napas kesal. Ia tak pernah mengira jika laki-laki yang sedang berdiri di depannya ini suka memaksa dan nekat.


"Tapi cuma sampai depan komplek, ya?"


"Oke siap. Silahkan tuan putri." Farhan membuka pintu mobil membuat Alira sedikit tersanjung. Ia jadi teringat Gus Irham, suaminya itu juga selalu melakukan itu kepadanya setiap mereka akan pergi.


Selama dalam perjalanan Alira tak bicara sedikit pun, otaknya sibuk memikirkan apa yang dilakukan suaminya semalam. Pergi kemana, sama siapa dan pulang jam berapa? Apa menginap di tempat perempuan itu?


Agghh, Alira benar-benar bingung memikirkan hubungan mereka ke depannya. Jika benar Gus Irham ada perempuan lain ia lebih baik mundur dan menjauh dari kehidupan laki-laki yang kini mulai mengukir namanya di hati.


Berkali-kali Farhan melirik gadis di sampingnya yang sejak tadi diam seperti tengah melamun seperti ada yang sedang dipikirkan. Sebenarnya ia ingin memberitahu Alira soal pertemuannya dengan suaminya kemarin, akan tetapi ragu karena bagaimanapun itu bukan urusannya.


Namun, ia merasa kasihan pada Alira. Atau sebaiknya ia jujur? Bukankah ini kesempatan untuk memiliki pujaan hatinya? Kalau Alira pisah dari Gus Irham bukankah itu bagus, jadi ia bisa bebas mendekati Alira.


"Kok diam aja, ngomong dong?"


Pertanyaan itu membuyarkan lamunannya, menoleh sekilas lalu menarik napas dalam.


"Ngomong apa?" lalu tanyanya.


"Apa aja, yang penting nggak sepi-sepi amat."


Pandangan Alira lurus ke depan. Ia memang di sini, tetapi pikiran dan hatinya berkelana entah dimana. Bayangan Gus Irham sejak tadi seolah terus menari-nari di benaknya.

__ADS_1


"Nah 'kan, melamun lagi? Kenapa, ada masalah? Kalo nggak keberatan aku siap jadi pendengar yang baik buat kamu."


Lagi Alira tersenyum hambar. Farhan memang selalu baik sejak mereka pertama kali bertemu, tapi tidak mungkin dirinya bercerita masalah rumah tangganya terlebih pada Farhan.


"Mbak, aku kebelet pipis," bisik Nurul tepat di telinga Alira, Alira mengangguk.


"Emmm, Han. Bisa berhenti sebentar ngga di depan?"


"Kenapa? Kamu mau beli sesuatu atau ...,"


"Enggak, tapi Nurul mau ke kamar kecil."


"Oh, oke."


Farhan menepikan mobilnya tepat di dekat penjual bubur ayam. Nurul langsung turun karena sudah tak kuat menahannya sejak tadi. Gadis itu menghampiri penjual bubur itu dan menanyakan toilet umum sambil menahan ingin buang air.


Alira juga Farhan tertawa melihat itu.


"Sodara kamu lucu juga ya?"


"Iya."


Kemudian hening karena lagi Alira terdiam. Entahlah, Alira yang sekarang jadi lebih banyak diam meski dulunya juga bukan gadis berbawaan rame, tapi tidak pendiam juga dan Farhan merasa Alira memang sedang ada masalah. Atau mungkin dia sudah tahu tentang suaminya, tapi kenapa tidak minta pisah saja jika sudah tahu?


"Al, ada ...,"


"Iya kamu mau?"


"Boleh."


Mereka lalu turun dan memesan bubur ayam sambil menunggu Nurul kembali dari toilet.


"Kabar papa kamu gimana?" tanya Farhan di sela menyuap.


"Alhamdulillahudah mendingan," sahut Alira kemudian menyendok bubur miliknya.


"Syukurlah kalo gitu."


Hening kembali, Alira lebih fokus pada makanannya meski ia tahu jika laki-laki di sebelahnya ini berkali-kali meliriknya, tetapi Alira berpura-pura tidak tahu.


