
***
Sekitar pukul sembilan pagi, Alira dengan ditemani suaminya datang menemui kakaknya di tempat yang sudah mereka tentukan yaitu di cafe tak jauh dari kantor Farhan bekerja. Namun, setibanya di sana Farhan belum datang.
Sembari menunggu mereka berbincang kembali mengenai rencana kembali ke pesantren.
"Alira? Mas Irham?"
Suara yang tak asing menjeda obrola2n keduanya lalu menoleh sumber suara.
"Asya? Kamu di sini? Sama siapa?" tanya Alira, kedua matanya menoleh sekitar seperti mencari seseorang.
Asya tersenyum lalu duduk. "Kebetulan tadi habis ketemu teman. Mmm ... Mas Irham jadi pulang?"
"Iya, jadi."
"Kapan?"
"Mungkin besok."
Asya hanya ber 'oh' saja kemudian diam. Ada denyut saat merasakan kerinduan pada kedua orang tuanya, juga pada kampung halamannya. Namun, perasaan kecewa terhadap abahnya selalu mencegahnya untuk pulang.
Melihat sahabatnya diam Alira menyikut lengan suaminya sebagai kode, Gus Irham menarik napas dalam kemudian menatap lekat gadis manis di yang duduk di hadapannya.
"Sya, kalo kamu mau ikut pulang ikutlah. Mas tau kamu juga pasti kangen sama ummi, sama abah, teman-teman kamu di pesantren."
Gus Irham tahu adiknya ini masih kecewa pada abah mereka, tetapi Gus Irham juga mengerti jika sebagai orang tua tentu mereka ingin yang terbaik buat anak-anaknya.
Mungkin cara abahnya saja yang terlalu memaksakan kehendaknya bahwa Asya harus ini, Asya harus itu membuat adiknya tertekan dan merasa tak bebas.
Asya makin diam menunduk. Rasa kangen pada umminya semakin besar saja.
"Kamu masih marah sama abah?" sabung Gus Irham masih menatap lekat pada adiknya.
"Nggak, Mas." Sahut Asya menggeleng.
"Kalau begitu pulanglah!"
"Nanti Asya pikirin."
__ADS_1
Lagi Gus Irham menghela napas dalam. Adiknya ini memang keras kepala, sama seperti abahnya. Jika sudah berkeinginan susah untuk dicegah.
Alira yang sejak tadi hanya menyimak mulai paham dengan apa yang terjadi pada sahabat sekaligus adik iparnya. Sungguh Alira tidak pernah tahu jika sahabatnya ini memendam masalah yang begini besar, padahal selama ini Asya tahu segala yang ia alami, tetapi gadis itu? Jarang sekali menceritakan masalahnya. Alira sempat berpikir, Asya adalah orang yang hidupnya tanpa masalah, tapi nyatanya?
Tak berapa lama Farhan datang. Pria muda itu terlihat berbeda, jika biasanya hanya mengenakan celana levis dan jaket kali ini Farhan memakai pakaian resmi selayaknya orang kantoran.
"Sori telat." Farhan lalu duduk, ia acuh dan terlihat sangat dingin. Bahkan seperti tak melirik Alira atau pun Asya.
Alira tersenyum. "Gak pa-pa."
"Langsung aja mau ngomong apa, aku nggak punya banyak waktu."
Senyum di bibir Alira langsung lenyap begitu mendengar ucapan kakaknya. Gadis itu menoleh suaminya sekilas.
"Aaa ... Kak Farhan kapan mau pindah ke rumah?"
Jujur Alira sedikit takut saat melontarkan kalimat itu. Bukan karena takut pada Farhan, tetapi melihat sikap dingin pria itu Alira jadi sangsi jika kakaknya mau diajak tinggal bersama papah mereka.
"Nanti aku pikirkan," jawab Farhan santai, bahkan tak melihat Alira sedikit pun.
Gus Irham juga Asya yang menyimak cuma bisa diam. Ingin ikut menyuarakan, tetapi sadar ini jika ini masalah kakak beradik.
"Oh." Alira langsung menunduk kecewa, mungkin, Farhan marah padanya. "Kamu ... masih marah sama aku? Maaf soal aku nggak bisa balas perasaan kamu. Aku ... aku ...."
Farhan hanya diam, ia merasa bersalah atas sikapnya barusan. Tidak seharusnya ia bersikap begitu pada Alira sebab, bagaimana pun mereka bersaudara kandung, tapi masalahnya tak sesederhana itu. Melupakan tak semudah saat jatuh cinta. Ada luka yang harus ia obati sendiri atas kecewa yang ia terima.
Mungkin memang seharusnya dulu ia tak mudah menaruh rasa pada Alira sehingga terjadi seperti ini.
