
***
Dalam perjalanan pulang kembali ke pesantren, Alira tak bicara sepatah kata. Menatap luar jendela. Alira bingung dengan pesanannya saat ini. Permintaan Kyai Hanan tadi makin menguatkan pikirannya tentang jika ada sesuatu antara suaminya dan Ning Alia Jika tidak, mana mungkin gadis itu tiba-tiba minta dilamar?
Apa mungkin mereka pacaran? Tapi tidak mungkin. Masa iya seorang Gus juga Ning menjalin hubungan yang spesial sementara mereka tahu itu dilarang agama. Satu-satunya hubungan yang boleh terjadi dua lawan jenis yang berbeda adalah pernikahan, lalu suaminya dan Ning Alia apa?
Pikirannya bingung dan kalut membuat perut Alira berbunyi karena lapar.
"Kamu lapar?" Tanya Gus Irham menoleh sekilas. "Kita cari rumah makan!"
Alira tak menjawab, dia kesal pada Gus Irham karena tak pernah jujur soal hubungannya dengan putri Kyai Hanan itu.
"Al, kamu dengar saya tidak?" Kata Gus Irham lagi sambil terus fokus pada jalan karena sekarang mereka sedang melewati jalanan yang tak begitu lebar, tapi masih muat bersimpangan mobil itu pun harus sangat pelan dan hati-hati kalo tidak, mobil mereka bisa saling serempet.
"Al."
"Dengar," jawab Alira singkat tanpa menoleh suaminya.
"Kamu lapar ya?"
"Nggak!" Mulut bisa berbohong, tapi nyatanya cacing-cacing di dalam perutnya tak bisa diajak kompromi.
Alira memegangi perutnya yang terasa perih. Tadi ia hanya sarapan sedikit karena sedang malas makan.
'Cacing sialan!' maki Alira dalam hati.
"Yakin?" Entah kenapa Gus Irham jadi senang sekali menggoda istrinya.
"Iya, yakin."
Gus Irham tersenyum. Ternyata istrinya sangat gengsian. Kalau lapar kenapa ditahan toh ini juga sudah sangat terlambat untuk makan siang.
__ADS_1
Gus Irham membelokkan mobilnya ke kanan saat melewati pertigaan, ia tahu tak jauh dari sana ada rumah makan yang enak. Ia sempat beberapa kali makan di tempat itu dan terakhir kali bersama sang adik yang sekarang masih di Jakarta.
"Ayo turun!" ajah Gus Irham setelah memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran bertuliskan 'warung angkringan'.
Alira yang sejak tadi melamun tersentak kemudian menoleh suaminya.
"Hah?" Alira melongo, dia belum sadar jika mobil yang mereka naiki suda berhenti dari tadi.
Melihat ekspresi wajah Alira Gus Irham semakin gemas dibuatnya.
"Katanya kamu lapar, ayo kita makan dulu!" Gus Irham membuka pintu mobil kemudian turun, tetapi Alira hanya diam di tempat.
"Kenapa masih di dalam, ayo turun! Kamu tidak mau makan?"
"Nggak." Rupanya Alira ngambek.
Gus Irham menghempas napas berat. Menghadapi istri yang masih sering naik turun moodnya memang harus ekstra sabar.
"Baiklah, jangan menyesal nanti kalo kamu kelaparan di jalan karena setelah ini kita masih harus mampir ke suatu tempat."
"Duuh, laper." Keluhnya sambil mengusap permukaan perutnya yang tertutup baju.
Alira ingin masuk menyusul suaminya, tapi gengsi karena tadi sudah terlanjur tidak mau. Mau ditaruh dimana wajahnya kalau tiba-tiba dirinya ada di sana, pasti Gus Irham akan mentertawakannya.
Untuk mengusir jenuh juga mengalihkan rasa laparnya Alira meraih ponselnya yang terdapat di dalam tas, akan tetapi ternyata habis baterai. Akhirnya ia memutuskan keluar untuk melihat-lihat.
Mengayunkan langkah tak tentu arah, Alira hanya berjalan saja mengikuti kedua kakinya. Padahal dulu saat di rumah papanya Alira jarang sekali berjalan kaki di sekitar ternyata berjalan begini tidak terlalu buruk. Ia jadi bisa menikmati pemandangan di sekitar dan tanpa Alira sadari ia sudah terlalu jauh meninggalkan restoran.
Alira akhirnya memutuskan untuk kembali, pasti suaminya sudah selesai makan sekarang, tetapi Alira lupa jalannya jadi dia bertanya pada orang yang kebetulan lewat.
"Dari sini Mbaknya lurus aja nanti kalo ada pertigaan belok kanan nah, ikuti saja nanti Mbaknya sampai. Ngomong-ngomong Mbaknya bukan orang sini ya?" tanya ibu muda yang sepertinya baru pulang dari kebun karena ia membawa kerendeng berisi rantang juga tremos.
__ADS_1
Alira tersenyum. "Iya, Buk. Saya dari kota," jawab Alira seperlunya lalu pamit setelah mengucapkan terima kasih.
"Al, kamu kemana saja saya cari-cari kenapa tidak nunggu di mobil saja, hemm? Kenapa palah keluyuran? Kalo nyasar gimana' kan aku yang repot?"
Gus Irham tiba-tiba muncul, wajahnya merah dan juga tampak lelah. Alira tidak tahu sebenarnya Gus Irham membeli makanan untuk dibungkus agar bisa makan berdua dengan istrinya. Namun, saat kembali ke mobil betapa paniknya ia ketika mendapati Alira tidak ada.
Gus Irham mencari kesana-kemari seperti orang linglung, menanyai hampir setiap orang yang ia jumpai sambil menunjukkan poto Alira yang ada di ponsel.
Alira tak menjawab, ia berjalan melewati suaminya.
"Al, berhenti!" Gus Irham sedang benar-benar marah sekarang. Ia merasa Alira sedang menguji kesabarannya.
Alira tak menggubris, ia tetap berjalan seolah tak mendengar perintah suaminya dan itu membuat Gus Irham naik darah.
"ALIRA SHAQEENA SADEWA SAYA BILANG BERHENTI!" teriaknya cukup keras dan itu berhasil membuat Alira menghentikan langkahnya lalu berbalik.
Dengan jarak yang tak begitu jauh Alira bisa menangkap kemarahan di mata suaminya. Gus Irham menghampirinya, wajahnya datar dan kaku seperti saat mereka bertemu.
"Kenapa kamu pergi tidak bilang dulu sama saya?" tanya Gus Irham datar.
Alira memutar bola malas. "Gimana aku mau bilang 'kan kamu di dalam, Gus?"
"Kamu 'kan bisa nunggu saya?"
Alira berdecak kesal, ia sedang tidak ingin berdebat. Yang ia inginkan saat ini hanya makan karena sudah sangat lapar.
"Udah ah, aku mau pulang, lapar." Alira memutar badannya kemudian berlalu meninggalkan Gus Irham yang masih berdiri di tempat. Ia jadi teringat untuk apa dirinya mencari istrinya. Pasti Alira sudah sangat lapar sekarang.
"Eh."
Alira sangat terkejut karena tiba-tiba Gus Irham menggandeng tangannya.
__ADS_1
"Kita makan bareng!"
Next capter >>>