
***
Berdua, pagi ini Alira juga Asya pergi ke pasar untuk berbelanja bahan makanan. Jika biasanya itu dilakukan mbak-mbak santri yang bertugas memasak di dapur, tetapi pagi ini entah kenapa keinginan pergi ke pasar itu timbul di pikiran Alira, dan mencari adik iparnya untuk menemani. Tentu saja Asya tak keberatan sama sekali. Kebetulan ia juga ingin berjalan-jalan, sejak ke datangannya kembali ia belum sempat kemana-mana.
"Nitip mereka ya, Mif. Jaga baik-baik," pesan Gus Irham pada Miftah saat mengantar adik dan istrinya di teras. Kang santri itu mengangguk patuh.
"Njih, Gus. Silahkan, Ning." Dibukanya pintu mobil bagian belakang, mempersilahkan kedua Ning nya masuk.
"Makasih, Kang." Senyum Asya mengembang lalu masuk disusul Alira.
Sebenarnya jarak antara pesantren ke pasar tak begitu jauh, hanya memakan waktu sekitar seperempat jam dengan berkendara. Namun, untuk berjalan ke sana cukup membuat kaki pegal karena capek.
Miftah menepikan mobilnya lalu berhenti.
"Tunggu di sini ya, Kang. Jangan kemana-mana!" titah Asya sebelum turun.
Kang santri itu mengangguk. "Njih, Ning," sahutnya, ekor matanya masih mengamati kedua perempuan itu hingga masuk ke dalam pasar.
Laki-laki berpeci hitam itu kemudian turun dari mobil, pandangannya mengedar sekeliling. Banyak sekali pedagang makanan yang berjejer di pelataran. Langkah kemudian ia ayunkan menuju warung kopi kemudian masuk dan memesan satu gelas kopi, untuk mengusir rasa kantuk yang sedari tadi menyerang karena semalam ia tak bisa tidur.
Bukan karena sengaja begadang, tetapi jujur saja jika ia masih belum bisa melupakan putri Kyai Syarif itu. Apalagi mereka harus ketemu setiap hari, dulu jauh saja ia tak juga bisa lupa apalagi dekat.
Disesapnya kopi hitam yang baru saja disuguhkan pemilik kedai perlahan, rasa pahit dari kopi yang bercampur dengan gula sedikit demi mulai mengusir rasa kantuk.
"Alhamdulillah." Di taruhnya lagi gelas ke atas meja.
"Ngapain sih kita ke pasar? Mana kotor jorok, bau lagi."
"Brisik banget sih. Bisa diem nggak?"
Miftah menoleh sumber suara yang seperti tak asing baginya, dan benar saja. Ning Alia bersama sepupunya-Ricky baru turun dari mobil berada tak jauh darinya, dahinya mengernyit mengawasi gerak-gerik kedua orang itu.
__ADS_1
"Sebenarnya lo mau ngapain si, Lia?"
"Tar kamu juga tau. Nurut aja kenapa sih, buruan ikut!" Kata
Ning Alia sambil menarik tangan sepupunya.
"Mau apa Ning Alia ke pasar?" Miftah berpikir sejenak. "Ah, jangan-jangan ...."
Miftah segera menyusul Ning Asya juga Alira ke dalam setelah membayar kopi yang baru diminum sedikit, keselamatan putri Kyai dan menantunya itu lebih penting baginya. Ia hapal betul perangai gadis manis yang pernah jadi tunangan mas nya itu. Ralat, calon tunangan.
Seperti detektif saja, Miftah mengikuti Ning Alia juga Ricky dari jarak yang tak begitu jauh. Ning Alia terus menarik tangan Ricky hingga berhenti di sebuah toko emas. Gadis itu tampak melihat-lihat sambil sesekali menoleh sepupunya sepertinya minta pendapat.
Miftah menarik napas lega karena ternyata Ning Alia hanya membeli perhiasan, bukan untuk mencari perkara dengan istri Gus nya. Setelah memastikan apa yang dilakukan Ning Alia, Miftah segera mencari keberadaan Ning Asya juga Alira.