"Sudahlah lupakan. Kalo sudah nggak ada perlu aku permisi, masih banyak urusan yang lebih penting."
"Tidak penting katamu?" Gus Irham yang sedari tadi hanya diam angkat bicara membuat Farhan yang sudah membalikkan badan hendak pergi memutar tubuhnya kembali.
Kilat amarah dan kebencian jelas terpancar di matanya.
"Tuan Sadewa papah kamu. Dia sangat membutuhkan kamu," sambung Gus Irham, nada suaranya mulai meninggi.
"Kan ada kalian yang jagain dia."
"Kami ... kami akan kembali ke pesantren. Han, jika kamu mau marah sama saya silahkan, saya terima. Tapi jangan marah sama Alira atau pun papa kamu. Saya minta maaf atas kejadian masa silam, tapi asal kamu tau. Saya juga sangat kehilangan kamu bahkan, saya ikut mencari kamu."
__ADS_1
Farhan terdiam mendengar penuturan Gus Irham barusan. Sebenarnya waktu itu bukan semua kesalahan Gus Irham karena dirinya yang terus mengejar anak kelinci itu hingga akhirnya tersesat.
"Kamu tau? Alira sangat ingin punya Kakak laki-laki dan sekarang, dengan sikap kamu yang seperti anak kecil begitu tidak membuat dia sedih, kecewa," sambungnya lagi membuat Farhan kian bungkam. Ia lalu melirik adik perempuannya yang menunduk, bahunya bergetar menandakan jika Alira sedang menangis.
"Sebaiknya kamu pikirkan kembali keputusan kamu. Ayo Alira, kita pulang!" Gus Irham membantu istrinya berdiri, menoleh Asya seolah bertanya apakah adiknya itu akan ikut pulang atau tidak.
"Nanti Asya pulang sendiri, Mas," sahutnya.
Farhan masih terdiam di tempat, pikirannya benar-benar tak karuan. Padahal sebelumnya ia sudah mengikhaskan Alira, tapi sekarang?
Kerana terlalu larut dengan perasaannya sendiri, Farhan sampai tidak sadar jika sejak tadi ada gadis cantik yang setia menemani. Farhan baru tersadar saat hendak berdiri dan melihat Asya sedang menatapnya.
"Kenapa kamu masih di sini? Nggak ikut pulang sama mereka?"
Asya menggelengkan kepala pelan, meraih minuman yang ada di dekatnya lalu mengaduknya dengan sedotan.
"Aku mau menemani kamu di sini. Boleh 'kan?"
Farhan tertegun, tidak tahu harus menjawab apa? Sebenarnya ia tahu jika gadis manis di depannya ini mempunyai perasaan untuknya, tapi mau bagaimana. Hatinya sudah terlanjur terpikat pada Alira, perasaan yang tak seharusnya ia miliki terhadap adik kandungnya sendiri.
"Boleh 'kan?" ulang Asya karena belum juga mendapat jawaban dari Farhan.
"I-iya, bo-leh," jawabnya terpatah-patah. Jujur saja tiba-tiba ia merasa grogi pasal, baru kali ini ada seorang gadis cantik anak kyai besar pula mau menemaninya.
Setelahnya mereka hanya mengobrol santai sampai tak terasa waktu terus berjalan, dan sekitar pukul satu siang Farhan mengantar Asya pulang ke kostan.
"Makasih ya, udah mau nemenin," ucap Farhan saat mereka sudah tiba di depan pintu pagar kost.
"Sama-sama," jawabnya tersipu, seburat rona merah muncul di kedua pipinya membuat Farhan terkesima. Asya terlihat sangat cantik jika sedang malu-malu seperti itu.
"Emmm ... aku masuk dulu ya?" Ia membalikan badannya lalu mulai berjalan meninggalkan Farhan. Ketika sudah sampai pintu ia menoleh ke belakang dan ternyata Farhan masih berdiri di sana sambil tersenyum ke arahnya.
Asya makin tersipu kala Farhan melambaikan tangan ke arahnya. Buru-buru Asya berlari masuk dan menutup pintu, bersandar di sana. Degup jantungnya tak beraturan. Ia merasa sangat bahagia hari ini sampai tak menyadari ponselnya berbunyi.
"Halo assalamualaikum, ummi?" salamnya setelah mengangkat telpon yang ternyata dari umminya.
["Waalaikumsalam salam, Cha, abah masuk rumah sakit. Cepetan pulang ya!"]
"Apa ummi? Abah masuk rumah sakit?"
__ADS_1
["Iya, kamu pulang ya sama, Mas mu. Ummi tadi sudah telpon Ilham. Kalian cepat pulang ya!]
"I-iya, ummi, Acha In Sya Allah besok pulang."