
***
Setibanya di rumah sakit, sebelum turun Gus Irham kembali mengingatkan Asya agar menunggu dulu di suatu tempat. Ia hendak memastikan kesehatan abah mereka dulu baru menyuruh Asya masuk. Mereka lalu turun. Gus Irham beserta Alira turun lalu masuk. Sementara Asya Gadis itu berjalan menuju taman seorang diri.
Sebenarnya ada banyak pertimbangan saat ia memutuskan untuk pulang, salah satunya adalah Miftah. Ia sadar, jika hubungannya dengan laki-laki kalem itu tentu akan menemui banyak hambatan. Dulu ia tak peduli dan tetap akan bersamanya meski nanti kedua orang tuanya tak merestui. Namun, untuk apa ia berjuang jika orang yang ia perjuangkan justru memilih mundur.
"Ning, sebaiknya Ning Acha lupakan saya saja. Saya tidak pantas untuk bersanding dengan Ning Asya."
Kembali terngiang ucapan Miftah pada saat itu.
"Tapi kenapa, Kang? Aku mau kok, nerima Kang Miftah apa adanya."
Asya tidak menyangka laki-laki yang ia kira akan menperjuangkannya ternyata hanya seorang pecundang.
Miftah menoleh gadis yang masih mengenakan seragam putih abu-abu itu sekilas, lalu pandangannya lurus ke depan. Ombak laut yang berlarian seolah saling mengejar menjadi titik kedua netranya.
"Maafkan saya, Ning."
"Maaf, Kang?" ucapnya, kedua matanya sudah basah terkena lelehan yang keluar tanpa bisa ia bendung. "Kang Miftah tau nggak gimana perasaan aku sekarang? Sakit, sakit, Kang."
Miftah tak kuasa melihat gadis yang ia cintai terluka, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa selain diam. Bertahan atau mengakhiri juga nanti akan menyakitinya. Jadi sebelum terlambat lebih baik diakhiri.
"Sudah lama ya, kita baru bertemu lagi?"
Suara seseorang yang entah kapan datang membuyarkan kenangan beberapa tahun silam. Asya menoleh dan melihat Miftah berdiri tak jauh darinya.
"Apa pedulimu kita mau ketemu atau nggak?" jawabnya ketus. Sebenarnya hatinya juga ketar-ketir lantaran kenangan masa lalu kembali hadir.
Bibir Miftah mengembangkan senyum. Ia sudah menduga jika Asya akan bersikap dingin padanya.
"Kenapa kamu pergi tanpa mau tau alasan saya waktu itu, Ning?" sambung Miftah masih menatap gadis manis di depannya.
"Buat apa? Bukannya kamu sendiri yang bilang kalo kita nggak cocok, nggak mungkin bisa bersatu?"
"Iya, itu benar. Aku ini cuma abdi ndalem, Ning. Tidak mungkin bisa memiliki njenengan. Punya perasaan sama njenengan saja itu sudah salah."
"Cinta nggak pernah salah, Kang!" sangkal Asya cepat, gadis itu menatap pria di hadapannya. Senyum Miftah makin lebar.
"Cinta memang tidak pernah salah, tapi hanya tempatnya yang salah."
Dahi Asya mengerut. "Maksud Kang Miftah apa?"
"Perasaan yang saya miliki untuk njenengan, itu yang salah."
Asya mendengus kesal. Lagi-lagi masalah derajat yang jadi pertimbangan, padahal ia sendiri tak pernah mempermasalahkan itu. Baginya, mau itu abdi ndalem atau putra Kyai sama saja. Akhlak yang ia jadikan pertimbangan. Meski Miftah hanya seorang abdi ndalem dan bukan putra seorang Kyai besar, tetapi soal akhlak dan tanggung jawab bisa diacungi jempol.
__ADS_1
"Aku nggak nyangka kamu sepengecut itu, Kang, tapi ya sudahlah. Toh itu cuma masa lalu, nggak perlu dibahas lagi sekarang."