"Ning!" panggilnya, kedua perempuan yang sedang berbelanja sayur itu menoleh bersamaan. "Sudah belanjanya?" sambungnya.
"Bentar lagi, Kang," sahut Asya.
"Wah, anak badug udah balik dari kota, nih."
Asya menoleh sumber suara, memutar bola mata malas begitu melihat siapa yang baru datang. Ning Alia, dulu mereka satu angkatan bahkan satu kelas. Namun, sedari dulu Asya tak pernah menyukai Ning Alia karena perangainya yang buruk dan tidak menghormati orang lain.
"Alira? Lo di sini? Ngapain?" tanya Ricky, ia tidak menyangka bisa bertemu istri Gus Irham itu di tempat seperti ini.
Alira diam tak menanggapi, ia justru heran kenapa Ricky bisa bersama Ning Alia? Masih saodarakah?
"Oh, jadi dia perempuan yang kamu ceritain?" Tanya Ning Alia pada Ricky, ekor matanya menatap remeh pada Alira. Ricky mengangguk sebagai jawaban.
"Seleramu rendahan, Rick," sambungnya.
Mendengar sahabatnya dihina tentu saja Asya menjadi geram, kedua tangannya mengepal, wajahnya memerah.
__ADS_1
"Maksud kamu apa ngomong kayak gitu, hah?"
"Kenapa? Nggak trima? Kakak ipar kamu emang gak selevel sama aku. Lihat aja penampilannya. Yah, meskipun dari kota tapi penampilannya kampungan."
Asya makin berang. Ingin ia menyumpal mulut Ning yang tak pantas dipanggil Ning itu dengan sayuran yang ada di tangannya, tapi ia tak melakukannya karena ia punya cara sendiri agar gadis seumuran yang hampir jadi kakak iparnya ini bungkam.
"Kalo aku sih, masih mending punya kakak ipar yang penampilannya kampungan daripada kakak punya kakak ipar penampilan modis, putri Kyai besar, seorang Ning, tapi kelakuan bar-bar dan gak bisa menghormati orang lain. Nggak bisa menjaga nama baik kedua orang tuanya. Beruntung ya, Mas Irham nggak jadi nikahin kamu," ucap Asya enteng, tapi berhasil membuat gadis di hadapannya bungkam kehilangan kata. Ning Alia kini diam tak bersuara, wajahnya merah entah karena nmenahan marah atau kerena malu.
"Kenapa? Nggak trima? Mau mukul? Nih, biar orang-orang pada tau kelakuan putri kyai yang punya pesantren besar, punya santri sampai ribuan, tapi kelakuan bar-bar dan nggak punya moral sama sekali." Sambung Asya menyodorkan pipinya. Tentu saja itu justru membuat Ning Alia tambah kesal dan marah.
"Hiih, kamu ...."
"Apa?"
"Berani kamu ya sama aku."
"Cha, udah, malu dilihat orang." Alira melerai sambil menarik-narik baju adik iparnya. "Kita pergi aja yuk!" ajaknya. Asya mengangguk kemudian berlalu, sebelum pergi ia sempat melirik Ning Alia yang sepertinya kehilangan muka.
"Li, lo nggak pa-pa?" tanya Ricky, ia menoleh sekitar karena banyaknya orang kini tengah menatap sambil berbisik-bisik.
Ning Alia mendengus kesal lantaran sejak tadi sepupunya sama sekali tak membelanya malah diam saja.
"Kenapa kamu diem aja sih lihat aku dipermalukan kayak tadi, hah?"
Ricky menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ini semua gara-gara kamu. Udah aku mau pulang aja!" kesalnya kemudian pergi meninggalkan Ricky yang hanya bengong, ia bingung apa salah dirinya sampai Ning Alia jadi kesal padanya.
"Lah, kenapa gue yang salah? Dasar perempuan aneh. Alia tunggu!"
"Kenapa sih meski ketemu manusia super ngeselin kaya dia," gerutu Asya begitu ada di dalam mobil, ia masih juga ngedumel tidak jelas. Alira hanya diam tak menangaapi sebab, emosi sedang menguasai dirinya😊
__ADS_1