ISTRI NAKAL GUS TAMPAN

ISTRI NAKAL GUS TAMPAN
Kamu Cemburu?


__ADS_3

***


Alira beranjak dari duduknya dan menaruh ponsel di tangannya ke atas kasur lalu beranjak ke pintu ketika ia mendengar seseorang mengetuknya dari luar. Alira membukanya, di sana tampak Ayu sedang berdiri.


"Ning Alira dipanggil, Bu Nyai di ruang tamu," kata Ayu, ibu jarinya menunjuk arah yang dimaksud.


"Iya aku akan kesana. Makasih ya, Ayu."


Alira Menutup pintu kembali setelah Ayu pamit kembali ke dapur dan segera merapikan penampilannya yang sedikit berantakan kemudian pergi ke ruang tamu.


"Ummi manggil Al?"


Bu Nyai Halimah segera menutup kitab yang tadi sedang dibacanya lalu menoleh arah suara dan tersenyum.


"Temani Ummi!"


Wanita berwajah teduh itu bangun dari duduknya, menyimpan kembali kitab ke tempatnya semula.


"Ayo!"


Alira hanya tak berani menolak lalu mengikuti ibu mertuanya dari belakang. Ternyata Bu Nyai Halimah mengajak Alira berkeliling pondok, memperkenalkannya kepada santri-santrinya karena semenjak Aliya datang, menantunya belum pernah sekalipun diajak muter-muter.


Bu Nyai juga memberi tahu apa saja kegiatan-kegiatan di pondoknya. Alira mendengarkan sambil sesekali mengangguk paham dan entah kenapa Alira mulai tertarik dengan dunia santri, sepertinya sangat menyenangkan. Selama ini hidupnya itu-itu saja menurutnya. Kuliah, main, pulang dan kuliah lagi sebab karena itulah Alira ingin bekerja biar hidupnya tidak monoton.


Bu Nyai melirik jam di pergelangan tangannya, sudah waktunya ia menyimak santri yang hendak menyetor hafalan.


"Kalau kamu mau keliling Ummi panggilin Ayu ya biar menemani kamu karena Ummi harus ke masjid," ucapnya menatap Alira.


"Oh, nggak usah Ummi saya bisa sendiri kok."


Meski tidak tahu seberapa luas pesantren milik mertuanya, tetapi Aliya yakin jika ia tidak akan tersesat. Kalau pun nanti tersesat toh masih di area pesantren dan ia bisa tanya-tanya.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu Ummi tinggal dulu ya?"


Alira mengangguk lalu melanjutkan kembali berkeliling sambil sesekali menyapa santri yang berpapasan dengannya.


"Santri baru kayaknya. Kamu kenal nggak?


"Enggak. Eh, bukan. Kayaknya dia kerabat Bu Nyai soalnya dia tinggal di ndalem."


"Ah, masa sih?"


"Iya aku pernah lihat di rumah Bu Nyai."


"Oh gitu?"


"Iya."


Alira tak ingin mengklarifikasi ucapan kedua gadis itu buat apa? Seharusnya Gus Irham memperkenalkannya sejak awal bukan mengurungnya di dalam rumah. Atau mungkin dia malu punya istri yang jangankan sholehah sholehot iya.


"Kekanan, kiri atau lurus?" Alira bingung, ia berkata sendiri saat melihat pertigaan di depannya. Alira ingin kembali ke rumah saja setelah merasa capek muter-muter pesantren.


Alira sedikit takjub melihat suasana pesantren yang tampak rapi dan bersih ia juga kagum dengan Mbak-Mbak santri yang memakai sarung dan jilbab sepanjang hari, apa tidak gerah? Dirinya saja sudah risih dan gerah.


Tiba-tiba langkah Alira terhenti saat melihat Gus Irham sedang bersama seorang gadis tak jauh dari tempatnya berdiri. Alira tidak melihat wajah gadis itu karena membelakanginya.


"Gus!" Panggilnya menghampiri. Ning Alia buru-buru mengusap wajahnya dengan ujung jilbabnya lalu bergeser ke sebelah Gus Irham.


"Aku kesasar," sambung Alira lalu menoleh gadis yang bersama suaminya. Iya, dia tahu itu adalah Ning Alia. Alira jadi teringat ada sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Gus Irham, tapi nanti sajalah kalau sudah kembali ke rumah.


"Emmm ... Al, kenalin ini Ning Alia. Dia pengurus pondok."


Alira mengulurkan tangannya ke depan Ning Alia, tetapi gadis itu tak lantas menyambut. Ning Alia memindai tubuh Alira dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Ning Alia." Jawabnya menjabat tangan Alira.


"Alira." Lalu mereka melepaskan tautan tangan. Entah ini hanya perasaan Alira saja atau apa? Sorot mata Ning Alia seperti memandang remeh dirinya.


Gus Irham lalu mengajak Alira pulang ke ndalem, tetapi Gus Irham malah mengobrol dulu dengan seorang laki-laki yang Alira belum kenal, tetapi jika dilihat ketika mereka berbicara sepertinya itu adalah ustaz di pesantren ini.


Padahal Alira sudah tidak sabar ingin cepat sampai di rumah dan menanyakan siapa Ning Alia.


"Gus, Ning Alia siapanya, Gus?" tanya Alira to the poin begitu mereka berada di dalam kamar. Gus Irham yang hendak mengambil handuk urung lalu menoleh istrinya.


"Kenapa?"


"Yaa nggak apa-apa cuma pingin tau aja," jawab Alira enteng.


"Kamu cemburu?" sambung Gus Irham.


Alira berdecak. Mereka menikah karena perjodohan bahkan, ia belum punya perasaan apa-apa pada suaminya jadi mana mungkin dirinya cemburu?


"Ngapain aku cemburu?"


"Ya saya tidak tau barangkali kamu cemburu sama Ning Alia?"


"Mana ada. Nggak mungkin aku cemburu sama dia. Nggak level."


Gus Irham mendekati hingga jarak mereka hanya satu meter sehingga Alira bisa menghidu wangi parfum yang dipakai suaminya apalagi saat Gus Irham mencodongkan badannya ke depannya.


"Tapi saya merasa seperti seorang suami yang sedang diintrogasi istrinya karena cemburu."


Glek


Alira menelan salivananya dengan susah payah.

__ADS_1


Next capter >>>


Hai hai readers, jangan lupa bintang dan tinggalkan jejak ya, terima kasih.


__ADS_2