Semalam ia sudah berpikir untuk mengubur dalam-dalam kisah mereka, lagi pula, ia juga sudah punya seseorang yang kini menempati hatinya.
Miftah mengangguk setuju. Ia kini sedikit bernapas lega karena beban yang beberapa tahun ini mengganjal di pikirannya kini sudah lepas.
Keduanya kini saling diam, sibuk pada pikiran masing-masing.
"Ohiya, selamat ya, atas kelulusannya. Semoga ilmunya bermanfaat. Maaf telat." Miftah kembali buka suara, sebenarnya saat wisuda gadis itu ia datang, tetapi hanya bisa melihat dari jauh.
"Nggak apa-apa, makasih, Kang."
"Cha! Dicariin juga malah mojok di sin?" sungut Alira yang baru tiba. Kedua orang itu menoleh sumber suara. Alira tampak sedang menghampiri.
Alira mengatur napas yang hampir habis karena kelelahan berkeliling mencari sahabatnya itu atas permintaan Gus Irham.
"Ada apa?" tanya Asya penasaran.
"Dicari sama abah, beliau mau ketemu."
"Hah? Seriusan?" tanya Asya seperti tidak percaya jika abahnya ingin bertemu dengannya.
"Iya seriuslah masa bohong. Buruan gih samperin!"
Asya segera pergi menemui abahnya dan meninggalkan Alira beserta Miftah. Ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu, bertemu dengan kedua orang tuanya lagi setelah sekian lama.
"Hufs. Bismillahirahmanirahim." Perlahan didirongnya pintu lalu melangkah masuk. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab yang ada di dalam serempak.
"Acha," lirih Bu Nyai, kedua matanya tampak berkaca begitu pun dengan Kyai Syarif yang duduk dengan menyandar ke belakang.
"Abah, Ummi." Asya berjalan mendekat, meraih tangan Ummi juga Abahnya. "Maafkan Acha." Luruh sudah air mata bersamaan merosotnya tubuhnya ke lantai. Asya bersimpuh di kaki Abahnya.
Ia tak menyesal dengan pilihannya, tetapi ia menyesal karena sempat terbawa emosi. Asya akui dulu ia masih labil sehingga mengambil keputusan tanpa berpikir terlebih dulu.
"Bangun, Nak! Abah sudah memaafkan kamu." Kyai Syarif membantu putrinya untuk berdiri lalu memeluknya erat. Tangis keduanya pecah.
Bu Nyai Halimah serta Gus Irham ikut terharu melihat pemandangan itu, akhirnya keluarga mereka bisa berkumpul lagi.
"Ummi, maafkan Acha ya, Mi?" Kini gadis itu berpindah memeluk wanita yang sudah melahirkannya.
Ruangan itu dipenuhi keharuan pertemuan antara orang tua dan anak yang lama tak pernah berpisah.
Di taman, Alira yang tadi sempat mendengar percakapan Asya dan Miftah kini sedang mengintrogasi pria itu. Ia begitu penasaran ada hubungan apa mereka di masa lalu.
__ADS_1
"Nggak ada hubungan apa-apa, Ning. Saya permisi." Miftah hendak pergi, tetapi Alira berhasil mencegahnya.
"Kamu nggak usah bohong, Kang! Aku denger semuanya tadi."
Miftah memutar badannya lagi hingga mereka berhadapan, menatap Alira sekilas lalu menjatuhkan pandangan. Menarik napas dalam demi memenuhi rongga dada yang tiba-tiba sesak karena harus mengungkit masa lalu.
"Sebenarnya dulu kami sempat dekat saat Ning Asya masih di bangku SMA." Miftah mulai cerita, pandangannya lurus ke depan.
"Dulu saya ditugaskan untuk mengantar dan menemputnya ke sekolah, awalnya kami biasa saja, tapi lama-lama kami jadi dekat. Yah, Ning Alira mengertilah maksud saya?"
