
***
Alira berusaha untuk memejamkan kedua matanya, tetapi selalu saja gagal. Bayangan wajah Gus Irham selalu menari-nari di kepalanya padahal laki-laki itu kini sedang tertidur pulas di sofa tak jauh darinya.
Alira memutar badan menghadap sofa, memandangi tubuh suaminya yang terpejam menghadapnya.
"Kenapa kalo lagi tidur kaya gini keliatan lebih tampan ya?" pujinya lolos begitu saja. Alira sampai berlama-lama memindainya wajahnya. Mungkin jika Gus Irham sedang bangun ia pasti akan sangat malu melakukan ini.
Tiba-tiba Alira dihantui rasa bersalah. Ini tidak benar, mereka sudah menikah, tidak seharusnya seperti ini. Meski ia tidak mencintai Gus Irham tetap saja laki-laki itu adalah suaminya.
"Jangan suka lihatin orang diam-diam begitu nanti naksir," kata Gus Irham tiba-tiba membu Alira terperanjat dan langsung kembali ke posisi semula. Ah, malunya ternyata suaminya hanya pura-pura tidur.
"Al," panggilnya setelah membuka matanya dan melihat Alira sudah membelakanginya padahal ia yakin kalo tadi gadis itu sedang memperhatikannya. "Alira," ulangnya.
Alira tak menyahut, terlambat menghindar pun sudah terlambat. Suaminya tahu jika ia belum tidur juga mendengar semua ucapannya dan ... ah, sudahlah. Toh tidak apa-apa merekakan suami istri, tidak dosakan? pikir Alira.
Perlahan Alira berbalik menghadap Gus Irham yang juga menghadapnya. Kedua mata mereka saling bertemu, tapi hanya saling diam, hanya hati keduanya yang sama-sama tahu ada cinta dan kerinduan yang terpancar dari manik keduanya.
"Gus," panggil Alira lirih seperti berbisik. Gus Irham tak menjawab, tapi Alira tahu jika suaminya sedang menunggu kalimat selanjutnya.
Namun, Alira masih diam membuat Gus Irham gemas. Semakin hari kenapa ia semakin gregetan pada istrinya mungkin, jika tidak ingat janjinya ingin rasanya Gus Irham mencubit pipinya karena Alira terlihat sangat lucu.
"Gus," panggil Alira lagi.
"Iya."
Alira diam sesaat, memasok udara ke dalam rongga dada dan mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kegundahan yang sedang ia rasakan.
"Maaf," sambung Alira.
__ADS_1
Gus Irham mengernyitkan kedua alisnya. "Maaf? Buat apa?"
"Aku nggak bisa jadi istri yang baik buat kamu."
Gus Irham tak berkata apa-apa hanya menatap Alira yang sepertinya ada serpihan kristal di kelopak matanya.
Gus Irham bangun lalu beranjak menghampiri Alira kemudian duduk di tepi ranjang. Alira mengangkat badannya duduk bersila di dapan dengan Gus Irham.
Tangan Gus Irham terangkat membenarkan rambut Alira yang menutupi sebagian wajah cantiknya. Alira tak menolak membiarkan Gus Irham menatapnya lama.
"Bukan tidak bisa, tapi belum. Saya yakin suatu saat nanti kamu bisa jadi istri yang sholehah yang berbakti pada suaminya."
"Kalo nggak bisa?"
"Pasti bisa." Perlahan dikecupnya kening Alira kemudian membelai rambutnya. "Sekarang tidur sudah malam!"
"Kenapa?" tanyanya menatap Alira. Alira menggeleng. "Saya nggak kemana-mana saya hanya akan kembali tidur di sofa."
Alira menoleh ke sofa di mana biasanya suaminya tertidur. Sempit dan tentu tidak nyaman.
Meski Alira tak mengatakan apa-apa tapi Gus Irham tahu apa yang ada di benak istrinya. Ia tersenyum.
"Saya nggak apa-apa sekarang kamu tidur ya!"
Gus Irham kembali ke sofa meski sebenarnya ia berharap jika Alira tadi menawarinya tidur di ranjang walaupun mereka tidak akan melakukan sesuatu.
Tidur di sofa membuat seluruh badannya dan sendinya terasa sakit semua saat bangun. Gus Irham sampai harus melemaskan otot-ototnya sebelum kemudian ke kamar mandi.
"Gus," panggil Alira lagi. Gus Irham yang sudah memejamkan kedua mata membukanya kembali dan melihat ternyata Alira belum tidur.
__ADS_1
"Kenapa belum tidur?"
"Njenengan masih cinta sama Ning Alia?"
Gus Irham menarik napas dalam, ini adalah pertanyaan yang sulit ia jawab beberapa waktu lalu, tapi sekarang ia sudah yakin jika perasaan untuk putri Kyai Hanan itu sudah tidak ada.
"Kenapa kamu tanya begitu?"
Alira bingung mesti jawab apa karena jujur, ia merasa mulai ada sesuatu yang tidak nyaman di dalam hatinya. Seperti cemburu, tapi ia belum yakin apa ia memang cemburu pada gadis manis itu.
"Ya ... yaa ... ya nggak papa cuma pingin tau aja." Ah, kenapa dirinya mesti bertanya seperti itu tadi, tapi ia benar-benar penasaran apa Gus Irham masih menyimpan rasa untuk Ning Alia.
Gus Irham kembali duduk, memberi isyarat kepada Alira untuk duduk di sebelahnya dengan cara menepuk permukaan sofa. Alira menurut lalu duduk di sampingnya.
"Aku akan menceritakan semuanya sama kamu." Gus Irham menarik napas sebelum melanjutkan kembali ceritanya. "Ning Alia adalah cinta pertama saya dan saya ingin menikah dengannya," sambungnya.
Rasanya seperti ada yang menusuk hati Alira begitu mendengar ucapan Gus Irham barusan. Nyeri. Namun, Alira mencoba untuk tetap tenang.
'Cinta pertama? Menikah? Hah, bukankah kata orang cinta pertama sulit untuk dilupakan?' batin Alira bertanya sebab, yang ia tau dari cerita beberapa temannya seperti itu.
"Tapi itu dulu." Gus Irham menoleh ke samping di mana Alira sedang menunduk menyembunyikan butiran air mata agar tak sampai jatuh.
"Sebelum saya ketemu sama kamu," sambung Gus irham. Cepat Alira- mengangkat kepalanya memandang suaminya. Alira mencari jawaban dari mata bening dan teduh de depannya, tapi tidak ketemu.
"Kamu mungkin tidak mengingat siapa saya, tapi saya dulu sering gendong kamu."
"Hah?"
Next capter
__ADS_1