'Apa sebaiknya aku ceritain ya, kalo suaminya kemarin makan sama perempuan lain?' Farhan membatin. Ingin sekali rasanya ia jujur, tapi ia tidak mau melihat Alira sedih.


Tak berapa lama Nurul kembali, gadis itu juga diminta untuk memesan bubur.


"Al ...."


Panggil seseorang yang telah berdiri di depan mereka, keduanya mengangkat wajah hampir bersamaan.

__ADS_1


"Gus," gumam Alira hampir tak ada suara hanya bibirnya saja yang bergerak memanggil nama itu.


Gus Irham tak berkata apa-apa, dia lalu melirik Farhan. Tak ada ekspesi apa-apa selain wajahnya dingin dan datar seperti biasa, hanya rahangnya saja yang terlihat mengeras karena menahan amarah kemudian menoleh Alira lagi.


"Saya sengaja menyusul kamu, kata Mbak Minah kamu ikut Nurul ke pasar makannya saya kemari mau jemput kamu. Sudah selesai 'kan sarapannya, ayo kita pulang!"


"I-iya," jawab Alira terbata. "Maaf ya, Farhan. Aku pulang dulu, makasih tumpangan sama buburnya."


Gus Irham mengenggam tangan Alira lalu membawanya pergi sampai lupa pada Nurul yang baru saja hendak menyuap bubur miliknya. Gadis itu terburu-buru mengejar Alira dan Gus Irham yang sudah masuk ke mobil.


"Nur, kamu ambil belanjaan di mobil pria tadi!" titah Gus Irham pada gadis itu. Nurul segera mengambil semua belanjaan di mobil Farhan.


"Lain kali kamu telephone saya minta jemput jadi nggak perlu diantar orang!" tegas Gus Irham dengan menahan gumpalan amarah di dadanya.


Ia tak habis pikir dengan Farhan yang masih saja mendekati Alira meski sudah tahu jika Alira adalah istrinya.


Alira tak menjawab barang sepatah, selain karena sedang kesal ia juga tidak mungkin menumpahkannya sekarang karena ada Nurul yang terlihat sedang kerepotan memindahkan belanjaan.


"Kamu mau kemana?" Cegah Gus Irham mencekal pergelangan tangan Alira ketika gadis itu hendak keluar dari mobil.


Alira mendengus kesal. "Kamu nggak liat, Nurul kerepotan? Aku bantuin dia."


Pandangan Gus Irham seketika beralih ke kanan. Tampak gadis berhijab itu menenteng kantong keresek yang cukup banyak.


"Kamu di sini saja biar saya yang bantuin Nurul!"


Tanpa babibu Gus Irham langsung menghampiri Nurul dan mengambil alih keresek di tangannya hingga hanya menyisakan dompet kecil miliknya.


Setelah memasukkan semua ke bagasi Gus Irham segera duduk kembali di belakang stir dan langsung menjalankannya lagi.


Baru beberapa meter kendaraan roda empat itu bergerak, ponsel Gus Irham berbunyi beberapa kali lalu mati. Namun, belum ada dua menit ponselnya berbunyi lagi, tapi karena Gus Irham sedang menyetir jadi mengacuhkannya.


"Kena nggak diangkat?" tanya Alira penuh selidik.


"Bukan telpon penting," sahut Gus Irham masih fokus mengetir. Sebenarnya dia sudah tahu siapa yang menelponnya pagi?


Ponsel itu kembali berbunyi, tapi kali ini Gus Irham meraihnya, tertera nama Acha di sana dan Alira yaki gadis itu yang semalam menelponnya.


"Iya assalamualaikum waruhmatuhi wabarokatuh?"


Alira tidak bisa mendengarnya karena suara tak cukup keras.


"Iya nanti, nanti Mas jemput. Sudah dulu Mas lagi nyetir."


Panggilan berakhir, tapi lebih tepatnya Gus Irham yang memutuskan.


"Kalo mau jemput pacarmu kami turun di sini aja."

__ADS_1


"Hah?"


__ADS_2