Alira tak menjawab, tetapi Miftah tahu jika istri Gusnya ini paham apa yang ia katakan.
"Terus?" Entah sejak kapan Alira jadi kepo urusan orang, ini tidak baik, akan tetapi ia begitu penasaran kenapa Asya sampai meninggalkan pesantren. Apa karena hubungan mereka ditentang Kyai Syarif?
Miftah menari napas lagi. "Setelah lulus
SMA, Ning Asya pingin kuliah di Jakarta." Miftah menjeda ceritanya sebentar. "Dan saat itu saya mulai sadar jika apa yang kami rasakan itu salah."
"Salah? Kenapa salah? Saling mencintai bukanlah suatu kesalahan, Kang."
Miftah tersenyum kecut. "Memang bukan, Ning, tapi saya merasa tidak pantas. Saya sadar siapa diri saya. Saya cuma abdi ndalem, apa ya pantas ngarepin jadi menantu Kyai apalagi menjadi pendamping hidup Ning Asya?"
"Aku juga orang biasa, Kang, bukan santri. Kang Miftah tau siapa aku?"
"Iya, Ning. Saya tau Ning Alira siapa, tetapi kita beda. Ning Alira berasal dari keluarga berada sedangkan saya ..." Miftah tak melanjutkan kalimatnya karena itu akan lebih menyakitinya.
Miftah hanya seorang santri yang mondok karena kebaikan Kyai Syarif. Kalau bukan karena abah Asya dan Gus Irham itu mana mungkin ia bisa nyantri di sana.
Ia hanya anak yatim yang tinggal bersama ibunya, ayahnya sudah meninggal sejak ia masih berumur 10 tahun. Kyai Syarif yang membawanya ke pesantren miliknya dan memberi kepercayaan sebagai sopir ndalem di sana.
Jadi apakah ia harus membalas kebaikan Kyai Syarif dengan menjalin hubungan secara diam-diam dengan putrinya? Apa yang akan orang katakan nanti? Mereka pasti akan ia orang yang tidak tahu berterima kasih, membalas air susu dengan air tuba.
Alira lalu diam, ia mulai mengerti apa yang menjadi pokok permasalahan mengapa dulu sahabat sekaligus adik iparnya itu pergi dari pesantren. Selain karena ego, Asya juga kecewa pada laki-laki yang berdiri tak jauh darinya.
Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang berjubel di kepalanya, tetapi saat melihat jam di pergelangan tangannya urung. Mungkin lain kali saja ia bertanya lagi.
Usai sholat dzuhur Gus Irham mengajak Alira pulang, hanya Alira saja karena Asya mau menemani umminya menjaga abah mereka.
"Al, saya mau ke pesantren Kyai Hanan. Kamu mau ikut?" tanya Gus Irham saat masih dalam perjalanan. Alira yang duduk di kursi belakang menoleh ke depan.
"Mau ketemu Ning Alia? Nggak ah, males." Entah kenapa setiap mendengar nama Ning Alia, hatinya kesal bukan main. Ingatan saat gadis itu meminta suaminya melamar pun masih saja terngiang. Mungkin jika Gus Irham masih bujangan atau paling tidak duda itu tak masalah, tapi Ning Alia benar-benar tidak tahu malu.
Bisa-bisa seorang Ning berbuat begitu, merendahkan harga dirinya sendiri.
Mendengar jawaban istrinya senyum Gus Irham terasa asing di telinganya, biasanya suaminya ini memakai bahasa formal yang menurutnya lebih pantas digunakan kepada orang lain, tetapi ia senang.
__ADS_1
Mobil berhenti di lampu merah, Alira menoleh luar jendela, pandangannya menyisir apa saja yang ia lihat sampai tiba-tiba tatapannya tertuju pada dua orang yang cukup familiar.
'Itu kan ....'